
Suasana tedengar hening, semua orang tampak terdiam. Jaka Kelana hanya tersenyum tipis mendengar ancaman orang-orang yang mengaku sebagai Penyamun Bukit Kayangan itu.
Jaka Kelana hanya tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Pemuda itu hanya tersenyum tipis ketika salah seorang penyamun bertopeng itu melompat cukup cepat kearahnya.
"Hup!" Jaka Kelana melentingkan tubuhnya begitu ringan dan berputar di udara sebelum menjejak kaki bagai sebuah kapas.
"Heaaah...!" Singo Abang dan kedua adiknya melompat turun dari kuda-kuda mereka dan menghadap ke arah kepungan para penyamun yang cukup banyak itu.
"Kalian salah mencegal orang, Kisanak," kata Singo Abang dengan suara datar seakan memberi peringatan.
"Kalian masuk kewilayah kami. Jadi kalian harus meninggalkan harta kalian atau nyawa!" bentak pimpinan Penyamun Bukit Kayangan yang memakai topeng tiga warna.
"Ambillah, apa yang kalian inginkan, Kisanak. Tapi yang jelas kami akan mempertahankan apa yang jadi milik kami," sahut Jaka Kelana tenang.
"Bangsat! Habisi mereka...!!"
Perintah orang yang berdiri paling depan, dari pakaiannya laki-laki itu kemungkinan adalah pimpinan orang-orang yang mengaku sebagai Penyamun Bukit Kayangan tersebut.
Tanpa banyak bicara belasan orang bertopeng itu langsung merangsek maju ke arah Jaka Kelana dan Singo Abang bersama kedua adiknya.
"Hup..!" Singo Abang langsung menyongsong dua orang bersenjata golok putih mengkilat kearahnya. Singo Abang langsung membuka jurus-jurus silat harimau andalannya.
Dua sabetan golok yang mengincar ke arah tubuhnya di hindari oleh Singo Abang dengan begitu gesit, bahkan dengan cukup mudah pemuda dari Bukit Tambun Tulang itu menyarangkan telapak tangannya ke tubuh sang lawan.
Plak!
Tap!
Tamparan tangan kanan Singo Abang yang terlihat lembut, namun berakibat salah seorang musuhnya kehilangan pegangan pada gagang golok yang di pegangnya.
Seorang laki-laki yang dadanya di dorong oleh Singo Abang langsung jatuh terlentang ke tanah.
"Hup!" Jaka Kelana melentingkan tubuhnya ke udara menghindari tikaman empat golok yang mencercanya. Sambil melayang di udara dengan begitu cepat Jaka Kelana melepaskan sebuah tendangan ke arah punggung salah seorang pengeroyoknya.
Buak!
"Akgh..!" laki-laki bertopeng yang terkena tendangan Jaka Kelana langsung nyungsep ke tanah dalam keadaan tertelungkup.
Sementara itu Singo Jayo dan Singo Sarai tampak melayani sekitar enam orang yang meyerang mereka. Namun dengan begitu lihai kedua pendekar kakak beradik itu mengadakan perlawanan.
Dalam beberapa jurus saja satu-persatu orang-orang bertopeng itu di buat jatuh ketanah, namun mereka cepat bergerak bangkit dan kembali mengepung. Walau mereka sudah tampak ragu-ragu hendak menyerang.
__ADS_1
Begitu pun yang mengeroyok Jaka Kelana dan Singo Abang, orang-orang bertopeng itu berkali-kali jatuh bangun. Tapi sepertinya mereka belum menyadari kalau Jaka Kelana tidak berniat untuk menyakiti mereka terlalu parah.
"Mundur... Kalian...!!" bentak orang yang memakai topeng tiga warna, mendengar perintah pimpinan mereka puluhan orang-orang yang mengeroyok langsung bergerak mundur. Namun masih dalam ancang-ancang mengepung.
"Tampaknya kami berhadapan dengan para pendekar, katakan kalian pendekar golongan putih atau golongan hitam?" tanya laki-laki bertopeng tiga warna itu.
"Kami pendekar golongan putih," sahut Jaka Kelana singkat.
"Wajar jika kalian tidak langsung menghabisi anak buahku, jika pendekar golongan hitam tentu anak buahku sudah bergelimpangan di tanah menjadi mayat," kata laki-laki itu seraya melepas topengnya.
"Maafkan kami pendekar, kami merampok hanya untuk menyambung hidup," tambahnya lagi.
"Maksudmu??" Jaka Kelana tidak mengerti.
"Seluruh tanah di desa kami di kuasai oleh seorang tuan tanah. Jadi kami harus hidup seperti ini sambil mengadakan perlawanan pada tuan tanah itu," terangnya.
"Kalian cukup banyak, kenapa tidak mengadakan perlawanan?"
"Kami pernah mencoba mengadakan perlawanan langsung, akibatnya lebih dari lima puluh orang anggotaku di bantai oleh orang suruhan tuan tanah itu."
"Lima puluh orang? Berarti tuan tanah itu sangat sakti.?" Singo Abang yang mengeluarkan suara.
"Tuan tanah itu tidak begitu sakti, namun dua orang kepercayaannya sangat sakti."
"Mereka berdua adalah pendekar kembar yang bergelar Datuk Iblis Gunung Tujuh," sahut laki-laki itu.
"Datuk Iblis Gunung Tujuh, Wangsala dan Wangsaka...?" ujar Jaka Kelana.
"Ya, pendekar tau dedengkot golongan hitam itu?"
"Aku pernah mendengar namanya."
"Jika kami boleh tau, para pendekar ini mau kemana. Apa ada hubungannya dengan pertemuan di puncak Gunung Kerinci purnama bulan dua belas ini?"
"Ya, kami bertujuan kesana,"
"Baiklah, silahkan pendekar lewat, maafkan kami telah mengganggu," ucap laki-laki itu menjura memberi hormat.
"Tidak apa-apa, jika kami bisa kami akan membantu, Kisanak."
.
__ADS_1
.
"Dinda, bagaimana kalau kita memanggil rajawali?"
"Hmm... Dinda rasa saran kakak boleh juga, dengan begitu kita bisa sampai ke puncak gunung kerinci lebih dulu," sahut Wulan Ayu sambil tersenyum.
"Lagian, kakak seperti hampir melupakan rajawali raksasa," celetuk Wulan Ayu.
"Kakak hanya tidak ingin mengganggu rajawali, biarkan ia istirahat. Dia sudah cukup lelah berpetualang bersama paman Lesmana," sahut Anggala.
"Tapi kenapa sekarang kakak mau memanggil rajawali?"
"Kakak hanya ingin melihat situasi di puncak gunung kerinci dulu, Dinda," jawab Anggala singkat sambil tersenyum.
Wulan Ayu hanya tersenyum dan mengangguk. Sementara Anggala berjalan kesebuah tempat yang cukup lapang di depan mereka dan berdiri di sana.
Wulan Ayu memilih duduk di bawah sebatang pohon yang cukup rindang dan berdaun rimbun.
"Suiiittt......!!" Anggala bersiul nyaring dan sebuah cahaya putih kemerahan di jentikannya keudara.
Anggala tengadah menghadap langit, tidak lama kemudian di langit terlihat sebuah titik hitam yang semakin lama semakin membesar dan tampak seekor rajawali raksasa meluncur deras bagai kilat.
Tubuh rajawali yang begitu besar hingga membuat Anggala dan Wulan Ayu cepat melihat jelas kearahnya.
"Aarrkkkhhh....!!"
Rajawali langsung turun dengan begitu ringan di depan Anggala, walau tubuhnya begitu besar rajawali raksasa itu tidak membuat tanah di puncaknya anjlok. Telapak kaki burung raksasa itu mendarat pelan di atas rumput.
"Ya, ya... Aku juga rindu padamu, Rajawali," kata Anggala sambil memeluk kepala besar burung rajawali yang menyelamatkan nyawanya dua puluh tahun yang lalu.
Rajawali mengkirik sambil menggoyangkan kepalanya dan menggeserkan paruhnya ke dada Anggala dengan perlahan.
"Aku tidak ingin mengganggu isirahatmu, Sahabatku. Tapi sekarang aku butuh bantuanmu untuk mencapai puncak gunung kerinci dengan cepat,," sahut Anggala seakan berbicara dengan rajawali.
Anggala memang mengerti dengan bahasa rajawali yang bersamanya dari kecil di lembah naga. Rajawali pula yang mengajarkan sembilan tingkat jurus-jurus rajawali.
"Riirrrkkk...!" Rajawali menoleh ke arah Wulan Ayu yang berdiri termangu melihat Anggala berbicara dengan rajawali.
"Dia memanggilmu, Dinda," kata Anggala. Bidadari Pencabut Nyawa berjalan mendekat ke arah rajawali, walau ia sudah pernah bertemu sekali namun Wulan Ayu masih tampak ragu-ragu mendekati burung rajawali raksasa peliharaan Pertapa sakti Lembah Naga tersebut.
.
__ADS_1
Bersambung.....