
Kenanga langsung melompat menerjang sebuah pintu depan yang cukup besar. Pintu itu langsung hancur berkeping-keping. Tanpa menunggu Pendekar Naga Sakti dan Bidadari Pencabut Nyawa lagi, Dewi Selendang Kuning itu langsung merangsek masuk ke dalam rumah besar itu.
"Seruni....!! Nila Sari... Di mana kalian....?!"
"Kau... Kau.... Dewi Selendang Kuning?! Ujang tampak tersentak kaget dan melompat bangun melihat kedatangan Kenanga.
"Di mana adik-adikku, bajingan!" bentak Kenanga menatap tajam ke arah Ujang penuh kebencian.
"Huh... Kau mau mengantar nyawamu, Dewi Selendang Kuning!" dengus Ujang seraya mengambil pedang yang tersandar di dinding.
"Hiyaaa...!"
Kenanga tanpa mempedulikan keadaan Ujang yang terluka langsung menyerang dengan tongkat selendang keningnya.
Ujang tersentak berusaha menghindar, namun terlambat.
Buak!
"Agkh...!"
Ujang melenguh tertahan sebelum tubuhnya terpental ke arah dinding rumah terbuat dari papan kayu berwarna putih itu.
Brak!
"Huakh...!"
Ujang berusaha bangkit, tapi Kenanga telah kembali bergerak cepat seraya menekankan ujung tongkat selendang kuning ke arah leher Ujang.
"Cepat katakan di mana ketiga adik seperguruanku, Bajingan!" mata Kenanga memerah menahan amarah.
"Mereka ada di kamar sebelah sana," jawab Ujang terbata-bata. Darah segar mengalir dari sela bibir pemuda berbaju kuning itu.
"Awas, jika mereka kurang suatu apa pun. Kau akan menerima akibatnya!" bentak Dewi Selendang Kuning. Setelah berkata gadis itu langsung melesat ke arah kamar yang di tunjuk oleh Ujang tersebut.
Anggala dan Wulan Ayu yang baru masuk ke dalam bangunan setelah menghajar sekitar lima orang anak buah Beruang Merah.
"Kemana Kenanga?" gumam Wulan Ayu begitu memasuki ruangan, yang terlihat hanya Ujang yang tampak terduduk di dalam sebuah kamar. Dinding kamar itu tampak jebol berantakan, noda darah tampak berserakan di lantai.
Brak!
Terdengar suara sebuah pintu kamar hancur di tendang Kenanga, setelah itu murid Dewi Mawar itu langsung melompat masuk.
"Seruni.., Nila...," Kenanga tampak terenyuh melihat ketiga adik seperguruannya terikat di atas tempat tidur yang berjejer di dalam kamar itu. Nila Sari dan Seruni tampak tidak sadarkan diri, beberapa orang gadis yang ada di ranjang lain tampak ketakutan.
Kenanga segera menuju tempat tidur yang di tempati Seruni, Kenanga langsung menotok jalan darah gadis itu.
Oh, di mana aku?" Seruni baru sadar ketika hendak bergerak kedua kaki dan tangannya terikat.
"Sabar lah...Aku akan melepaskan ikatanmu," kata Kenanga seraya melepaskan ikatan pada tangan kanan Seruni.
"Kak, Kenanga. Cepat tolong Nila Sari dan Ambar, Kak," pinta Seruni sambil membuka ikatan di tangan kirinya. Kenanga hanya mengangguk dan segera menuju tempat tidur yang terbaring Nila Sari dalam keadaan tidak sadarkan diri.
__ADS_1
"Siapa kalian?" tanya seorang gadis yang di sebuah tempat tidur, gadis itu tidak di ikat lagi.
"Tidak usah takut, kami akan membebaskan kalian," kata Wulan Ayu sambil menuju ranjang yang di tempati oleh Ambara Wati. Wulan Ayu langsung menotok jalan darah gadis itu.
"Oh.., siapa kau?" tanya Ambara Wati begitu membuka mata. Sedangkan Wulan Ayu langsung melepaskan ikatan di tangan kanan gadis itu.
"Tenanglah.. Kami teman Kenanga," jawab Wulan Ayu sambil tersenyum.
Anggala hanya berdiri di dekat pintu kamar yang hancur akibat di tendang Dewi Selendang Kuning tadi.
"Kalian bisa bebas sekarang. Kalian bisa pulang ke rumah orang tua, kalian," kata Wulan Ayu pada gadis-gadis yang ada di kamar itu. Para gadis itu segera merapikan pakaian mereka yang sudah tidak karuan lagi.
"Kalian tidak apa-apa? Ambar, Seruni, Nila?" tanya Kenanga.
"Kami tidak apa-apa, Kak," jawab Seruni berbarengan dengan Ambar dan Nila Sari.
"Apa bajingan itu sudah menyentuh kalian?" tanya Wulan Ayu.
"Mereka belum di apa-apakan oleh para bajingan itu, Pendekar," yang menjawab adalah salah seorang dari enam gadis yang sudah tidak terikat itu.
"Syukurlah... Guru pasti senang, kalian tidak apa-apa," ucap Kenanga sambil memeluk ketiga adik seperguruannya itu.
"Bukankah kalian mengatakan ada tiga pendekar mesum, tapi kenapa hanya ada satu orang?" tanya Anggala.
"Entahlah, kita tanya yang ada di kamar itu," jawab Kenanga seraya berlari ke arah kamar tempat Ujang berada.
"Heh... Bajingan, di mana yang lain. Hah..!" bentak Kenanga. Ujang tampak masih memegangi dadanya yang terasa sesak akibat luka dalamnya bertambah parah.
"Apa ku bunuh saja bajingan ini, Wulan?"
"Jangan, Kenanga. Kita bukan orang jahat seperti mereka," jawab Wulan Ayu seraya mengeluarkan kipas elang perak dan berkipas sambil jongkok di samping Ujang.
"Kita bawa saja bajingan ini ke Perguruanmu, Kenanga. Kita tunggu teman-temannya di sana," kata Wulan Ayu sambil bangkit berdiri.
Baru saja mereka melangkah berniat meninggalkan ruangan itu. Tiba-tiba Ujang bangkit dan menghunus pedangnya.
"Heaaa...!"
"Huh!"
Wulan Ayu langsung berkelit menghindar sabetan pedang Ujang.
Sret!
Cras!
"Aaaa...!"
Wulan Ayu sambil berkelit seraya mengibaskan kipas elang perak ke arah Ujang, pisau kecil di ujung kipas itu langsung menyembul dan menghantam dada ujang. Pemuda itu terkesiap, namun terlambat dadanya langsung terkena ujung kipas itu. Ujang langsung terpental dengan dada mengucur darah, beberapa saat tampak darah mengucur dari luka dan tubuhnya. Ujang berkelonjotan dan langsung tewas seketika.
"Dasar bajingan, masih ingin membokong dari belakang," dengus Wulan Ayu. Kenanga tampak terdiam melihat Ujang tewas bersimbah darah.
__ADS_1
Setelah meninggalkan markas Tiga Pendekar Mesum itu, Anggala dan Wulan Ayu bersama Kenanga dan ketiga adik seperguruannya langsung kembali ke Perguruan Mawar Putih.
.
*************
Kuyung Ujang Akra bersama Seta tampak terkejut melihat gerbang rumah mereka hancur berantakan, yang paling mengejutkan keduanya lagi setelah melihat mayat Beruang Merah dengan seluruh anak buahnya.
Beberapa orang anak buah Penyamun Beruang Merah itu ada yang masih hidup, Kuyung Ujang Akra langsung berusaha bertanya pada anggota Penyamun Beruang Merah itu.
"Siapa yang melakukan semua ini?" tanya Kuyung Ujang Akra setelah membantu mengobati luka Penyamun itu.
"Dewi Selendang Kuning dengan dua orang temannya, yang satu orang laki-laki tampan," jawab Penyamun itu terbata-bata.
"Bagaimana dengan Ujang?" tanya Seta tampak mencemaskan Ujang, kedua orang itu tanpa mempedulikan anggota Penyamun Beruang Merah yang masih hidup langsung melesat ke arah rumah mereka.
"Ujang! Ujang...!" teriak Seta begitu memasuki pintu rumah yang hancur itu, tapi tidak ada jawaban dari orang yang di panggilnya.
Seta langsung berlari ke dalam kamar tempat Ujang berada. Begitu sampai ke kamar itu, Seta langsung menghambur memeluk keponakannya yang sudah tidak bernyawa itu.
"Ujang.....! Ujang.... Bangun, Jang...!" raungan kesedihan Seta menggema di ruangan itu. Tanpa mempedulikan tubuh Ujang yang bersimbah darah, Seta memeluk tubuh Ujang yang bermandi darah itu.
Brak!
Sebuah guci yang di bawa Kuyung Ujang Akra langsung terlepas dari tangannya, bibir laki-laki berumur lima puluh tahunan itu tampak gemetar. Ujang Akra langsung jatuh berlutut.
"Awas kau, Dewi Selendang Kuning, kematian Ujang Komar harus di bayar dengan nyawa orang-orang Perguruan Mawar Putih itu!" terdengar parau suara Kuyung Ujang Akra matanya memerah menahan amarah dan dendam yang begitu membara.
.
.
.
.
Bersambung...
Jangan lupa dukung novel ini ya teman-teman.
Rate
Hadiah
Like
Koment
Favorit
Dan Votenya teman-teman.
__ADS_1
Terima kasih banyak.