
"Nak Wulan, jaga diri baik-baik ya. Hati-hati..!" ucap Mak Ripah di sela-sela tangisnya yang sesegukan.
"Iya, Mak. Mak juga jaga kesehatan ya, jangan terlalu capek. Pekerjakan gadis-gadis desa jika warung Mak dan Aki selalu ramai," kata Wulan Ayu.
"Ho oh...!" Mak Ripah mengangguk perlahan dan mengendurkan pelukannya pada Wulan Ayu.
"Terima kasih, Mak, Aki. Sudah menerima kami disini," ucap Wulan Ayu juga mengelap air matanya dengan sudut baju biru kesayangannya.
"Aki, Mak. Kami pamit ya," ucap Anggala seraya menyalami orang pasangan tua pemilik warung itu.
"Hati-hati, Nak Anggala. Jika kalian lewat desa ini jangan lupa mampir, pintu rumah kami selalu terbuka untuk kalian," kata Aki Syarip dengan mata hampir berbinar. Walau Anggala dan Wulan Ayu bukan siapa-siapa mereka, namun tiga purnama sudah Anggala dan Wulan Ayu tinggal di Desa Gragan ini.
Memang setelah kekalahan Tujuh Pedang Pembunuh dari Negeri Muathai sudah tidak ada lagi pendekar atau para anggota perguruan yang menjadi antek-antek Partai Teratai Hitam yang datang mencari Anggala dan Wulan Ayu.
Jaka Kelana dan ketiga pendekar dari Bukit Tambun Tulang pun telah berangkat tiga hari yang lalu. Jaka Kelana dan ketiga pendekar dari Bukit Tambun Tulang lebih dulu menuju Gunung Kerinci.
Pertemuan para pendekar di puncak Gunung Kerinci kini tinggal menunggu hari, purnama bulan dua belas dimuka. Sedangkan saat ini sudah memasuki bulan dua belas.
Singo Abang dan kedua adiknya sudah menyampaikan pesan sang guru pada Pendekar Naga Sakti tentang ramalan dan perintah Datuk Panglima Hijau untuk membantu masalah dengan Partai Teratai Hitam.
Begitu pun dengan Tiga Elang dan Tiga Pendekar Tingkat Naga Emas, kini sudah melakukan perjalanan ke kaki Gunung Kerinci lebih dahulu.
"Nak Wulan, Nak Anggala. Ini makanan untuk kalian hari ini, jadi kalian tidak usah memikirkan harus cepat mencapai Desa lain," kata Mak Ripah sambil menyerahkan buntalan berisi makanan pada Wulan Ayu.
"Terima kasih, Mak. Seharusnya Mak tidak usah repot-repot, menyiapkan makanan untuk kami di jalan," kata Wulan Ayu sambil tersenyum.
__ADS_1
"Mak tidak akan membiarkan anak-anaknya kelaparan dijalan, kan," sahut Mak Ripah berusaha tersenyum. Wulan Ayu tersenyum sambil menarik tali kekang kudanya perlahan.
"Selamat tinggal, Mak, Aki," ucap Anggala dan Wulan Ayu hampir berbarengan. Mereka pun menarik tali kekang kuda mereka, sehingga kuda-kuda itu meringkik dan mulai berlari meninggalkan Desa Gragan itu.
Mak Ripah dan Aki Syarip masih berdiri memandangi kepergian dua pendekar muda yang sudah terasa bagai anak bagi mereka.
"Mereka sangat baik, ya Ki," kata Mak Ripah sambil menoleh ke arah suaminya yang masih berdiri mematung, pandangannya masih tertuju pada ujung jalan dimana ia melihat Anggala dan Wulan Ayu hilang di telan lebatnya rerimbunan hutan.
.
\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*
"Apa Anggala dan Wulan Ayu sudah bergerak ya?" Singo Abang membuka suara sambil menarik tali kudanya hingga kuda itu berlari agak lamban.
"Ya, mereka, 'kan hari ini mau berangkat seperti yang dia katakan kemarin," sahut Jaka Kelana.
"Kita sudah sampai di wilayah gunung kerinci," kata Jaka Kelana.
"Kau sudah pernah kesini, Jaka?" tanya Singo Abang.
"Belum, semenjak aku turun gunung ini baru berjalan jauh, Sahabat Singo Abang. Rencana ku untuk mengundang Anggala dan Wulan Ayu ke pernikahan kami malah menjadi ikut campur pertemuan para pendekar ini," jawab Jaka Kelana.
"Sabarlah, Jaka. Kalau kau memang berjodoh dengan Pendekar Kelelawar Putih itu, dia tidak akan kemana. Apalagi Seruni juga sahabat Anggala dan Wulan Ayu, 'kan?"
"Ya, Anggala dan Wulan adalah seorang pangeran dan putri yang sangat rendah hati, ia tidak mau di panggil Pangeran dan Putri. Mereka merasa sebagai manusia biasa seperti kita," kata Jaka Kelana.
__ADS_1
"Kenapa Anggala dan Wulan Ayu tidak mau tinggal di istana? Padahal kehidupan di istana itu jelas enak, ya,'kan?" kata Singo Abang.
"Mereka merasa belum saatnya mungkin, Sahabat Abang," sahut Jaka Kelana sambil tertawa.
"Berhenti....!!!"
Terdengar bentakan keras sehingga kuda mereka meringkik dan hampir lari menghambur.
"Sebaiknya tinggalkan kuda dan semua harta yang kalian miliki!" bentak suara menggema di tengah hutan itu.
"Siapa itu... Keluarlah... Jangan jadi pengecut yang berani menggertak!" balas Jaka Kelana lantang.
Tidak lama terdengar kelebat suara bagai kepakan burung dsn suara orang berlari di antara pepohonan. Tidak lama kemudian tempat itu sudah di kelilingi oleh orang-orang yang berjumlah tidak kurang dua puluh lima orang.
Semua orang itu tampak bersenjata pedang besar terselip di punggungnya. Seluruh anggota orang-orang yang mengepung itu memakai topeng berwarna hitam putih menyilang.
"Siapa kalian? Kenapa menghentikan perjalanan kami. Apakah kalian perampok atau penyamun?" tanya Jaka Kelana datar. Sedangkan tiga pendekar dari Bukit Tambun Tulang tampak bersiaga di atas kuda mereka.
"Kami Penyamun Bukit Kayangan, sebaiknya kalian serahkan harta dan semua yang kalian miliki!" bentak salah seorang pengepung. Orang yang membentak itu memiliki topeng berwarna merah putih bersilang.
"Jika kami tidak mau menyerahkan harta kami bagaiman, Kisanak?" sahut Jaka Kelana begitu tenang.
"Berarti kalian akan berkubur di tempat ini!!"
.
__ADS_1
.
Bersambung...