
Meja di depan Anggala langsung hancur berkeping-keping terkena pukulan tinju Kamon yang mengembor marah karena merasa di remehkan. Sedangkan Anggala telah melesat secepat kilat keluar warung.
"Kedai itu akan hancur, Kisanak. Di sini lebih luas!"
"Heh..!" Kamon cukup terkejut melihat Anggala sudah berada diluar kedai itu, tanpa banyak bicara lagi ia langsung melompat keluar menyusul.
Begitu sampai diluar warung Kamon langsung menyerang dengan jurus tangan kosong yang menggunakan lutut dan sikunya, namun Anggala menyambut dengan begitu lembut dengan gerakan silat melayu.
Pertarungan gerak cepat pun langsung terjadi antara anggota Tujuh Pedang Pembunuh dengan Pendekar Naga Sakti, walau gerakan Kamon boleh di bilang sangat cepat bagi mereka bertujuh. Namun bagi para pendekar yang menggunakan ilmu peringan tubuh dan tenaga dalam tingkat tinggi, gerakan Kamon itu biasa-biasa saja.
Begitu pun dengan pertarungan antara Wulan Ayu dan Kattibun yang tampak semakin sengit, walau ketujuh orang pembunuh bayaran itu sangat terkenal di negerinya. Namun kepandaian tenaga dalam Kattibun masih di bawah Wulan Ayu untuk kecepatan dan ilmu peringan tubuh.
"Ketua, biarkan kami membantu Kamon dan Kattibun!" ujar Klahan melihat kedua teman mereka belum mampu mendesak kedua lawannya.
"Cepatlah, cepat selesaikan. Kita kembali ke markas Partai Teratai Hitam!" jawab Khemkhaeng begitu percaya pada kemampuan anggotanya.
"Ayo, Kla..!" ajak Klahan pada temannya, Kla hanya mengangguk seraya bangkit dari duduknya. Kedua orang itu langsung melesat keluar warung dan tanpa banyak bicara bergerak menyerang Anggala dan Wulan Ayu.
"Hup!" Wulan Ayu terpaksa melentingkan tubuhnya ke udara menghindari sabetan pedang Kla dari arah belakang, Untung telinga gadis itu begitu tajam hingga mampu mendengar gerakan yang begitu halus sekalipun.
"Bangsat! Kalian mengeroyok ya?!" gerutu Wulan Ayu begitu menjejak tanah di depan Kattibun dan Kla.
__ADS_1
Sring!
Wulan Ayu tidak ingin keteteran menghadapi kedua orang yang mempunyai tubuh tegap hitam tersebut, pedang elang perak segera di cabut dari warangkanya. Cahaya putih keperakan langsung semburat menyilaukan mata yang memandangnya.
Kattibun hanya menatap tajam kearah Wulan Ayu tanpa menggubris Kla yang datang membantunya, sebenarnya Kattibun merasa keberatan di bantu. Tapi ia tahu semua ini tentunya sudah persetujuan Khemkhaeng pimpinan mereka.
"Haaa....!" Kattibun kembali melompat cepat sambil mengayunkan pedangnya, dengan cepat Wulan Ayu menangkis dengan pedang elang perak. Kla langsung melesat membantu, dengan begitu cepat laki-laki itu menikamkan pedangnya ke arah perut Wulan Ayu.
"Hup!" Wulan Ayu cepat berkelit seraya melentingkan tubuhnya ke udara, dengan begitu cepat kaki kanan gadis itu memberikan tendangan ke arah bahu Kla.
Plak!
"Akgh...!" Kla yang tidak menyadari serangan tendangan kaki Bidadari Pencabut Nyawa itu langsung terhuyung ke belakang sekitar lima langkah.
"Kurang ajar, tubuh manusia ini batu atau karet sih. Dia tidak terluka akibat tendangan ku," Wulan Ayu membatin.
.
*******#############*********
Anggala yang di serang Kamon dan Klahan yang tampak bekerjasama mengeroyoknya, tapi Anggala masih cukup tenang menghadapi keroyokan dua orang anggota Tujuh Pedang Pembunuh tersebut.
__ADS_1
"Serangan mereka cukup beraturan dan boleh dibilang terencana. Wajar saja jika mereka bisa menjadi pembunuh bayaran kelas satu di negeri Muathai," desis Anggala dalam hati sambil berkelit menghindari tebasan pedang panjang Klahan.
"Hup!" Anggala melentingkan tubuhnya ke udara dan menjauh dari Klahan dan Kamon. Setelah menjejak tanah sekitar dua tombak dari kedua lawannya, Pendekar Naga Sakti langsung merapal ilmu 'Baju Besi Emas'. tingkat delapan belas.
Kamon dan Klahan yang tidak ingin memberikan kesempatan untuk Anggala beristirahat, kedua orang itu melompat dari dua arah menyerang dari atas dan bawah.
Anggala hanya tersenyum melihat kedua musuhnya bergerak cepat menyerangnya.
Trang!
"Heh!" Klahan cukup terkejut melihat pedangnya, tidak mampu melukai lengan Pendekar Naga Sakti yang menangkis serangannya. Kamon yang menikam ke arah perut Anggala, namun Pangeran dari Kerajaan Mandalika itu menggeser tubuhnya ke samping.
Wuk!
Klahan dan Kamon cukup terkejut, kedua orang berwajah hitam dengan potongan rambut cepak itu melompat mundur karena Anggala memberikan serangan balasan dengan tendangan yang cukup cepat.
"Tubuhnya kebal terhadap pedang, Kla," gerutu Kamon sambil melintangkan pedangnya di depan dada.
.
.
__ADS_1
Maaf buat readers author nulis agak pendek karena kuota internet udah hampir habis, takut putus di tengah jalan. Thanks...
Bersambung......