
Matahari tampak mulai condong kearah barat, namun sinarnya masih cukup terik menerangi bumi. Puluhan pasang mata para penduduk Desa Gragan tampak memperhatikan pertarungan yang sedang terjadi di depan dan di samping warung Ki Syarip itu.
Di tepi hutan tampak Pendekar Naga Sakti yang berdiri menunggu tindak lanjut musuhnya, yaitu Gagak Setan Merah yang sedang bersemedi menyembuhkan diri dari luka dalam yang ia derita.
Pendekar Naga Sakti bisa saja melesat atau mengirimkan salah satu pukulan jarak jauhnya untuk menghabisi Gagak Setan Merah yang duduk bersila itu. Namun sipat kesatria seorang pendekar golongan putih membuat Pendekar Naga Sakti tidak mungkin melakukannya, karena menyerang musuh yang tidak berdaya adalah sikap seorang pengecut.
Anggala memilih menunggu Sora Gambang yang duduk mengobati diri itu. Ki Syarif tampak datange menghampiri Anggala yang masih berdiri tegak seperti patung, pedang naga sakti telah kembali di sarungkan ke dalam warangkanya.
"Nak Anggala, habisi saja manusia itu, mumpung dia masih terluka!" kata Ki Syarif sambil berdiri di samping Anggala.
Anggala menoleh ke arah Ki Syarif sambil tersenyum, "Ki, tidak boleh menyerang seorang yang terluka, itu perbuatan pengecut. Kami adalah pendekar golongan putih yang masih memiliki tatakrama dalam hidup, sikap satria harus ada pada pendekar golongan putih, Ki. Sebaiknya Aki mundur, takutnya dia bangun dan menyerang secara dadakan. Biar saya yang mengurus orang itu."
"Baiklah, Nak Anggala. Hati-hatilah, para pendekar golongan hitam biasanya terkenal akan kelicikan mereka dalam bertarung," ucap Ki Syarif mengingatkan.
"Ya, saya tau Ki. Terima kasih," ucap Anggala sambil tersenyum. Ki Syarif pun berjalan kembali ke dalam warungnya dan langsung di sambut dengan ocehan Mak Ripah.
Sementara itu Prasaja bersama Sasena dan Sasana dan empat orang lainnya yang terlibat pertarungan dengan Wulan Ayu tampak tinggal empat orang yang berdiri, sedangkan empat orang lainnya telah menggeliat di tanah sambil memegangi dada mereka.
"Ayo, apa hanya segitu kemampuan murid-murid Perguruan Gagak Hitam!" ledek Wulan Ayu sambil tersenyum tipis, tentu saja ejekan dari Bidadari Pencabut Nyawa itu membuat darah Sasena, Sasana dan Prasaja menggelegak.
Tanpa pikir panjang lagi, adik-adik seperguruan Sora Gambang itu kembali melompat dan menyerang kearah Wulan Ayu. Tentu saja semua itu membuat gadis cantik putri Baginda Raja Galuh Permata tersenyum puas, malah dengan tertawa ia menghadapi serangan Prasaja dan kawan-kawannya.
"Hi hi..., terpancing juga mereka!" gumam Wulan Ayu setengah berbisik sambil berkelit menghindari serangan Prasaja dan kawan-kawannya yang setengah membabi buta, dengan begitu cepat Wulan Ayu bergerak menghindari setiap serangan mereka. Sesekali di tapakinya serangan pukulan dan tendangan para pengeroyok itu.
Tap! Tap!
__ADS_1
"Hup! Modar!" bentak Bidadari Pencabut Nyawa sembari bergerak cepat melepaskan pukulan yang mengandung tenaga dalam tinggi dengan jurus 'Bidadari Kayangan'.
"Aaaa.....!!"
Hanya jerit kesakitan terdengar lantang yang terdengar dari mulut Prasaja dan kawan-kawannya, termasuk si kembar Sasena dan Sasana. Para pengeroyok itu bermentalan ke tanah dalam keadaan terluka parah dan tewas seketika.
Wangsa hanya tertegun melihat ke enam saudara seperguruannya tewas dalam waktu yang cukup singkat. Sekarang ia baru sadar jika gadis yang ada di hadapannya mampu membunuh mereka dengan mudah, tapi kenapa baru sekarang?.
Berarti Bidadari Pencabut Nyawa masih memberi waktu untuk mereka berpikir, namun sifat sombong dan kecongkakan mereka, membuat nyawa harus berangkat dari tubuh muda mereka.
"Sekarang giliran mu!" ujar Wulan Ayu sambil berjalan pelan kearah Wangsa yang tampak sudah pucat ketakutan, tubuhnya gemetaran menahan takut.
"Ampuni aku, Nisanak. Aku mohon... Aku masih ingin hidup....!" ucap Wangsa memelas, ia tampak hampir setengah bersujud di depan Wulan Ayu.
"Tidak, tidak. Aku tidak akan kembali bergabung dengan Perguruan Gagak Hitam lagi, biarkan aku hidup," ucap Wangsa memelas.
"Pergilah cepat, jangan sampai pikiranku berubah!" gertak Wulan Ayu. Tanpa pikir panjang dan mempedulikan saudara-saudara seperguruannya yang sudah jadi mayat, Wangsa ambil langkah seribu ke arah dalam hutan. Beberapa kali ia terjatuh, namun dengan cepat ia bangun dan kembali berlari dengan kencang. Wangsa seakan lupa ia memiliki ilmu peringan tubuh dan lari cepat.
Sementara itu Anggala masih tegak berdiri tidak jauh dari hadapan Sora Gambang yang masih duduk bersila, bersemedi. Asap tipis berwarna putih tampak keluar dari tubuh dan kepala Gagak Setan Merah itu.
Perlahan Sora Gambang bangun dari duduknya, ia mengedarkan pandangan ke sekeliling. Namun ia hanya melihat adik-adik seperguruannya yang sudah bergelimpangan menjadi mayat.
Seketika itu wajah Sora Gambang tampak berubah menjadi hitam kemerahan, matanya berubah merah dan berair. Dendam dan amarah beserta rasa sedih melihat seluruh adik seperguruannya yang tadi bersamanya kini bergelimpangan menjadi mayat.
"Kalian harus membayar semua ini!" terdengar datar suara Sora Gambang yang terkenal dengan gelar Gagak Setan Merah itu, perlahan ia menyilangkan kedua tangannya di depan dada. Asap tipis di sertai sinar merah kehitaman mulai menyelubungi kedua lengan sampai ke ujung jemari Sora Gambang itu.
__ADS_1
"Ajian Gagak Iblis.....!!!"
Terdengar bentakan Gagak Setan Merah sembari mengangkat tangannya ke atas kepala. Tiba-tiba gelegar petir menyambar dan awan langsung berubah hitam menyelimuti langit di atas Desa Gragan itu.
Angin bertiup kencang bagai badai yang akan melanda. Para penduduk tampak berlarian memasuki rumah mereka, pepohonan meliuk-liuk terhempas terpaaan angin kencang itu.
Mayat adik-adik seperguruan Sora Gambang tampak hampir terseret angin kencang itu, kilat dan petir menyambar.
"Ilmu ini.... ilmu iblis... Sangat menakutkan...," gumam Wulan Ayu seakan berbicara pada dirinya sendiri. Sang Bidadari Pencabut Nyawa sendiri terpaksa menekan tenaga dalam ke arah kakinya agar ia tidak terseret angin kencang itu.
Rambut panjangnya tampak berkibar terbawa angin itu, namu. ia masih tetap berdiri tenang tak bergeming.
Anggala tampak masih berdiri di depan Sora Gambang dengan jarak sekitar empat tombak. Pendekar Naga Sakti itu masih berdiri tenang, namun ia diam-diam meningkatkan tenaga dalamnya ke tingkat tujuh puluh persenan.
Anggala segera bersiap dengan ilmu 'Tinju Halilintar'. tingkat tujuh, Halilintar Penggetar Langit'.
"Hmm...! Kak Anggala tampaknya mempersiapkan pukulan 'Tinju Halilintar'." gumam Wulan Ayu melihat aliran listrik yang mengalir di kedua lengan Pendekar Naga Sakti itu.
"Aku harus menjauh, cukup berbahaya dekat dengan kak Anggala dan Gagak Setan Merah itu, mereka menggunakan tenaga dalam dan pukulan tingkat tinggi," desis Wulan Ayu dalam hati.
.
.
Bersambung....
__ADS_1