Pendekar Naga Sakti

Pendekar Naga Sakti
Sepak terjang Tiga Pendekar Mesum. Ajian Iblis Angkara Merah.


__ADS_3

Cakra Bima yang sedang berhadapan dengan Anggala tampak terkejut melihat Ujang Seta terhuyung memuntahkan darah Segar.


Tanpa mempedulikan Anggala Cakra Bima langsung melesat ke arah Ujang Seta yang sudah jatuh berlutut.


"Seta,"


"Kakek Guru, maafkan saya yang tidak bisa membalas dendam Ujang Komar dan Kuyung, Kakek Guru..," kata Ujang Seta begitu lemah sambil meringis menahan nyeri pada seluruh tubuhnya.


"Seta...!" teriakan Cakra Bima membahana ketika muridnya yang terakhir menghembuskan nafas terakhirnya, di pangkuannya.


"Kurang ajar! Kalian, harus membayar dengan nyawa kalian!" suara Cakra Bima bergetar menahan amarah.


"Heaaa...!" teriakan membahana Cakra Bima sambil menyentakkan kedua tangannya ke depan, dua bola api meluncur dari telapak tangan laki-laki tua berambut putih itu.


Wulan Ayu cepat melentingkan tubuhnya ke udara menghindari serangan Cakra Bima itu. Wulan Ayu bersalto dua kali di udara dan menjejak tanah sekitar empat tombak di belakangnya.


"Ajian Iblis Angkara Merah!" teriak Cakra Bima sambil menyilangkan tangannya membentuk cakar di depan dada.


Tiba-tiba asap putih menyelubungi wajah dan kepala Cakra Bima. Begitu asap putih itu menghilang, wajah Cakra Bima berubah menjadi menakutkan. Wajahnya berubah berwarna merah seram dengan dua taring menyembul di samping hidungnya, matanya berubah besar dan melotot.


Kedua tangannya berubah berbulu berwarna merah dengan kuku berubah panjang dan runcing.


"Dinda, ilmu 'Tapak Dewa!" seru Anggala pada Wulan Ayu sambil melesat ke samping sang Bidadari Pencabut Nyawa.


"Baik, Kak!" sahut Wulan Ayu, tanpa menunggu lama lagi Wulan Ayu langsung meningkatkan tenaga dalamnya sambil merapatkan kedua telapak tangan di depan dada.


"Kita hadapi bersama ilmu iblis itu, Dinda," kata Pendekar Naga Sakti. Wulan Ayu hanya mengangguk menjawab.


"Hup!"


Wulan Ayu dan Anggala sama-sama meningkatkan tenaga dalam mereka. Anggala tidak ingin Wulan Ayu terluka karena tenaga dalam yang di miliki Cakra Bima sudah di atas sembilan puluh persen.


"Kita gunakan ilmu 'Tapak Dewa'. tingkat lima," kata Anggala sambil mengerahkan tenaga dalam ke arah kedua tangannya.


"Kak, tenaga dalam Cakra Bima itu jauh di atas tenaga dalamku," kata Wulan Ayu.


"Makanya kakak mengajak Dinda bekerja sama, kakak tidak ingin Dinda terluka," jawab Anggala tanpa menoleh, cahaya putih perak mulai menyelubungi kedua pendekar muda itu.


Cahaya putih perak itu mulai membentuk seseorang yang duduk bertapa dengan telapak tangan tersusun di depan dada.


Cahaya itu cukup tinggi sekitar dua batang tombak, cahaya itu membentuk seseorang.


"Kalian harus membayar nyawa murid-muridku dengan mengubur mayat kalian di sini!" terdengar bergetar dan serak suara Cakra Bima dalam wujud Iblis Angkara Merah itu.


"Mati....!" bentakan Cakra Bima terdengar membahana, seketika itu tubuhnya melesat bagai kilat ke arah Wulan Ayu dan Anggala.

__ADS_1


"Hiyaaa....!!" teriakan kedua pendekar muda itu serentak sambil menyentakkan telapak tangan kanan mereka ke depan.


Seketika itu bayangan dari cahaya putih perak itu membuka telapak tangannya dan telapak tangan kanan bergerak maju menahan cahaya merah yang menyelubungi tubuh Cakra Bima itu.


Dess!!


Dess!!!


Dua cahaya itu bertemu dan saling beradu, angin kencang tiba-tiba berputar membentuk lingkaran memutari ketiga orang yang sedang adu kesaktian itu.


Wuss!!!


Swoss!!!


Angin kencang di sertai api semakin membesar mengitari dua cahaya yang saling mendesak itu. Tampak di dalam cahaya putih perak itu Anggala dan Wulan Ayu dengan tangan kiri di depan dada dan tangan kanan teracung ke depan.


Sedangkan di dalam cahaya merah api itu tampak Cakra Bima mengambang di udara dengan kedua tangan teracung ke depan.


Mereka tampak berusaha saling bertahan, sedangkan angin yang mengitari semakin meluas, membuat orang-orang berpakaian merah yang sedang bertarung dengan Kenanga dengan ketiga adik sepergurunanya banyak yang jatuh terlempar.


"Wah, pertarungan tingkat tinggi. Pemandangan yang begitu jarang," kata Seruni sambil menyilangkan tangannya di depan dada dan memperkuat kuda-kudanya, agar tidak terlempar akibat angin kencang yang berhembus bagai sebuah angin torpedo yang mengelilingi pertarungan ketiga orang itu.


"Ya, tapi hati-hati lah, kita bisa terkena imbas pukulan mereka. Kita harus menjauh," sahut Kenanga mengingatkan.


"Baik, Kak!"


"Hih!"


Trang! Trang!


"Kurang ajar! Kalian masih berani ya?" bentak Kenanga melihat orang-orang berpakaian merah itu merangsek menyerang mereka. Padahal orang-orang itu sudah tunggang-langgang di buat angin kencang itu.


"Hiyaaa...!"


Seruni langsung berkelebat dengan jurus pedang andalannya, gerakan tubuh gadis itu cukup cepat di banding orang-orang berpakaian merah itu.


Sret! Buak!


"Aaaa....!! jerit kesakitan dua orang berpakaian merah itu terdengar menyayat hati, dua orang itu tidak sempat lagi menghindar tikaman dan tendangan Seruni yang begitu cepat. Dua orang itu jatuh terlempar ke tanah, salah satunya langsung tewas dan yang satunya lagi mengalami luka dalam yang cukup parah.


"Hiyaaat...!!"


Buak! Buak!


"Aaaa....!!"

__ADS_1


Dua orang menyusul terlempar ke tanah terhantam ayunan tongkat selendang kuning di tangan Dewi Selendang Kuning, dua orang berpakaian merah itu langsung menggeliat di tanah tanpa mampu bangun lagi.


Beberapa orang yang masih berdiri tampak agak ragu menyerang, mereka berdiri dengan pedang teracung. Sedangkan Kenanga dan ketiga adik sepergurunanya bergerak mendesak.


"Jika kalian masih ingin hidup, pergilah dari sini," gertak Kenanga. Mendengar ancaman Kenanga itu mereka yang masih segar langsung menjatuhkan senjata dan memutar arah dan berlari ke dalam hutan.


"Kak, tenaga dalam iblis itu hebat juga, sampai sejauh ini dia masih bertahan," Wulan Ayu mengirim telepati pada Anggala.


"Ya, tingkatkan tenaga dalam Dinda, kita desak dia bersamaan," jawab Anggala melalui telepati, Wulan Ayu menggangguk menyahuti, ia pun menambah tenaga dalam ke arah telapak tangan kanannya.


"Hiyaaa....!" Wulan Ayu membentak sambil menyorongkan telapak tangan kirinya ke depan, hempasan tenaga dalamnya pun meningkat, gelombang angin yang mengelilingi mereka semakin kuat dan kencang.


"Aakgh..!" Cakra Bima mengeluh tertahan sambil berusaha menahan gelombang tenaga dalam dari Bidadari Pencabut Nyawa itu dan Pendekar Naga Sakti.


BOOOMMM...!!!!


Dua tenaga pukulan yang dari tadi tolak menolak, kini meledak dahsyat di udara, kepulan asap dan api membentuk gelombang berpijar ke segala arah, hempasan angin panas menerpa ke seluruh area itu.


Asap dan debu mengepul menutupi pandangan mata, begitu tanah dan debu hilang di bawa angin, tampak Cakra Bima di seberang kawah tanah terbaring dengan bekas ia terpental membentuk lobang.


Wajah Cakra Bima telah kembali ke bentuk wujud manusia, namun pakaian dan wajahnya telah berubah menjadi hitam. Sedangkan kulitnya tampak mengelupas di bagian dada dan kedua tangannya.


Cakra Bima tidak bergerak lagi, laki-laki tua berambut putih itu tewas menggenaskan di depan tempat tinggalnya sendiri.


.


.


.Bersambung....


Jangan lupa beri rating ya teman-teman sebagai penyemangat author buat terus nulis.


Jangan dukung novel ini ya teman-teman.


Dengan


Hadiah.


Rate.


Like.


Koment.


Dan Votenya.

__ADS_1


__ADS_2