
Dilayani dan Dipayani hanya tertegun sejenak akhirnya gadis-gadis kembar itu tersenyum. Ada kelegaan dihati mereka, melihat semua teman-teman mereka baik-baik saja.
"Aku cukup terkejut melihat yang menyelamatkan Dila adalah Ki Sura Jaya, yang selama ini kami kenal sebagai petani biasa. Mungkin pengetahuan kami bertiga terlalu sempit tentang para pendekar dunia persilatan," kata Suryani sambil tersenyum. Gadis itu menghampiri kedua saudara kembarnya.
"Hehehe...! Sebenarnya aki sudah tau siapa Ki Sura Jaya, namun sebagai pendekar dan teman lama aku tidak ingin membeberkan rahasia temanku," kata kakek Wiratama sambil tersenyum.
"Hehehe..! Aku yang meminta Wiratama merahasiakan siapa aku sebenarnya. Aku sebenarnya sudah tidak ingin ikut campur urusan dunia persilatan. Namun ketika rumah dan temanku terancam, aku tidak bisa tinggal diam," kata Pendekar Tapak Dewa lagi.
"Pendekar Naga Sakti, bagaimana kabar Pertapa Naga sekarang? Sudah lebih dua puluh tahun aku tidak bertemu tokoh nomor satu golongan putih itu," tanya Ki Sura Jaya pada Pendekar Naga Sakti.
"Kakek guru terakhir kami bertemu, beliau baik-baik saja Kek," jawab Pendekar Naga Sakti.
"Lesmana, bagaimana kabarnya? Apa dia kembali ke Mandalika?" tanya Ki Sura Jaya lagi.
"Tidak Kek, paman Lesmana juga berada di Lembah Naga," jawab Anggala lagi.
"Rupanya seorang pangeran memilih menjadi pertapa dari pada menjadi seorang Raja, hehehe...!" tawa Pendekar Tapak Dewa lagi.
"Ya sudah sebaiknya kita kembali ke Desa, aku takut orang-orang suruhan Kelabang Hijau malah memampatkan kesempatan ini," tukas kakek Wiratama sambil tertawa. Orang tua tersebut langsung melesat meninggalkan tempat itu menuju Desa.
"Wiratama-Wiratama, Kau memang seorang sesepuh Desa, yang selalu mempedulikan keadaan Desa kita. Ayo Pendekar Naga Sakti," sambung Pendekar Tapak Dewa, ayah Melati itu pun melesat disusul Pendekar Naga Sakti, Para gadis dan Nyi Pelangi pun melesat menyusul.
Apa yang ditakutkan kakek Wiratama benar. Begitu mereka sampai ke Desa, suara tangisan dan jeritan para wanita mengiris hati. Anak-anak mereka telah diculik oleh orang-orang bertopeng Tengkorak Merah.
Nyi Tantri tampak terduduk lesu, keringat tampak membasahi bajunya. Beberapa mayat orang-orang bertopeng Tengkorak Merah tampak bergelimpangan di dekat Nyi Tantri.
"Maafkan aku Ki, aku sudah berusaha menghalangi mereka. Tapi mereka terlalu banyak, lebih dari dua puluh orang anak-anak telah mereka culik," desah Nyi Tantri, wajah wanita cantik setengah baya tersebut tampak penuh penyesalan.
"Dimana Sandara Nyi?" tanya kakek Wiratama sambil mengedarkan pandangannya ke sekeliling tempat itu. Wajah kakek Wiratama tampak berubah cemas.
"Sandara ada ditempat persembunyian Ki," jawab Nya Tantri lemah, "Wulan Ayu yang sedang berusaha mengejar mereka," tambahnya lagi.
Tidak seberapa lama Bidadari Pencabut Nyawa melesat dari arah hutan bersama Tiga orang anak kecil di gendongannya. Perlahan Wulan menurunkan tiga orang bocah dari gendongannya.
__ADS_1
"Maaf saya hanya bisa merebut tiga orang anak, mereka cukup cepat, selain itu mereka memakai cara pengalihan," ucap Bidadari Pencabut Nyawa, gadis itu tampak agak kecewa.
"Tidak apa-apa nak Wulan, kalian sudah berusaha, ternyata yang dicemaskan Wiratama benar, sekarang kita harus berpikir, bagaimana cara kita membebaskan anak-anak itu," ucap Ki Sura Jaya sambil menepuk pelan bahu Wulan Ayu.
"Dinda tidak apa-apa?" tanya Pendekar Naga Sakti pada kekasihnya tersebut.
"Dinda tidak apa-apa Kak, tidak seberapa lama kalian pergi menyusul Pendekar Kembar, puluhan mungkin lebih dari seratus orang ninja bertopeng tengkorak itu bermunculan. Aku dan Nyi Tantri langsung mengadakan perlawanan. Tapi mereka terlalu banyak," tutur Wulan Ayu.
"Ya, yang dikatakan Ki Sura benar, tampaknya Kelabang Hijau hendak memancing kita kesarangnya. Kita harus hati-hati, apalagi nak Wulan dan nak Anggala, sepertinya mereka hendak membalas kematian para Iblis Perak itu," tambah kakek Wiratama.
"Para penduduk, tidak usah cemas. Anak-anak kalian akan kami selamatkan, kami yang akan ke markas Kelabang Hijau," ucap Anggala, Wulan Ayu hanya mengangguk, "Kami janji kami akan menyelamatkan anak-anak kalian. Walau nyawa kami taruhannya," tambahnya lagi.
"Wiratama, Kau dan yang lain tetap disini, biar aku dan Melati yang membantu Pendekar Naga Sakti," ucap Pendekar Tapak Dewa lagi.
"Tapi Sura?" kakek Wiratama tampak keberatan.
"Aku ada rencana yang akan dijalankan dengan Pendekar Naga Sakti, kalian tetap berjaga disini," tambah Ki Sura Jaya lagi.
"Baiklah... Kalau Kau punya rencana," jawab kakek Wiratama, " Aku harap itu bukan usul gilamu Sura," tambah kakek Wiratama lagi.
"Itu usul yang bagus Ki," jawab Pendekar Naga setuju usul Ki Sura Jaya itu.
"Apa kalian tidak butuh pengalihan?" tanya kakek Wiratama.
"Aku yang akan mengalihkan perhatian Kelabang Ungu dan Kelabang Merah malam ini Ki," jawab Pendekar Naga Sakti.
"Sebaiknya kita bersiap! Melati persiapkan dirimu, aku yakin nak Wulan sudah siap," kata Ki Sura Jaya lagi.
"Baik! Ayah... Ini akan menyenangkan," jawab Melati bersemangat. Wulan Ayu hanya ikut tersenyum.
.
Matahari sore tampak bersinar terang di upuk barat. Empat orang pendekar itu tampak mempersiapkan diri, tujuan mereka adalah markas komplotan Iblis Perak yang dipimpin oleh Kelabang Hijau, yang bernama asli Reksa Gana. Kakak kandung dari Roksa Geni.
__ADS_1
"Ayo! Anggala, kita berangkat!" kata Pendekar Tapak Dewa, Anggala hanya mengangguk. Tanpa banyak bicara lagi keempat pendekar itu melesat meninggalkan Desa Mekar Ramai itu.
*****
Suasana malam yang mulai datang terdengar riuh di markas besar Kelompok Iblis Perak. Suara tangisan anak-anak yang diculik terdengar sayup dari kejauhan. Di Sebuah kerangkeng besi terlihat anak-anak itu disekap.
"Diaaamm...!! Atau kalian ingin jadi makanan harimau! Hah!" bentak Kelabang Hijau, dua ekor harimau andalas di lepaskan di Kerangkeng itu. Melihat harimau itu, anak-anak yang berada di dalam kerangkeng itu mendadak diam. Ketakutan mereka membuat suara tangisan, mereka tidak terdengar lagi.
"Kalian dengar! Jika kalian menangis lagi, aku akan melepaskan kalian untuk jadi makanan harimau ini," gertak Kelabang Ungu. Anak-anak itu memilih diam karena takut. Namun mata mereka menatap penuh kebencian pada orang-orang yang menculik mereka itu.
Melihat anak-anak itu diam, Kelabang Hijau pun berlalu, kembali ke ruang besar ditengah rumah megah terbuat dari batu bata merah itu.
"Ayah.. Mau Ayah apakan anak-anak itu?" tanya Mekar Suri sambil duduk di sebuah kursi disamping ayahnya.
"Kita akan jadikan mereka sebagai kelemahan Pendekar Naga Sakti dan para pendekar di kampung itu," jawab Kelabang Hijau, " Bagaimana luka pamanmu?" tanya Kelabang Hijau lagi.
"Luka dalam paman sudah membaik, kulitnya juga sudah sembuh, sekarang paman sedang istirahat di kamarnya," jawab Kelabang Ungu.
"Baguslah... Sebaiknya Kau juga istirahat. Besok kita kirim undangan untuk para pendekar itu, kita bunuh mereka disini," perintah Kelabang Hijau.
"Baik! Ayah... Mekar istirahat dulu, jangan ganggu Mekar sampai esok," jawab Mekar Suri seraya bangkit dan berjalan menuju kamarnya di ujung rumah besar itu.
.
*****
Sementara itu ada dua mata menatap tajam kearah rumah besar Reksa Gana itu. Ia adalah Pendekar Naga Sakti yang menggunakan 'Ilmu Mata Malaikat'. nya. memperhatikan keadaan di dalam rumah besar itu.
"Ki, kamar Kelabang Ungu paling ujung. Aku akan turun menemui Kelabang Hijau, kalian culik putrinya. Kalian punya waktu singkat. Jadi berhati-hatilah," kata Pendekar Naga Sakti, selesai berkata ia pun melesat kearah rumah besar itu. Pendekar Tapak Dewa dan Bidadari Pencabut bersama Melati melesat kearah kamar yang di tempati Mekar Suri itu.
.
.
__ADS_1
Bersambung....