Pendekar Naga Sakti

Pendekar Naga Sakti
Dendam Tiga Elang part 3


__ADS_3

"Bangsat! Iblis mesum ini harus di beri pelajaran!" Elang Kuning lansung membuka "Jurus Elang Membelah Awan'. sebuah jurus andalan dari gurunya Datuk Elang Hitam.


"Hiyaaa...!"


Dengan melentingkan tubuhnya ke udara Dewi Pingai membuat tubuh nya melambung tinggi, setelah itu ia pun meluncur bagaikan seekor elang yang menyerang mangsanya.


Wuk..!


Set...!


"Hup..!"


Gondang Rasa terpaksa menunduk ke tanah menghindari dan menapaki serangan Elang Kuning itu.


Tap..!


"Heh...!"


Buk..!"


Gondang Rasa harus terhuyung ke depan beberapa langkah, karna punggungnya terkena tendangan Dewi Pingai yang tidak ia duga.


"Hiyaa...!"


Gondang Rasa melesat kembali dengan jurus cakar macan nya, namun kali ini ia tampak lebih berhati-hati setelah merasakan tendangan Dewi Pingai tadi.


Elang Kuning tidak tinggal diam ia menghadapi serangan Gondang Rasa itu dengan 'Jurus Elang Membelah Awan'. Tidak butuh waktu lama, tidak sampai sepuluh jurus Elang Kuning telah berhasil mendesak Gondang Rasa.


Sementara itu Elang Merah tampak memperhatikan pertarungan kedua adiknya dengan begitu cermat, terkadang matanya ke arah Dewi Aurora dan terkadang ke arah Dewi Pingai.


Dewi Arau yang tampak begitu tegas namun begitu menyayangi kedua asiknya itu, perhatiannya tertuju pada kedua adik-adik nya itu karna tidak ingin kedua adiknya itu terluka. bahkan tergores pun kedua adiknya ia tidak rela.


"Pingai...! Aurora...! Hati-hati..!" Sang Kakak memperingatkan, walau kedua adiknya berada di atas angin.


"Iya Kak, kami hati-hati...!" Jawab Dewi Pingai dengan Lantang. Dewi Pingai pun mengeluarkan Jurus Cakar Elang Mengincar Mangsa'.nya, sehingga Gending Rasa pun tampak semakin kewalahan. Karna serangan dan semangat mudanya sebuah cakar jari tangan Dewi Pingai sempat menyerembet bahu kanan Gondang Rasa.


Set..!


Sret..!


"Aaakh..!"


Lenguhan kecil terdengar dari bibir Gondang Rasa. Gondang Rasa terhuyung kebelakang dengan memegangi lengan kanannya yang terluka terkena cakar Dewi Pingai itu.


"Sebaiknya Kau Pergi Kisanak! Karna kami tidak punya dendam padamu, namun jika suatu saat aku bertemu dengan mu lagi, dalam keadaan seperti ini. Kedua pedang ku tidak akan berbelas kasihan..!" Bentak Dewi Pingai sambil tegak tidak begitu jauh di depan Gondang Rasa itu.


Sementara itu Gending Rasa yang telah menghunus kapak besarnya, melompat menyerang ke arah Dewi Aurora. Ayunan kapak bermata dua di tangan Gending Rasa itu menimbulkan suara mendengung. Suara ayunan kapak iti memekakkan telinga.

__ADS_1


Wung...!


Wung...!


Trang..! Trang.!


Dentingan suara mata kapak dan sepasang pedang di tangan Elang Hijau dan Gending Rasa itu terdengar bersahutan, kedua pendekar berlainan aliran itu saling menyerang dengan kekuatan masing masing. Tampaknya walau Gending Rasa lebih tua, kesaktian nya di bawah gadis cantik berbaju hijau itu.


Tidak lebih dari sepuluh jurus Dewi Aurora yang di kenal dengan gelar Elang Hijau itu telah berhasil mendesak Gending Rasa. Sebuah sabetan berhasil mengenai lengan kiri Gending Rasa.


Sress..!


"Aaakh...!


Gending Rasa terhuyung mundur bebarapa langkah ke belakang dengan bahu kirinya mengucur darah. Dengan cepat Gending Rasa mengalirkan hawa murni ke arah lukanya. Gending Rasa mengusap lukanya dengan tangan kanan nya setelah memindahkan kapak besarnya ke tangan kiri.


"Ayo Gending! Kita tinggalkan tampat ini, mereka bukan lawan kita!" Ujar Gondang Rasa sambil memegangi lengan kanannya, walau ia telah mengobati lukanya. namun masih ada rasa nyeri yang mendera di bahunya.


Gending Rasa hanya menggangguk, dengan sekali lompatan kedua tokoh silat yang terkenal dengan Sepasang Iblis Mesum itu telah meninggalkan tempat itu.


"Heh..! Kenapa Kalian biarkan mereka pergi?" Tanya Dewi Arau tampak bingung dengan sikap kedua adiknya itu.


"Sudahlah Kak, lagian mereka itu bukan golongan hitam sadis cuma terkenal getek nya aja kok," Ujar Aura sambil tersenyum manis. Senyum sang membuat sang kakak jadi agak tenang.


"Ya sudah ah... Yuk kita teruskan perjalanan!" Ucap Dewi Pingai sambil tertawa ia pun melompat ke atas kudanya, dengan sekali lompatan ketiga Elang itu telah berada di atas kuda mereka. Ketiga gadis cantik itu mengebah kuda mereka dengan cukup cepat meninggalkan tempat itu.


.


.


Anggala dan Wulan Ayu tampak mengebah kuda mereka secara santai, sudah tiga desa yang mereka temui beberapa hari ini tampak belum ada masalah yang di hadapi para penduduk.


"Kak dinda senang melihat penduduk aman-aman saja di tiga desa yang sudah kita lalui beberapa hari ini," Ucap si Bidadari cantik murid dua Pendekar Pemarah itu.


"Ya... Jujur Kakak juga senang, dari pada melihat penduduk di cekam ketakutan dan rasa was-was akan keselamatan mereka!" Jawab Pendekar Naga Sakti sambil tersenyum memandang ke arah Wulan Ayu.


Kedua Pendekar muda itu tampak tersenyum bahagia, senyum manis menyungging di wajah cantik putri Raja Surya Galuh itu.


Tidak terasa perjalanan mereka telah mencapai sebuah kaki gunung yang cukup tinggi di daerah itu. Gunung itu bernama gunung pungur.


Kebetulan Tiga Elang pun sedang berada di wilayah itu. Anggala dan Wulan Ayu mampir ke sebuah warung pojok di sebuah simpang tiga di ujung sebuah desa di kaki gunung pungur itu.


"Permisi Ki, kami butuh makanan," Ucap Anggala sopan sambil menemui aki pemilik warung itu.


"O.. Silahkan Nak, cari lah meja yang kosong, anak muda mau pesan apa?" Ikan, atau ayam sama daging rusa?" Tanya aki pemilik warung itu sambil tersenyum ramah.


"Apa yang cepat lah Ki, perut kami sudah keroncongan," Jawab Anggala sambil tertawa kecil.

__ADS_1


"Ya silahkan duduk dulu, bentar lagi makanannya di antar nak," Ucap Aki empunya warung itu.


Anggala hanya menggangguk. Anggala mengajak Wulan Ayu ke sebuah meja yang kosong. Tampak di sebuah meja di sudut warung itu Dewi Arau beserta kedua adiknya Dewi Pingai dan Dewi Aurora sedang menikmati makanan yang mereka pesan.


"Kak, ada pendekar tampan tuh..!" Ucap Dewi Pingai sambil mengerling ke arah Anggala dan Wulan Ayu. Dewi Arau pun menoleh ke arah Anggala dan melihat Wulan Ayu.


"Hus.. Apa Kau tidak melihat ada gadis cantik bersamanya, bisa-bisa itu istri atau kekasihnya," Jawab Dewi Arau sambil berbisik.


Angala dan Wulan Ayu tidak mempedulikan keadaan di sekitar mereka. Mereka hanya sibuk mengisi perut mereka yang sudah terasa kosong itu.


Matahari telah mulai condong ke barat, warung itu tampak mulai di tinggalkan para tamunya. Kini tinggal Anggala dan Wulan Ayu yang lagi duduk sambil mengobrol santai. Kuda-kuda mereka tampak sibuk makan rumput yang telah di siapkan pemilik warung itu.


Dewi Arau tampak berjalan ke arah meja kasir tempat seorang gadis muda duduk dengan dua gadis lain nya. Ketiga gadis itu tampak asyik bersenda gurau, berbicara sambil tertawa.


"Permisi, saya mau bayar mskanan yang kami makan tadi," Ucap Dewi Arau dengan ramah dan tersenyum.


"Eh.. Maaf Tuan, Kalian tadi pesan apa?" Tanya salah seorang gadis warung itu.


"Kami memesan tiga jamu, tiga piring nasi sama satu piring daging rusa sama satu ekor ayam pangganngnya," Jawab Dewi Arau dengan ramah.


"Lima belas kepeng tuan!" Jawab gadis yang tadi menjawab.


"O.. Ini!" Dewi Arai memberikan sekeping uang emas pada gadis itu.


"Wah, banyak sekali Tuan, entah ada kembalian atau tidak, tunggu ya?" Ucap gadis itu. ia membuka laci meja dan mengambil uang krpeng untuk kembalian uang Dewi Arau itu.


"O.. Iya.. saya lihat warung ini cukup besar, apa menyediakan penginapan?" Tanya Dewi Arau.


"Ada Tuan, untuk berapa orang?" Tanya gadis itu.


"Untuk tiga orang, kalau bisa satu kamar agak besar,"


"Ada Tuan, mau saya siapkan sekarang?"


"Boleh! Kebetulan kami memang sudah agak lelah!" Jawab Dewi Arau sambil tersenyum.


"Baik Tuan, tunggu sebentar, kamarnya akan di siapkan dulu, o iya Tuan, ini kembalian uangnya," Ucap gadis itu lagi.


"Ya sudah simpan saja untuk biaya ksmi menginap dan makan kami nanti, kalau kurang nanti saya tambah!" Jawab Dewi Arau sambil tersenyum, ia pun kembali ke meja yang tadi ia tempati dengan kedua adiknya.


.


.


.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2