Pendekar Naga Sakti

Pendekar Naga Sakti
Prahara di Galuh Permata, Kedatangan Dua Pendekar Pemarah


__ADS_3

Bayangan putih berkelebat bagai kilat, Tiba tiba sudah mendarat di samping Anggala Pendekar Naga Sakti.


Tampak sepasang Pendekar tua dengan pakaian serba putih, Wajah Gagah dan cantik masih terbias di wajah keduanya, walau umur mereka tak muda lagi.


"Rupanya Orang orang Lembah Tengkorak yang mengacau di Galuh Permata ini..!" ujar Malaikat Pemarah, sambil memandandang ke arah tokoh tokoh hitam dari Lembah Tengkorak itu.


"Bangsat....! Bukankah kalian telah mengundurkan diri dari dunia persilatan hah...!" bentak Iblis Hitam. Iblis Hitam Adalah sesepuh tertua dari Tujuh Iblis Hitam Lembah Tengkorak.


"Mengundurkan diri atau tidak bukan urusanmu Iblis Hitam...!" jawab Malaikat pemarah suaranya membahana, tatapan matanya tajam, bak mata pedang yang siap menyayaat siapa pun yang menghadangnya.


"Kalian kira kami akan tinggal diam melihat sepak terjang kalian, yang membuat onar dan kerusuhan di kerajaan Galuh ini hah...!" bentak Bidadari Galak, sambil mengacungkan pedang yang ada di tangan kirinya itu.


Lesmana melompat ke samping Malaikat Pemarah, dan Bidadari Galak, ia tertawa melihat sikap galak kedua sahabatnya itu.


"Rupanya pendekar Bukit Bambu mendengar panggilanku...!" ucap Lesmana Pendekar Naga sakti masa lalu itu.


Lesmana...!" sapa Malaikat pemarah lansung menyalami dan memeluk Lesmana sambil tertawa, "Rupanya pendekar Lembah Naga sudah datang duluan ya....!" tambah Malaikat Pemarah sambil melepaskan pelukan pada Lesmana guru Pendekar Naga Sakti, Anggala itu.


"Panggilanmu bagai perintah bagi kami Lesmana..!" tambah ki Lintar Bumi yang di kenal dengan gelar Malaikat Pemarah tersebut.


"Muritmu Anggala adalah calon menantu kami, dia yang telah menyelamatkan Wulan Ayu," tutur Bidadari Galak menyela percakapan dua pendekar itu.


"Ya tampaknya kita bakal jadi besan, hahaha...!" tawa pendekar Lembah naga itu,

__ADS_1


Wulan Ayu turun dari kudanya dan berjalan menemui kedua guru pemarahnya itu.


"Assalamu alaikum guru," ucap Wulan Ayu tampak agak takut, takut di bentak kedua gurunya yang terkenal pemarah itu.


Waalaikum salam, Tuan Putri," jawab Bidadari Galak sambil tersenyum simpul pada Bidadari Pencabut Nyawa.


"Jangan panggil Wulan tuan putri guru, Wulan jadi malu," jawab Wulan Ayu sambil tersenyum pada kedua gurunya itu.


"Tidak, muritku, di sini kau adalah seorang Putri, tidak sopan kami memanggil namamu," kata Bidadari Galak, yang bernama asli Luh Mentari tersebut.


"Terserah guru berdualah," jawab Wulan Ayu sambil tertawa kecil, ia merasa nyaman dengan datangnya kedua gurunya itu.


"Kita di tengah gelanggang sahabatku sebaiknya kita kembali ketepi...!" ajak Lesmana pada kedua sahabatnya itu.


"Hup...!" Sekali melompat mereka bertiga sudah berada di atas kuda, Bidadari Galak dan Malaikat Pemarah memakai kuda Anggala dan kuda Wulan Ayu.


Kini tinggal Anggala dan Wulan Ayu berdiri di tengah arena pertandingan itu. Bidadari Pencabut Nyawa hanya tersenyum, melihat tingkah kedua gurunya itu.


Para tokoh hitam dari Lembah Tengkorak bagai melihat hantu di siang bolong, mereka semua terdiam seribu bahasa. Mereka mulai ragu apa mereka mampu memenangkan perang ini, dengan hadirnya tokoh tokoh silat golongan putih tingkat atas di pihak Galuh Permata itu.


Pangeran Roksa Galuh pun sebenarnya sangat terkejut melihat kedatangan tokoh silat golongan putih tingkat atas itu.


Pangeran Roksa Galuh baru sadar gadis cantik berbaju biru itu adalah keponakannya sendiri, Putri dari Kakaknya Baginda Surya Galuh, Raja Kerajaan Galuh Kencana.

__ADS_1


Namun ketamakan dan kesombongannya membuat ia tetap pada pendiriannya, siapa pun yang menghalangi tujuannya harus di habisi, tak peduli itu keponakan dan saudaranya sendiri.


"Paman Moksa...!" seru Roksa Galuh memanggil nama asli Iblis Hitam.


"Ya, Raden...! Ada apa?" jawab Iblis Hitam, lansung menemui Pangeran Roksa Galuh.


"Apa bantuan yang paman panggil akan datang?" tanya Pangeran Roksa Galuh.


Orang-orang Teratai Merah dalam perjalanan Raden..," jawab ki Moksa atau Iblis Hitam.


Sementara arena bertarung kosong, para prajurit kedua belah pihak tampak pada berbisik-bisik, mereka seperti bingung dengan keadaan saat ini. Melihat arena kosong Peñdekar Srigala Putih melompat ke tengah arena bertarung itu.


"Mana Tujuh Iblis Lembah Tengkorak yang tersohor itu hah...!" teriak Jaka Kelana alias Pendekar Srigala Putih bernada tantangan, "Aku menantang salah satu dari kalian, untuk bertarung denganku!" tambah Jaka Kelana lagi.


Para tetua Orang orang Lembah Tengkorak saling pandang, akhirnya salah seorang dari mereka melompat ke arena pertarungan itu.


"Biar aku yang akan maju Kakak!" seru Iblis Hitam Wajah Kematian!" langsung melompat kedepan Pendekar Srigala Putih itu dan jarak mereka tinggal sekitar lima tombak lagi. Orang dari Lembah Tengkorak itu adalah Iblis Hitam nomor tiga yang bergelar Iblis Hitam Wajah Kematian.


.


.


Bersambung..

__ADS_1


__ADS_2