Pendekar Naga Sakti

Pendekar Naga Sakti
Belati Terbang Part 2


__ADS_3

Suara burung dan binatang hutan mulai terdengar, dengan berhentinya pertarungan suasana hutan kembali sunyi.


.


Anggala si Pendekar Naga Sakti menghampiri pendekar berbaju hijau kuning itu. Si Bidadari Pencabut Nyawa sedang berusaha mengobati luka dalam yang pendekar itu derita.


Pendekar berbaju hijau kuning itu membuka mata dan berucap, " Terima kasih banyak Pendekar, Kalian telah menyelamatkan nyawa Saya,"


.


"Jangan banyak bicara dulu Kisanak, kita obati dulu obati dulu luka yang Kisanak derita," Ujar Pendekar Naga Sakti. Ia pun mengalirkan hawa murni ke tangannya, dan berusaha mencabut pisau belati yang tertancap di dada Pendekar itu.


.


Pendekar berbaju hijau kuning itu menuruti permintaan Pendekar Naga Sakti, ia pun berusaha bersemedi untuk mengobati lukanya.


.


Perlahan Pendekar Naga Sakti mencabut pisau belati yang tertancap di dada Pendekar itu. Darah mengalir dari luka itu berwarna agak kehitaman. Pertanda pisau itu mengandung racun.


.


Pendekar Naga Sakti mengusap luka pendekar itu, darah yang keluar semakin deras, sampai darah dari luka itu berwarna merah. Barulah Pendekar Naga Sakti menutupi luka itu dengan telapak tangannya.


Begitu telapak tangan Pendekar Naga Sakti di angkat dari luka itu. Luka pendekar berbaju hijau kuning itu hilang tak berbekas.


Pendekar itu menarik napas lega. di sapunya bekas darah di bajunya dengan lengan bajunya.


.


"Terima Kasih pendekar! Kalau Saya boleh tau pendekar berdua ini siapa?"


"Saya Anggala, dan ini kekasih Saya Wulan Ayu," Pendekar Naga Sakti memperkenalkan dirinya dan Wulan Ayu.


"Saya Daka, Kamandaka, Saya berasal dari perguruan Bangau Putih," Daka memperkenalkan diri.


"Jadi kami sedang berhadapan dengan Pendekar Bangau Putih?" Tanya Anggala sambil tersenyum.


"Begitulah orang-orang dunia persilatan mengenal saya," Jawab Daka, Kalau boleh tau saya sedang berhadapan dengan Pendekar apa ini?"


"Orang-orang dunia persilatan memanggil saya Pendekar Naga Sakti dan ini Bidadari Pencabut Nyawa," Jawab Anggala. Sedangkan Wulan Ayu hanya ikut tersenyum.


"Jadi saya sedang berhadapan dengan dua pendekar hebat itu?"


"Kami tidak sehebat yang di katakan orang-orang, Daka," Anggala merendah.


.


"Tidak usah merendah Kisanak, bukti telah saya lihat, orang-orang Perguruan Belati Terbang itu lari tunggang langgang begitu berhadapan dengan Pendekar," Puji Daka Kamandaka alias Pendekar Bangau Putih itu.


Anggala hanya tertawa kecil mendengar pujian Daka itu, "Apa masalah perguruan Belati Terbang dengan Pendekar?"


.


"Perguruan Belati Terbang telah banyak membunuh tokoh-tokoh silat golongan putih, Anggala, termasuk murid-murid Perguruan kami," Jelas Daka, sambil menarik napas panjang.

__ADS_1


.


"Apakah Perguruan Belati Terbang itu dari golongan hitam, Pendekar?" Tanya Wulan Ayu menyela pembicaraan Anggala dan Daka.


"Ya, mereka dari golongan hitam Nisanak, Siapa tadi? Wulan Ayu ya?"


"Ya, panggil saja Wulan," Jawab si Bidadari Pencabut Nyawa sambil tersenyum. Ia menggeser tempat duduknya ke dekat Anggala si Pendekar Naga Sakti itu.


"Kalau boleh tau Pendekar berdua hendak kemana?" Tanya Daka si Pendekar Bangau Putih itu.


.


"Kami hanya mengikuti langkah kaki, Daka, kami sedang mencari keberadaan Pendekar Naga hitam, Apa Kisanak pernah mendengar tentang Pendekar Naga hitam?"


.


"Saya pernah mendengarnya, bukankah Pendekar Naga Hitam itu bernama Fhatik?"


"Ya, Kisanak Pendekar, tidak salah, dia memang bernama asli Fhatik,"


.


"Guruku Sesepuh rambut putih yang bergelar Bangau Putih pernah bercerita tentang pertarungan Pendekar Naga Sakti Lesmana dengan Pendekar Naga Hitam itu, Kata guruku jika tidak di bantu Setan Merah Pencabut Nyawa, Fhatik sudah dapat di kalahkan oleh Pendekar Naga Sakti itu," Tutur Daka bercerita.


"Kau memang benar, Daka, perjalanan juga mencari keberadaan Pendekar Naga Terbang, yang sudah cukup lama menghilang dari dunia persilatan," Kata Anggala lagi.


"Kalau Pendekar Naga Terbang, Saya tidak pernah mendengarnya," Timpal Daka.


Anggala memberikan sebutir pil obat pada Daka si Pendekar Bangau Putih itu. Daka mengambil obat pemberian Anggala itu dan segera menelannya.


"Sekarang Daka mau kemana?" Tanya Anggala.


"Kami menuju Desa di depan, apakah Daka tau Desa di dekat sini?"


"Tidak jauh dari sini ada sebuah Desa, jika berjalan kaki butuh waktu setengah hari baru sampai kesana, jika berkuda sekitar satu jammanlah," Jawab Daka menjelaskan.


"Baiklah Daka, kami mau meneruskan perjalanan," semoga di lain waktu kita bisa bertemu lagi," Ujar Anggala sambil bangkit dari duduknya, Ayo Dinda,"


.


Kedua pendekar muda itu pun melesat meninggalkan Daka si Pendekar Bangau Putih. Yang termangu melihat kecepatan gerakan kedua Pendekar muda itu.


.


Daka hanya menarik napas dalam,sebelum ia pun melesat meninggalkan tempat itu.


.


Anggala dan Wulan Ayu kembali ke tempat mereka meninggalkan kuda-kuda mereka, mereka lalu meneruskan perjalanan ke arah yang di tunjukkan Pendekar Bangau Putih itu.


.


Sekitar satu jam perjalanan mereka pun menemukan sebuah Desa yang di katakan Daka tadi. Mereka pun mencari warung makan dan penginapan, untuk mereka menginap dan beristirahat.


.

__ADS_1


Anggala dan Wulan Ayu memasuki sebuah warung yang lagi cukup ramai pengunjungnya. di sana ada beberapa orang berbaju hitam seperti orang yang mengeroyok Pendekar Bangau Putih tadi.


"Permisi Ki, kami mau mencari penginapan, Apa Aki tau?" Tanya Anggala dengan sopan.


"Untuk berapa orang Den?" Tanya Aki pemilik warung itu.


"Untuk dua orang Ki, tapi dua kamar," Jawab Anggala menjelaskan.


"Kalau dua orang, dua kamar ada Den, Aden tidak makan dulu?" Tanya Aki pemilik warung itu lagi.


Sementara itu Wulan Ayu yang menunggu di dekat pintu warung duduk di sebuah meja uang kosong, orang-orang berbaju hitam itu saling berbisik sambil memandang ke arah Wulan Ayu.


.


Wulan Ayu hanya tersenyum tipis melihat orang-orang berbaju hitam itu, memperhatikan dirinya. Salah seorang Dari orang-orang bangkit dari duduknya dan duduk di depan Wulan Ayu.


"Neng cantik, dari mana?" tanya orang itu. Tampak berniat menggoda Wulan Ayu.


"Saya dari desa Talang kuda Kisanak," Jawab Wulan Ayu singkat.


"Neng cantik mau nggak temani kami malam ini, kami sanggup bayar mahal," Ujar laki-laki itu semakin berani.


"Kau kira Aku wanita murahan! Hah!" Bentak Wulan Ayu, ia tampak kesal di anggap wanita bayaran.


"He he he...! Neng cantik, ternyata punya nyali juga," Jawab laki-laki itu malah tertawa terkekeh.


"Bangsat! Kau belum tau Bidadari Pencabut Nyawa hah!"


Plak..!"


Wulan Ayu menepuk meja di depannya dengan cukup keras semua orang di dalam warung itu tampak terkejut, dan banyak yang lansung keluar dengan buru-buru.


"Kau, Bidadari Pencabut Nyawa? Tidak salah Neng?"


Orang-orang berpakaian hitam itu malah tertawa.


Wulan Ayu lansung melompat keluar dari warung itu, dan berdiri berkacak pinggang menghadap kearah warung itu.


"Hei! orang-orang berotak kotor keluar Kalian.!"


.


.


Bersambung....


Jangan lupa


Like


Koment


Vote


Favorit.

__ADS_1


Terima kasih.....


.


__ADS_2