
Suara kicau burung pagi terdengar menyambut pagi. Wulan Ayu yang tidur bersandar di bahu Anggala perlahan membuka matanya. Tidak jauh dari mereka tampak Tiga Elang duduk bersandar pada sebuah batang pohon.
.
Semburat cahaya merah tampak menghiasi upuk timur. Langit yang tadinya bertaburan bintang kini mulai menampakkan bias birunya.
.
Ke empat pendekar muda itu tampak masih duduk menikmati sejuknya udara pagi. Cahaya mentari pun perlahan mulai menyinari dari arah upuk timur.
.
"Sebaiknya kita mulai bergerak. Hari ini adalah purnama tiga belas, para pendekar itu telah berkumpul di puncak gunung pungur," Ucap Anggala sambil mematikan sisa api unggun mereka tadi malam.
.
"Baiklah..! Sebaiknya kita bergerak sekarang. Karna kita tidak begitu mengenal daerah ini, jadi lebih cepat lebih baik!" Jawab Dewi Arau sambil bangkit dari duduknya. Dewi Pingai dan Dewi Aurora hanya ikut mengangguk.
.
"Apa kita tidak menunggu Kamandaka dan kedua adiknya?" Tanya Wulan Ayu sambil menggerakkan tangannya ke atas.
.
"Tidak usah, Mereka akan menyusul kita kok. Mereka kan hapal daerah ini," Jawab Dewi Arau sambil tersenyum.
.
"Ayo Kak! Kok bengong!" Canda Wulan Ayu sambil tertawa. Wulan Ayu merangkul lengan kekar Pendekar Naga Sakti itu. Anggala hanya mengangguk dengan sebuah senyuman membalas candaan sang bidadari cantik dari barat itu.
Mereka pun perlahan mendaki lereng gunung pungur itu.
.
Sementara itu di markas besar Perampok Singa Merah. Beberapa orang perampok tampak memasuki ruangan tahanan. Mereka tampak ternganga melihat teman-teman mereka yang berjaga bergelimpangan dalam keadaan pingsan. Sedangkan para tawanan telah raib entah kemana?
.
"Cepat laporkan pada ketua Mata Satu! Beliau masih beristirahat di kamarnya!" Ujar salah seorang perampok itu pada temannya. Tanpa banyak tanya lagi salah seorang perampok itu langsung berlari meninggalkan ruangan tahanan itu.
.
__ADS_1
"Kau cepat pukul kentongan!" Ujar perampok yang brewokan dan memakai baju merah.
.
"Baik!" Jawab perampok yang lebih muda itu, ia segera berlari keluar dari tempat itu. Tidak lama kemudian terdengar suara kentongan berbunyi.
.
Tong! Tong! Tong! Tong...!!
Suara kentongan itu terdengar keseluruh penjuru hutan itu. Tidak lama lebih dari seratus orang perampok yang ada di markas besar itu tampak berduyun-duyun menuju ruangan tahanan itu.
Tampak Si Mata Satu berlari agak tergopoh-gopoh menuju ruangan tahanan itu.
.
"Apa yang terjadi? Kenapa para tahanan itu bisa melarikan diri. Hah..!!" Bentak Si Mata Satu pada seluruh anak buahnya. Sedangkan Perampok yang baru sadar dari pinggangnya tampak agak terkejut dan uru-buru berlutut di depan Si Mata Satu.
.
"Maafkan kami Ketua! Kami pantas di hukum!" Ucap ke empat perampok itu sambil menunduk dan berlutut di depan Si Mata Satu.
.
.
"Ampuni Kami Ketua. Tadi malam ada bayangan yang sangat cepat dan melumpuhkan kami berempat, tanpa kami sempat melawan Ketua!" Jawab salah seorang perampok itu dengar suara bergetar ketakutan.
.
"Apa bayangan itu laki-laki atau perempuan?!!
"Kami tidak sempat melihat. Dia laki-laki atau perempuan Ketua. Gerakannya begitu cepat!" Jawab perampok itu meyakinkan.
.
"Bangsat! Cepat Kalian geledah hutan sekitar ini. Mungkin mereka belum jauh. Jika mereka melawan bunuh saja mereka. Biar aku yang bertanggung jawab di depan Ketua Tiga Warok Singa Merah!" Perintah Si Mata Satu lagi.
.
"Baik Ketua!" Jawab para perampok itu bersamaan. Para perampok itu pun meninggalkan ruangan itu. Mereka segera berpencar membagi menjadu beberapa kelompok.
__ADS_1
.
Mata hari hampir mendekati puncak kepala. Pendekar Naga Sakti dan Bidadari Pencabut Nyawa bersama Tiga Elang pun telah mencapai puncak gunung pungur. Mereka berempat tampak berjalan menuju sebuah bangunan besar di sekelilingnya di pagari dengan begitu rapi.
.
"Siapa Kalian. Ada maksud apa datang kemari?" Tanya pengawal pintu gerbang yang berkulit hitam legam namun mempunyai fostur tubuh yang kekar.
.
"Kami di undang oleh Kalajengking Merah," Jawab Anggala sambil menyungging senyum tipis.
.
"Kalian tunggu di sini dulu, kami akan bertanya pada ketua kami dulu. Apa benar Kalian ini undangan beliau!" Ujar Perampok yang berbadan besar itu.
.
"Katakan pada Ketuamu. Murid Elang Hitam juga telah datang," Kata Dewi Arau. Gadis muda itu tampak dingin, tidak menampakkan kemarahannya.
.
"Tole..! Cepat Kau lapor pada Ketua Kalajengking Merah! Tamunya telah datang!" Ujar perampok itu pada temannya. Perampok yang bernama Tole itu dan temannya yang satunya lagi hanya mengangguk dan segera memasuki gerbang itu.
.
Tidak lama kemudian Tole telah kembali dan berbisik pada Si brewok itu. Si brewok hanya menggangguk menyetujui.
.
"Silahkan. Kedatangan Kalian telah di tunggu Ketua di dalam," Kata Si brewok. Role dan dua temannya langsung membuka pintu gerbang dari susunan kayu itu.
.
Pendekar Naga Sakti dan Bidadari Pencabut Nyawa bersama Tiga Elang pun berjalan memasuki gerbang itu. Mereka segera menuju bangunan besar di tengah-tengah tempat itu.
.
.
Bersambung...
__ADS_1