
Parang Praja terpental cukup jauh, mungkin sekitar lima belas tombak, atau lebih. Laki-laki bergelang lima itu melompat bangun, walau agak sempoyongan Parang Praja berhasil bangun. Darah segar tampak mengalir dari sudut bibirnya mengalir.
"Ha ha ha...!" si Pendekar Gila tampak tertawa terbahak-bahak melihat Parang Praja dan anak buahnya lintang pukang berterbangan ketanah. Ada yang jatuh terduduk, terjelengkang dan ada juga yang jatuh dengan wajah mencium tanah.
"Tunggu pembalasanku, Kisanak!" teriak Parang Praja berang.
Parang Praja mengacungkan kepalan tinjunya dari kejauhan, ke arah Pendekar Naga Sakti. Bukannya membalas Anggala hanya tersenyum. Sedangkan Pendekar Gila masih tertawa terbahak-bahak. Laki-laki tua itu seakan tidak mempedulikan luka di bahunya yang masih mengucurkan darah.
Orang-orang Partai Teratai Api itu berlari meninggalkan tempat itu, menuju arah bangunan besar bak istana yang tidak berpenghuni itu. Setelah mengitari bangunan besar itu, mereka pun menghilang dalam rimbunnya hutan.
Anggala baru mengalihkan pandangannya pada Pendekar Gila, setelah orang-orang berpakaian hitam itu lenyap dari pandangannya.
"Untung kau datang cepat Pendekar Naga Sakti!" kata Pendekar Gila di iringi tawanya yang terkekeh.
"Saya memang sengaja mencari Kakek," jawab Anggala.
"Hmm..! Ada perlu?"
Bukan Saya Kek, tapi Baginda Raja Kalingga Jaya," sahut Anggala.
"Mau apa dia mencariku? Bukankah tugas yang di berikannya sudah selesai?" kakek Deja Wantara seperti berbicara pada dirinya sendiri.
"Mana saya tau Kek, cepatlah Kakek temui," sahut Anggala lagi, sambil mengangkat bahunya.
"Ada apa lagi, sih..?!" dengus kakek Deja Wantara seraya melangkah.
"Kek..," panggil Anggala sambil mengejar, "Kakek terluka, sebaiknya obati dulu luka Kakek,"
"Hanya luka kecil Anggala, lagian aku sudah menghentikan pendarahannya," Sahut kakek Deja Wantara. Luka di lengan kakek Deja Wantara itu memang sudah tidak mengeluarkan darah lagi, Luka itu memang bukan luka yang berbahaya, Luka itu akan mengering dalam beberapa hari. Terlebih lagi bagi seorang semacam kakek Deja Wantara. Luka kecil itu tidak berarti baginya.
Mereka terus berjalan menuju lembah yang sekarang di jadikan pusat kerajaan Pasemah Agung. Bagi Pendekar Naga Sakti sendiri adanya sebuah kerajaan di tengah hutan merupakan sebuah pertanyaan besar.
Sayangnya kesempatan untuk bertanya belum ada. Sedangkan bertanya pada kakek Deja Wantara selalu saja berkilah, ia hanya menjawab, "Nanti Anggala juga tau sendiri..
.
.
__ADS_1
Kakek Deja Wantara menemui Anggala yang duduk di bawah sebatang pohon untuk menunggunya. Anggala duduk di luar istana baru kerajaan Pasemah Agung yang di buat tidak begitu besar. Dengan wajah muram orang tua itu mengenjalkan tubuhnya di samping pemuda berbaju putih biru itu.
"Ada apa, Kek? Apa yang di katakan Baginda Raja Kalingga Jaya padamu?" tanya Anggala yang merasa heran melihat mimik wajah kakek Deja Wantara itu.
Tidak seperti biasanya kakek Deja Wantara yang selalu bersemangat dan mudah tertawa, kini tiba-tiba terlihat murung. Semua itu terjadi setelah orang tua itu keluar dari istana Pasemah Agung. Bahkan beberapa kali ia terdengar mendengus kesal, kakek Deja Wantara menarik napas panjang kemudian melepaskannya dengan perlahan dengan bibir sedikit monyong ke depan.
"Huh..! Kenapa semua orang tidak ada yang menyukaiku lagi? Bahkan Baginda Raja Kalingga Jaya Karta pun sekarang ikut tidak menyukaiku?" keluh kakek Deja Wantara
"Ada apa, Kek?" tanya Anggala sabar.
"Baginda Raja Kalingga Jaya Karta menyuruhku, ikut denganmu Anggala," sahut kakek Deja Wantara seraya menatap Pendekar Naga Sakti itu.
"Ikut denganku...?" Anggala tidak mengerti.
"Benar. Aku harus selalu menyertaimu,"
"Memang apa yang harus Anggala lakukan, Kek? Lagi pula saya tidak tahu, Kakek mengatakan kakek butuh bantuan, saya dan Wulan Ayu sudah berusaha membantu Kakek, tapi kami tidak tau harus berbuat apa selain membantu Kakek berurusan dengan orang-orang Partai Teratai Api itu," tegas Anggala.
"Bukan urusanku, tapi mereka sengaja melibatkanku," dengus Kakek Deja Wantara, terdengar sengit nada bicaranya.
"Kakek selalu bermain teka-teki. Sebaik kakek ceritakan persoalannya dengan jelas, jadi kita bisa cepat menyelesaikannya," kata Anggala berusaha tenang dan bernada lembut.
"Baginda Raja Kalingga Jaya Karta memang tidak mengatakan maksudnya pada saya, Kek. Kenapa tidak Kakek saja yang mengatakannya?"
"Aku tidak berhak. Lagi pula, aku sudah di larang banyak bicara denganmu, Anggala,"
"Siapa yang melarang, Kek?" Anggala jadi semakin penasaran.
"Baginda Raja sendiri," sahut kakek Deja Wantara.
"Kenapa?"
"Aku tidak tau,"
"Aneh..," desis Anggala setengah bergumam.
Kakek Deja Wantara tidak di izinkan mengatakan apa-apa. Sedangkan Baginda Raja Kalingga Jaya Karta sendiri tidak mengatakan apa pun, sampai sekarang. Jadi apa sebenarnya tujuan Baginda Raja Kalingga Jaya Karta menyuruh mencari pendekar dan meminta bantuannya.
__ADS_1
Keanehan memang begitu terasa terjadi sejak Anggala dan Wulan Ayu menginjakkan kaki di kerajaan kecil ini. Bahkan sejak pertemuan mereka dengan kakek Deja Wantara, sikap kakek itu yang penuh teka teki, sampai memperkenalkan diri pun tidak ada kejelasan.
Saat keduanya berdiam diri dalam kebingungan. Raden Sembung Merah menghampiri mereka bersama dua orang prajurit pengawal. Baik Anggala maupun kakek Deja Wantara hanya diam memperhatikan pemuda itu.
"Aku datang hanya untuk menyampaikan pesan Baginda Raja Kalingga Jaya Karta pada kalian," kata Raden Sembung Merah tanpa basa-basi.
"Katakan saja," ujar kakek Deja Wantara serasa enggan menanggapi.
Raden Sembung Merah mendelik gusar ke arah kakek Deja Wantara, tapi ia tidak berani berbuat apa-apa. Sikap kakek Deja Wantara yang tidak pernah menghormatinya bahkan menyegani pun tidak. Orang tua itu tidak memandang sebelah mata pun pada Raden Sembung Merah, baik di belakang Baginda Raja, maupun di depan.
Mungkin karena kecurigaan kakek Deja Wantara pada Raden Sembung Merah. Anggala tampak agak mengerti situasi kedua orang ini.
"Baginda Raja meminta kalian pergi sekarang juga," kata Raden Sembung Merah. Setelah berkata Raden Sembung Merah berbalik badan dan berlalu pergi begitu saja. Kakek Deja Wantara menatap tajam kearah pemuda yang di kawal oleh dua orang prajurit itu.
"Huh!" dengus kakek Deja Wantara.
Kita harus berangkat kemana, Kek?" tanya Anggala.
"Ke neraka!" sahut kakek Deja Wantara, sengit.
"Ha ha ha...!" Anggala malah tertawa terbahak-bahak mendengar jawaban kakek Deja Wantara yang di anggapnya, lelucon itu.
Tapi mendadak tawa Anggala berhenti, melihat kakek Deja Wantara hanya diam dengan wajah muram.
"Yuk, Kek!" ajak Anggala seraya melompat berdiri. Sedangkan kakek Deja Wantara hanya menggeleng-gelengkan kepala denga wajah lesu.
"Ayo, Kek. Kita pergi!" ajak Anggala lagi.
"Kemana?" tanya kakek Deja Wantara.
"Katanya ke neraka...? Ayo mumpung malam belum datang,"
Anggala masih saja berolok-olok. Sedangkan kakek Deja Wantara hanya mendengus saja. kakinya di ayunkan perlahan mengikuti Pendekar Naga Sakti.
.
.
__ADS_1
Bersambung...
Jangan lupa, Rate, like, Komentnya kawan-kawan. kalau bisa vote nya sekalian. Terima kasih...