
"Apa aku terlambat?" kata Wangsaka. Arena rumah tuan tanah Surya Karta itu terlihat begitu banyak orang-orang yang bergelimpangan tewas termasuk tuan tanah sendiri.
"Dia nekat melawan Nini Sumirah sendiri, Paman," kata istri Surya Karta di sela-sela isak tangisnya.
"Jadi, Wanita ****** itu sudah sembuh?"
"Sepertinya begitu, dia bahkan seperti tidak mengalami apa pun!" sahut istri Surya Karta.
"Kau tidak usah risau. Aku akan membalaskan kematian Surya Karta di puncak gunung kerinci nanti," kata Wangsaka tampak mendendam dengan orang-orang yang melawan Surya Karta.
"Sebaiknya hentikan semua ini, Paman. Sudah cukup korban dari ketamakan suamiku...," ucap Subibah.
"Mereka harus membayar apa yang telah mereka lakukan, Bibah...!" kata Datuk Wangsaka sebelum melesat meninggalkan tempat itu sebelum itu Wangsaka sempat mengambil keris Selaksa Hijau yang tergeletak di tanah.
Sementara Subibah masih menangis sambil memangku mayat sang suami. Beberapa orang pengawalnya yang masih hidup terlihat mulai berusaha mengurus mayat-mayat yang bergelimpangan.
###
Goa Gunung Tujuh..
"Kanda... Surya Karta tewas di tangan Nini Sumirah..," kata Datuk Wangsaka.
"Kau yakin Surya Karta tewas di tangan Sumirah bukan di tangan Pendekar Naga Sakti?" tanya Datuk Wangsala sambil membuka mata tanpa bangkit dari duduknya.
"Subibah yang mengatakan padaku, Kanda," sahut Datuk Wangsaka.
"Kenapa Sumirah begitu cepat sembuh, padahal jelas-jelas dia terkena racun Harimau Hitamku...."
__ADS_1
"Mana ku tahu, apa kanda yakin?"
"Ya, tentu saja aku yakin, Wangsaka. Wanita ****** itu sempat muntah darah di depanku, jika tidak ada Pendekar Naga Sakti tentu aku sudah dapat menghabisinya...," kata Datuk Wangsala.
"Sudahlah, Kanda. Teruskanlah semedimu itu. Kita akan balas kematian Karta di pertemuan nanti!" kata Datuk Wangsaka seraya melangkah pergi..
"Wangsaka... Kau mau kemana?" seru Datuk Wangsala.
"Aku tidak kemana-mana. Aku mau mandi...!!"
.
#####
"Sekarang kalian sudah bisa kembali ke Desa, Kalian sudah bisa mengambil alih tanah yang di rebut oleh Surya Karta itu," kata Nini Sumirah.
"Belum, Datu. Kau bawalah orang-orang kembali ke desa, aku masih ada urusan di puncak kerinci," sahut Nini Sumirah.
"Bukankah kau sudah tidak mencampuri urusan dunia persilatan, Nini?" tanya laki-laki yang di panggil Datu.
"Sebagai pendekar, aku tidak bisa tinggal diam. Tampaknya pertemuan para pendekar tahun ini agak lain," sahut Nini Sumirah seakan menggantung kata-kata.
"Maksud, Nini?"
"Bukan urusanmu, Datu. Kau pulanglah bersama penduduk!" perintah Nini Sumirah tegas.
"Baiklah, Nini. Hati-hati..!" sahut Datu tanpa berani membantah.
__ADS_1
"Nini mau ikut ke puncak kerinci juga?" tanya Wulan Ayu.
"Tentu saja, tampaknya para pendekar golongan putih tahun ini kalah jumlah, Nak Wulan," sahut Nini Sumirah.
"Maksud, Nini?" tanya sang Bidadari Pencabut Nyawa lagi.
"Akan ada hal yang tidak kita inginkan tahun ini."
"Apa hal itu berhubgan dengan ramalan tentang saya itu, Nini?" yang bertanya Anggala.
"Entahlah, Anggala. Tapi perasaanku kurang enak, soal kabar dari Kakek Peramal Pikun itu. Sebaiknya kau memang tidak ikut ke puncak, Anggala," cegah Nini Sumirah.
"Nini percaya dengan ramalan itu?" tanya Anggala.
"Sudah puluhan tahun aku hidup, Anggala. Aku memang tidak berpetualang jauh sampai kemana-mana. Namun sudah sering ku dengar ramalan orang tua aneh itu jarang meleset dan salah," sahut Nini Sumirah lagi.
"Biarlah yang kuasa yang menentukannya, Nini," kata Anggala, "Bukankah kakek peramal tidak mengatakan saya bakal mati, Nini," timpalnya lagi.
"Terserahlah... Anggala. Tapi kau harus tetap hati-hati!" nasehat Nini Sumirah.
"Terima kasih, Nini. Nasehatnya."
.
.
Bersambung....
__ADS_1