
Sementara itu Anggala yang lagi mempersiapkan jurus 'Tapak Naga tingkat lima Amarah sang naga. Tampak meningkatkan tenaga dalamnya ke tingkat lima puluh lebih. Cahaya kuning keemasan mulai membentuk kepala naga yang cukup besar melingkupi setengah tubuh Pendekar Naga Sakti.
Cahaya merah yang membentuk kelabang raksasa tampak seperti Kelabang yang siap bertarung menutupi seluruh tubuh Roksa Geni. Kelabang raksasa itu bagai menyatu dengan gerakan tangan Kelabang Merah.
Kedua telapak tangan Pendekar Naga Sakti yang tadinya merapat didepan dada. Kini telah merenggang disamping dadanya. Telapak tangan kanan Anggala tampak berada di depan dada bagian sebelah kanan.
"Kau akan mati hari ini anak muda!" terdengar serak suara Kelabang Merah tersebut.
"Kematian bukan di tanganmu Kelabang Merah!" balas Pendekar Naga Sakti sengit.
"Heaaa....!!" bentakan Roksa Geni itu mengawali gerakan tubuh nya melesat dengan begitu cepat kearah Pendekar Naga Sakti. Namun Anggala masih diam dengan kuda-kudanya. Begitu Kelabang Merah sudah cukup dekat barulah Pendekar Naga Sakti menghentakkan kedua telapak tangannya ke depan.
Swoss..!!
Swoss..!!
Dua kekuatan kedikjayaan saling baku hantam di udara. Ledakan akibat benturan dua kekuatan itu menimbulkan ledakan yang membuat aura kekuatan itu membentuk gelombang angin bagai badai. Entah berapa batang pohon harus tumbang dan patah terkena dampak ledakan itu.
Debu dan tanah tampak berhamburan menutupi tempat itu. Kedua pendekar berlainan golongan itu hilang ditutupi dedebuan. Beberapa saat kemudian tampak keduanya saling terpental kebelakang.
"Aaakhh...!!" Roksa Geni tampak jatuh bergulingan ditanah. Namun beberapa saat kemudian Kelabang Merah itu kembali melompat bangun. Walau agak sempoyongan Roksa Geni berhasil berdiri sambil memegangi dadanya. Darah merah tampak mengalir dari sudut bibir Kelabang Merah itu sampai kedagunya.
"Hup!" Roksa Geni cepat menyatukan telapak tangannya didepan dada dan duduk bersemedi. Kelabang Merah tampak berusaha mengobati luka dalamnya dengan bersemedi. Tampak tubuhnya seperti diselubungi cahaya putih keperakan. Pertanda Kelabang Merah sedang mengalirkan hawa murni kearah tubuhnya.
Sementara Anggala yang sempat terdorong sekitar lima tombak kebelakang, tampak memegangi dadanya yang terasa sesak. Karena pernapasan dan darahnya kacau akibat adu tenaga dalam dengan Kelabang Merah tadi.
__ADS_1
Pendekar Naga Sakti memanfaatkan kesempatan itu untuk mengalirkan hawa murninya. Untuk menstabilkan aliran darah dan pernapasannya.
*****
Sementara itu Ki Sura Jaya yang lagi berhadapan dengan Kelabang Hijau tampak masih saling meningkatkan kekuatan masing-masing.
"Tapak Besi Kayangan? Aku harus menghadapinya dengan jurus 'Tapak Iblis Neraka, Cakar Kelabang Api'.," guman Reksa Gana seperti berbicara pada dirinya sendiri. Kelabang Hijau itu meningkatkan tenaga dalamnya ke arah telapak tangannya. Cahaya merah kehitaman menyelubungi kedua telapak tangan Reksa Gana tersebut.
Pendekar Tapak Dewa yang memakai jurus Tapak Dewa, Tapak Besi Kayangan'. cahaya kehitaman tampak menyelubungi tangan kirinya Sura Jaya. Cahaya itu perlahan membesar dan membentuk telapak tangan besar yang membungkus tubuh Pendekar Tapak Dewa itu dari pinggang hingga lewat kepala. Cahaya kehitaman itu bagai kaca yang tembus pandang.
"Kriiiiirrrrrr....!" suara begetaran keluat dari cahaya hitam yang mulai menyelubungi tubuh Reksa Gana itu. Cahaya hitam itu perlahan berubah menjadi Kelabang berwarna hitam dan seluruh kakinya berwarna merah api.
"Rupanya Kelabang Hijau memang telah berhasil menguasai ilmu setingkat kekuatan iblis itu. Aku harus berhati-hati!" bisik Ki Sura Jaya dalam hati. Pendekar Tapak Dewa itu meningkatkan tenaga dalamnya ke tingkat yang lebih tinggi lagi.
"Hahaha...! Sura Jaya! Kau tidak usah takut. Kau tidak akan merasakan sakit ketika tubuhmu hancur terkena pukulanku ini!" ujar Reksa Gana dengan begitu angkuh.
"Bajingan! Mulut tuamu itu tampaknya memang harus ditutup untuk selamanya! Heaaa...!!" Reksa Gana membentak dengan suara lantang, dengan diiringi tubuhnya melesat cepat ke depan.
Wuss...!
Ki Sura Jaya pun tidak berdiam diri. Pendekar Tapak Dewa itu pun melesat ke depan dengan dua telapak tangan di depan.
Dessss...!!
Blaaammmm.....!!
__ADS_1
Dua cahaya kehitaman itu saling beradu di udara. Ledakan aura tenaga dalam tinggi itu membuat tempat itu bagai di guncang gempa yang begitu dahsyat. Tanah dan debu berhamburan menutupi pandangan. Tanah bergetar, pepohonan runtuh rentah. Tidak sedikit pula yang tumbang dan hancur.
Kelabang Hijau tampak terpental kekuar dari kepulan debu yang memutih. Entah berapa kali tubuh tokoh hitam itu pontang panting, hingga akhirnya jatuh bergulingan ditanah.
Lain dengan Pendekar Tapak Dewa yang tampak terpental sekitar lima tombak kebelakang. Ki Sura Jaya itu tampak cepat melompat bangun begitu tubuhnya berhenti bergulingan. Tampak ada noda darah di bibir tokoh kawakan golongan putih tersebut.
Reksa Gana tampak berusaha bangun dari jatuhnya. Namun Kelabang Hijau itu tampak sempoyongan sambil memegangi dadanya.
"Huakh...!" Reksa Gana memuntahkan darah segar pertanda luka dalam yang ia derita begitu parah. Kelabang Hijau tampak jatuh berlutut, darah segar kehitaman tampak mengalir dari mulutnya. Reksa Gana dengan segenap kekuatannya mencoba berdiri, namun ia kembali jatuh berlutut.
Ki Sura Jaya cepat merapatkan kedua tangannya didepan dada untuk mengobati luka dalamnya, dan menstabilkan darah dan pernapasannya. Reksa Gana tampak menatap nanar kearah Pendekar Tapak Dewa sambil cepat duduk bersila mengambil ancang-ancang bersemedi.
"Hehehe...! Reksa Gana. Kau tidak usah takut aku akan menyerangmu, saat Kau dalam keadaan tidak berdaya. Aku bukan pengecut seperti kalian, hehehe...!" tawa Ki Sura Jaya sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Pendekar Tapak Dewa itu tampak sudah segar kembali. Luka dalam ringan yang ia alami dengan begitu cepat berhasil disembuhkannya.
*******
Kita lihat apa yang terjadi dengan Nyi Pelangi yang bersama dengan Suryani salah seorang Pendekar Kembar. Suryani dan Nyi Pelangi tampak sedang menghadapo amukan salah seorang Iblis Perak dengan belasan anak buahnya yang berpakaian ala ninja itu.
Namun dengan cukup gesit dua orang pendekar desa Mekar Ramai itu berhasil memberikan perlawanan sengit. Payung di tangan Suryani tampak berputar cepat pisau kecil di ujung besi payung itu telah banyak memakan korban. Kain payung Suryani bukanlah kain biasa, kain payung itu tidak mampu dirobek oleh pedang biasa. Walau pedang itu sangat tajam.
Nyi Pelangi tampak meliuk-liuk menghindari pedang panjang milik orang-orang berpakaian ala ninja anak buah Iblis Perak itu. Sabetan dan tebasan yang saling bersusulan kearahnya membuat Nyi Pelangi terpaksa berjumpalitan di udara. Namun Nyi Pelangi berhasil memberikan serangan balik. Tendangan dan tinju pendekar wanita yang memakai pakaian warna-warni itu beberapa kali berhasil mengenai tubuh musuhnya.
..
__ADS_1
...
Bersambung...