
"SERAAANG........!!!!"
Suara lantang Saka memerintah anggota dan para pengikut Partai Lembah Kematian.
"Heaaa......!!!"
Para tokoh silat golongan hitam itu berkelebat ke arah Para tokoh golongan putih tanpa banyak bicara lansung menyerang.
"Hiyaaa....!"
Para pendekar golongan putih dan para pimpinan perguruan yang ada di sana lansung menyambut serangan orang orang Partai Lembah Kematian itu.
Iblis Kematian Rambut Putih lansung melompat ke arah Simbar Buana yang lagi bersama dengan istrinya Bidadari Gendeng.
"Kau tidak bisa kemana mana Pendekar Cambuk Sakti! Kau harus meninggalkan nyawamu di sini!!"
Bentak Iblis Kematian Rambut Putih, wajahnya merah padam penuh dendam, tangan kanan nya membentuk cakar siap menghabisi nyawa siapa pun yang ada di depan nya.
"Kakak duduk dulu biar dinda hadapi si Iblis Kematian Rambut Putih itu!" pinta Pandan Suri, sambil membantu Simbar Buana duduk di dekat pagar rumah besar itu.
"Dinda dia bukan lawanmu! Jangan membahayakan keselamatan mu sendiri, Dinda!"
ujar Simbar Buana tampak berusaha berdiri walau agak sempoyongan.
"Jangan di pikirkan Kak, kita sebagai pendekar tidak akan mundur menghadapi masalah!" jawab Pandan Suri sambil berusaha tersenyum, walau si wajah cantiknya terlihat cemas.
Pendekar Naga Sakti, setelah menghajar dua orang anggota Partai Lembah Kematian yang menyerang nya, lansung berkelebat ke arah Simbar Buana dan Pandan Suri.
"Bagaimana keadaan mu Kak Simbar? makanlah pil ini!" tanya Pendekar Naga Sakti, sambil merogoh saku baju nya, ia mengeluarkan sekantong obat, dan memberi kan nya sebuah pada Simbar Buana.
"Luka dalam ku cukup parah, Anggala!" jawab Pendekar Cambuk Sakti itu, sambil mengambil obat pemberian Pendekar Naga Sakti itu, dan lansung menelannya.
"Kak Pandan, Kakak jaga dulu Kak Simbar, biar saya yang menghadapi Iblis Kematian Rambut Putih itu!" seru Anggala, "Kak Simbar, sebaiknya Kakak bersemedi dulu lah, untuk mengobati luka dalam Kakak itu," tambah Pendekar Naga Sakti sambil menirukan logat Simbar Buana.
"Dasar murid Pertapa Naga, saat seperti ini sempat sempatnya dia bercanda..!!" guman Simbar
Buana sambil tersenyum, lalu ia bersemedi untuk menyembuhkan luka dalam yang ia derita.
Pandan Suri hanya tersenyum melihat tingkah konyol Pendekar Naga Sakti itu, ia bergerak ke dekat suaminya, dan bersiap melindungi dari serangan orang orang Partai Lembah Kematian.
__ADS_1
"Bangsat Kau Pendekar Naga Sakti, aku tidak punya urusan dengan mu, urusan ku dengan Pendekar Cambuk Sakti itu!" bentak Iblis Kematian Rambut Putih, sambil menunjuk ke arah Simbar Buana dan Pandan Suri.
"Ha ha ha...! Dasar cecuguk ilmu hitam, apa Kau tidak melihat dia terluka karna bertarung dengan putramu itu hah..!!" Pendekar Naga Sakti malah tertawa dan setelah itu ia membentak Iblis Kematian Rambut Putih dengan suara lantang.
"Apa Kau ingin menggantikannya! Kalau begitu jangan salahkan aku, kalau Kau mati lebih dulu!"
"Soal kematian bukan di tangan mu orang tua, biarlah malaikat isroil yang mengurusnya, dan semua itu adalah takdir pencipta alam ini," jawab Pendekar Naga Sakti sengit.
"Banyak bacot! Heaa....!"
Iblis Kematian Rambut Putih melesat ke arah Anggala dengan jurus Cakar Kematian'. sebuah jurus cakar yang mengandung racun mematikan.
Hawa Panas yang keluar dari kedua tangan Iblis Kematian Rambut Putih itu, mengandung racun yang bisa membuat kulit mengelupas, Pendekar Naga Sakti cepat mengerahkan Jurus Baju Besi Emas'. dan Jurus Tirai Malaikat'. sehingga ia bisa aman dari paparan racun di tangan musuhnya itu.
"Heaa..!"
Iblis Kematian Rambut Putih, mencerca serangan ke arah Pendekar Naga Sakti dengan begitu cepat, kecepatannya bak kilat menyambar, namun dengan kepandaian Anggala yang hampir mencapai tingkat sempurna serangan Iblis Kematian Rambut Putih itu bukanlah masalah yang berat baginya.
*Sementara itu Merak Sati melesat menyerang ke arah Pandan Suri yang lagi menyalurkan hawa murni pada suaminya Simbar Buana.
"Hiyaaa....!"
Wuss...!
Tap......!
"Heh....!"
Merak Sati terkejut, dan terpaksa melompat ke belakang karna tendangan nya di halau dengan sebuah pukulan.
"Dasar pengecut! Berani menyerang musuh yang tidak siap, aku lawan mu, Merak Sati.!" Tampak Wulan Ayu berdiri tidak jauh dari Pandan Suri dan Simbar Buana, ia berdiri sambil berkacak pinggang menghadap ke arah Merak Sati.
"Bagus, Bidadari Pencabut Nyawa! Kau datang sendiri mengantarkan nyawa ke Lembah Kematian ini, jadi aku tidak perlu mencarinya di dunia persilatan!" ujar Merak Sati, pandangan nya penuh kebencian pada Wulan Ayu atau Bidadari Pencabut Nyawa itu.
"Mulut mu memang besar Merak Sati! Apa Kau tidak malu memakai gelar orang lain hah..!"
"Gelarmu itu akan menjadi gelarku wanita ******! Hiaaa....!"
Merak Sati lansung menyerang Wulan Ayu dengan sebuah pukulan tangan kosong, yang mengandung tenaga dalam tingkat tinggi.
__ADS_1
"Hiaaa...!"
Wulan Ayu pun menyambut serangan Merak Sati dengan Jurus Bidadari Kayangan'. pukulan Merak Sati itu dengan gesitnya di papaki dengan tangan nya, tidak hanya menangkis Wulan Ayu pun memberikan serangan balasan kepada Putri Wangsa itu.
Sementara itu, Pengemis Gila yang menghadapi Iblis Tangan Kematian, tampak bermain main dengan musuhnya, dengan jurus orang gilanya, ia dengan gesitnya menghindari setiap serangan Saka alias Iblis Tangan Kematian itu.
Saka yang merasa di permainan kan mengembor marah, ia semakin meningkatkan serangan nya, tendangan dan pukulan tangan nya dapat di hindari Pengemis Gila dengan lincahnya.
"He he he...! Saka! Sebaiknya Kau kembali ke rumahmu dan minta ***** kan ( susui ) pada ibumu, jurus jurus mu itu hanya mainan anak anak, he he he...!" ledek Pengemis Gila, sambil menghindari serangan Iblis Tangan Kematian itu.
"Heaaa.....!"
Saka alias Iblis Tangan Kematian mendorong kan Tangan nya ke depan sebuah cahaya merah berbentuk bola api meluncur deras ke arah Pengemis Gila, orang tua itu cepat cepat mencelat ke udara, sehingga serangan Saka itu lewat di bawahnya.
"He he he...! Rupanya tidak percuma gelarmu Iblis Tangan Kematian, Kau mengusai Pukulan Inti Api Kematian! He he he...!" ujar Pengemis Gila sambil terkekeh, ia pun tampak menyiapkan pukulan andalannya, Jurus Angin Topan Menghantam Bukit'.
"Tunggu Ki!" Kau Bisa membahayakan murid murid ku!" tiba tiba Sokananta berkelebat menghadang Pengemis Gila, orang tua itu menghentikan jurus nya dan menatap ke arah Sokananta.
"Sokananta....! Kau sudah sembuh, he he he...! Tidak percuma Kau jadi ketua Perguruan Harimau Putih! He he he..!"
"Terima Kasih Ki Karsa, atas pengertian mu, pukulan Angin Topan Menghantam Bukit mu itu bisa menghancurkan tempat ini, akan banyak korban akibat pukulan mu itu Ki!" cegah Sokananta pada Pengemis Gila yang bernama asli Karsa itu.
"He he he...! Sokananta, maaf aku terlalu bersemangat...!!"
Saka yang mendengar kehebatan ilmu Pengemis Gila itu, jadi agak ketakutan, melihat Sokananta berhasil mencegah Ki Karsa, ia lansung menyerang
dengan cepat menggunakan Cakar Ibils Kematian ke arah Sokananta dari belakang.
"Heaaa....!"
"Sokananta...! Awas.....!!"
Bersambung.....
Jangan lupa like, komentar dan Favorit ya. kalau ikhlas vote untuk mendukung lebih novel ini.
Terima kasih...
__ADS_1