
Slap...!
Cleb!
Sebuah anak panah tiba-tiba tertancap pada sebatang pohon yang tidak jauh dari bibir goa tempat para penduduk bersembunyi.
Seorang anggota Penyamun Bukit Kayangan cepat-cepat mengambil anak panah yang terselip sebuah daun lontar. Tanpa berani membaca pesan yang ada di daun lontar itu laki-laki itu langsung berlari ke tempat ketuanya dan memberikan daun lontar itu.
"Berikan pada Nini Sumirah, Jakpar. Aku yakin surat itu bertujuan untuk para pendekar yang menolong kita," kata Pimpinan Penyamun Bukit Kayangan. Tanpa berani membantah Jakpar langsung berlari kedalam goa dan menemui Pendekar Naga Sakti dan teman-temannya.
Sementara itu Nini Sumirah telah sembuh dan tampak telah segar kembali, obat yang di berikan Anggala tampak telah bekerja dengan baik.
"Maaf, Nini. Aku menemukan ini tiba-tiba tertancap pada pohon di luar sana," ucap laki berumur sekitar tiga puluh tahunan itu.
"Apa itu, Jakpar?" tanya Nini Sumirah sambil tersenyum.
"Entahlah, Nini. Ketua memerintahkan aku memberikannya pada, Nini," sahutnya.
"Baiklah, Terima kasih ya," ucap Nini Sumirah sambil tersenyum.
"Saya permisi kembali keluar, Nini."
"Silahkan," sahut Nini Sumirah.
"Apa itu, Mak?" tanya Cindai Mata pada ibunya.
"Bacalah," perintah Nini Sumirah pada Cindai Mata. Cindai Mata langsung menerima daun lontar yang di sodorkan ibunya dan segera membaca tulisan yang tertera di sana.
"Datuk Wangsala dan Datuk Wangsaka menanti kita di puncak gunung tiga hari dari sekarang," kata Cindai Mata setelah membaca tulisan yang terdapat di daun lontar itu.
"Kita akan terima tantangan mereka di puncak gunung kerinci, tapi sebelum itu kita akan menemui tuan tanah Surya Karta terlebih dahulu," sahut Anggala sambil berdiri dari meja batu.
"Ya, sebelum tuan tanah Surya Karta kita hakimi maka rakyat jelata tidak akan tenang hidupnya," kata Nini Sumirah.
"Kapan kita santroni rumah tuan tanah itu, Nini?" tanya Wulan Ayu.
"Lebih cepat, lebih baik nak Wulan. Mereka tidak akan menduga jika kita menyerbu hari ini," timpal Nini Sumirah lagi.
"Ya, tapi orang-orang Bukit Kayangan harus tetap di sini menjaga para penduduk, Nini," kata Jaka Kelana menimpali.
__ADS_1
"Ya, Aku setuju dengan pendapat Jaka," Anggala menyetujui.
"Baiklah, kita berangkat," kata Nini Sumirah bersemangat. Nini Sumirah langsung keluar dan menemui pimpinan Penyamun Bukit Kayangan dan menyatakan rencana mereka.
"Tapi Nini apakah tidak sebaiknya kami ikut, anak buah Surya Karta cukup banyak," Jantra terlihat keberatan.
"Tidak usah, Paman. Paman tetaplah disini menjaga para penduduk dengan seluruh anak buah paman, biarlah Surya Karta itu kami yang urus," kata Anggala menjawab keberatan Jantra.
"Baiklah, jika kalian yakin," Jantra terlihat keberatan.
"Kami yakin, aku tidak ingin anak buahmu jadi korban, Jantra. Jadi tetaplah disini," kata Nini Sumirah tegas.
"Baik, Nini," sahut Jantra tanpa berani menyankal perintah Dewi Bukit Kayangan tersebut, Nama besar Dewi Bukit Kayangan bukanlah hal yang baru bagi Jantra dan anak buahnya apalagi adanya para pendekar golongan putih yang membantu mereka.
Melihat Anggala berhasil melukai Datuk Wangsala yang merupakan Pendekar Kembar yang di kenal dengan Iblis Kembar Gunung Tujuh tersebut membuat mereka yakin akan berhasil mengalahkan tuan tanah Surya Karta yang menjadi penguasa lalim yang menindas rakyat jelata di Desa Bukit Kayangan ini.
######
Suasana tampak tenang di kediaman tuan tanah Surya Karta, tanpa merasa curiga para pengawal yang berjaga-jaga tidak memperketat penjagaan mereka.
"Hup!"
Nini Sumirah di ikuti Anggala dan Wulan Ayu tiba-tiba sudah berdiri di depan pintu gerbang.
"Kenapa kau terkejut melihat aku masih sehat!!??"
"Bukankah kau terkena racun Harimau Hitam??"
"Racun Harimau Hitam bukanlah masalah bagi Dewi Bukit Kayangan!" sahut Nini Sumirah. Tentu saja jawaban Nini Sumirah tersebut membuat pengawal itu kehilangan keberaniannya, ia langsung berusaha meraih pemukul kentongan. Namun terlambat Wulan Ayu telah bergerak cepat dan menotok pengawal itu.
Brak...!!
Pintu gerbang rumah besar tuan tanah Surya Karta hancur berkeping-keping terkena tendangan Pendekar Naga Sakti. Beberapa orang pengawal yang meronda dan berjalan ke arah pintu gerbang tampak tejatuh akibat terkejut.
"Tong! Tong! Tong!
Pengawal yang ada di depan rumah menokok kentongan, tiba-tiba puluhan pengawal terlihat berlarian ke arah depan. Semua pengawal yang ada tampak berkumpul berusaha menghadang rombongan Nini Sumirah dan Anggala.
"Sebaiknya kalian menyingkir, kami tidak ingin menyakiti kalian!" bentak Wulan Ayu.
__ADS_1
"Serang...!!" salah seorang pengawal tampak memberi perintah. Puluhan orang berpakaian ala prajurit itu tanpa kompromi langsung menghunus golok mereka dan melompat menyerang.
"Heaaa....!!!"
"Kalian mengantar nyawa...!!" Wulan Ayu menggeram marah sambil melompat menyerang. Begitu pun dengan Anggala dan Jaka Kelana tanpa basa-basi langsung melesat menghajar setiap pengawal rumah tuan tanah Surya Karta itu.
"Aaaa...!!" dalam waktu yang cukup singkat lebih dari lima puluh orang pengawal rumah tuan tanah Surya Karta tampak bergelimpangan di tanah dalam keadaan terluka.
"Tuan.... Tuan....! Nini Sumirah dan para pendekar itu datang menyerang!" ucap seorang pengawal dengan tergopoh-gopoh dan nafas tersengal.
"Apa...?! Mereka berani datang menyerang?!" tuan tanah Surya Karta tampak terkejut bukan kepalang. Lari dari rumah sendiri tidak mungkin, saat ini adalah memikirkan bagaimana cara menghalau Nini Sumirah dan para pendekar itu.
Tanpa berpikir panjang lagi tuan tanah Surya Karta langsung memerintahkan pengawalnya untuk meminta bantuan Datuk Kembar Gunung Tujuh.
"Cepat kau pergi ke pertapaan paman Wangsaka dan paman Wangsala, katakan Nini Sumirah menyerang kediamanku!" perintah Surya Karta.
"Baik, Tuan!"
"Gunakan kuda tercepat!" perintah Surya Karta lagi. Pengawal itu hanya menjura sambil mengangguk memberi hormat dan segera berlari ke belakang.
Memang tadi setelah mendapat pengobatan dari tabib Datuk Wangsala meminta adiknya Wangsaka membawanya kembali kepertapaan mereka yang ada di daerah lembah Gunung Tujuh.
Datuk Wangsala memang mendapat pengobatan dari tabib, tapi tabib keluarga Surya Karta hanya bisa mengobati luka luar dan memberikan saran pengobatan menggunakan ramuan-ramuan dari dedaunan.
Surya Karta mengerahkan seluruh anak buahnya untuk menghalangi Nini Sumirah dan para pendekar yang datang menyerang, namun kemampuan para pengawalnya yang jauh di bawah para pendekar itu membuat para pengawal tidak bertahan lama.
Lagi-lagi para pengawal yang datang dari arah belakang hanya menjadi bulan-bulanan Wulan Ayu dan Cindai Mata yang bertarung bak singa terluka.
"Sungguh pengecut kau, Sumirah. Kau membawa para pendekar untuk menghadapi pengawalku yang punya kemampuan jauh di bawah kalian!" bentak Surya Karta.
"Sebenarnya menghadapi kau beserta cecunguk-cecungukmu itu, Karta. Aku sendiri mampu, Karta. Namun aku harus memikirkan kedua Datuk licik peliharaanmu itu," sahut Nini Sumirah sengit.
"Jika kau memang seorang pendekar dikjaya, hadapi aku secara kesatria!"
"He he he...! Karta, apa perbuatanmu menjadi lintah darat dan menguasai tanah orang-orang kecil di Bukit Kayangan ini sipat kesatria, hah! Baiklah, jika kau ingin menantangku? Aku tidak keberatan?"
Sret!
"Keris Selaksa Hijau...!!?"
__ADS_1
.
Bersambung....