Pendekar Naga Sakti

Pendekar Naga Sakti
Prahara Di Pulau Andalas. Bag, 13


__ADS_3

Matahari mulai terik menyinari bumi, suara burung berkicau dengan riangnya. Suasana warung makan Ki Syarip tampak sudah mulai ramai, begitu pun para penduduk mulai berlalu lalang melakukan pekerjaan dan aktivitas mereka.


Hadirnya Wulan Ayu di warung Ki Syarip tampaknya menjadi daya tarik tersendiri bagi warung makan satu-satunya di Desa ini.


Banyak para pemuda yang pergi makan dan ada yang sekedar minum teh da memesan kopi, mereka hanya ingin melihat kecantikan Bidadari Pencabut Nyawa dari dekat.


Walaupun tidak ada yang berani menyapa sekedar untuk berkenalan, padahal bagi Wulan Ayu berkenalan bukanlah masalah.


Menjelang siang empat ekor kuda mampir ke warung Ki Syarip, namun tampaknya empat orang itu tidak membuat masalah dari awal. Ke empat orang berpakaian hitam dan satu orang berpakaian merah tampak memesan makanan.


"Apa gadis itu yang kalian maksud?" tanya laki-laki berpakaian merah pada tiga orang berpakaian hitam.


"Ya, benar Kak. Dia orangnya," jawab salah satu dari tiga orang itu.


Begitu Wulan Ayu selesai mengantar makanan pada sebuah meja, laki-laki berpakaian merah itu menghadang.


"Jadi kau yang mengganggu adik-adik seperguruan ku. Gadis cantik?" cegat laki-laki itu.


Ya, tapi bukan aku yang membuat onar duluan kisanak," jawab Wulan Ayu tenang.


"Kau berani mengganggu orang-orang Perguruan Elang Merah, berarti kau mau cari masalah?" ujar laki-laki itu.


"Aku tidak peduli siapa dan dari Perguruan mana? Aku hanya tidak suka melihat orang yang bertindak semena-mena, kisanak!" jawab Wulan Ayu mulai meninggikan suaranya.


"Kau memang harus di beri pelajaran!" tantang laki-laki itu.


"Cobalah!" jawab Wulan Ayu singkat bernada tantangan.


"Kita keluar sekarang!" ujar laki-laki itu dingin.


"Silahkan duluan!" jawab Wulan Ayu. Sekali bergerak Bidadari Pencabut Nyawa sudah hilang dari pandangan.


Laki-laki itu melompat ke luar warung, tidak lama kemudian Wulan Ayu sudah berada tidak jauh dari tempat laki-laki itu berdiri. Sebuah pedang tampak terbungkus kain putih di balik punggungnya.


"Rupanya kau memang bukan gadis biasa, cepat katakan siapa nama dan gelarmu? Biar ku ukir di batu nisanmu nanti!" terdengar datar namun menunjukkan kekejaman dan kebengisan suara laki-laki itu.


"Hmm...! Aku juga tidak ingin kau penasaran sedang berhadapan dengan siapa? Aku Wulan Ayu, orang-orang memberikanku gelar Bidadari Pencabut Nyawa!" jawab Wulan Ayu datar.


"Bidadari Pencabut Nyawa!?" laki-laki tersentak mendengar jawaban Wulan Ayu," Benarkah dia Bidadari Pencabut Nyawa?" gumamnya lagi.

__ADS_1


Wulan Ayu hanya tersenyum tipis melihat logat laki-laki itu yang cukup terkejut mendengar gelarnya.


"Kau... Mau mengertakku gadis tengik!" bentak laki-laki itu merasa Wulan Ayu hanya mengertaknya.


"Aku tidak memgertakmu, kisanak!" jawab Wulan Ayu sengit.


"Kau bisa saja membual, tapi aku Rasolika si Pedang Kilat akan membuatm membayar kesombonganmu! Heaaa....!" bentakannya terdengar nyaring sembari melompat cepat ke arah Wulan Ayu dengan sebuah pukulan tangan kosong.


Tap! Tap!


Begitu tenang dan sangat cepat Bidadari Pencabut Nyawa menapaki dua pukulan tinju si Pedang Kilat itu, malah dengan cepat Wulan Ayu berniat membalas dengan gerakan telapak tangannya yang hampir mengenai dada si Pedang Kilat.


"Heh!" si Pedang Kilat tersentak, namun dengan cepat ia menarik tubuhnya ke belakang dan melompat mundur.


"Kurang ajar! Hampir saja aku di hajar dalam serangan pertama, gadis ini mempunyai kecepatan yang sulit di ukur!" geram Rasolika menggerutu dalam hati.


"Hup!" tidak ingin kehilangan pamor di depan adik-adik seperguruannya, Rasolika kembali melesat merangsek maju. Kali ini dengan pukulan bertenaga dalam tinggi.


Dik! Dik!


Wulan Ayu cepat mengimbangi dengan jurus dasar jurus 'Bidadari Kayangan'. dengan di sertai tenaga dalam.


"Hup!" Setalah menapaki dua kepalan tinju 👊 Rasolika, Wulan Ayu memberikan sebuah srangan balasan dengan sebuah tendangan cepat ke arah pinggang kiri si Pedang Kilat.


Buak!


Si Pedang Kilat mau tidak mau terjajar ke samping akibat hempasan tenaga tendangan Wulan Ayu itu.


Tidak hanya sampai di situ, Wulan Ayu cepat bergerak meliukkan tubuhnya ke arah samping kanan dengan begitu cepat.


Duak!


"Akgh..!" kali ini Rasolika mengeluh tertahan sambil terdorong ke arah depan akibat hantaman telapak tangan Wulan Ayu yang cukup cepat.


"Bangsat!" Rasolika mengembor marah, merasa di permainkan lawan. Si Pedang Kilat kembali meluncur ke arah belakang setelah menjejak tanah dan bersalto.


"Hiyaaa...!" Wulan Ayu melompat cepat ke udara menghindari cercaan tendangan cepat Rasolika yang cukup cepat.


"Hi hi hi...! Kisanak, kau terlalu memaksakan diri. Apa karena malu dengan adik-adik seperguruanmu?" ledek Wulan Ayu begitu menjejak kaki di tanah tidak jauh dari Rasolika.

__ADS_1


Sementara orang-orang yang ada di dalam warung menatap tajam ke arah pertarungan, begitu juga dengan tiga adik seperguruan Rasolika.


Sementara itu Anggala telah sampai di ujung jalan pintas menuju Desa di antar Singa Rudra dan Blabang Geni.


"Sobat berdua, sebaiknya sampai di sini saja. kalian kembalilah ke Perguruan Alam Jagad. Aku sudah bisa sendiri dari sini," kata Pendekar Naga Sakti.


"Sobat, terima kasih banyak atas bantuannya. Ini kuda Wulan Ayu, titip salam kami padanya," ucap Singa Rudra sembari melompat dari atas kuda dan di ikuti Blabang Geni.


"Bagaimana dengan kalian?" Kalau berjalan cukup jauh ke Perguruan Alam Jagad," kata Anggala lagi.


"Tidak apa-apa, Sobat. Kami bisa menggunakan ilmu lari cepat agar bisa sampai ke perguruan lebih cepat," jawab Singa Rudra.


"Baiklah, Sobat berdua, saya permisi dulu," ucap Anggala sambil memegang tali kuda yang di kembalilan Singa Rudra.


"Hati-hati, Sobat.. Sampai bertemu lagi...," ucap Singa Rudra melambaikan tangan ke arah Anggala yang mulai mengebah kudanya menjauh. Anggala pun membalas lambaian tangan Singa Rudra dan Blabang Geni.


.


*****


Sementara pertarungan Bidadari Pencabut Nyawa dengan si Pedang Kilat semakin sengit. Si Pedang Kilat semakin meningkatkan tenaga dalamnya dalam menyerang Wulan Ayu.


Wulan Ayu tampak begitu tenang menghadapi setiap cercaan serangan musuhnya.


Pengalaman dan nasehat dari sang kekasih membuat gadis cantik penyuka warna biru itu bertarung dengan tenang.


"Ayo, kisanak. Apa cuma segitu kemampuan si Pedang Kilat?" ejek Wulan Ayu sambil menarik tubuhnya ke samping menghindari pukulan tinju Rasolika yang mengincar wajahnya.


"Hup!" secepat kilat Wulan Ayu menyorongkan telapak tangannya ke depan sehingga Rasolika tidak sempat menghindar dan menangkis lagi.


Buak!


"Agkh..!" si Pedang Kilat mengeluh tertahan sebelum tubuhnya terpental sekitar tiga tombak ke belakang. Tubuh laki-laki berpakaian merah itu tampak jatuh berlutut.


.


.


Bersambung.....

__ADS_1


Kalau sudi tinggalkan jejak ya...


Terima kasih banyak..


__ADS_2