Pendekar Naga Sakti

Pendekar Naga Sakti
Prahara Di Pulau Andalas. Bag, 9


__ADS_3

Perguruan Loka Satria, sebuah perguruan kecil yang di bimbing oleh seorang pendekar yang boleh di bilang cukup muda, Satria Kelana adalah putra jaka Kelana yang merupakan seorang pendekar yang cukup terkenal di zamannya di daerah selatan pulau andalas ini.


Satria Kelana membuat sebuah perguruan di tepi desa tempat tinggalnya. Satria Kelana mengalami kekalahan dari dua orang anggota Partai Teratai Hitam.


Kini Satria Kelana harus menerima tawaran atau perguruannya di hancurkan jika tidak menerima menjadi anggota Partai Teratai Hitam.


Sementara itu di sebuah perguruan golongan putih yang di pimpin oleh seorang sesepuh yang bergelar Datuk Putih. Datuk Putih yang bernama asli Bidarawan seorang pendekar dari kaki gunung salak.


Para murid Perguruan Bangau Putih tampak sedang berlatih pagi ini, suara mereka yang latihan terdengar nyaring menghiasi pagi.


"Bagaimana perkembangan para murid kita?" tanya Datuk Bidarawan pada seorang laki-laki yang berumur sekitar empat puluh lima tahunan.


"Lumayanlah, Ayah. Tapi belum ada murid-murid kita yang maju pesat, mereka hanya mempunyai bakat rata-rata," jawab laki-laki itu.


"Kau harus sabar mendidik mereka. Mereka kita didik bukan dari kecil, selain mereka tidak ada yang mempunyai tulang bagus, Sudrajat," kata Datuk Bidarawan pada putranya itu.


"Ya, saya sudah sabar lah, Ayah. Melihat mereka berlatih dengan semangat saja, saya sudah senang," jawab Sudrajat sambil tertawa kecil.


"O, iya, Ayah. Saya dengar Partai Teratai Hitam itu mulai menaklukkan beberapa perguruan, termasuk perguruan silat golongan putih," ucap Sudrajat mengalihkan topik pembicaraan.


"Aku juga dengar, sepertinya ramalan Peramal Sinting bakal jadi kenyataan," jawab Datuk Bidarawan.


"Apa yang di katakan Peramal Sinting, Ayah?" tanya Sudrajat penasaran.


"Peramal Sinting mengatakan akan ada partai golongan hitam yang akan membuat huru-hara di dunia persilatan tanah andalas ini," Datuk Bidarawan tampak termenung mengingat pertemuannya dengan Peramal Sinting beberapa purnama yang lalu.


"Bangau Putih, akan ada partai golongan hitam yang akan membuat onar di dunia persilatan dan dua orang golongan hitam akan bekerja sama. Pendekar dari Lembah Naga akan menghilang" ujar Peramal Sinting saat itu.


"Apa yang akan terjadi, Ayah?"


"Peramal Sinting tidak menjelaskan, begitulah cara orang tua itu memberi tau. Selalu ada teka-teki di dalam perkataannya,"


Baru saja mereka hendak menuju pendopo Perguruan Bangau Putih, tiba-tiba dua bayangan hitam melesat ke depan mereka.


"Ha ha ha...! Kebetulan Pendekar Bangau Putih sedang berada di sini, jadi kami tidak perlu berurusan dengan cecunguk-cecunguk itu," ujar salah seorang dari dua orang itu.

__ADS_1


"Siapa kalian ini, apa mau kalian?" tanya Datuk Bidarawan dengan suara datar. Sudrajat tampak bersiaga melihat logat kedua orang itu tidak baik.


"Aku, dari Partai Teratai Hitam. Namaku Brata Sona, aku ketua Perguruan Macan Kuning," jawabnya dengan pongah.


"Lalu apa mau kalian, kisanak?" tanya Datuk Bidarawan dengan begitu tenang.


"Ini ada surat dari Ketua kami Setan Merah Pencabut Nyawa dan Pendekar Naga Hitam, kalian di minta datang dalam peresmian Partai Teratai Hitam empat purnama di muka, di atas puncak gunung kerinci!" ujar Ketua Perguruan Macan Kuning itu.


"Kalau kami menolak bagaimana?" Datuk Bidarawan tampak begitu tenang. Sedangkan Sudrajat sudah mulai gelisah.


"Berarti kalian harus di beri pelajaran!" bentak Brata Sona sambil menunjuk muka Datuk Bidarawan.


"Kau tidak tau sopan santun ya? bicara dengan orang yang lebih tua!" ujar Sudrajat mulai naik pitam.


Sekitar dua puluh orang lebih murid Perguruan Bangau Putih tampak langsung mengadakan pengepungan terhadap dua orang pendekar golongan hitam itu.


Teman Brata Sona tampak diam, dia adalah anggota Partai Teratai Hitam dari Perguruan Kalajengking Merah.


"Kalian mundurlah, mereka bukan lawan kalian," perintah Sudrajat dengan nada datar.


"Ha ha ha.....! Kau sadar, kau tidak akan mampu mengalahkan ku!" ledek Brata Sona dengan begitu memandang remeh Sudrajat.


"Kalau belum mencoba, siapa yang tau, kisanak!" jawab Sudrajat sengit. Sudrajat adalah putra satu-satunya Pendekar Bangau Putih untuk seorang pendekar mungkin ia bukanlah seorang pendekar yang mempunyai bakat atau tulang bagus dalam urusan kedikjayaan.


Namun Sudrajat telah belajar banyak dalam hidupnya, asam garam dunia persilatan telah banyak di cicipi.


Kedua orang tokoh hitam itu mengancam tanpa perlawanan itu sangat tidak mungkin. Beruntungnya saat ini sang ayah sedang berada di perguruan, sehingga kemungkinan Sudrajat kalah masih lima puluh, lima puluh.


Brata Sona tampak geram dengan tantangan Sudrajat, Ketua Perguruan Macan Kuning itu mengambil ancang-ancang hendak menyerang.


"Aku peringatkan sekali lagi, sebaiknya kalian tunduk di bawah bendera Partai Teratai Hitam atau Perguruan ini tidak akan aman!" ancam Brata Sona.


"Kami belum tentu kalah dari Perguruan Macan Kuning, kau sudah berkoar semaumu!" jawab Sudrajat dengan nada datar namun menandakan tantangan.


"Mati kau....!!" bentak Brata Sona, setelah itu ketua Perguruan Macan Kuning itu melompat ke arah ketua Perguruan Bangau Putih itu.

__ADS_1


"Hup!" Sudrajat yang memang dari tadi sudah bersiap langsung bergerak ke arah depan sembari menapaki serangan Brata Sona itu.


Tap!


"Heeh...!" Brata Sona cukup terkejut begitu tendangannya dengan mudah di tangkis oleh Sudrajat.


"Heeaaah..!" Brata Sona kembali merangsek ke arah depan dengan kedua tangan membentuk cakar. Namun Sudrajat dengan gesit berhasil menghindari cakaran jemari Brata Sona itu.


Malah dengan cukup cepat Sudrajat memberikan sebuah tendangan dari arah bawah setelah menarik tubuhnya ke belakang.


Dik!


Brata Sona terpaksa melentingkan tubuhnya ke udara menghindari tendangan Sudrajat itu. Begitu Brata Sona menjejak kaki di tanah, Sudrajat sudah berada di depannya dengan jurus 'Bangau Sakti. tingkat ketiga, Bangau Menembus Awan.


Jemari Sudrajat yang membentuk mirip kepala bangau mencerca ke arah leher dan dada kiri Brata Sona. Laki-laki itu mengumpat dalam hati karena telah menganggap remeh musuhnya.


Brata Sona berusaha menghindari serangan Sudrajat yang cukup cepat itu. Walau berhasil menghindari, Brata Sona di buat kalang kabut oleh jurus Sudrajat itu.


"Hiyaaa..!"


Brata Sona melompat ke arah belakang setelah berusaha keras menghindari serangan Sudrajat yang begitu kuat dan cepat.


"Hajar dia... Guru... Kalahkan dia...!"


Sorak para murid Perguruan Bangau Putih yang menyaksikan pertarungan ketua mereka. Apalagi saat ini Sudrajat sedang berada di atas angin.


"Kurang ajar! Tidak ku sangka jika aku akan kewalahan menghadapi jurus-jurus bangau Perguruan Bangau Putih!" umpat Brata Sona dalam hati.


.


.


Bersambung....


Jangan lupa tinggalkan jejak ya teman-teman. Semua jejak yang di tinggalkan pembaca adalah pentemangat author dalam menulis dan melanjutkan karyanya... Terima kasih...

__ADS_1


__ADS_2