
Swoss! Swoss!
Desss......!!! Desss......!!!
Angin ****** beliung yang tadi memutari tubuh Arca Soma juga ikut maju dengan cukup cepat, tanah dan bebatuan terlihat beterbangan di buat angin ****** beliung itu.
Cahaya kuning keemasan yang membentuk elang raksasa kini terlihat meluruk cepat ke depan. Dua kekuatan pukulan kesaktian terlihat saling menekan denganemgeluarkan gelombang panas.
Blaaammm.....!!!
Brrrrrr.........! Rrrrrrrrrrkkk.....!!
Tanah bergoncang, beberapa batu besar yang tadi tertanam kokoh kini terlihat bergerak akibat getaran tanah, gelombang api bercampur asap hitam membumbung ke udara dan menekan ke segala penjuru.
Beberapa orang yang tadi bertarung, yang tidak jauh dari tempat Arca Soma dan Datuk Wajangkara adu kesaktian terlihat terhenti sejenak.
Beberapa orang anggota Partai Teratai Hitam yang masih hidup tampak berjatuhan lintang pukang tanpa mampu mempertahankan kuda-kuda mereka. Karena orang-orang Partai Teratai Hitam begitu banyak di puncak Gunung Kerinci itu, maka banyak pula mereka yang mempunyai kemampuan rendah jadi korban atau kena imbasnya pertarungan orang-orang berilmu tinggi termasuk terkena racun yang di keluarkan Datuk Wangsaka tadi.
Datuk Wajangkara atau di kenal dengan tokoh hitam yang bergelar Elang Hitam itu, tampak terpental dan jatuh bergulingan di tanah. Pakaiannya yang tadi cukup rapi kini sembrawutan, wajah pimpinan Perguruan Elang Hitam itu terlihat berubah menjadi hitam.
"Uhuakh.....!" Datuk Wajangkara tampak menggeliat bangun sambil menyeka darah yang mengalir di sudut bibirnya. Wajah Datuk Wajangkara tampak berubah memucat.
Sementara itu Arca Soma yang juga terpental ke arah belakang cepat melompat bangun walau agak sempoyongan. Pemuda itu terlihat juga menyeka darah di sudut bibirnya, namun ada senyum di bibirnya begitu melihat Datuk Wajangkara mengalami luka dalam yang cukup parah.
"Hup!" Datuk Wajangkara tampak mengambil posisi bersemedi untuk mengobati luka dalamnya yang cukup parah. Arca Soma memilih membiarkan musuh yang telah menghabisi keluarganya itu untuk istirahat menyembuhkan diri.
Arca Soma pun memilih untuk mengalirkan hawa murni mengobati luka dalamya, waktu yang ada ia manfaatkan dengan baik.
"Bagaimana, Datuk. Kita lanjutkan lagi," ujar Arca Soma berdiri dengan tenang sekitar dua tombak di depan Datuk Wajangkara.
"Kau belum mati, Anak Muda? Ku akui kau memang beruntung!" sahut Datuk Wajangkara sambil membuka matanya dan menatap tajam ke arah Arca Soma.
"Aku belum boleh mati, Datuk. Sebelum ku balaskan kematian keluargaku!" kata Arca Soma sengit dengan suara bergetar, pemuda itu terlihat berusaha menekan amarahnya.
__ADS_1
Kali ini Datuk Wajangkara tidak membalas perkataan Arca Soma tersebut, ia tampak diam menyikapi perkataan Arca Soma yang cukup tajam itu.
Sring!
Arca Soma tampak menyingkap kain hitam yang terikat di balik bahunya, sebuah golok dengan kepala gagang berbentuk kepala elang berwarna keemasan.
"Golok Elang Emas!" Datuk Wajangkara tampak terkesiap melihat pamor golok yang mengeluarkan cahaya bias keemasan itu.
Sret!
Mau tidak mau Datuk Wajangkara menghunus sebilah keris yang selama ini sangat jarang ia gunakan. Keris itu di kenal dengan nama keris Elang Batu Hitam, entah kenapa keris itu di beri nama tersebut, kemungkinan karena keris itu di buat dengan bahan batu hitam dan besi hitam.
"Bagus, Datuk! Kini kita akan tentukan siapa yang akan masuk kubur hari ini!" kata Arca Soma terdengar tenang namun begitu tajam. Pemuda itu tampak memilih mengadu nyawa dengan pimpinan Perguruan Elang Hitam tersebut.
Arca Soma terlihat melangkah perlahan ke arah kanannya sembari bersiap dengan jurus-jurus golok andalanya.
Arca Soma terlihat berhenti sejenak sembari memegangi dada dengan telapak tangan kirinya yang telah kembali ke warna aslinya. Arca Soma merasakan sesak di dadanya begitu mengerahkan tenaga dalam.
Setelah menarik nafas sejenak Arca Soma kembali bersiap dengan kuda-kuda dan jurus-jurus goloknya.
"Hih...!" Datuk Wajangkara tampak menarik nafas yang cukup dalam, menyesali yang telah terjadi, Percuma. meminta maaf dan mengaku salah, gengsi dan kesombongan di hati cukup tinggi.
Datuk Wajangkara tahu seberapa saktinya keris di tangan pemuda yang ada di depannya. Jika ilmu kebal biasa, tidak akan berguna di hadapan golok Elang Emas itu.
Ya, sebuah senjata yang di buat dengan campuran emas murni. Sehingga dapat menembus kekebalan dari bermacam ilmu kebal kecuali ilmu kesaktian yang membuat perisai tak kasat mata.
"Hiyaaaa.....!!" Arca Soma melompat cepat seraya menyabetkan cepat golok Elang Emas ke arah Datuk Wajangkara, namun Datuk Wajangkara dengan cepat menangkis setiap sabetan dan tebasan golok di tangan Arca Soma itu.
Trang! Trang! Trang!
"Hih...!" setiap kali golok Elang Emas dan kerisnya beradu, setiap kali pula Datuk Wajangkara merasakan tangannya kesemutan dan ngilu.
"Sungguh aneh, kenapa tanganku terasa ngilu setiap kali kerisku beradu dengan golok itu," desis Datuk Wajangkara sembari melompat menjauh, namun Arca Soma yang terus mengejar dan mencerca ke arahnya tanpa memberi jeda.
__ADS_1
Kali ini Datuk Wajangkara tampak hampir kalang kabut menghindari setiap cercaan golok Elang Emas di tangan Arca Soma itu. Menangkis serangan Arca Soma itu membuat tangannya ngilu dan kesemutan.
Datuk Wajangkara mengerutu dalam hati, bagaimana tidak? Ia yang merupakan pendekar kawakan harus kalang kabut oleh seorang pendekar muda yang masih berumur jagung muda. Namun kesaktian dan kecepatan Arca Soma yang ia peroleh dari Satria Elang Emas tidak lah bisa di anggap enteng.
Sret!
"Akgh....!" Datuk Wajangkara mengeluh tertahan begitu bahu kirinya terserempet golok Elang Emas di tangan Arca Soma itu.
Datuk Wajangkara melompat mundur sambil memegangi bahunya yang mengucur darah.
"Keparat!" gerutu Datuk Wajangkara dalam hati.
"Tidak aku sangka kekebalan ilmu 'Tirai Besi'. yang ku miliki bisa di tembus oleh golok Elang Emas itu."
"Kau mau kemana, Datuk. Urusan kita masih panjang....! Heaaa....,!" Arca Soma melesat cepat bagai kilat ke arah Datuk Wajangkara dengan golok Elang Emas menikam ke arah dada.
Datuk Wajangkara berusaha berkelit, namun rupanya Arca Soma dengan cepat merubah arah goloknya menjadi sabetan ke arah kiri, tidak ayal lagi perut Datuk Wajangkara menjadi sasaran mata golok Elang Emas itu.
Srass!!
"Aaagkh....!" Datuk Wajangkara tidak menyangka jika Arca Soma merubah arah senyatanya dengan begitu cepat. Arca Soma yang memang berniat menghabisi Datuk Wajangkara dengan jurus 'Golok Emas Memecah Gunung'.
"Modar kau.... Elang Hitam....! Heaaa....!!"
Gerakan Arca Soma yang begitu cepat bagai kilat tidak dapat di hindari lagi oleh Datuk Wajangkara yang sudah terluka itu.
Creb!
"Aaakh....!" jeritan kesakitan terdengar menyayat hati keluar dari mulut Datuk Wajangkara ketika ujung golok Elang Emas tepat menghujam dada sebelah kanannya. Darah segar menyembur dari mulut sang Datuk sambil terhuyung kebelakang.
Datuk Wajangkara jatuh berlutut dengan mulut mengalir darah segar, sedangkan tangan kirinya tampak menekap dada yang mengalir darah tanpa henti.
.
__ADS_1
. Bersambung.....