Pendekar Naga Sakti

Pendekar Naga Sakti
Prahara Di Pulau Andalas. Bag, 5


__ADS_3

Brak!


Datuk Rambut Merah tampak terpental jauh sampai menabrak dinding rumah besar perguruannya. Dinding bangunan terbuat dari papan itu tampak jebol dan hancur, Datuk Rambut Merah sampai menembus dua lapis dinding rumah itu dan jatuh bergulingan di tanah.


"Huaaakhh...!" begitu mencoba bangun, Datuk Rambut Merah tampak membatukkan darah segar bercampur darah kehitaman.


.


.


Sementara itu di sebuah Desa kecil.20.49


Baru saja anggala. dan Wulan Ayu Anda menuju kamar yang telah disiapkan oleh aki Sarif dan dan Mak Rifah.


"Hei.... ! Orang yang di dalam cepat keluar!" terdengar bentakkan menggema dari depan warung Ki Syarip.


Anggala dan Wulan Ayu menolehkan pandangan mereka keluar, tampak beberapa kuda telah berhenti di luar warung itu. Beberapa pelanggan yang terdiri dari orang desa tambah ketakutan melihat ke arah luar, tanpa basa-basi lagi para pelanggan itu langsung berlarian keluar ketakutan.


"Rupanya si Brewok membawa bantuan, Kak," kata Wulan Ayu sambil memandang ke luar warung.


"Kali ini biarlah kakak yang turun tangan, Dinda," kata Pendekar Naga Sakti.


"Boleh, silahkan kalau itu mau Kakak," jawab Wulan Ayu sambil tersenyum


"Apa kalian mencari kami, kisanak?" tanya Anggala dengan suara datar.


"Kurang ajar! Apa kalian yang telah meng ganggu adik-adik seperguruan ku?!" bentak seorang laki-laki berpakaian merah dengan sepasang pedang di balik punggungnya.


"Yang mengganggu itu mereka, bukan kami yang mengganggu mereka kisanak," jawab Anggala dengan tenang.


"Bangsat tengok! Berani berurusan dengan orang-orang Perguruan Elang merah berarti berani mengganggu Sepasang Pedang Darah.!" bentak laki-laki berpakaian merah itu.


"Wah, gelarmu sangat seram kisanak. Membuat bulu kuduk anak kecil baru lahir merinding," ejek Anggala sambil tersenyum tipis.


"Bangsat! Heaaah....!" setelah membentak laki-laki berpakaian merah dengan sepasang pedang itu langsung melompat dan melepaskan sebuah tendangan ke arah Anggala.


"Hih!" dengan begitu santai Pendekar Naga Sakti menapaki tendangan laki-laki berpakaian merah itu.

__ADS_1


Dik!


"Huh!" sekali lompat saja Anggala sudah berada jauh di depan warung di tempat yang begitu lapang.


"Jangan di depan warung itu, kisanak. Tempat itu terlalu sempit, pertarungan kita bisa membuat warung itu runtuh," kata Pendekar Naga Sakti menantang laki-laki berpakaian merah yang mengaku Sepasang Pedang Darah tersebut.


"Baru kali ini ada pendekar yang berani meremehkan Sepasang Pedang Darah dari Perguruan Elang Hitam," gusar laki-laki yang berpakaian merah itu.


Setelah itu laki-laki berpakaian merah itu langsung melesat dengan kedua tangan di depan, ia langsung mencoba seberapa tinggi tenaga dalam yang dimiliki oleh Pendekar Naga Sakti.


Tap! Tap!


Anggala langsung saja menapaki serangan laki-laki berpakaian merah itu dengan tenang dengan senyum tipis di bibirnya.


"Hmm... Dia memiliki tenaga dalam di atas tujuh puluh persen, namun tidak mencapai delapan puluh persenan. Kecepatan gerakannya sekitar tingkat enam puluh persen," gumam Pendekar Naga Sakti dalam hati.


Pendekar Naga Sakti dengan santai mendorong telapak tangannya ke depan, sehingga mau tidak mau laki-laki berpakaian merah itu melentingkan diri dan bersalto menjejak kaki sekitar tiga tombak di depan Anggala.


"Ku akui kisanak, kau memang hebat. Sebaiknya kau sebutkan namamu, biar bisa ku ukir namamu di batu nisanmu nanti. Dengan kedua pedang darahku ini," bentak laki-laki berpakaian merah itu.


Aku Rancaka Sumba akan mencabik-cabik tubuhmu, hari ini kau harus mencoba seberapa kerasnya ilmu cakar beruang Hitamku. Hiyaaa....!"


Anggala hanya tersenyum tipis memandangi gerakan Rancaka Sumba yang mengaku bergelar Sepasang Pedang Darah itu.


Pendekar Naga Sakti yang ilmu 'Mata Malaikat'. dan di gabungkan dengan jurus ilmu 'Delapan Langkah Malaikat'. dengan begitu tenang Pendekar Naga Sakti menghindari setiap cercaan jemari Rancaka Sumba yang mengincar wajahnya.


"Jurus-jurus beruang hitam, apa hubungan manusia ini dengan kedua penyamun yang bergelar Beruang Hitam dan Beruang Merah itu?" desis Anggala dalam hati.


"Baiklah, pendekar aku akan melayanimu dengan jurus 'Sembilan Matahari Cakar Elang ku," ujar Anggala tenang sambil terus menghindar dengan gesit, setiap serangan Rancaka Sumba hanya di hindari dengan mengeser dan meliukkan tubuhnya.


Sepasang Pedang Darah semakin tersulut kemarahannya melihat Pendekar Naga Sakti hanya menggeser selangkah demi selangkah tubuhnya, menghindari setiap serangannya yang berniat melukai dada dan wajah pendekar dari Lembah Naga itu.


Pendekar Naga Sakti bergerak cepat dengan kedua tangan yang sudah membentuk cakar dengan ilmu 'Sembilan Matahari Cakar Elang begitu tangan anggala yang membentuk cakar bergerak.


Rancaka Sumba terperanjat dan berusaha menarik serangannya ke belakang, namun karena gerakan Pendekar Naga Sakti jauh di atas gerakannya.


Serangan Pendekar Naga Sakti berhasil melukai tangan Rancaka Sumba.

__ADS_1


Sret!


"Akh..!" ringisan tertahan keluar dari mulut laki-laki berpakaian serba merah itu. Rancaka Sumba cepat melompat ke belakang sambil memegangi lengan kanannya yang tampak terkoyak dan mengalirkan darah segar.


"Hup!" Rancaka Sumba segera mendekap luka di lengan kanannya dengan telapak tangan kiri, darah yang mengalir tampak mulai berhenti. Arus hawa murni mengalir menyembuhkan lukanya itu.


"Kurang ajar! Siapa pemuda ini, jurus cakarnya begitu cepat hampir tidak terlihat," desis Rancaka Sumba dalam hati.


Sring!


Rancaka Sumba langsung menghunus sepasang pedang bergagang hitam dari warangka di balik punggungnya.


Kilauan cahaya merah tampak menyilaukan mata ketika mata pedang itu terkena cahaya matahari.


Set! Set!


Rancaka Sumba langsung memainkan jurus-jurus pedangnya, tampak lengannya yang tadi terkoyak kini telah sembuh tanpa bekas. Hanya bajunya saja yang masih koyak.


"Kau akan mati hari ini, kisanak. Pedang darahku telah keluar dari warangkanya, pedangku ini akan meminum darahmu," murka Rancaka Sumba, kebutan dan putaran sepasang pedangnya mengeluarkan hawa panas menyengat kulit.


"Cobalah, jika kau mampu kisanak," tantang Anggala sambil tersenyum tipis.


.


.


Bersambung....


Jangan lupa dukung novel ini ya teman-teman.


Rate


Hadiah


Like


Koment

__ADS_1


Dan Votenya teman-teman.


Terima kasih banyak.


__ADS_2