
Anggala mencoba menangkis serangan cakar Bora itu, namun Pendekar Naga Sakti cukup terkejut ketika cakarnya beradu dengan lengan laki-laki berpakaian serba hitam itu, bagai beradu dengan bongkahan besi yang begitu keras. Pendekar Naga Sakti segera melompat mundur sekitar dua tombak.
Pemuda itu merapal jurus 'Baju Besi Emas'. tingkat delapan belasnya untuk mengimbangi ilmu 'Cakar Besi Penghancu'. Bora itu.
"Kau, juga mempunyai jurus cakar besi anak muda," kata Bora sambil mempersiapkan jurusnya ke arah anggala, dengan telapak tangan yang membentuk cakar mencerca ke arah wajah Pendekar Naga Sakti, dengan Ssgap Pendekar Naga Sakti menangkis cakar jemari Bora yang hampir mengenai wajahnya.
Trang!
Bora cukup terkejut begitu cakarnya mengenai jemari Anggala cakarnya bagai mengenai besi, gerakan tangan kiri Pendekar Naga Sakti begitu cepat mencerca ke arah dada Bora, laki-laki berpakaian hitam itu terkesiap. Ia cepat cepat menyorongkan lengan kanannya untuk menangkis serangan cakar Pendekar Naga Sakti yang mengincar dadanya itu.
Berhasil menghentikan gerakan cakar jemari Pendekar Naga Sakti yang mengincar dada kanannya, namun Bora tidak menyangka jika kaki kanan Anggala begitu cepat bergerak ke arah perutnya. Lagi lagi Bora terkesiap, ia berusaha menarik dirinya ke samping, namun terlambat.
Buak!
Tendangan Pendekar Naga Sakti itu telah telak menghantam perutnya, lenguhan tertahan keluar dari mulut Bora sebelum tubuhnya terpental sekitar lima tombak kebelakang.
Bora berusaha cepat melompat bangun, namun darah menyembur dari mulutnya. Pertanda ia mengalami luka dalam yang cukup parah.
"Kurang ajar! Anak muda ini begitu hebat, jurus cakar yang dimilikinya mampu menahan jurus cakar besiku," desis Bora dalam hati.
Bora berusaha mengalirkan hawa murni ke arah dadanya untuk mengobati luka dalam yang ia derita dan memperbaiki sirkulasi darahnya yang kacau.
"Bagaimana? Apa masih bisa kita lanjutkan, kisanak?" tantang Anggala sambil tersenyum tipis.
"Kurang ajar! Dia tampaknya menganggap remeh, namun jika aku paksakan. Aku tidak akan mampu mengimbangi tenaga dalamnya, mau tidak mau aku harus menggunakan klewang terbang," setelah bergumam Bora menghunus klewang hembrug yang berada di balik punggungnya, dengan secepat kilat ia melemparkan klewang nya ke arah Pendekar Naga Sakti.
Swing!
Kelewang itu berputar bagai sebuah mata bumerang yang terbang seperti gasing mengincar tubuh Pangeran dari Kerajaan Mandalika tersebut. Anggala cepat melentingkan tubuhnya ke udara menghindari sabetan klewang terbang senjata Bora tersebut.
Begitu Anggala menjejak kaki ke tanah, rupanya klewang itu berbalik dan mengarah ke arah punggung Pendekar Naga Sakti itu. Pendekar Naga Sakti yang dari tadi memakai ilmu 'Baju Besi Emas'.nya terpaksa melintangkan tangan kirinya menangkis kelewang itu.
Trang!
Secepat kilat tangan kanan Pendekar Naga Sakti menangkap gagang klewang terbang senjata Bora itu.
Tap!
Set!
Secepat kilat Pendekar Naga Sakti melemparkan kembali klewang ke arah Bora, namun lemparan Pendekar Naga Sakti tidak membuat klewang itu berputar seperti sebelumnya, namun klewang terbang itu meluncur cepat bagaikan sebuah anak panah kearah tuannya. Bora terkesiap namun ia tidak sempat lagi menghindar.
Crash!
"Aaaa...!"
Klewang itu tepat menancap di tengah dada Bora, tepat di ulu hatinya, jeritan menyayat hati anggota Topeng Tengkorak Perenggut Nyawa itu sambil tubuhnya terpental hingga beberapa tombak dan terhenti pada sebatang pohon.
__ADS_1
Crab!
Ujung klewang itu tepat menancap sekitar satu jengkal ke dalam batang pohon itu. Mata Bora terbelalak menatap ke arah Pendekar Naga Sakti, darah mengalir dari mulutnya.
Tidak lama kemudian kepala Bora tertunduk dengan nafas ikut berhenti, laki-laki berpakaian hitam itu harus tewas di ujung senjatanya sendiri.
"Bora...!!" teriak Kumbar Suta melihat Bora meregang nyawa di ujung klewang terbangnya sendiri. Kumbar Suta tanpa mempedulikan Kenanga dan Ambara Dari lagi.
Kumbar Suta melompat ke arah pohon tempat Bora tersandar, dengan cepat Kumbar Suta mencabut klewang yang tertancap di dada Bora dan tanpa mempedulikan darah membasahi kedua tangannya, Kumbar Suta menurunkan tubuh Bora ke tanah.
Kumbar Suta membaringkan tubuh Bora di atas tanah yang di tumbuhi rerumputan dan daun-daunan kering.
Setelah meletakkan Bora di atas tanah dan menutup matanya yang terbelalak, Kumbar Suta melompat bangun dan menatap tajam ke arah Pendekar Naga Sakti.
"Kau harus membayar nyawa sahabatku nyawamu, anak muda!" bentak Kumbar Suta dengan mata merah penuh kemarahan.
"Dia, tewas terkena senjatanya sendiri, kisanak. Kau malah menyalahkanku," jawab Anggala sambil tersenyum tipis.
"Kau harus mati hari ini," berang Kumbar Suta sambil menghunus sepasang kelewang berwarna hitam dari warangka yang ada di balik punggungnya.
Kumbar Suta melintangkan kedua kelewang hitamnya di depan dada, bersiap menggunakan jurus klewang andalannya.
"Sebaiknya, kau cabut pedang yang ada di balik punggungmu, itu anak muda Aku tidak ingin membunuh seorang musuh yang tidak bersenjata!" bentak Kumbar Suta menatap tajam kearah Anggala dengan mata memerah penuh dendam.
"Untuk menghadapi senjatamu itu, aku belum perlu menghunus senjata yang ada di balik punggungku ini, Kekanak!" jawab Pendekar Naga Sakti dengan begitu tenang.
Setelah mengembor marah Kumbar Suta melompat ke arah Anggala sambil menyabet dan mengibaskan kedua kelewang nya bersilang ke arah dada dan leher Pendekar Naga Sakti.
"Hup!"
Begitu sigap Anggala menarik tubuhnya ke belakang sekitar dua langkah ke belakang,
sehingga sabetan dan tebasan klewang di tangan Kumbar Suta mbar itu hanya mengenai angin kosong.
Tidak hanya sampai di sana Kumbar Suta terus memburu Pendekar Naga Sakti dengan tebasan dan sabetan kedua klewang nya yang cukup cepat mencerca setiap bagian mematikan di tubuh Pendekar Naga Sakti, dengan begitu gesit Anggala meliuk-liuk menghindari setiap tikaman dan cercaan, tebasan kedua klewang di tangan anggota
Topeng Tengkorak Perenggut Nyawa. Merasa jurus-jurus klewang andalanya berhasil dihindari oleh Pendekar Naga Sakti. kumbar Suta tampak semakin marah, ia semakin meningkatkan jurus-jurus klewang nya dan mempercepat gerakannya. Namun sejauh ini Pendekar Naga Sakti masih mampu menghindari setiap cercaan sepasang senjata di tangan laki-laki berpakaian serba hitam itu.
Malah sebaliknya sambil menghindari. sabetan kedua klewang yang mengincar ke arah dadanya, Anggala masih mempunyai kesempatan menyerang balik dengan memberikan sebuah tendangan ke arah perut Kumbar Suta. Melihat Pendekar Naga Sakti yang berniat menendang perutnya Kumbar Suta cepat menarik klewang di tangan kanannya dan mengibaskan ke arah pergelangan kaki Pendekar Naga Sakti.
"Hih!'
Namun pemuda itu dengan begitu cepat bagaikan kilat menarik kakinya Ke belakang
dengan secepat itu pula Pendekar Naga Sakti menyorongkan tinju kanannya ke arah
dada Kumbar Suta. Kumbar Suta terkesiap dan cepat melintangkan klewang di tangan kanannya menangkis kepalan telapak tangan Pendekar Naga Sakti.
__ADS_1
Glegar!
Ledakan lidah petir menyambar ke arah Kumbar Sutta, laki-laki itu terpental terkena pukulan 'Tinju Halilintar'. tingkat pertama Pendekar Naga Sakti itu.
.
.
Bersambung....
Jangan lupa dukung novel ini ya teman-teman.
Rate
Hadiah
Like
Koment
Dan Votenya teman-teman.
Terima kasih banyak.
.
.
.
Bersambung...
Jangan lupa dukung novel ini ya teman-teman.
Rate
Hadiah
Like
Koment
Favorit
Dan Votenya teman-teman.
Terima kasih banyak.
__ADS_1