
Matahari mulai menanjak dan menerangi bumi, tetes-tetes embun mulai sirna menguap dengan teriknya cahaya yang menerpa. Suara kicau burung terdengar riang menyambut hari.
Di kejauhan suara binatang hutan penyambut pagi mulai hilang, suara derap langkah kaki kuda terdengar jelas di tengah hutan.
Empat orang penunggang kuda tampak menarik tali pelana kuda yang mereka tunggangi. Seorang pemuda cukup gagah dengan pakaian serba putih berada paling depan, dia adalah Pendekar Srigala Putih, Jaka Kelana.
Di belakang Jaka Kelana tampak tiga orang penunggang kuda lainnya, yaitu Singo Abang, Singo Jayo dan Singo Sarai. Mereka tidak ada yang mengeluarkan suara kecuali suara mengebah kuda.
Jalanan yang tampak kering, tampak mengeluarkan debu. Namun tidak begitu mengepulkan debu, karena lembabnya tanah karena hampir tidak tersentuh sinar mentari.
Sudah dua hari para pendekar muda itu meneruskan perjalanan mencari keberadaan Anggala dan Wulan Ayu, namun sampai saat ini mereka belum menandakan akan bertemu orang yang mereka cari.
Matahari telah beranjak naik hampir keatas kepala, cahayanya mulai terasa menyengat kulit. Namun karena ke empat pendekar muda itu berkuda lebih banyak di tengah rindangnya hutan, sehingga mereka tidak begitu merasakan teriknya matahari yang menyengat.
Hutan lebat di belakang mereka mulai terasa jauh di belakang, sebuah padang rumput dan perkampungan tampak di depan mata mereka.
Jaka Kelana memperlambat laju kudanya, dengan menarik tali pelana kuda, "Sahabat, di depan kita tampaknya ada sebuah desa, apa kita teruskan perjalanan atau kita beristirahat dulu?" tanya Jaka Kelana setelah Singo Abang mendatari kuda yang di tungganginya.
"Sahabat, matahari sudah di atas kepala, sebaiknya kita mencari tempat istirahat. Kuda-kuda kita butuh istirahat dan makan, kasihan mereka sudah berlari hampir seharian. Lagian perut pun sudah mulai terasa kosong," jawab Singo Abang sambil tersenyum.
"Baiklah, kita cari warung di depan kita," kata Jaka Kelana sambil tersenyum dan mengebah pelan kuda yang di tungganginya.
Baru saja mereka memasuki padang rumput di depan mereka, entah dari mana puluhan orang dengan pakaian serba merah tiba-tiba berlompatan dari balik pepohonan dan mengepung.
Kuda-kuda yang di tunggangi ke empat pendekar itu terdengar meringkik keras, akibat tali pelana di tarik tuan mereka secara mendadak.
"Hmm....! perut terasa kosong, tapi malah di kepung begini," gumam Singo Abang sambil mengedarkan pandangannya ke sekeliling.
"Cepat turun!" bentak salah seorang dari puluhan orang pengepung tersebut. Tanpa banyak bicara Jaka Kelana hanya menatap sambil tersenyum tanpa mempedulikan perintah orang tersebut.
__ADS_1
"Kisanak, kami hanya lewat. Tidak mengganggu siapa pun, mohon biarkan kami lewat," ucap Singo Abang berusaha lembut.
"Ha ha ha...! kalian boleh lewat, tapi setelah menyerahkan kuda dan semua harta yang kalian miliki!" bentak orang yang tadi berbicara.
"Maaf Kisanak. kami tidak bisa memberikan kuda kami ini, karena ini adalah tunggangan kami dalam melakukan perjalanan jauh," jawab Singo Abang tetap tenang.
"Kalian berempat boleh memilih, menyerahkan harta kalian atau menyerahkan nyawa?!" bentak laki-laki yang masih berdiri di belakang rombongan itu.
"Kami hanya punya satu kuda dan satu nyawa, jadi kami akan mempertahankan nyawa dan kuda kami ini!" jawab Jaka Kelana sambil tersenyum.
"Bangsat! Kalian memang cari mati! Habisi mereka...!" perintah laki-laki itu. Tanpa banyak bicara seluruh anggota orang-orang berpakaian serba merah dengan kulit hitam legam itu langsung berhamburan menyerang dan tidak lupa mereka menghunus golok yang ada di pinggang merek.
"Heeaaahh.....!!"
Wut! Wut!
Set! Wuk!
"Hup!" Jaka Kelana langsung menjejak tanah sekitar lima langkah di samping kuda yang di tungganginya, begitu gesit Pendekar Srigala Putih itu meliukkan tubuhnya menghindari cercaan golok para pengeroyok.
Jaka Kelana memang sengaja tidak balik menyerang, ia menghindari serangan golok dan tombak dengan tersenyum.
Tap! Tap!
Trang!
Singo Abang dengan begitu cepat menangkap pergelangan dua orang yang menyabetkan golok ke arahnya, dengan kedua golok itu Singo Abang menangkis dua golok penyerang lainnya.
"He he he.....! Ayo, apa hanya segitu kecepatan kalian!" ledek Singo Jayo sambil menarik tubuhnya ke samping, dan dengan begitu lembut ia mendorongkan tubuh musuhnya dengan telapak tangannya.
__ADS_1
"Ah!" dua orang pengeroyoknya mengerutu kesal, karena hampir saja golok mereka mengenai teman sendiri.
"Hup! Hiyaaaa....!" Singo Sarai bergerak bagai orang menari, sambil meliuk menghindar gadis itu mendesak mendekat, namun ia tidak memberikan serangan balasan. Hanya tubuhnya yang semakin dekat dengan salah seorang penyerang.
"Heaaa....!" dua orang pengeroyok cepat menyabet golok dari arah belakang Singo Sarai, namun begitu cepat gadis itu melesat ke udara.
Sret! Crass!
"Akgh...!" lenguhan tertahan keluar dari salah seorang laki-laki berpakaian merah itu saat golok dua temannya malah menyasar mengenainya.
"Tarna, maafkan kami," ucap keduanya begitu Tarna jatuh bersimbah darah.
"Awas, di... Dia ada di belakang... Akgh...!" laki-laki yang di panggil Tarna itu langsung menghembuskan nafas terakhir setelah memperingatkan kedua temannya.
"Hi hi....! Senjata makan tuan nih," ledek Singo Sarai sambil tertawa. Tiga orang lainnya yang tadi sempat tertegun kembali melompat sambil menusukkan tombak ke arah Singo Sarai.
"Hup!" Singo Sarai malah terkekeh, dan melompat menjauh mendekati Singo Abang dan Singo Jayo.
"Sebaiknya kalian urungkan niat untuk merampok kami. Kami tidak ingin berurusan dengan para begal tengik seperti kalian!" kata Singo Abang mulai menggertak.
"Kau tidak tau sedang berhadapan dengan siapa begundal tengik. Kami sudah cukup mengalah, lain kali kami tidak akan mengalah lagi!" timpal Singo Jayo mulai geram.
"Apa kalian tuli, atau memang tidak punya telinga?" bentak Jaka Kelana sambil menjejak tanah di samping Singo Abang dan kedua adiknya.
"Kalian memasuki wilayah kami, malah kalian menggertak kami. Kalian memang cari mati!" kata pimpinan kelompok itu, tiba-tiba ia bersuit panjang. Puluhan orang yang tadi berkeliling mengepung bergerak mundur.
.
.
__ADS_1
Bersambung.......