
Sret!
Kipas elang perak kini berkembang di depan dada Wulan Ayu, Sang Bidadari Pencabut Nyawa itu langsung mengibaskan daun kipas itu cukup kuat, angin menderu membalikkan hawa racun dari putaran pedang Sudra itu.
"Kipas elang perak? Jadi dia memang Bidadari Pencabut Nyawa itu?" Sudra cukup terkejut melihat kipas pusaka bergambar elang berwarna perak di tangan Wulan Ayu.
Karena keterkejutannya Sudra sampai menghentikan putaran pedang di tangannya.
Sudra kembali memainkan jurus-jurus pedang tingkat tinggi sambil berjalan pelan mengelilingi Wulan Ayu.
Sret!
Wulan Ayu menutup daun kipas elang perak dan menyimpannya ke balik baju biru kesayangannya, setelah itu Sang Bidadari segera menghunus pedang elang perak dari balik punggungnya.
Sring!
"Ayo kisanak, kita lanjutkan!" tantang Wulan Ayu sambil menatap tajam ke arah Sudra yang melintangkan pedangnya di depan dada.
"Ha ha ha...! Kau sudah tidak sabar ingin ku kirim ke akhirat, gadis tengik! Heaaa..!"
Sudra melompat ke arah Wulan Ayu dengan pedang hitam kemerahan yang mengeluarkan hawa panas dan berbau busuk.
Trang! Trang!
Begitu gesit dan lincahnya Bidadari Pencabut Nyawa menangkis serangan pedang Sudra, suara dentingan pedang beradu menambah suara ramai pertarungan. Sudra berusaha mendesak Wulan Ayu dengan serangan pedangnya, namun Wulan Ayu yang sudah cukup kenyang makan asam garam dunia persilatan mampu mengimbangi jurus pedang pembunuh bayaran tua itu.
"Heaaa...!"
Trang!
Dengan tangkasnya Wulan Ayu menangkis tikaman cepat Sudra yang mengincar titik-titik mematikan di tubuhnya. Sebuah sabetan dan kibasan pedang elang perak membuat Sudra terpaksa melompat mundur.
"Bajingan tengik, gerakannya begitu cepat, aku sampai di buat hampir kewalahan!" rutuk Sudra dalam hati sambil meningkatkan tenaga dalam dan merapal sebuah jurus pedang andalannya.
"Jurus 'Pedang Bayangan Langit'. Heaaah...!" teriakan Sudra menggema, pedang di tangan tiba-tiba berubah cepat bagai menjadi puluhan pedang yang berputar di sekitar tubuhnya.
Bidadari Pencabut Nyawa pun tidak tinggal diam, ia segera merapal jurus ' Pedang Kayangan'. tingkat tiga, dengan pengerahan tenaga dalam sekitar lima puluh persen.
Wulan Ayu hanya tersenyum sambil melintangkan pedang elang perak di depan dada, sedangkan Sudra tampak mulai bersiap menyerang.
"Heaaa...!"
Trang! Trang!
Berkali-kali ujung pedang hitam kemerahan yang di tangan Sudra berbenturan dengan pedang elang perak, percikan bunga api berhamburan di sekitar mata kedua pedang itu. Pertarungan berjalan cepat, Sudra berusaha keras mendesak Wulan Ayu dengan serangan pedangnya, namun selalu di tangkis dengan sikapnya.
"Hiyaaa...!"
Sebuah sambaran cepat pedang elang perak yang di putar dari depan ke samping oleh Wulan Ayu, membuat Sudra tidak sempat lagi menghindar, sambaran itu begitu cepat bagai kilat.
Sret!
"Agkh..!"
Lenguhan tertahan keluar dari mulut Sudra, laki-laki itu cepat melompat mundur sambil memegangi bahunya yang mengucur darah, namun tidak di sangka Sudra tidak mempedulikan lukanya, ia kembali melompat sambil menebaskan pedangnya. Wulan Ayu yang tersentak kaget dan tidak menyangka cepat melentingkan tubuhnya ke udara.
__ADS_1
"Hiyaaa...!"
Karena kesal dan dongkol sang Bidadari Pencabut Nyawa itu setelah berada di udara begitu cepat meluncur ke arah Sudra dengan pedang menebas begitu kuat.
Trang!
Set!
Crab!
"Ahkh..!"
Lagi-lagi Sudra melenguh tertahan, tubuhnya terpental setelah bahu kanannya terkena tikaman ujung pedang elang perak di tangan Wulan Ayu itu.
"Kenanga, sekarang giliran!" kata Wulan Ayu, "Balas kematian keluargamu,"
"Terima kasih, Wulan," jawab Kenanga sambil bergerak maju, sedangkan Bidadari Pencabut Nyawa sendiri bergerak mundur beberapa langkah.
"Kau harus membayar kematian kedua orang tua dan keluargaku, manusia durjana!" bentak Kenanga sambil mengacungkan tongkat selendang kuningnya ke arah Sudra. Laki-laki itu hanya terdiam memandang ke arah Kenanga, bibirnya masih meringis dan darah tampak mengalir dari luka di bahunya, bagian depan.
"Majulah, balaskan dendammu..!" tantang Sudra sambil mengacungkan pedangnya ke depan.
"Kau memang manusia tanpa perasaan, jahanam... Hiaaa...!"
Kenanga yang dari tadi menahan amarah di pancing oleh Sudra, gadis itu melompat ke arah Sudra sambil mengayunkan tongkat selendang kuningnya dengan begitu keras dan di iringi tenaga dalam tinggi.
Trang!
Walau agak pelan, namun Sudra masih berusaha menangkis, tapi pukulan tongkat selendang kuning milik Kenanga terlalu deras dan begitu kuat sehingga tangkisan pedang Sudra hanya mampu memperlambat laju tongkat itu.
"Agkh...!"
Sudra melenguh tertahan sebelum tubuhnya terpental ke arah belakang. Baru saja Sudra bergerak bangun, Kenanga kembali melesat dengan ayunan tongkat yang begitu cepat.
Buak!
"Agkh..!"
Lagi-lagi mulut Sudra hanya bisa mengeluh kesakitan begitu tongkat selendang kuning Kenanga menghantam samping kanan dadanya.
Krak!
Sekitar tiga tulang rusuk Sudra patah di sebelah kanan, laki-laki itu terpental sambil menyemburkan darah segar dari mulutnya, luka luar dan luka dalamnya kini semakin parah, Sudra berusaha bangun sambil mengerahkan hawa murni untuk meringankan rasa sakit di bagian dada sebelah kanannya.
"Mati Kau..!"
Prak!
Kali ini tingkat selendang kuning Kenanga menghantam telak di ubun-ubun kepala Sudra.
"Aaaa...!"
Sudra menggelepar di tanah sambil memegangi kepalanya yang mengucur darah segar hingga menurupi wajahnya. Beberapa saat Sudra masih menggeliat dengan seluruh tubuh bergetar menahan sakit, tidak lama kemudian Sudra pun diam tidak berkutik lagi.
"Sudra...!"
__ADS_1
Pekikan Lodra terdengar lantang, tanpa mempedulikan Pendekar Naga Sakti, Lodra langsung melesat ke arah mayat Sudra yang bermandikan darah.
"Kau... Kau harus membayar dengan nyawamu!" murka Lodra sambil memangku mayat Sudra yang tergeletak di tanah. Perlahan Lodra meletakkan mayat Sudra di atas tanah.
Begitu Lodra meletakkan mayat Sudra di atas tanah, Anggala sudah berdiri tidak jauh di depannya.
"Kalian harus mati di sini!" geram Sudra sambil meningkatkan tenaga dalamnya ke tingkat tertinggi, Mata Sudra memerah menahan amarah, laki-laki itu merapal sebuah ajian simpanannya.
"Ajian 'Cakar Elang Iblis.....!!"
Lodra menyilangkan tangannya di depan dada, cahaya kuning kemerahan menyelubungi kedua tangan Lodra yang membentuk cakar.
"Kau mau mengajak adu kesaktian topeng hitam," kata Pendekar Naga Sakti sambil meningkatkan tenaga dalamnya ke arah kedua tangannya.
Anggala merapal jurus 'Tapak Naga'. tingkat tiga. Cahaya putih menyelubungi kedua telapak pendekar muda itu.
"Heaaa....!"
Lodra, si Topeng Hitam menyentakkan telapak tangannya ke depan dua larik cahaya kuning kemerahan membentuk cakar melesat ke depan.
"Hiyaaa...!"
Anggala melompat ke depan sambil menyorongkan telapak tangannya ke depan, cahaya putih membentuk telapak tangan di depan.
"Wuss..! Wuss...!
Swoss! Swoss!
Blaaammm...!
Ledakan dahsyat mengguncang tempat itu, gumpalan api membumbung tinggi, debu dan tanah berhamburan menutupi pandangan. Tanah dan pepohonan bagai terguncang gempa yang cukup dahsyat.
"Aaaa....!"
Lodra terpental sekitar delapan sampai sepuluh tombak ke belakang, Lodra terpental hingga menabrak beberapa batang pohon hingga patah.
.
.
Bersambung....
Jangan lupa dukung novel ini ya teman-teman.
Rate
Hadiah
Like
Koment
Dan Votenya teman-teman.
Terima kasih banyak.
__ADS_1