Pendekar Naga Sakti

Pendekar Naga Sakti
Prahara Di Pulau Andalas. Macan Kuning vs Singo Abang


__ADS_3

"Pandanganku sudah tidak jelas lagi, racun... racun di pedang itu....," desis Blabang Geni. Namun apakan daya kekuatan yang ia miliki tidak mampu menolak racun yang mulai menjalar di jalan darahnya.


Trang!


Blabang Geni yang sudah memejamkan mata pasrah apa yang akan terjadi perlahan membuka mata kembali, walau pandangannya samar-samar ia masih bisa melihat sesosok berdiri di depannya. Ya orang itu telah menyelamatkan nyawanya.


Tuk! Tuk!


Dua kali totokan tepat di jalan darah Blabang Geni, perlahan pemuda itu bisa melihat dengan agak jelas.


"Kau istirahatlah dulu, Sahabat. Biar ku harapi musuhmu itu," terdengar sapaan orang yang baru menolong Blabang Geni itu.


"Terima kasih, Kisanak," ucap Blabang Geni sambil berusaha duduk bersila untuk bersemedi. Orang yang baru menolong Blabang Geni itu hanya mengangguk sebelum bergerak ke depan beberapa langkah.


"Siapa kau sebenarnya, Kisanak. Kau berani mencampuri urusan Macan Kuning!" bentak Macan Kuning berang.


"Sungguh sebuah perbuatan pengecut menyerang musuh yang sudah tidak berdaya!" sahut pemuda itu. Ternyata ia adalah Singo Abang yang telah menghunus keris pemberian sang guru yaitu Datuk Panglima Hijau.


"Sebaiknya kau sebutkan namamu, Anak Muda. Agar dapat ku tulis di batu nisanmu nanti!" kata Macan Kuning terdengar dingin.


"Apalah arti sebuah nama, jika nama yang kau miliki hanya mengandung cerita tentang keburukan!" sahut Singo Abang tenang.


"Berarti batu nisanmu takkan berukir nama, Anak Muda! Heeeaaa....!" Macan Kuning melompat sambil menyabetkan pedang di tanganya ke arah leher Singo Abang, namun dengan begitu gesit murid Datuk Panglima Hijau itu bergerak menangkis dengan keris di tangan kanannya.


Trang! Trang!


Serangan Macan Kuning yang cukup cepat bergerak bagai bayangan mencerca titik mematikan di tubuh Singo Abang, dengan keris berwarna hitam kemerahan di tangannya Singo Abang menangkis dan sesekali balik menyerang.


Cukup lama Macan Kuning berusaha mendesak Singo Abang dengan jurus-jurus pedangnya, namun Singo Abang dengan begitu tenang menghadapi serangan salah satu dari Tiga Macan itu.


Dua puluh jurus pedang mungkin telah lebih di gunakan oleh Macan Kuning, tapi sampai saat ini ia belum mampu mendesak Singo Abang lebih jauh.

__ADS_1


Bagaimanapun ketenangan Macan Kuning dalam bertarung, kini mau tidak mau ia pun merasa gusar karena serangannya selalu dapat di gagalkan oleh Singo Abang.


"Siapa sebenarnya kau, Anak Muda. Aku tidak mengenalmu di dunia persilatan ini. Ku akui ilmu yang kau miliki bisa di andalkan!" kata Macan Kuning setelah menjaga jarak dengan Singo Abang.


Singo Abang hanya tersenyum tipis menyungging sebelum menjawab perkataan Macan Kuning tersebut, "Tidak baik membuat orang penasaran, ku katakan padamu. Aku Singo Abang dari Bukit Tambun Tulang di tengah-tengah Pulau Andalas ini."


"Jadi kau dari Perguruan Tiga Harimau dari Bukit Tambun Tulang, Hah?" tanya Macan Kuning membentak. Macan Kuning berusaha menekan keterkejutannya.


Macan Kuning yang cukup mengenal dan tahu sepak terjang Datuk Panglima Hijau dari Bukit Tambun Tulang itu, tentu saja saat tau ia sedang berhadapan dengan murid sang hulubalang membuat ia begitu terkejut.


Apalagi setelah berhadapan dengan ilmu kesaktian pendekar yang bersenjata keris berwarna hitam kemerahan itu. Jika tidak karena kesombongan dan tidak ingin di pandang rendah. Macan Kuning telah memilih mundur saat tau ia sedang berhadapan dengan murid Datuk Panglima Hijau itu.


"Ya, aku murid dari Datuk Panglima Hijau!" sahut Singo Abang setengah menakuti Macan Kuning.


"Nama besar gurumu itu memang sudah tidak asing lagi di tanah Andalas ini, tapi jangan kau kira aku takut padamu karena kau murid hulubalang Bukit Tambun Tulang itu!" kata Macan Kuning berusaha membalas gertakan Singo Abang tersebut.


"Untuk apa menakutimu, Macan Kuning. Kau sudah seperti Macan ompong yang hanya bisa mengaum menakuti anak kecil!" ledek Singo Abang.


Singo Abang hanya tersenyum tipis melihat Macan Kuning yang murka karena pancingannya tersebut.


Blabang Geni baru saja hendak membuka matanya, setelah bersemedi untuk mengobati luka di akibat serangan Macan Kuning tadi. Sekitar tiga orang anggota Partai Teratai Hitam yang berasal dari para perampok tampak mendekatinya.


"Kita apakan pemuda dari Perguruan Alam Jagat ini, Tusar?" tanya laki-laki berpakaian hitam dan bawahan berwarna kuning emas.


"Kita tanya dia, apa dia mau jadi anggota Partai Teratai Hitam atau tidak? Jika tidak kita habisi saja dia," sahut laki-laki bertubuh besar dengan pakaian serba merah yang di panggil Tusar.


"He he he....! Anak Muda. Kau dengar perkataan temanku itu? Sebaiknya kau bergabung dengan Partai Teratai Hitam atau memiilih kuburanmu di sini,?" tanya laki-laki yang tadi bertanya pada Tusar.


"Kalian kira aku anak kecil yang bisa di takut-takuti, Kisanak,?" sahut Blabang Geni tenang. Blabang Geni memang baru mengobati lukanya, namun menghadapi tiga orang anggota Partai Teratai Hitam yang berasal dari Penyamun atau perampok tentu bukanlah masalah baginya.


"Kurang ajar, dia merendahkan kita, Tusar!"

__ADS_1


"Habisi saja dia...!" sambut Tusar sambil melompat menyusul temanya menyerang Blabang Geni. Di serang dari dua arah, atas dan bawah berupa pukulan dan tendangan Blabang Geni dengan sigap segera menyambut dengan kepalan tinjunya.


Dik! Dik!


"Heh...!" Tusar cukup terkejut melihat serangannya dan pukulan kawanya itu di tapaki oleh Blabang Geni dengan cukup enteng.


Sret! Sret!


Tusar dan kedua temannya segera menghunus golok yang terselip di pinggang mereka. Ketiga anggota Partai Teratai Hitam itu segera mengelilingi Blabang Geni dari tiga arah dengan tatapan tajam dengan niat membunuh.


"Kalian kira aku anak kemarin sore. Dasar manusia yang tidak tahu dalamnya laut dan tingginya gunung!" desis Blabang Geni dalam hati. Blabang Geni pun menghunus pedang yang tadi sempat ia sarumgkan ke dalam warangkanya.


"Kita habisi dia, Tusar. Dia tidak akan bisa berbuat banyak, apalagi setelah terkena racun pedang Macan Kuning tadi!" kata salah seorang pengeroyok Blabang Geni.


Memang Blabang Geni tadi sempat hampir kehilangan pandangannya akibat racun dari pedang Macan Kuning tadi, tapi dengan ilmu pengobatan yang ia miliki dari kedua gurunya Datuk Rambut Putih dan Datuk Rambut Merah, Blabang Geni telah berhasil menetralisir efek racun pedang Macan Kuning itu.


Sret!


Blabang Geni segera menghunus pedangnya dan memainkan pedang berwarna putih perak itu, "Ayo maju kalian, jika ingin menhabisiku!" tantang Blabang Geni.


"Mampus kau....!!" teriak Tusar seraya melompat cepat sambil menebaskan goloknya ke depan, namun dengan begitu sigap Blabang Geni menangkis dengan pedangnya. Bahkan tanpa di duga oleh Tusar, Blabang Geni meliukan pedang nya dan begitu cepat menyabet ke arah dada kanannya.


Srass!"


"Aaaa.....!!!"


.


.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2