
Cukup lama dua orang pendekar itu saling menyerang dan saling menangkis serangan lawan. Namun belum juga ada yang keluar sebagai pemenangnya. Pendekar Naga Hitam melompat mundur sekitar dua tombak kebelakang.
Pendekar Naga Hitam mulai mempersiapkan Ajian kedikjayaan yang menggunakan tenaga dalam tingkat tinggi.
"Jurus Cakar Naga Hitam Menghempas Bukit! Heaaa....!!!"
Bentakan nyaring Pendekar Naga Hitam sambil mencengkeramkan kedua jari tangannya di depan dada. Cahaya merah kekuningan menyelubungi kedua telapak tangan Fhatik itu.
Sementara itu Pendekar Naga Sakti juga bersiap dengan 'Jurus Tapak Naga tingkat limanya.
"Hiyaaa....!"
Jerit melengking keluar dari mulut Fhatik, seketika itu pula ia melesat cepat kearah Anggala. Dua kekuatan yang berasal dari Lembah Naga itu pun bertemu.
Blaaam....!!
Hempasan gelombang dua pukulan itu menyapu tempat itu. Beberapa orang perampok yang memiliki tenaga dalam rendah harus menerima terlempar dan terseret arus ledakan itu.
Meja dan kursi yang semula bersusun rapi kini berserakan dalam keadaan hancur. Belasan bahkan puluhan anak buah Warok Singa Merah berserakan di tanah. Kebanyakan para perampok itu mengalami luka dalam yang cukup parah. Tidak sedikit pula yang telah tewas.
"Hahaha......!! Keponakan ku akui Kau cukup hebat, tapi belum saatnya kita mengadu kesaktian habis-habisan. Ku tunggu kedatanganmu di puncak gunung kerinci dua belas purnama mendatang!"
Suara menggema dari Pendekar Naga Hitam menggema di tempat itu. Namun Pendekar Naga Hitam sudah tidak berada di sana lagi.
"Huh! Rupanya pengecut itu menyempatkan diri melarikan diri," guman Pendekar Naga Sakti seraya mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Namun Fhatik memang sudah tidak berada di tempat itu lagi.
Pendekar Naga Hitam menggunakan pengirim suara jarak jauh, untuk mengirimkan suaranya tadi. Pendekar Naga Sakti pun akhirnya berkelebat dengan sangat cepat ke arah tempat Bidadari Pencabut Nyawa yang sedang bertarung dengan orang-orang berpakaian ninja itu.
"Hiyaa...!"
Sebuah pukulan jarak jauh di lepaskan Pendekar Naga Sakti ke arah orang-orang berpakaian ninja itu.
"Blaam..!"
"Aaakhh...!! Sekitar lima orang berpakaian ala ninja itu terpental ke tanah. Beberapa saat orang-orang itu berkelonjotan lalu diam tidak berkutik.
"Hup!"
Bidadari Pencabut Nyawa pun tidak ketinggalan kelebat kipas di tangan kanannya begitu cepat. Ujung kipas yang mengeluarkan pisau kecil itu menyambar bagian mematikan para perampok itu.
Tidak butuh waktu lama puluhan anak buah Warok Singa Merah telah bergelimpangan di tanah.
__ADS_1
"Hehehe...! Sobat! Tampaknya kita kekurangan lawan nih, hehe..!" tawa Kamandaka sambil menjejak kaki di samping Anggala.
"hehe..! Sobat! Berhati-hatilah, para perampok masih berdatangan," jawab Anggala sambil tertawa.
Entah dari mana datangnya ratusan orang-orang berpakaian ala ninja itu terus berdatangan. Jumlah mereka tidak kurang dari tiga ratus orang. Kamandaka dan kedua adik seperguruannya malah tertawa terkekeh, melihat musuh datang berbondong-bondong.
"Heh! Musuh datang bagai air mengalir, kalian malah tertawa. Senang ya! Kalau kita mati di sini?" rungut Wulan Ayu.
"Hehehe..! Sobat, kita tidak akan mati di sini kok, mereka hanya menambah waktu bermain-main kita saja, hehehe...!" tawa Kamandaka sambil memutar-mutar tongkat naga emasnya di samping tubuhnya.
"Baiklah, aku juga akan ikut bermain!" jawab Bidadari Pencabut Nyawa sambil menghunus pedang elang perak dari balik punggungnya.
Sring! Kilau cahaya putih keperakan yang menyilaukan mata semerbak menyinari tempat itu.
Gadis cantik murid dua Pendekar Pemarah itu langsung merapal 'Jurus Pedang Kayangan'.
"Itu baru kekasihku!" seloroh Anggala sambil tersenyum.
"Ih, Kakak!" rungut Wulan Ayu sambil tersenyum manis, "Ayo kita habisi mereka Kak! Hiyaa...!" tambahnya lagi sambil melesat cepat ke arah rombongan pengepung tersebut.
Gerakan Bidadari Pencabut Nyawa yang begitu lincah membuat para pengeroyok itu kesulitan menghindari setiap sabetan dan tebasan pedang elang perak ditanganinya.
"Aaaa...!"
Pendekar Naga Sakti dan Kamandaka juga tidak ketinggalan para pendekar muda itu berkelebat menyerang ke arah para pengepungnya.
Ctar! Srass! Duaaarr...!"
"Aaaa...!!"
Sambaran lidah petir menghantam orang-orang yang berada di depan Pendekar Naga Sakti. Belasan orang berpakaian ala ninja itu harus terpental dengan tubuh menghitam. Mereka tewas seketika.
"Hiyaaa....!"
Trang! Trang!
Pedang orang-orang berpakaian ninja itu berdentingan menghantam batang tongkat di tangan Kamandaka.
Buak! Buak!
"Aaakh.....!!"
__ADS_1
Orang-orang berpakaian ninja itu hanya mampu melenguh kesakitan, ketika tongkat naga emas di tangan Kamandaka menghantam tubuh mereka. Orang-orang berpakaian ninja itu harus terpental tanpa dapat menyentuh musuh mereka.
Sementara itu Dewi Arau yang berhadapan dengan Jagat Satra tampak telah terlibat pertarungan sengit. Jurus-jurus pedang murid Elang Hitam itu membuat Warok Singa Merah satu belum dapat mendesak.
Wut! Wut!
Trang! Trang!
"Hup!"
Jagat Pati terpaksa menarik tubuhnya kebelakang. Karena sambaran pedang di tangan kiri Dewi Arau hampir mengenai bahu kanannya.
"Bangsat!" dengus Jagat Satra sambil menjejak kaki di tanah, "Jurus-jurus pedang gadis ini tidak boleh di anggap enteng. Rupanya dia berhasil mewarisi kesaktian Elang Hitam," gerutu Jagat Pati dalam hati.
Keris panjang satu hasta berwarna hitam itu telah tergenggam di tangan Warok Singa Merah satu tersebut. Wajah tua Jagat Satra tampak mulai kelelahan. Bertarung puluhan jurus itu membuat tenaga tuanya mulai berkurang.
"Ayo! Manusia laknat, kita lanjutkan pertarungan ini. Sampai salah seorang kita menjadi mayat!" bentak Dewi Arau sambil mengacungkan pedang putih di tangan kanannya ke arah Jagat Satra yang tampak mulai kelelahan.
"Aku tidak boleh bertarung lebih lama lagi, jika tidak ingin kehabisan tenaga," guman Jagat Satra membathin.
Jagat Satra meningkatkan tenaga dalamnya. Keris di tangannya di tegakkan di depan wajahnya. Cahaya merah keputihan mulai menyelubungi tubuh Jagat Satra.
"Kau mau mengajak adu kedikjayaan tenaga dalam bangsat! Akan aku layani," geram Dewi Arau sambil meningkatkan tenaga dalamnya.
Crab! Crab! Dua pedang ditangan Elang perak itu tertancap ketanah di samping tempat ia berdiri. Gadis cantik berbaju merah itu merapatkan telapak tangannya di depan dada. Cahaya putih bersinar terang menyelubungi kedua telapak tangan Elang Merah itu.
"Pukulan Elang Kayangan!" Jagat Satra tampak terkejut melihat jurus yang di siapkan Dewi Arau itu.
"Aku harus berhati-hati, pukulan andalan Elang Hitam itu terkenal cukup berbahaya," guman Warok Singa Merah satu itu dalam hati.
"Pukulan Keris Neraka Penghancur!" guman Dewi Arau dalam hati melihat cahaya merah yang menyelubungi batang keris di tangan Jagat Satra itu, "Kakek guru pernah bercerita tentang 'Pukulan Keris NerakaPenghancur itu," Dewi Arau membatin.
Gadis cantik berbaju merah itu sempat mengedarkan pandangannya kearah kedua adiknya. Ada perasaan cemas yang menyelimuti hati Dewi Arau, ia takut tidak akan dapat melihat wajah cantik kedua adiknya itu.
"Muridku, jangan pernah ragu dengan kemampuanmu sendiri. Ingatlah Kau harus menegakkan keadilan...!" tiba-tiba suara sang guru seakan berada di dekatnya, "Kakek guru, maafkan Arau," guman Elang Merah dalam hati.
Keraguaan Elang Merah pun perlahan sirna. Cahaya putih yang menyelubungi kedua telapak tangannya semakin bersinar dengan sirna seluruh keraguannya.
.
.
__ADS_1
Bersambung...