
Baru saja beberapa langkah Bergola Hitam yang dibantu anak buahnya mau meninggalkan tempat tersebut.
"Kalian boleh meninggalkan tempat ini. Tapi dengan syarat, tinggalkan nyawa kalian disini!"
Bergola Hitam dan anak buahnya langsung memalingkan pandangan mereka kearah asal suara tersebut.
Pendekar Naga Sakti telah berdiri tidak jauh dari mereka, "Bukankah Kau datang untuk membalas dendam kematian saudaramu, Bergola Hitam?"
"Bangsat! Kau sudah lihat ketua kami terluka, Kau masih ingin bertarung dengan kami, dimana sikap satriamu!" bentak salah seorang anak buah Bergola Hitam.
"Kalian masih tau sikap satria, sementara kalian menjadi benalu kehidupan orang-orang Desa ini," balas Pendekar Naga Sakti dingin.
"Hehehe...! Sekarang Kau kena batunya Bergola Hitam," ujar kakek Wiratama sambil tertawa terkekeh.
"Apa boleh buat aku akan mengadu nyawa dengan kalian!" bentak Bergola Hitam sambil menghunus senjatanya.
Sret!
Walau tangannya agak gemetaran Bergola Hitam melintangkan golok besarnya didepan dada. Dengan lengan kirinya ia menghapus darah yang ada disela bibirnya.
"Ketua. Biar kami yang menghadapi pendekar ini. Ketua tinggalkan saja tempat ini," ucap salah seorang anak buah Bergola Hitam sambil melompat kearah Pendekar Naga Sakti dengan sebuah sabetan golok.
Wut!
Pendekar Naga Sakti menggeser tubuhnya kesamping sehingga serangan anak buah Bergola Hitam tersebut hanya mengenai angin kosong.
Tiga anak buah Bergola Hitam langsung menyusul menyerang Pendekar Naga Sakti dengan segenap kemampuan yang mereka miliki. Namun tidak sampai lima jurus mereka telah bermentalan ketanah terkena tendangan dan pukulan tangan kosong Pendekar Naga Sakti.
__ADS_1
"Aaakh...!"
Empat orang anak buah Bergola Hitam terhempas ketanah dengan mulut memuntahkan darah segar.
Melihat anak buahnya terluka parah Bergola Hitam pun merangsek menyerang, walau hatinya telah ragu dan mentalnya telah menjadi ciut. Sesal pun kini tiada berguna, kesombongan dan kepogahannya harus ia telan mentah-mentah.
Sabetan dan tebasan golok ditangan Bergola Hitam terus mencerca kearah Pendekar Naga Sakti. Namun serangan Bergola Hitam itu tampak kacau dan tidak beraturan, sehingga Pendekar Naga Sakti dengan mudah menghindari setiap serangan yang mengarah padanya.
"Heaaa...!" Bergola Hitam meningkatkan serangannya. Bergola Hitam berusaha mengalirkan tenaga dalamnya kearah goloknya.
"Huakh...!!" Bergola Hitam memuntahkan darah dari bibirnya berwarna kehitaman pertanda luka dalam yang ia derita semakin parah. Bergola Hitam terhuyung kebelakang dan hampir rebah ia berusaha menahan tubuhnya dengan menancapkan ujung goloknya ketanah.
"Kau boleh membunuhku pendekar!" tantang Bergola Hitam sambil menyeka darah dari mulutnya.
"Kau kira, aku pengecut membunuh orang yang sudah tidak berdaya, Bergola Hitam!" jawab Pendekar Naga Sakti sambil tersenyum tipis menatap Bergola Hitam yang sudah tidak berdaya itu.
"Bergola Hitam, Kau sudah tidak berdaya. Namun mulutmu masih pongah. Apa di hatimu hanya ada kesombongan. Hah!" bentak kakek Wiratama sambil mengacungkan tongkatnya kearah Bergola Hitam.
"Hehehe...! Bergola Hitam. Kami bukan anak kecil yang bisa Kau takuti, kami juga bukan orang yang pengecut yang membunuh orang yang tidak berdaya. Sebelum kesabaranku habis sebaiknya Kau cepat tinggalkan tempat ini," ujar kakek Wiratama sengit. Mendengar ucapan kakek Wiratama, Bergola Hitam berusaha mendekati kudanya disusul empat orang anak buahnya yang masih hidup.
"Heaaa...! Heaaa...!" Bergola Hitam mengebah kudanya secepat yang ia bisa. Kakek Wiratama hanya tersenyum menatap kepergian Bergola Hitam, yang tampak terburu-buru meninggalkan tempat itu.
"Tampaknya kita bakal kedatangan tamu yang lebih banyak, nak Anggala," ucap kakek Wiratama sambil menoleh kearah Anggala dan Wulan Ayu.
"Biarkan saja mereka datang kek, kita akan memberi mereka pelajaran!" jawab Wulan Ayu sambil tersenyum.
"Terima kasih banyak nak. Kakek dan orang-orang kampung sangat berterima kasih kepada kalian," ucap kakek Wiratama. Wajah orang tua itu tampak berubah serius.
__ADS_1
"Kek, kalau saya tidak salah lihat. Kakek bisa mengalahkan Bergola Hitam itu, Tenaga dalam Kakek sudah diatas rata-rata," ucap Pendekar Naga Sakti. Pendekar Naga Sakti bisa melihat sebatas mana tenaga dalam orang lain yang tidak menggunakan ilmu penutup batin, dengan 'Ilmu Mata Malaikat'.nya.
"Rupanya nama besar Lesmana memang sudah pindah tangan, anak muda," nyi Tantri datang dari balik pintu rumah kakek Wiratama sambil menggendong cucu kakek Wiratama, Sandara.
"Terima kasih banyak nyi, kalian berdua sanggup mengalahkan Bergola Hitam itu, tapi kenapa kalian tidak melakukannya?" tanya Pendekar Naga Sakti, kening pemuda itu tampak agak berkerut tanda tidak mengerti keadaan.
"Sebenarnya di Desa ini banyak pendekar yang tinggal. Namun semenjak kematian tiga teman kami dan belasan penduduk, kami jadi mengurungkan niat mengadakan perlawanan. Sudah lebih lima orang pendekar yang ku minta bantuan tewas ditangan Kelompok Iblis Perak itu, termasuk teman kami si Pedang Pelangi dan si Pendekar Kembar, yang bergelar Si kembar Toya Sakti. Di tambah pembantaian belasan penduduk," tutur kakek Wiratama sambil menerawang jauh.
"Berapa orang anggota Kelompok Iblis Perak itu Kek?" tanya Wulan Ayu sambil duduk disamping kakek Wiratama.
"Kakek belum jelas juga mereka datang berjumlah enam orang. Kami pernah memukul mundur keenam orang itu, namun tidak lama mereka pergi. Mereka datang lagi dengan tenaga yang pulih, ditambah tubuh mereka kebal dengan pukulan dan senjata tajam," jawab kakek Wiratama sambil memandang kearah nyi Tantri. Nyi Tantri hanya mengangguk mengiyakan perkataan kakek Wiratama.
"Ya sudah sekarang kalian masuklah dulu, aku akan memasak makanan untuk kita siang ini, ayo Dara," ucap nyi Tantri sambil masuk kedalam rumah, Sandara mengikuti dari belakang.
Siang itu begitu sunyi di Desa tempat tinggal kakek Wiratama, Anggala dan Wulan Ayu tampak berjalan menuju bukit diujung Desa, suasana sunyi mencekam desa yang tampak begitu padat dengan rumah-rumah para penduduk yang rata-tata terbuat dari batu bata berwarna kuning. Namun kesunyian menyelimuti desa ini.
"Hahaha...! Rupanya kalian pendekar yang membunuh Bergola Ungu dan mengdlahkan Bergola Hitam," tiba-tiba sekitar enam orang berpakaian rompi hitam, tubuh mereka berwarna putih perak sampai kewajah, telah mengelilingi Anggala dan Wulan Ayu.
"Jadi Kalian Kelompok Iblis Perak yang meneror desa ini?" kata Pendekar Naga Sakti dengan begitu tenang. Di belakang enam orang Iblis Perak berdiri puluhan orang berpakaian merah yang memakai topeng berwarna putih bercorak merah. Dibalik punggung mereka terdapat sepasang pedang panjang, mirip samurai.
"Sebaiknya kalian cepat berlutut, dan merangkak didepan kami. Jika kalian masih ingin melihat matahari terbit esok pagi!" bentak salah seorang anggota Iblis Perak.
"Kalian berbicara seakan kalian Malaikat Pencabut Nyawa. Buktikan dulu mulut besar kalian!" jawab Pendekar Naga Sakti begitu tenang. Diam-diam pendekar muda itu meningkatkan tenaga dalamnya. Begitupun dengan Bidadari Pencabut Nyawa yang telah menggenggam kipas elang perak. Puluhan orang-orang bertopeng putih itu langsung bergerak mengepung Anggala dan Wulan Ayu.
.
.
__ADS_1
Bersambung...
.