
"Jurus Tangan Beracun!" teriak Ujang Akra membahana. Setelah berteriak
dan mengatur nafasnya, Ujang Akra menyentakkan tangannya ke depan dua larik cahaya hitam kemerahan menderu cepat ke arah Pendekar Naga Sakti.
Anggala merapatkan telapak tangannya di depan dada dan mengerahkan hampir separuh tenaga dalamnya ke arah kedua tangannya itu.
Cahaya kuning kemerahan mulai menyelubungi kedua tangan Pendekar Naga Sakti itu, begitu cahaya pukulan Ujang Akra
hampir mengenainya.
Anggala menghempaskan Kedua telapak tangannya ke depan, dua buah sinar
berbentuk kepala naga melesat dari Kedua telapak tangan Pendekar Naga Sakti itu. Cahaya itu kemudian bertemu dan bertabrakan di udara dengan cahaya pukulan dari pendeka mesum itu.
Wuss!
Wuss!
Blaaarrr.....!!
Ledakan dahsyat mengguncang tempat itu beberapa saat tempat itu tertutup debu dan tanah yang berhamburan ke udara. Ujang Akra terpental entah beberapa beberapa tombak jauh ke belakang. Tubuh laki-laki itu harus lintang-pukang hingga jatuh ke tanah.
Perlahan Ujang Akra, berusaha untuk bangkit, namun kekuatan tubuhnya tidak sanggup lagi dada dan pakaiannya telah berubah hitam begitu pun dengan wajahnya.
Darah segar berwarna kehitaman tampak mengalir dari sudut bibir tokoh hitam satu itu
Ujang Akra memaksakan untuk berdiri, namun beberapa saat kemudian ia jatuh berlutut dan tidak lama kemudian tubuh laki-laki itu jatuh tertelungkup nafasnya pun hilang bersama dengan perginya nyawanya dari tubuhnya.
Anggala yang dari tadi diam tidak bergeming menatap tajam ke arah tokoh hitam yang berhadapan dengannya itu.
"Berakhir sudah petualangan pendekar yang hanya memikirkan n4fsu b3jatnya saja,"
desis anggala dalam hati.
Sementara itu
Nila sari yang berhadapan dengan Ujang Seta tampak kewalahan menghadapi
kesaktian tokoh hitam pendekar mesum yang terakhir tersebut.
Kebutan dan sambaran klewang hembrug yang ada di tangan Ujang Seta itu membuat Nila Sari harus pontang-panting menghindari serangan Ujang Seta itu.
__ADS_1
Sebuah sambaran klewang di tangan Ujang Seta berhasil mengenai bahu Nila Sari.
Gadis itu mengeluh tertahan sebelum tubuhnya terhuyung ke tanah.
Darah mengucur deras dari bahunya.
Melihat kesempatan itu Ujang Seta kembali melompat ke arah Nila Sari berniat untuk menghabisi murid Dewi Mawar itu.
Namun di saat yang genting Bidadari pencabut nyawa cepat melesat bagai kilat dan memberikan sebuah tendangan bertenaga dalam tinggi ke arah Ujang Seta.
"Dasar iblis! Kau berniat membokongku!"
murka Ujang Seta, laki-laki itu cepat menarik tubuhnya ke belakang menghindari tendangan Wulan Ayu itu.
serangan Bidadari pencabut nyawa itu berhasil menyelamatkan nyawa Nila Sari dari ancaman Ujang Seta itu.
"Huh..! Dasar pengecut. Kau hendak menghabisi seorang wanita yang sudah tidak berdaya manusia busuk!" dengus Bidadari pencabut nyawa.
"Aku tidak peduli kalian wanita, atau apa pun itu, yang aku tahu aku harus membalas kematian Ujang Komar yang telah kalian bunuh!" begitu bengis kata-kata Ujang Seta tanpa perasaan, matanya menatap tajam ke arah Wulan Ayu dan Nila Sari.
Mata laki laki itybmenatap tajam sebuah mata yang dipenuhi oleh dendam yang begitu membara.
"Jika itu maksudmu! Aku juga tidak akan segan-segan, melakukan tindakan. Tampaknya kau harus dikirim ke akhirat!" ujar Bidadari pencabut nyawa. Gadis cantik berbaju biru itu langsung menghunus pedang elang perak yang ada di balik punggungnya.
Sinar Putih terang semburat keluar dari mata pedang Mustika elang perak itu.
"Kau.... Kau memiliki senjata Mustika elang perak! Apa hubunganmu dengan Malaikat pemarah?" tanya Ujang Seta dalam keterkejutannya.
"Aku adalah muridnya satu-satunya," jawab Wulan Ayu sengit.
"Jadi kau adalah bidadari pencabut nyawa dari barat?"
"Ya. Aku adalah Bidadari pencabut nyawa dari barat!" jawab Wulan Ayu tegas
Shrek!
Ujang Seta menyilangkan
klewang hembrug berwarna hitam keputihan di tangannya.
"Bagus....Bagus aku juga tidak akan segan-segan menghadapi seorang tokoh silat yang terkenal di dunia persilatan Pulau Andalas ini," kata Ujang Seta.
__ADS_1
"Katakan semaumu, Pendekar Mesum! Hiyaaat....!" bentak Wulan Ayu, murid Bidadari Galak itu melesat cepat ke udara
dengan pedang elang perak teracung di depan dada.
Bidadari pencabut nyawa langsung mengerahkan jurus 'Pedang Pencabut Nyawa'. Sebuah jurus hampir tingkat tertinggi dalam jurus Pedang Kayangan.
Gerakan pedang Wulan Ayu yang begitu cepat, menyambar ke arah Ujang Seta membuat laki-laki Itu tampak kalang kabut, walau Ia memegang klewang hembrug yang cukup panjang di tangannya.
Ting! Ting!
Dentingan suara kedua senjata itu beradu
di udara terdengar hingar bingar, kecepatan jurus bidadari kayangan dan jurus Pedang Kayangan membuat gerakan Wulan Ayu begitu cepat.
Gadis cantik itu bergerak bagai bayangan kesana-kemari, sebuah sambaran ujung pedang elang perak berhasil mengenai bahu Ujang Seta.
"Aagkh!"
Ujang Seta terkesiap, laki-laki itu tersurut mundur sekitar dua tombak ke belakang.
"Jurus pedang gadis ini cukup hebat, wajar kalau dia di gelari Bidadari pencabut nyawa," desis Ujang Seta.
.
.
Bersambung...
Jangan lupa dukung novel ini ya teman-teman.
Rate
Hadiah
Like
Koment
Favorit
Dan Votenya teman-teman.
__ADS_1
Terima kasih banyak.