Pendekar Naga Sakti

Pendekar Naga Sakti
Prahara di Galuh Permata, Pertempuran hari kedua


__ADS_3

Pagi di padang rumput hijau tampak hujan gerimis mengguyur wilayah perbatasan, hujan semakin deras membasahi padang rumput itu angin semilir menambah sejuknya udara pagi.


Tampak panji panji perang berkibar berayun di buat angin yang berhembus, tampak para prajurit di dalam kemah mereka, dan yang berjaga tampak bagai patung hidup di tengah hujan.


Para Prajurit yang terluka karna sabetan pedang dan tertusuk tombak, kini tanpa bekas hanya pakaian mereka yang tetap robek, mereka bangun dengan tubuh segar karna sebelum tidur tadi malam, mereka telah di beri ramuan obat pengobat luka oleh para prajurit medis yang di bantu para pendekar.


Tampak di ujung padang rumput, di dalam hutan tampak di kejauhan perkemahan pasukan Pangeran Roksa Galuh dan pasukannya, juga tampak sepi karna hujan mengguyur cukup deras.


Di perkemahan Prajurit Galuh permata, di bagian konsumsi tampak para prajurit yang sibuk dengan pekerjaan mereka, mereka bertugas menyediakan makanan dan minuman untuk seluruh orang yang ada di perkemahan ini.


Menjelang siang hujan telah berangsur reda, matahari pun telah berangsur bersinar.


Kedua pasukan kini telah kembali di pinggiran padang rumput, barisan ribuan prajurit memenuhi hutan di pinggir padang rumput itu.


Seorang Senopati Pangeran Roksa Galuh, berkuda ke arah pasukan prajurit Mandalika.


Ia mengibarkan bendera putih di tangannya, tanda Ia datang dengan damai.


Senopati Arya Geni maju menyonsong Senopati itu, mereka bertemu di tengah padang rumput, Senopati itu memberikan sebuah surat pada Senopati Agung Kerajaan Galuh Permata itu.


Arya Geni membawa surat itu kepada Patih Jagat Geni, yang sebagai panglima tertinggi di dalam rombongan pasukan Kerajaan.


Setelah membaca surat itu Patih Jagat Geni, memacu kudanya menemui Wulan Ayu, Patih Jagat Geni mau meminta Persetujuan Putri Kerajaan Galuh Permata itu.


"Bagaimana kak Anggala, keinginan musuh kita ini...?" tanya Wulan Ayu pada Pendekar Naga Sakti itu.


"Coba kita tanya paman guru Lesmana dan Kakek guru Pertapa Naga Dinda..!"


jawab Anggala.


Mereka pun menemui tokoh silat no satu golongan putih itu, Pertapa Naga menyetujui keinginan orang-orang dari pihak Pangeran Roksa Galuh, yaitu pertempuran, melalui pertandingan satu lawan satu di tengah gelanggang.


"Terima saja cucuku dengan Cara ini, kita bisa mengurangi korban yang berjatuhan..!" jawab Pertapa Naga.


"Baiklah Kek, kalau begitu..!" kata Wulan Ayu sambil menunduk hormat pada Pertapa Naga.


"Paman Patih kirim surat balasan, kita setuju mengadakan Perang tanding dengan Mereka," tegas Wulan Ayu pada Patih Jagat Geni.


"Baik Tuan Putri..!" Patih Jagat Geni menulis surat balasan pada Pangeran Roksa Galuh, dan memberikannya pada Senopati Arya Geni, Senopati Arya geni memacu kudanya ke tengah padang rumput menemui Senopati pasukan pemberontak itu.


Perang tanding akan di lakukan, para prajurit maju ke depan hingga jarak kedua pasukan tinggal sekitar seratus tombak lagi.


Lesman telah memilih orang-orang yang Akan mewakili pasukan Kerajaan, di antaranya ada.

__ADS_1


Anggala, si Pendekar Naga Sakti.


Wulan Ayu, Bidadari Pencabut Nyawa


Arya Geni, Pendekar Pedang Terbang.


Jaka Kelana, Pendekar Srigala Putih dari Bukit Kancah.


Aruni, Pendekar Kelelawar Putih dari Perguruaan Bambu Kuning, putri bungsu ki Gading Mageli.


Lesmana dari Lembah Naga.


Panglima Pasukan Galuh Permata ki Guntur Setra.


Sri Kemuning Pendekar Golok terbang,


Yang terakhir Patih Kerajaan Galuh Permata ki Jagat Geni dan Pertapa Naga dari Lembah Naga.


Tampak di pihak pasukan Pemberontak yang siap bertarung mewakili Pangeran Roksa Galuh.


Tujuh orang sesepuh Lembah Tengkorak yang bergelar, Tujuh Iblis Hitam dari Lembah Tengkorak, salah satunya adalah Iblis Hitam yang mencurangi Anggala beberapa minggu yang lalu.


Tampak juga di sana Warok Nusa Wungu bersaudara, Golok Setan dan Warok Nusa Wungu satu, si Gagak Hitam pun ada dalam barisan perwakilan Pangeran Roksa Galuh.


"Hati hati nyi Raesa Ireng..!"


Seru Iblis Hitam kedua yang bergelar Iblis Hitam Pedang Kembar, dia adalah suami dari Cakar Iblis Hitam atau nyi Raesa ireng.


"Hup..!" Ayo siapa yang mau bermain main denganku...!" seru si Cakar Iblis Hitam, dengan keras bernada tantangan.


"Tuan Putri biar hamba yang menghadapi Cakar Iblis Hitam itu..!" pinta Aruni si Pendekar Kelelawar Putih.


"Silahkan Aruni, berhati-hatilah orang-orang Lembah Tengkorak terkenal dengan keculasannya...!" nasehat Lesmana di bawah caping bambu, ia dan Pertapa Naga sengaja memakai caping bambu agar tidak di kenali orang-orang golongan hitam dari Lembah Tengkorak itu.


"Baik Paman...!" jawab Aruni, ia pun melompat bagai kilat dari atas kudanya lansung ke depan si Cakar Iblis Hitam.


"Hup...!"


Jlek!


Aruni atau Pendekar Kelelawar Putih, menjejakan kakinya di atas rumput yang masih basah itu, dengan begitu ringannya.


"Hehehe...! Kau mau mati muda, gadis kecil!" ledek nyi Raesa ireng, melihat yang menghadapinya seorang gadis yang sangat muda.

__ADS_1


"Coba dulu nyi, jangan banyak sesumbar..!" jawab Aruni sengit penuh tanyangan, ia memasang kuda-kudanya pertanda ia siap bertarung.


Matilah kau...!" bentak si Cakar Iblis Hitam sambil melompat ke udara dan mengirimkan tendangan bertenaga dalam tinggi ke arah Aruni.


"Hup....!" Aruni pun mempersiapkan diri dengan menyilangkan tangannya di depan dada, siap menangkis tendangan si Cakar Iblis Hitam.


Dess....!


Diiik....!"


Cakar Iblis Hitam terkejut karena hentakan tenaga dalam Aruni membuat tendangannya mental kebelakang, ia terpaksa berjumpalitan ke arah belakang baru mendaratkan kaki di atas rumput.


"Kurang ajar,! Ternyata tenaga dalam gadis ini cukup tinggi...!" desis si Cakar Iblis Hitam dalam hati. Si cakar Iblis Hitam meningkatkan tenaga dalamnya, ia menyalurkan tenaga dalamnua ke arah kedua tangannya, Ia memakai jurus 'Cakar Iblis Beracun'.


Aruni pun tidak tinggal diam, ia menyiapkan jurus 'Kelelawar Memburu Mangsa'. untuk menghadapi serangan si Cakar Iblis Hitam. Kedua telapak tangan Pendekar Kelelawar Putih itu membentuk cakar di depan dadanya.


"Hup...!"


"Heeaaa....!"


Nyi Raesa Ireng melompat secepat kilat ke arah Aruni dengan kedua tangannya yang berkuku panjang hitam itu di depan, kuku panjang Si Cakar Iblis Hitam mencerca kearah wajah Pendekar Kelelawar Putih itu dengan cukup cepat.


"Hup....!"


"Heaaa....!"


Desss....! Desss....!


Dua cakar beradu, kedua tenaga dalam pun berbentrokan sehingga membuat suara ledakan yang cukup besar.


Duaaar.....!


Aruni terjajar dua tombak ke belakang, sedangkan nyi Raesa keling terlempar tiga tombak, ia jatuh berguling di padang rumput itu.


Sring!


"Kurang ajar! Anak kemarin sore ini cukup tangguh!" dengus Nyi Raesa Ireng sambil menepuk tanah. Si Cakar Iblis Hitam langsung melompat bangun. Begitu bangkit si Cakar Iblis Hitam lansung menghunus pedang yang terselip di pinggangnya, mata pedang itu hitam pekat karna di penuhi racun hitam pelemas nadi.


Sring..!"


Aruni pun menghunus pedang kelelawar putih di punggungnya, mata pedang itu berkilauan terkena sinar matahari yang mulai menerangi padang rumput itu.


.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2