
Tiba-tiba begitu melalui Anggala dan Wulan Ayu, orang-orang berbaju hitam itu menghentikan kuda mereka dan menatap ke arah Pendekar Naga Sakti dan Bidadari Pencabut Nyawa.
"Hei..! Mau kemana kalian anak muda, kalian di larang memasuki daerah ini!" bentak salah seorang berbaju hitam yang memakai senjata kudok.
"Maaf. Kisanak kami hanya pengembara yang kebetulan lewat, kami tidak ada maksud mengganggu siapa pun," jawab Anggala dengan begitu tenang.
"Kurang ajar! Tampaknya kalian tidak bisa di bilangin, apa senjataku yang harus bicara. Hah!" bentak orang berbaju hitam itu lagi.
"Kami tidak mencari musuh kisanak, tapi kalau bertemu kami tidak akan lari," jawab Anggala lagi.
"Mau mampus kau! Heaaah..!" selesai bicara orang berbaju hitam itu langsung melompat dari atas kudanya menyerang Anggala. Orang itu langsung memberikan serangan dengan memakai Jurus tinju.
Tap! Tap! Tap!
Anggala dengan begitu tenang menapaki setiap pukulan Tinju orang berbaju hitam tersebut. Pendekar Naga Sakti dengan begitu gesit dan tangkas memberikan sebuah pukulan balasan.
Buak!
"Akh..!" orang berbaju hitam itu terpental kearah belakang, namun dengan cepat ia bersalto dua kali kebelakang dan mendarat di tanah.
Sret!
Kudok yang ada di pinggangnya terhunus, orang berbaju hitam dengan gelang berwarna kuning satu di lengan kanannya itu kembali melompat kearah Pendekar Naga Sakti.
"Heaaah...!" bentakan orang berbaju hitam itu mengawali tubuhnya melompat keudara. Kudok di tangan kanannya menyambar kearah dada dan leher Anggala. Namun dengan begitu gesit Pendekar Naga Sakti dapat menghindari sabetan dan tusukan Kudok di tangan musuhnya itu.
"Rupanya kau tidak bisa di beri peringatan kisanak!" kata Pendekar Naga Sakti dengan begitu cepat menangkap lengan penyerangnya dan telapak tangan kanannya menghantam telak kearah dada orang berbaju hitam itu.
Buak!
"Aaakhh...!" lenguhan kesakitan terdengar tertahan dari mulut orang berbaju hitam itu sebelum tubuhnya terlempar sekitar tiga tombak ketanah.
Bruk!
Orang-orang berbaju hitam yang lain tampak terkejut melihat temannya tiba-tiba sudah menggeliat kesakitan di tanah.
Sring!
__ADS_1
Empat orang anggota yang lain langsung menghunus kudok yang ada di pinggang mereka. Orang-orang itu memakai gelang satu buah di lengannya.
"Hup!" Anggala melompat dari kudanya dan menjejak kaki begitu ringan di tanah. Pendekar Naga Sakti tampak diam tidak bergeming menatap tajam kearah empat orang yang mengepungnya itu.
"Hiyaaa...!" Wulan Ayu pun melompat kearah sebelah Anggala berjarak sekitar dua tombak jauhnya, "Apa ada yang ingin bermain denganku, kisanak?" tatang Bidadari Pencabut Nyawa.
"Huh..! Shaaa..!" salah seorang anggota kelompok tersebut yang memakai gelang dua buah di tangan kirinya langsung melompat kedepan Wulan Ayu. Jarak mereka tinggal sekitar satu tombak setengah.
"Kau akan menyesal menantang anggota Teratai Api gadis cantik!" geram laki-laki itu sambil membuka kuda-kudanya.
"Orang-orang ini rata-rata mempunyai tenaga dalam di atas tiga puluh persen, mereka mengaku anggota Teratai Api, apa partai baru lagi?" guman Wulan Ayu dalam hati. Dalam diamnya Bidadari Pencabut Nyawa meningkatkan tenaga dalamnya.
"Teratai Api, maaf kisanak, apa hubungan kalian dengan Teratai Hitam?" tanya Wulan Ayu masih berusaha tenang.
"Teratai Hitam? Bukankah Teratai Hitam berasal dari daerah barat Pulau Andalas ini?" orang itu malah balik bertanya, "Apa kau tau penyebab hancurnya Partai Teratai Hitam nisanak?" tambahnya lagi.
"Partai Teratai Hitam hancur karena ikut campur dalam pemberontak ke Kerajaan Galuh Permata!" jawab Wulan Ayu singkat.
"O, rupanya kalian adalah pengembaraan dari daerah barat, katakan siapa nama kalian, nisanak! Agar bisa ku ukir di batu nisan kalian!" bentak laki-laki bersenjata klewang hembrug itu.
"Mulutmu begitu berkoar kisanak, buktikan dulu besar mulutmu itu," jawab Bidadari Pencabut Nyawa dingin.
Dik!
Wulan Ayu dengan begitu cekatan langsung menyambut tendangan itu dengan telapak tangan kirinya. Anggota Partai Teratai Api itu tidak hanya memberikan satu serangan tiga tendangan berturut-turut saling susul menyusul.
Tap! Tap!
Bidadari Pencabut Nyawa dengan begitu tangkasnya menapaki seluruh tendangan itu dengan telapak tangannya, tendangan yang terakhir di balasnya dengan kepalan tinju kearah tumit musuhnya itu.
Duak!
"Akh!" anggota Partai Teratai Api itu tersurut mundur sambil merasakan telapak kakinya yang terasa terhantam palu, mulut orang itu meringis menahan nyeri.
"Bagaimana kisanak?" tanya Bidadari Pencabut Nyawa sambil tersenyum tipis menyungging.
"Habisi dia!" perintah orang itu, enam orang yang duduk di atas kuda langsung melompat turun dan mengepung Wulan Ayu.
__ADS_1
"Hehe..! Rupanya pemimpin kalian itu hanya besar mulut kisanak!" ledek Wulan Ayu lagi. Tanpa di perintah kedua kalinya enam orang itu langsung merangsek mengeroyok Bidadari Pencabut Nyawa dari barat itu.
"Hup! Hiaa...!" Wulan Ayu melentingkan dirinya keudara menghindari pukulan musuhnya yang serentak dan bertubi-tubi kearahnya. Sambil melayang di udara Bidadari Pencabut Nyawa itu menyempatkan diri memberikan sebuah tendangan kearah punggung salah seorang pengeroyoknya.
Buak!
"Aakh..!" tidak ayal lagi anggota Partai Teratai Api itu terjerambat jatuh tertelungkup ditanah.
Begitu ia bangun tampak darah segar mengalir dari sudut bibirnya.
"Uhuakh! orang itu tampak mengalami luka dalam, "Kau mundurlah dulu, kau sudah terluka dalam. Gadis itu mempunyai tenaga dalam yang cukup tinggi," kata salah seorang temannya yang berpenampilan agak tegap di banding yang lain.
Srek!
Kelima orang Partai Teratai Api yang lain segera menghunus kudok yang ada di pinggang mereka. Mereka pun mengelilingi Wulan Ayu sambil memutar-mutar kudok ditangan mereka.
Sret!
Bidadari Pencabut Nyawa langsung mengeluarkan salah satu senjata andalannya yaitu kipas elang perak. Namun Wulan Ayu belum membentang kipas elang perak, kipas itu masih tergenggam ditangan kanannya.
Sementara empat orang yang mengepung Anggala langsung merangsek dengan kudok di tangan mereka. Cercaan sabetan dan tebasan kudok ditangan keempat orang itu cukup cepat hingga membuat suara memecah udara bersahutan.
Wut! Set! Set!
Tap! Tap!
Begitu sigap Anggala menangkap dua lengan penyerangnya. Dua orang itu mencoba menarik tangan mereka, namun sia-sia. Tenaga dalam mereka kalah jauh di banding tenaga dalam Pendekar Naga Sakti.
"Hup!" wajah dua anggota Partai Teratai Api itu mulai memerah karna memaksakan tenaga mereka. Mereka tidak berani memaksakan menggunakan tenaga dalam terlalu banyak, karena mereka tau, mereka akan terluka dalam bila terlalu memaksakan diri memakai tenaga dalam.
Bruk!
Kedua anggota Partai Teratai Api itu itu langsung jatuh terjerambat hingga terduduk ketanah termakan arus tenaga mereka sendiri.
"Hahaha..! Bagaimana kisanak, sakit..?" tanya Anggala sambil tertawa. Tentu saja perlakuan Pendekar Naga Sakti yang setengah usil itu membuat orang-orang Partai Teratai Api itu semakin marah. Sekitar delapan orang termasuk tiga orang yang bersenjata klewang hembrug itu langsung melompat mengelilingi Pendekar Naga Sakti.
.
__ADS_1
.
Bersambung....