
Wulan Ayu cukup terkejut melihat Rasolika bergerak begitu cepat menyerangnya. Namun dengan cepat pula Bidadari pencabut nyawa bergerak menarik tubuhnya ke belakang sambil berbuat gaya kayang, sehingga pedang di tangan si Pedang Kilat lewat di atas wajahnya.
Wulan Ayu juga tidak ingin Rosalika melanjutkan serangannya dengan cepat gadis cantik itu mengibaskan kipas elang perak yang sudah dari tadi mengeluarkan pisau kecil yang runcing dan sangat tajam itu.
Bet!
Si Pedang Kilat cukup terkejut ketika Wulan Ayu sempat memberi serangan balasan padanya, dengan cepat laki-laki berpakaian merah itu menarik tubuhnya ke samping Wulan Ayu dengan cepat melentingkan tubuhnya sekitar dua tombak ke arah belakang.
"Kurang ajar! Kalian berniat mengeroyok ku, ya? Dasar orang-orang pengecut!" gerutu sang Bidadari pencabut nyawa sambil mengalirkan hawa murni ke arah bahunya yang tampak mengeluarkan darah bekas terserempet golok salah satu adik seperguruan Rasolika itu.
Baru saja Wulan Ayu hendak bergerak tiba-tiba dua buah pedang bagai kilat meluncur ke arahnya.
Set! Set!
"Hup!" Wulan Ayu cepat bergerak menghindari serangan kedua pedang yang meluncur deras ke arahnya.
"Kurang ajar! Siapa lagi ini?" geram Wulan Ayu sembari menjejak kaki di tanah, melihat gelagat musuhnya yang tampak benar-benar berniat untuk menghabisi nyawanya. Wulan Ayu cepat mengganti kembali senjatanya. Wulan Ayu kembali menghunus pedang elang perak.
"Kau!" bentak Wulan Ayu sambil bergerak cepat menyabetkan pedangnya ke arah si Pedang Darah yang tiba-tiba menyerang menyusul dua pedangnya.
"Shaaa...!" Wulan Ayu cepat bergerak menghindari serangan si Pedang Darah sembari melompat mundur.
"tampaknya mereka sudah tidak mempedulikan sikap satria dalam pertarungan, apa boleh buat. Aku harus menggabungkan kekuatan ilmu 'Tapak Dewa'. dengan jurus 'Pedang Kayangan tingkat tujuh," gumam Wulan Ayu sambil menatap tajam ke arah puluhan orang yang menghadapinya.
Tatapan Bidadari Pencabut Nyawa tampak begitu tajam, namun wajah cantik gadis itu menggambarkan ketenangan.
"Sebaiknya kalian cepat tinggalkan tempat ini, atau jangan salahkan aku jika tidak berbelas kasihan..!" kata Wulan Ayu dengan nada suara datar namun terdengar dingin.
__ADS_1
"Ha ha ha...! Gadis tengik, kau kira kami bodoh. Hah... Kau bisa mengertak kami..!" balas Rasolika terdengar lantang.
"Baik, jangan sesali ucapan kalian...!" dengus Wulan Ayu sambil meningkatkan tenaga dalamnya untuk merapal ilmu 'Tapak Dewa'. tingkat tiga dan jurus 'Pedang Kayangan'. tingkat tujuh.
"Hiyaaa....!" jeritan membahana keluar dari mulut Bidadari Pencabut Nyawa, tiba-tiba sebuah cahaya kuning membentuk bola melingkari tubuhnya.
Wulan Ayu memutar pedang elang perak di dalam lingkaran cahaya kuning yang membentuk bulatan bagai sebuah bola cahaya itu. Pedang elang perak tampak berputar cepat membentuk bayangan.
"Jangan beri kesempatan, serang dia secara serentak!" teriak Rasolilaka memberikan perintah.
"Heaaa.....!"
Tanpa basa-basi lagi puluhan orang Perguruan Elang Merah itu melesat cepat ke arah Wulan Ayu dari segala arah.
Begitu mereka hampir mengenai Bidadari Pencabut Nyawa. Mereka semua terbelalak kaget seakan tidak percaya, tidak satu pun dari mereka yang mampu menembus cahaya kuning yang membentuk perisai bulatan di sekeliling tubuh Wulan Ayu itu.
Puluhan murid Perguruan Elang Merah itu akhirnya melompat mundur, namun masih tetap mengepung Wulan Ayu dari segala penjuru.
"Haaa.....!!!" Wulan Ayu terdengar berteriak nyaring menggema, setelah Bidadari Pencabut Nyawa itu mengangkat pedang elang perak ke atas kepala dan menyentuh cahaya kuning yang membentuk bola di sekeliling tubuhnya.
Puluhan mata pedang tampak membentuk dari cahaya kuning yang mengelilingi tubuh Wulan Ayu itu.
Semakin lama pedang dari cahaya itu semakin banyak, mungkin mencapai ratusan mata pedang.
Rasolika tampak tersentak kaget sampai tersurut mundur dua langkah ke belakang, sedangkan si Pedang Darah juga tampak berubah rona wajahnya.
Melihat keadaan yang tidak lagi menguntungkan, Rasolika berniat mundur. Namun baru saja ia hendak bergerak mundur, terdengar teriakan nyaring Wulan Ayu.
__ADS_1
"Hiyaaa......!!"
Set! Set! Set! Set!
Puluhan murid Perguruan Elang Merah itu mencoba bergerak menjauh, kecepatan mata pedang dari cahaya itu bagai lidah kilat yang menyambar.
Cres! Cres! Crab!
"Aaaa.........!!!" hanya teriakan kesakitan menyayat hati terdengar saling susul menyusul, hampir tidak ada yang sempat menghindar dan menangkis.
Dalam waktu singkat puluhan murid Perguruan Elang Merah itu bergelimpangan di tanah. Hanya si Pedang Kilat dan si Pedang Darah yang masih berdiri, namun kedua orang itu tidak lama kemudian jatuh berlutut dengan mulut mengalir darah segar.
"Sudah ku peringatkan, kisanak. Namun kalian tidak mendengar peringatan dan ancamanku!" kata Wulan Ayu tiba-tiba sudah berdiri di depan Rasolika yang masih berusaha bertahan dengan menjadikan pedangnya sebagai penopang tubuhnya agar belum jatuh ke tanah.
"Kau... Kau... Benar-benar Bidadari Pencabut Nyawa dari barat..., itu...?" tanya Rasolika dengan suara terputus-putus dan terbata-bata.
"Aku sudah mengatakan padamu siapa aku. Kalian tetap melanjutkan kesombongan kalian...!" dengus Wulan Ayu sembari menyarungkan pedang elang perak ke dalam warangkanya.
Plok! Plok! Plok!
"Hebat! Hebat.....! Sangat Hebat....!
"Heh...... Siapa itu...... Keluar.....?!!!"
.
.
__ADS_1
Bersambung....