
Ledakan dahsyat mengguncang tempat itu. Debu-debu dan tanah menyembur ke udara menutupi pandangan. Nyi Pelangi dan Melati menatap tajam penuh tanda tanya kearah kumpulan dedebuan itu.
Tidak seberapa lama tampak Nyi Tantri melesat cepat kearah belakang. Pendekar wanita setengah baya itu tampak hampir pingsan. Melihat semua itu Melati melesat cepat kearah belakang Nyi Tantri.
Tap!
Melati memegang bahu Nyi Tantri dari belakang. Nyi Tantri hanya pasrah ketika Melati melesat membawanya kearah Nyi Pelangi.
"Kau tidak apa-apa Tantri?" tanya Nyi Pelangi sambil menyambut Nyi Tantri. Ia tampak cemas melihat keadaan Nyi Tantri.Namun tidak ada jawaban dari Nyi Tantri, yang terdengar hanya batuk pelan Nyi Tantri. Perlahan pendekar wanita setengah baya itu membuka matanya. Bibirnya tampak meringis sambil tangan kiri memegangi dada.
"Jangan banyak bergerak dulu Nyi. Luka dalammu cukup parah," kata Melati sambil mengambil tempat duduk dibelakang Nyi Tantri, setelah membantu Nyi Tantri duduk.
Melati menyalurkan hawa murni melalui kedua tangannya ke punggung Nyi Tantri untuk mengobati luka dalam wanita itu.
Lain dengan Iblis Perak yang berhadapan dengan Nyi Tantri tadi. Iblis Perak itu tampak terlempar cukup jauh kebelakang. Iblis Perak itu sudah tidak bergerak lagi begitu menyentuh tanah. Ia sudah tewas sebelum menyentuh tanah.
Sementara itu Pendekar Tapak Dewa tampak masih tegak didepan Iblis Perak sambil cengegesan.
"Ayo Iblis Perak. Apa yang Kau tunggu. Menunggu matahari terbenam, atau menungguku menyerangmu, hehehe," tawa Ki Sura Jaya terkekeh.
"Kalau ku lawan Pendekar Tapak Dewa. Aku tidak akan menang, aku harus membuat pengalihan agar bisa melarikan diri," guman Iblis Perak sambil membuka kuda-kudanya bersiap menyerang. Pendekar Tapak Dewa yang bertingkah santai melihat persiapan Iblis Perak itu. Namun mata kakek itu menatap tajam kearah musuhnya.
"Hiyaaat...!" Iblis Perak melesat menyerang dengan pukulan tangan kosong. Pendekar Tapak Dewa dengan begitu santai menghindari serangan Iblis Perak itu.
Pendekar Tapak Dewa menghindari serangan tinju Iblis Perak dengan begitu mudah. Malah dengan ringannya ia memberikan serangan balasan. Sebuah pukulan tapak yang sengaja tidak mengandung tenaga dalam tinggi mendarat di dada Iblis Perak itu.
Dess..!
"Aaakh...!" Iblis Perak terpental cukup jauh. Namun Iblis Perak cepat melompat bangun. Begitu Pendekar Tapak Dewa bergerak kearahnya. Iblis Perak cepat melempar batu putih kearah Pendekar Tapak Dewa.
Desss....!
Blaaarrr.....!!
__ADS_1
Ledakan yang menimbulkan kepulan asap tebal berwarna putih, mengepul menghalangi pandangan. Begitu Pendekar Tapak Dewa menembus kepulan asap, Iblis Perak sudah tidak ada ditempat itu.
"Hehehe...! Rupanya seranganmu hanya pengalihan Iblis Perak, Kau berhasil menipuku," guman Pendekar Tapak Dewa sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Ki Sura Jaya mengedarkan pandangannya. Tampak Pendekar Naga Sakti sedang terlibat pertarungan dengan Iblis Kelabang Merah.
"Anak muda itu memiliki kesaktian cukup tinggi. Tapi dia memakai ilmu penutup batin, sehingga orang lain tidak bisa mengukur seberapa tinggi tenaga dalam yang ia miliki, mungkin kah dia murid Lesmana, Pendekar Naga Sakti yang terdahulu," guman Ki Sura Jaya dalam hati, matanya menatap tajam kearah pertarungan Pendekar Naga Sakti dengan Iblis Kelabang Merah.
"Hahaha...!" Anak muda, ku akui ilmumu cukup tinggi, tapi aku si Kelabang Merah belum kalah darimu," ujar Iblis Kelabang Merah sambil menjejak kaki ditanah. Setelah mengadu pukulan dengan Pendekar Naga Sakti.
"Siapa pun Kau, aku tidak peduli. Aku diminta untuk melindungi orang-orang Desa dari gangguan orang-orang sepertimu!" jawab Pendekar Naga Sakti sengit. Diam-diam ia meningkatkan tenaga dalamnya dan mempersiapkan 'Jurus Tinju Halilintar tingkat tiga, Halilintar Menggelegar Ditengah Hujan'.
Iblis Kelabang Merah bersiap dengan 'Jurus Kelabang Kematian'. Sebuah jurus yang selama ini jadi andalannya. Namun Iblis Kelabang Merah baru merapal Ilmu itu ditingkat empat.
"Hati-hati! Anak muda... Ilmu Kelabang Kematian cukup berbahaya, pukulan itu mengandung racun. Sebaiknya Kau gunakan 'Ilmu Tapak Nagamu, setidaknya tingkat tiga," kata Pendekar Tapak Dewa melalui kekuatan telepatinya langsung kependengaran Anggala.
"Baik Ki," jawab Pendekar Naga Sakti melalui suara batinnya. Pendekar Tapak Dewa hanya mengangguk-ngangguk sambil tersenyum.
"Hehehe...! Kau bisa mewarisi ilmu Tapak Dewa anak muda, tulangmu begitu bagus," guman Pendekar Tapak Dewa seperti berbicara pada dirinya sendiri.
Pendekar Naga Sakti meningkatkan tenaga dalamnya ke tingkat yang lebih tinggi. Pendekar Naga Sakti menyiapkan 'Ilmu Tinju Halilintar tingkat empat Petir Menyambar Ditengah Hari.
"Hari ini Kau akan mati disini anaj muda! Heaaah....!" bentakan Iblis Kelabang Merah mengawali gerakannya. Iblis Kelabang Merah menyorongkan dua tangannya kedepan dua sinar membentuk kelabang berwarna merah menderu cepat dari dua telapak tangannya.
Wuss....! Wuss....!
Pendekar Naga Sakti pun tidak tinggal diam. Pendekar Naga Sakti pun menyorongkan dua tinjunya kedepan. Namun tidak ada cahaya yang keluar dari kedua tinjunya. Beberapa saat kemudian gelegar petir dan kilat menyambar kearah dua cahaya Kelabang berwarna merah dari kedua tangan Iblis Kelabang Merah.
"Gelegar...! Ctar! Ctar!
Duaaaarrr....!!!
Dentuman membahana ketika dua cahaya merah membentuk kelabang berwarna merah itu di hantam dua lidah petir sekagus.
Iblis Kelabang Merah terperanjat. Namun terlambat dua lidah petir tepat menyambar di depannya. Ledakan menyemburkan tanah membuat Iblis Kelabang Merah terpental sekitar empat tombak. Iblis Kelabang Merah cepat melompat bangun, namun keadaannya berbeda. Wajah dan dadanya berwarna hitam kemerahan. Kulit dadanya mengelupas terbakar.
__ADS_1
"Uhuakh...!" Iblis Kelabang Merah terbatuk. Darah merah kehitaman mengalir dari bibirnya. Luka dalamnya cukup parah belum lagi luka luar yang membuat kulitnya terbakar dan mengelupas.
Tanpa pikir panjang lagi Iblis Kelabang Merah lansung melemparkan tiga batu berwarna putih kearah depan Pendekar Naga Sakti.
Dess! Dess...! Dess..!
Asap tebal mengepul dari tiga ledakan batu berwarna putih itu. Asap tebal berwarna putih itu menutupi pandangan antara Pendekar Naga Sakti dan Iblis Kelabang Merah.
"Mekar! Kita mundur dulu, lain kali kita lanjutkan!" suara kiriman Iblis Kelabang Merah menggiang di telinga sang keponakannya Mekar Suri.
"Bangsat! Aku pun harus pergi dari sini, jika tidak ingin dikeroyok para pendekar ditempat ini," guman Kelabang Ungu sambil melompat menjauh.
#
#
Kita Kembali ke berapa waktu sebelum Kelabang Merah mengajak Mekar Suri untuk mundur. Pertarungan dua gadis cantik berbeda golongan itu berlansung cukup seru. Setelah menggunakan ilmu andalannya tadi Kelabang Ungu tampak sudah agak kewalahan.!
Jurus-jurus Bidadari Kayangan milik Bidadari Pencabut Nyawa itu hampir membuat Kelabang Ungu kalang kabut. Apalagi Bidadari Pencabut Nyawa menggunakan 'Ilmu Baju Besi tingkat dua belas. Jurus Kuku Beracun Kelabang Ungu di buat tidak berdaya.
Entah beberapa kali tendangan dan telapak tangan Bidadari Pencabut Nyawa hampir mendarat di tubuh langsing Mekar Suri itu. Namun Mekar Suri masih dapat menghindari walau cukuo kewalahan.
Setelah mendengar ajakan pamannya Roksa Geni, tanpa pikir panjang lagi Mekar Suri lansung menyerang Bidadari Pencabut Nyawa dengan pukulan jarak jauh. Dua buah sinar putih melesat cepat berurutan kearah Bidadari Pencabut Nyawa. Bidadari Pencabut Nyawa cepat melentingkan diri keudara sambil bersalto dua kali di udara. Namun begitu ia menjejak kaki ditanah Kelabang Ungu sudah tidak ada ditempat itu.
.
.
Bersambung...
'
.
__ADS_1
.