Pendekar Naga Sakti

Pendekar Naga Sakti
Sepak Terjang Tiga Pendekar Mesum. Kelompok Topeng Tengkorak Perenggut Nyawa.


__ADS_3

Matahari mulai terbenam di ufuk barat suara burung malam mulai terdengar suara jangkrik dan cacing mulai bernyanyi di sekeliling Perguruan Mawar Putih itu, suara burung penanda maghrib pun telah datang.


semburat cahaya kuning dipupuk barat kini hampir hilang Anggala dan Wulan Ayu didampingi oleh empat orang murid pilihan dari Perguruan Mawar Putih bersiap meninggalkan tempat itu untuk menuju Desa Pandan Wangi.


Setelah berpamitan kepada Dewi Mawar dan penghuni Perguruan Mawar Putih, sekelompok pendekar itu segera meninggalkan tempat itu bersama Aki Wali dan dua orang dari Desa Jati Liar.


Mereka segera menuju Desa Pandan Wangi.


Pagi-pagi sekali tampak Anggala dan Wulan Ayu sudah berada di depan rumah Aki Wali, bersama Kenanga dan ketiga adik seperguruannya.


"Rupanya Anggala dan Wulan Ayu bersama Kenanga sudah menunggu, Maafkan aki yang sudah tua ini. Aki merasa cukup lelah dan tertidur hampir kesiangan," ucap Aki Wali.


"Tidak apa-apa Ki, kami mengerti. cuma kami memang hampir tidak tidur, semalaman kami memilih berjaga-jaga jika mereka datang menyantroni desa ini lagi," jawab Anggala.


"Sepertinya mereka belum datang lagi, Nak. Yang aki takutkan mereka sekarang menikmati para gadis desa yang telah mereka culik," kata Aki Wali tampak bersedih.


"Jika semua itu mereka lakukan pada gadis-gadis itu, saya berjanji padamu, Ki.


Kami tidak akan membiarkan satu pun dari mereka hidup, itu janjiku," kata Wulan Ayu.


Bidadari pencabut nyawa Itu tampak menahan amarahnya.


"Apa kalian tidak sarapan dulu, Nak? Istri aki dan beberapa orang tetangga sudah menyiapkan sarapan untuk kalian," kata Aki Wali.


"Baiklah, Ki, lagi juga tidak enak terhadap emak-emak kampung ini sudah masak untuk kami," jawab Anggala, mereka pun berjalan ke dalam rumah Aki Wali.


Setelah selesai sarapan di rumah Aki Wali Anggala dan Wulan Ayu bersama Kenanga dan ketiga adik seperguruannya segera berangkat ke hutan Meranti, dengan penunjuk jalan aki Wali. Kelima orang itu berkuda memasuki hutan Meranti menuju Lembah Ukam.


Tiba-tiba Aki Wali menghentikan kudanya membuat Anggala dan Wulan Ayu juga menghetikan kuda mereka.


"Ada apa, Ki?" tanya Anggala sambil memegang tali kekang kudanya.


"Di depan ini adalah Lembah Ukam, anak muda. Aki hanya berani Mengantar sebatas ini saja, jika aki ke sana, aki takut. Aki tidak akan kembali dalam keadaan hidup," jawab Aki Wali.


"Baiklah, Ki. kami tidak akan memaksa, kami akan berjalan kaki dari sini. Jika aki berkenan, saya harap Aki bersedia menunggu kuda kita di sini," pinta Anggala pada Aki Wali.


"Ya, aki akan menunggui kuda-kuda kita di sini," jawab Aki Wali.


Tanpa banyak bicara mereka berempat mengikat kuda-kuda pada sebatang pohon kecil untuk merumput, Aki Wali pun berhenti dan mencari tempat istirahat di bawah sebatang pohon yang cukup rindang.


"Kami berangkat, Ki," kata Anggala, setelah berkata Pendekar Naga Sakti melompat ke arah sebatang pohon yang cukup besar dan melompat ke atas dahannya.


Tanpa banyak bicara kelima pendekar muda itu berkelebat melompat dari dahan ke dahan di atas pohon yang tumbuh rindang di tengah hutan itu.


Tidak jauh dari tempat itu terdapat pohon yang tidak begitu tinggi yaitu pohon ukam Anggala dan Wulan Ayu terpaksa berjalan kaki di tanah karena tidak mungkin melompat dari dahan ke dahan pohon ukam yang penuh dengan duri.


Baru saja mereka memasuki rimbunnya hutan pohon ukam itu. beberapa batang kayu yang di runcingkan melesat cepat ke arah mereka, dengan gesit kelima pendekar muda itu melompat ke udara menghindari senjata rahasia yang tampaknya memang telah disiapkan untuk menjebak mereka, begitu Pendekar Naga Sakti dan teman-temannya menjejak tanah.


Di hadapan mereka telah berdiri lima orang


dengan pakaian hitam dan wajah di tutupi


dengan topeng tengkorak berwarna putih, mereka adalah pembunuh bayaran, Topeng Tengkorak Perenggut Nyawa.

__ADS_1


"Hebat.... Hebat.., anak muda. Kalian bisa lolos dari senjata rahasia yang telah kami siapkan," kata salah seorang dari lima orang Topeng Tengkorak Perenggut Nyawa, "Tapi kalian tidak akan lolos dari lima sekawan topeng tengkorak... Ha ha ha..!" tawa mereka meledak, mata Mereka tampak tajam menatap kearah Anggala, dan keempat kata gadis muda yang ada di belakang Pendekar Naga Sakti itu.


"Anak muda, sebaiknya kau serahkan saja ke empat gadis itu untuk menemani kami malam. Makanya nyawa mu akan kami biarkan tetap berada di tubuh mu," kata salah seorang dari lima orang laki-laki berpakaian serba merah itu. jadi itu


"Kau kira mereka barang, yang bisa kau pinta seenaknya saja kisanak," jawab Anggala dengan begitu tenang.


"Ha ha ha....! Kau kira, kau telah hebat sampai sejauh ini. Tapi ketahuilah kau sedang berhadapan dengan pembunuh bayaran yang terkenal di wilayah Hulu Sungai Musi ini," kata salah seorang dari mereka sambil tertawa terbahak-bahak di sambut tawa keempat temannya.


"Aku tidak peduli, siapa kalian yang aku tahu, aku harus menjajahi tempat ini untuk menyelamatkan para gadis yang telah kalian tulis dari tiga desa yang ada di belakang," jawab Anggala sengit.


"Jadi kau memang memilih mati anak muda daripada menyerahkan ke-empat gadis itu, hah," bentak anggota Topeng Tengkorak Perenggut Nyawa itu.


"Jika kau memang menginginkan mereka, kisanak. Cobalah ambil sendiri jika kalian mampu," tantang Pendekar Naga Sakti.


"Jangan salahkan kami, jika kalian tinggal nama keluar dari tempat ini!" bentak laki-laki yang tadi berbicara.


Tanpa di minta Wulan Ayu beserta Kenanga


empat gadis itu melompat ke depan empat orang anggota Topeng Tengkorak Perenggut Nyawa itu.


"Sekarang kalian tidak bisa mengeroyok aki-aki, kita akan bertarung satu lawan satu


tantang Bidadari pencabut nyawa sambil menatap tajam ke arah salah penghadang yang berada di depannya.


"Ha ha ha....! Gadis muda sebaiknya kau temani aku malam ini, jika kau tidak tubuh


molek mu itu rusak oleh pedangku ini," kata laki-laki itu sambil tertawa.


"Bangsat! Kau belum tahu siapa aku gadis tengik!" setelah membentak anggota topeng tengkorak yang berhadapan dengan Wulan Ayu itu langsung Melompat, sambil melepaskan sebuah tendangan yang begitu


keras ke arah Bidadari pencabut nyawa dengan di sertai tenaga dalam yang begitu tinggi.


Bidadari pencabut nyawa bukanlah pendekar biasa pengalaman dan kedikjayaan yang ia dapat dari kedua sang guru dan pengalamannya selama berpetualang ini membuat gadis cantik berpakaian serba biru itu begitu tenang menghadapi serangan itu, begitu tendangan


si Topeng Tengkorak Perenggut Nyawa itu hampir mengenainya dengan begitu gesit Bidadari Pencabut Nyawa menggeser tubuhnya ke samping sehingga tendangan Anggota topeng tengkorak berwarna putih itu hanya mengenai angin kosong.


Merasa tendangan pertamanya gagal mengenai sasaran, laki-laki itu langsung menegoskan tubuhnya dan kembali menyerang dengan kepalan telapak tangannya yang berbentuk tinju ke arah wajah Bidadari Pencabut Nyawa, namun kali ini Wulan Ayu tidak lagi menghindari serangan laki-laki bertopeng tengkorak berwarna putih itu. Dengan sigap murid dua Pendekar Pemarah itu menapaki serangan anggota topeng tengkorak perenggut nyawa itu sambil kaki kanannya bergerak cepat menendang ke arah perut musuhnya itu.


Laki-laki itu terkesiap, ia cukup terkejut dan tidak menyangka jika gadis yang ada di depannya akan secepat itu memberi serangan balik dalam keterkejutannya anggota Topeng Tengkorak Nyawa itu cepat melentingkan tubuhnya ke udara.


"Hih!"


Sedikit saja ia terlambat menarik tubuhnya ke belakang. Maka tidak Ayal lagi tendangan Wulan Ayu itu akan menghantam tepat di perut laki-laki berpakaian serba hitam itu.


"Gadis ini cukup cepat, siapa dia sebenarnya," desis anggota Topeng Tengkorak Perenggut Nyawa itu dalam hati.


Laki-laki itu cepat meningkatkan tenaga dalam kearah kedua tangannya, ia bersiap dengan jurus-jurus ular. Kedua tangannya bagaikan dua ekor ular dengan begitu cepat, ia kembali merangsek ke arah Bidadari Pencabut Nyawa.


Namun kali ini


gadis cantik berpakaian serba biru itu bukannya menghindar malah merangsek


ke arah depan dengan jurus 'Bidadari Kayangan'. Cukup lama anggota Tengkorak Perenggut Nyawa nyawa itu mencoba menyerang Bidadari Pencabut Nyawa dengan jurus-jurus ularnya, namun kecepatan dan kesigapan Bidadari pencabut nyawa berhasil menghindari dengan senyum tipis menyungging Wulan Ayu menapaki setiap serangan anggota Topeng Tengkorak Perenggut Nyawa itu.

__ADS_1


.


******


Sementara itu Anggala yang berhadapan dengan salah seorang anggota Topeng Tengkorak Perenggut Nyawa yang lain.


Mereka sedang berhadapan, anggota Topeng Tengkorak Perenggut Nyawa itu menatap tajam ke arah Pendekar Naga Sakti.


Niat hati anggota pembunuh bayaran tengkorak Topeng Tengkorak Perenggut Nyawa itu mengukur seberapa dalam dan seberapa tinggi tingkat kepandaian pemuda yang ada di depannya. Namun semua itu tidak berhasil.


"Kurang ajar, anak muda ini mempunyai ilmu penutup batin siapa dia sebenarnya," batin laki-laki bertopeng tengkorak itu.


"Hiyaaa....!"


Setelah memetik melenting laki-laki itu melesat cepat ke arah Pendekar Naga Sakti dengan kepalan tangannya menderu cepat mengincar dan mencerca kearah tubuh dan wajah pemuda tampan dari Lembah naga itu.


Anggala dengan begitu sigap menghindari setiap tonjokkan yang mengarah ke arah Tubuh dan kepalanya.


Pendekar Naga Sakti memang sengaja tidak memberi serangan balasan, pada saat serangan pertama laki-laki bertopeng tengkorak berwarna putih itu.


Anggala terus menghindar sambil meliuk-liukkan tubuhnya sehingga setiap jajahan pukulan laki-laki bertopeng tengkorak di depannya selalu meleset dari sasarannya.


"bangsat!" geram laki-laki itu sebuah pukulannya yang mengandung tenaga dalam menghantam tanah yang di injak oleh Pendekar Naga Sakti, tapi saat pukulannya mengenai tanah di tempat Anggala berdiri itu. Anggala sudah tidak ada di sana, Anggala sudah berada di udara.


Betapa terkejutnya laki-laki itu, sambil menghindar dan bersalto dua kali di udara Pendekar Naga Sakti memberikan sebuah serangan balasan membentuk tendangan yang cukup keras ke arah dada laki-laki itu.


Anggota topeng tengkorak itu terkesiap dan berusaha cepat menyilangkan kedua tangannya di depan dada.


Duk!


Tidak Ayal lagi, walau berhasil menapaki tendangan Anggala itu. Tubuh laki-laki berpakaian serba hitam itu terpental hingga sekitar lima sampai tujuh tombak ke belakang dan jatuh bergulingan.


.


.


Bersambung...


Jangan lupa dukung novel ini ya teman-teman.


Rate


Hadiah


Like


Koment


Favorit


Dan Votenya teman-teman.


Terima kasih banyak.

__ADS_1


__ADS_2