Pendekar Naga Sakti

Pendekar Naga Sakti
Teror Di Desa Talang Kuda


__ADS_3

Suara jangkrik dan cacing mulai sahut menyahuti di tengah sepinya hutan, sepasang pendekar muda itu masih berada di tengah hutan.


.


Perjalanan mereka masih belum tau seberapa jauh jarakny, entah berapa jarak yang harus mereka tempuh, kelam malam yang mulai menyelimuti membuat mereka tidak bisa mengebah kuda secara kencang.


.


"Kak tampak nya malam sudah semakin gelap, kita tidak bisa memacu kuda secara cepat, kita hanya bisa mengharap bulan bersinar terang!" ujar Wulan Ayu sambil memandang ke arah Anggala, yang hampir tidak begitu jelas terlihat wajahnya.


.


"Ya kita pelan - pelan saja, jika bulan tidak muncul kita bermalam dulu di tengah hutan ini," jawab Anggala sambil memegang tali kekang dengan perlahan.


.


Mereka tampaknya cukup beruntung bulan mulai menampakkan wajah nya di sebelah timur, cahayanya mulai menyinari bumi yang telah di telan kegelapan malam.


.


"Tampaknya kita beruntung Kak, bulan mulai bersinar, tampak baru tanggal enam belasan ya Kak?" ujar WulanAyu sambil tersenyum manis, cahaya rembulan membuat wajah cantik Bidadari dari barat itu, tampak begitu indah di pandang mata.


.


"Alhamdulillah, tampaknya tuhan tidak boleh kita termalam di tengah hutan ini,"


.


Anggala tampak menatap lekat ke arah Wulan Ayu atau Bidadari Pencabut Nyawa dengan tersenyum.


.


"Kenapa Kakak menatap Dinda seperti itu?' Seperti sudah lama sekali tidak melihat Dinda?"


.


"Wajah Dinda begitu cantik di terpa cahaya bulan ini," puji Anggala sambil tersenyum.


.


"Kakak meledek dinda, ya?" jawab Wulan Ayu sambil menatap balik ke arah Pendekar tampan dari Lembah Naga itu.


.


"Ternyata Kak Anggala, tidak berbohong," bisik Wulan Ayu dalam hati sambil memperhatikan wajah kekasihnya itu.


.


"Apa kakak pernah meledek kecantikan dinda?" Tanya Anggala sambil memasang wajah seriusnya.


.


"Ye... Gitu saja kok, ngambek," Jawab Wulan Ayu sambil tertawa kecil, "Sudah, ah. Sebaiknya kita percepat lari kuda, agar bisa mencapai desa terdekat lebih cepat,"


.


"Baiklah, Ayo Dinda....!" jawab Anggala sambil tertawa lalu mengebah kudanya, kuda hitam pemberian Ayahnya itu pun meringkik dan segera berlari dengan kencangnya.

__ADS_1


.


"Heaaa.....!" Heaaa ....!"


Wulan Ayu pun memacu kudanya mengikuti Anggala dari belakang, wajah cantik itu tampak tersenyum bahagia melihat tawa riang sang pendekar tampan kekasihnya itu.


.


Sekitar satu jam perjalanan berkuda mereka menemui sebuah gerbang Desa yang berhiaskan sepasang obor di sisi kiri dan sisi kanan jalan.


.


Mereka memperlambat lari kuda mereka begitu memasuki desa itu, tampak sebuah pos ronda di penuhi sekitar sepuluh orang yang berumur di antara tiga puluh tahun sampai lima puluh tahunan.


.


Orang- orang yang meronda itu tampak mempersenjatai diri dengan golok dan tombak, golok tersampir di pinggangnya dan tombak di sandaran di dinding siskamling itu.


.


Anggala dan Wulan Ayu berhenti tepat di depan kerumunan orang - orang itu, dan mereka berdua segera melompat turun, dari kuda yang mereka tunggangi.


.


Orang - orang itu tampak saling berbisik melihat kedatangan dua pendekar muda itu. Anggala dan Wulan Ayu menyapa mereka dengan ramah.


.


"Permisi kisanak, maaf kalau kami mengganggu?" sapa Anggala dengan tersenyum dan sopan.


.


.


"Kami mencari warung makan dan penginapan, Ki! Apa Aki bisa menunjukkan di mana?" tanya Anggala dengan sopan.


.


"Kalau warung makan ada nak, tidak jauh dari sini di tengah desa, namun penginapan tidak ada, anak muda berdua ini mau kemana ya?" jawab orang itu sambil balik bertanya pada Anggala.


.


"Kami ini pengembaraan Ki, kami tidak punya tujuan yang pasti!" jawab Anggala sambil tersenyum.


.


"Jika anak muda tidak keberatan anak muda berdua bisa menginap di rumah Aki, kebetulan rumah Aki cukup besar, kami hanya tinggal bertiga dengan putri kami satu-satunya," ujar pak tua itu menawarkan bantuannya.


.


"Jika Aki tidak keberatan, boleh! kami malah sangat berterima kasih Ki," jawab Anggala.


"Baiklah, Ayo kita ke rumah Aki," Orang tua itu tersenyum ramah. "Sebentar kawan - kawan, Aki mengantar anak muda berdua ini kerumah dulu,"


"Baik Ki.!" Jawab orang-orang itu serentak.


.

__ADS_1


"O iya Ki, perkenalkan nama Saya Anggala dan ini teman Saya Wulan Ayu " Anggala memperkenalkan dirinya dan Wulan Ayu.


.


"Nama Aki Sarwala, Panggil aja Ki Sarwa," jawabnya tersenyum ramah.


.


"Apa nama Desa ini Ki?" tanya Anggala sambil memandang ke arah Ki Sarwala.


.


"Desa ini bernama Desa Talang kuda nak," jawab Ki Sarwala.


.


"Kalau boleh tau kenapa kalian meronda dengan perlengkapan seperti orang mau perang Ki?" tanya


Anggala sambil berjalan di samping Ki Sarwala tangan kirinya menarik tali kuda di ikuti Wulan Ayu dari belakang.


.


"*Desa kami ini sedang di teror nak!"


"Di teror apa, Ki*?" tanya Anggala tampak penasaran.


"Di teror oleh orang - orang bertopeng yang menculik gadis - gadis desa ini nak, entah berapa banyak anak perempuan kami yang telah jadi korban mereka, setiap korban penculikan selalu di temukan di sungai sudah menjadi mayat nak," jawab Ki Sarwala wajah nya tampak agak sedih.


.


"Sudah berapa lama? Orang - bertopeng itu meneror Desa ini Ki?" Wulan Ayu menyela percakapan Anggala dan Ki Sarwala.


.


"Sudah lebih setahun nak," jawab Ki Sarwala dengan singkat.


.


"Apa Kalian tidak melapor ke Kerajaan yang menguasai daerah ini Ki?" tanya Wulan Ayu lagi.


"*Desa Kami ini tidak jelas masuk kemana nak, ke Kerajaan Galuh Permata jauh, ke Kerajaan Sriwijaya juga jauh, jadi kami berusaha melindungi diri kami sendiri nak,"


.


"Apa tidak ada pendekar atau perguruan golongan putih di dekat sini, Ki?"


"Ada nak, dulu, Perguruan itu akhirnya tutup setelah ketua mereka tewas di tangan orang orang bertopeng itu,"


"Kalau boleh tau mereka menangkan diri mereka siapa Ki*?" tanya Anggala sambil memandang wajah laki laki separuh baya di sampingnya itu.


.


"Meraka menamakan diri mereka, Kelompok Topeng Hitam nak.!" jawab Ki Sarwala lagi. " Kita sudah sampai nak, ini rumah Aki," tunjuk Ki Sarwala memasuki sebuah pekarangan rumah yang cukup besar.


.


Bersambung....

__ADS_1


Jangan lupa like, Koment dan favorit ya.


Terima kasih banyak....


__ADS_2