
Sementara itu di desa Bambu Kuning di seberang anak Sungai Musi suara jerit tangis dan hiruk-pikuk para penduduk terdengar sayup-sayup dari kejauhan siang menjelang sore saat itu tidak terdengar lagi suara burung-burung, yang terdengar hanya jerit tangis para wanita dan jerit kesakitan para laki-laki kampung yang berusaha mengadakan perlawanan terhadap sekelompok orang-orang yang berpakaian merah dengan topeng berbentuk tengkorak berwarna putih bergaris hitam kelompok ini terkenal dengan gelar Topeng TengkorakPerenggut Nyawa.
Beberapa orang penduduk tampak sudah tidak bernyawa dan banyak yang terluka terkena sabetan pedang di tangan 5 orang itu.
Tampak lima orang berpakaian hitam dengan topeng putih bergaris hitam itu telah memanggul seorang gadis dalam keadaan pingsan di bahu mereka, namun tampaknya penduduk tidak membiarkan mereka pergi begitu saja dengan sekuat tenaga mereka berusaha menghalangi. Namun kemampuan mereka yang jauh di bawah kemampuan lima orang
Topeng Tengkorak Pencabut Nyawa itu membuat mereka harus bergelimpangan di tanah.
"Ha ha..ha...Percuma saja kalian menghadang si Topeng Tengkorak, kalian hanya akan mengantarkan nyawa kalian!" tawa salah seorang dari lima orang anggota si Topeng Tengkorak Perenggut Nyawa itu.
"Sebaiknya kalian tinggalkan para gadis itu karena kami tidak akan membiarkan Kalian pergi," kata salah seorang penduduk yang Menghadang tidak kurang dari tiga puluh orang penduduk tampak memegang golok dan Kudok di tangan mereka, mereka mencoba Menghadang. "Ha ha ha..., kalian memang sudah bosan hidup tapi kami tidak berniat untuk membunuh kalian, jika kalian memang menginginkan anak-anak gadis kalian ini, maka datanglah ke tempat Tuan Cakra Bima dan Tuan Ujang Seta di hutan
Meranti. Jika kalian ingin meminta bantuan mintalah bantuan kepada Perguruan Mawar Putih. Karena semua ini di lakukan oleh Tuan Cakra Bima karena ingin membalas semua sakit hati terhadap orang-orang Perguruan Mawar Putih. Jadi jangan halangi kami cepat kalian laporkan kepada Perguruan Mawar Putih," kata salah seorang dari lima orang, anggota kelompok Tengkorak Perenggut Nyawa.
Para penduduk tampak terdiam mendengar perkataan orang-orang pembunuh bayaran itu.
Pembunuh bayaran Tengkorak Perenggut Nyawa sudah terkenal di daerah ini, mereka Malang melintang di dunia persilatan sebagai pemburu keping emas mereka membunuh dan membantai juragan-juragan kaya atas perintah juragan-juragan kaya yang lain, yang merasa tersaingi usaha dan perdagangannya. Begitulah dunia semua siapa yang mempunyai harta dan siapa yang mempunyai kedudukan yang lebih tinggi itulah yang akan berkuasa.
Para penduduk Desa Bambu Kuning tidak mampu berbuat apa-apa sudah belasan orang yang bergelimpangan di tanah mungkin ada sekitar lima orang yang sudah tewas karena terkena sabetan pedang di tangan para pembunuh bayaran Topeng Tengkorak Perenggut Nyawa itu.
Setelah ber kata dengan begitu ringan kelima anggota pembunuh bayaran Tengkorak Perenggut Nyawa melesat meninggalkan tempat itu. Dengan begitu ringan mereka berlompatan dari dahan ke dahan di setiap pohon di tengah hutan kelima orang itu langsung menuju ke bangunan besar tempat tinggal Cakra Bima dan Ujang Seta di tengah Hutan Meranti.
.
***********
Sementara itu di perguruan mawar putih anggala dan Wulan Ayu yang berniat untuk meneruskan perjalanan di tahan oleh Dewi mawar.
"Anggala, Wulan Ayu, nini tidak bermaksud ingin menghalangi perjalanan kalian, namun nini merasa semua urusan yang kita mulai dengan para pendekar mesum itu belum selesai. Kemungkinan Ujang Seta kemarin berhasil di bawa lari oleh sang gurunya yang bernama Cakra Bima. Tokoh Sakti yang tidak jelas golongannya itu," kata Dewi Mawar menjelaskan.
"Jadi apa yang harus kita lakukan sekarang Nini Dewi?" tanya Wulan Ayu.
Jika kalian tidak keberatan sebaiknya tinggallah beberapa hari lagi ke depan karena perasaanku kurang enak. Kemungkinan mereka akan datang ke tempat ini atau ke desa-desa yang dekat dengan Perguruan Mawar Putih ini untuk membalas dendam," tutur Dewi Mawar lagi.
"Baiklah, Nini Dewi, kami juga tidak tega jika kami berangkat perguruan ini di bantai oleh orang-orang tidak bertanggung jawab dan tidak berperikemanusiaan itu,"jawab Anggala. Wulan Ayu hanya mengangguk menyetujui ucapan Pendekar Naga Sakti itu.
__ADS_1
Memang benar yang di rasakan oleh Dewi Mawar sebagai pendekar tua tidak lama suara derap kaki kuda terdengar jelas menuju arah gerbang Perguruan Mawar Putih itu, tidak lama dua orang murid Perguruan Mawar Putih datang tergopoh-gopoh memberitahu pada sang guru bahwa seorang kepala kampung yang tidak jauh dari perguruan mawar putih ini yang bernama aki Wali datang untuk menemui Dewi mawar langsung memerintahkan muridnya mempersilahkan Aki Wali untuk menemuinya di Pendopo Perguruan Mawar Putih.
Aki Wali tanpa menunggu lagi langsung menemui Dewi mawar di Pendopo yang di dampingi oleh Anggala dan Wulan Ayu, Kenanga, Nila Sari dan Ambara Wati pun berada di sana.
"Apa yang terjadi Ki?" tanya Dewi Mawar melihat Aki Wali begitu terburu-buru.
"Ketiwasan, Nini Dewi," kata Aki Wali terbata-bata.
"Sebaiknya, Aki minum dulu," kata Dewi Mawar seraya memberikan secangkir air putih kepada Aki Wali, setelah minum air pemberian Dewi Mawar itu barulah napas Aki Wali mulai tenang.
"Begini, Ni Dewi. Kampung kami di serbu oleh orang-orang yang diperintahkan oleh Ujang Seta dan Ki Cakra Bima untuk menculik para gadis, para pembin7h bayaran yang jadi orang suruhan itu mengatakan jika niat mereka menculik para gadis adalah membalas dendam terhadap orang-orang Perguruan Mawar putih ini, Nini Dewi," jelas Aki Wali.
"Tampaknya yang Nini katakan itu memang benar," kata Wulan Ayu menimpali.
"Ya, tampaknya kita harus segera turun gunung mengejar mereka," kata Kenanga dari samping, sebagai murid tertua dan sebagai Dewi Selendang Kuning tentu gadis itu cukup geram mendengar perlakuan Ujang Seta bersama gurunya itu.
"Bersabarlah dulu, kita harus tahu dan kita harus menyelidiki. Apa maksud dan Apa yang mereka rencanakan jika kita terlalu tergesa-gesa tentu kita akan jadi korban rencana mereka?" kata Dewi mawar berusaha menyabarkan para muridnya.
"Ya, yang dikatakan ini Dewi, benar Kenanga. Kita harus menyelidiki dan mencari tahu seberapa kekuatan musuh dan di mana tempat tinggal mereka, jangan sampai kita jatuh kedalam perangkap mereka," kata Wulan Ayu menimpali.
"Ada apa, Ki? Kenapa kalian tampak terburu-buru sekali?" tanya Dewi mawar, Wulan Ayu, Anggala dan Kenanga hanya diam melihat kedua laki-laki yang berumur hampir separuh baya Itu tampak begitu cemas dan ketakutan.
"Maafkan kami Nini Dewi, Kampung kami Kampung Jati Liar di serbu oleh orang-orang suruhan Ujang Seta untuk menculik para gadis. Para penculik itu mengatakan jika kami menginginkan para anak gadis kami. kami harus memanggil dan meminta bantuan kalian untuk merebut di kediaman
Ki Cakra Bima dan Ujang Seta," kata salah seorang laki-laki itu, terdengar terbata-bata dengan wajah cemas dan dampak kelelahan Kenanga dan Wulan Ayu segera mengambilkan sekendi air minum dan memberikannya kepada dua orang laki-laki itu.
"Aki-Aki, sebaiknya kalian minum dulu bernafaslah dengan tenang baru kalian bercerita," ucap Kenanga sambil memberikan cangkir dari potongan bambu kepada dua orang laki-laki itu.
"Terima kasih nak," ucap dua orang laki-laki itu berbarengan, mereka langsung menerima Kendi pemberian Kenanga dan meminum beberapa cangkir air putih.
Setelah minum air putih barulah wajah keduanya tampak agak cerah dan nafas keduanya mulai tenang.
"Jadi tidak hanya desa Desa Pandan Wangi saja yang di teror oleh orang-orang suruhan Ujang Seta," tanya Kenanga ingin tahu lebih jauh.
"Tampaknya begitu, Nak. mereka begitu menyimpan dendam terhadap kalian. Apa yang telah kalian lakukan? Apakah kalian yang telah membunuh Ujang Akra dan Ujang Komar," tanya laki-laki itu.
__ADS_1
"Ujang Komar tewas di tangan Bidadari pencabut nyawa dari barat dan sedangkan Ujang Akra tewas di tangan Pendekar Naga Sakti," jawab Dewi mawar.
"Yah, jika kita mengingat perbuatan mereka yang begitu bejat dan tidak punya perikemanusiaan itu memang pantas mereka mati. Tapi tampaknya orang-orang terdekat kedua manusia bejat itu tidak menerima kematian Ujang Akra dan Ujang Komar, mereka memerintahkan kelompok Tengkorak Perenggut Nyawa untuk menculik gadis-gadis dari kampung kami," jawab Aki Sadar.
"Tampaknya kita memang harus segera turun gunung dan mengejar mereka jika tidak ingin para gadis desa itu menjadi korban nafsu iblis para pembunuh bayaran itu," kata Dewi Mawar lagi sambil mendesah. Wanita tua itu menarik nafas dalam dan perlahan melepaskannya pandangannya menerawang jauh.
"Kenanga, Ambarawati, Nila Sari, Seruni, sekarang jika kalian sanggup temanilah Anggala dan Wulan Ayu mengejar keberadaan mereka,"
"Tapi guru kami tidak mengetahui di mana tempat tinggal para bajingan itu?" jawab Kenanga.
"Saya tahu, Nak. Di mana mereka tinggal mereka tinggal di lembah ukam. Sebuah rawa yang tidak begitu jauh dari desa kami jika berjalan kaki mungkin berangkat dari pagi ke sana sekitar siang kita sudah bisa sampai ke sana tapi bila menaiki kuda atau berkemampuan lari cepat dengan ilmu meringankan tubuh kalian, tentu kalian akan bisa mencapai tempat itu lebih cepat," kata Aki Wali.
"Baiklah, Ki," kata anggala, "Jika Aki tidak keberatan, sore ini kita berangkat ke desa, Aki dan esok pagi-pagi kita akan berangkat menuju markas para bajingan itu," kata Anggala. Pendekar Naga Sakti tampaknya cukup geram mendengar sepak terjang orang-orang suruhan Ujang Seta dan Cakra Bima
Walau Pendekar Naga Sakti tidak mengetahui seberapa kekuatan dan seberapa hebatnya orang-orang yang mengelilingi Ujang Seta, namun hatinya bertekad harus bisa menyelamatkan para gadis desa yang diculik oleh orang-orang suruhan kedua pendekar dari Lembah Ukam, di tengah hutan Meranti itu.
.
.
Bersambung...
Jangan lupa dukung novel ini ya teman-teman.
Rate
Hadiah
Like
Koment
Favorit
Dan Votenya teman-teman.
__ADS_1
Terima kasih banyak.