
Sring!"
Pedang Naga Sakti terhunus di tangan Anggala, cahaya putih kebiruan menyilaukan mata menyinari batang pedang mustika naga sakti itu.
Wuss...!
"He he he....! Pendekar Naga Sakti... Kau tidak usah menghunus pedang pusakamu menghadapi bajingan-bajingan pengecut ini... Aku datang membantumu! He he he....!"
Semua mata tertuju pada suara menggema itu. Namun entah dari mana datangnya asal suara menggema itu.
"Bagaimana keadaanmu Pendekar Naga Sakti?" tiba-tiba tiga bayangan telah berada di depan Pendekar Naga Sakti.
"Saya baik-baik saja, Terima kasih bantuannya. Siapa Kalian?" ucap Pendekar Naga Sakti. Walau ia mungkin mampu menghadapi keroyokan para pendekar golongan hitam itu. Namun ia merasa lega dengan adanya bantuan.
"Huakss...!"
Anggala memuntahkan darah segar sambil berlutut, ia cepat-cepat duduk bersemedi mengobati luka dalamnya. Pendekar Naga Sakti merogoh saku bajunya dan mengambil sebuah pil pemberian sang kakek gurunya.
"Istirahat lah dulu Pendekar Naga Sakti, biar kami yang menghadapi mereka," kata salah seorang penolong itu. Tampak mereka adalah tiga orang pemuda yang bersenjata tongkat berwarna keemasan.
Anggala hanya mengangguk menjawab ucapan penolong itu. Pendekar Naga Sakti meneruskan semedinya.
"He he he...! Si Payan Kembar. Kenapa kau terdiam? Apa kau terkejut dengan kehadiran kami? He he he..!" ujar salah seorang penolong itu sambil mengacungkan tongkat emasnya.
"Siapa kalian hah? Apa hubungan kalian dengan Pertapa Sakti Tongkat Emas!" bentak Si Payan Kembar gusar.
"He he he...! Kami adalah muridnya. Beliau mengirim kami untuk menghentikan sepak terjang para perampok yang telah menggerogoti kehidupan masyarakat di wilayah gunung pungur ini!" sahut si pemuda dengan sengit.
"Heh..! Anak muda lu olang jangan ikut campul ulusan kami dengan Pendekal Naga Sakti ha.. Jika kalian tidak bosan hidup. Hah!" bentak Lun Sin Ming sambil menunjuk ke tiga pemuda bersenjata tongkat emas itu.
"He he he...! Pendekar cina. Jauh-jauh kau datang ke pulau Andalas ini hanya untuk menjadi pembunuh bayaran. Sipatmu juga terlalu culas dan tidak bisa di maafkan. Jika kau masih ingin kembali ke negrimu dalam keadaan hidup. cepat tinggalkan tempat ini!" sahut salah seorang pemuda berpakain putih-putih itu.
"Kalian belani ikut campul ulusan olang. Belalti kalian sudah siap mati! Bunuh meleka!" perintah Lun Sin Ming pada anak buahnya.
"Heaaa....!!"
Tanpa banyak tanya orang-orang bertopeng itu langsung melompat menyerang ke arah tiga pemuda itu.
"Heaaa...!!"
Tiga pemuda itu pun tidak tinggal diam. Mereka pun menyongsong dengan cukup cepat. Tongkat di tangan ketiga pemuda itu bersiuran di udara menangkis dan menghantam orang-orang bertopeng yang menyerang mereka.
Trang! Trang!
__ADS_1
Buak! Buak!
"Aaaa....!!"
Teriakan kesakitan dari orang-orang bertopeng itu terdengar susul menyusul. Satu persatu orang-orang bertopeng itu jatuh ke tanah dalam keadaan terluka.
Ketiga pemuda itu berhasil meredam serangan anak buah Lun Sin Ming. Secepat kilat tongkat mereka bergerak menghantam musuh yang ada di hadapannya. Tiga orang anak buah Lun Sin Ming terhuyung ke belakang dengan memegangi dada mereka. Tampak ada noda merah menetes dari sela-sela topeng yang mereka pakai.
"Bangsat! Habisi mereka!!!" perintah Si Payan Kembar pada anak buahnya. Tanpa banyak tanya lagi anggota Perampok Hutan Kematian itu langsung melompat menyerang ke arah tiga pemuda itu.
"Hup!
Trang!
Wuk!
"Heh..!"
Salah seorang dari tiga pemuda itu cepat melintangkan tongkat emasnya di depan kepalanya ketika golok anak buah si botak mengincar ke arah bahu dan kepalanya. Cukup cepat setelah menangkis serangan itu. Si pemuda mengayunkan tongkatnya ke arah para mengeroyoknya. Sehingga para pengeroyoknya terpaksa melompat mundur.
"Hiaaa..!"
Dua pemuda lainnya langsung bergerak ke arah samping dan saling berpencar menghadapi serangan para pengeroyok yang berilmu tinggi itu.
"Hup!
Buak! Duak!
"Aaakh...!"
Salah seorang anak buah Si Payan Kembar terpental terhantam tongkat salah seorang pemuda itu, saat para perampok itu mencoba mengeroyoknya para pemuda itu bergerak membuat pertahanan tiga arah. Para perampok itu malah mengepung mereka membentuk lingkaran.
"Kak Daka. Rupanya mereka cukup sulit di hadapi apalagi mereka memiliki kecepatan dan tenaga dalam di atas rata-rata," kata salah seorang pemuda menyebut nama Daka. Kamandaka, adalah kakak tertua dari tiga bersaudara seperguruan itu.
"Kau benar Raka. Tampaknya kita tidak bisa bermain-main dengan keroyokan mereka. Apalagi jumlah mereka cukup banyak," sahut Kamandaka, " Ayo kita pakai Jurus Tongkat Naga Emas Menghantam Gelombang!" tambah Kamandaka lagi.
"Baik, Kak!" sahut Raka Adiwangsa dan Aryaguna serentak.
"Jurus Tongkat Naga Emas Menghantam Gelombang!" Si Payan Kembar tampak terkejut mengetahui jurus yang di pakai oleh tiga Pendekar Tongkat Naga Emas itu.
"Mundur!" teriak Si Payan Kembar pada anak buahnya. Mendengar Perintah Si Botak itu anak buahnya perlahan melangkah mundur menjauh.
Wut..! Wut....!
__ADS_1
Wuss....!!
Tiga Pendekar Tongkat Naga Emas itu memutar tongkat di sekeliling tubuh mereka dengan cepat. Angin kencang muncul membentuk pusaran mengelilingi mereka bertiga. Semakin cepat putaran tongkat mereka semakin kencang angin itu berputar dan berubah membentuk tiga Angin ******-Beliung yang bergerak memutari tiga Pendekar muda itu.
"Heaaa.....!!!"
Secara serentak tiga pemuda itu berteriak mendorongkan tangan kanan mereka yang memegang Tongkat Naga Emas itu. Maka seketika itu pula Angin ******-Beliung
(Angin ****** Beliung
Pernahkah kalian mendengar angin ****** beliung? Angin yang satu ini memang tak seperti biasa, efek merusaknya cukup besar. Pohon tumbang, atap berterbangan, bahkan bangunan roboh. Itulah sebagian dampak angin ****** beliung yang kadang terjadi di sejumlah wilayah.)
yang mengelilingi mereka melesat maju ke arah para pengepung itu.
Wusss....!" Wusss....!
"Aaaaaa.....!!!!"
Para pengepung itu mencoba memperkuat kuda-kuda mereka. Para perampok itu mencoba mengerahkan tenaga dalam yang mereka miliki untuk bertahan. Namun kekuatan pusaran Angin ******-Beliung itu di luar dugaan mereka. Para pengepung itu berterbangan bagai daun di sapu angin.
Para pengepungnya itu saling bertabrakan di dalam pusaran Angin ******-Beliung besar itu. Begitu Kamandaka, Raka Adiwangsa dan Aryaguna menghentikan putaran tongkatnya barulah angin itu berhenti. Para pengepung itu jatuh berserakan di tanah dan mengalami luka dalam yang cukup parah, tidak sedikit pula yang tewas terkena senjata teman mereka sendiri.
Pendekar Naga Sakti bangun dari duduknya semedinya dan maju ke dekat tiga Pendekar menolongnya itu.
"Terima kasih Sahabat bertiga telah menyelamatkan saya," ucap Pendekar Naga Sakti sambil tersenyum.
"He he he...! Syukurlah Kalau Sahabat sudah tidak apa-apa?" sahut Kamandaka sambil tertawa kecil. Tiga Murid Pertapa Sakti Tongkat Naga Emas itu merasa lega melihat Pendekar Naga Sakti sudah siap bertarung lagi.
Lun Sin Ming dan Si Botak Payan Kembar kini hanya tinggal dengan sekitar sepuluh orang anak buahnya. Sekitar tiga puluh lima orang anak buah mereka telah bergelimpangan di tanah. Di antara para pengeroyok yang berserakan di tanah itu, tinggal beberapa orang yang masih hidup, itu pun dalam keadaan terluka parah.
"Bangsat! Kalian membunuh seluluh anak buah owe. Kalian tidak bisa di maafkan!" ujar Lun Sin Ming dengan tatapan penuh kebencian ke arah Kamandaka dan dua adik seperguruannya itu.
"Pukulan Api Nelaka Membakal Jiwa! Heaaa...!!"
"Hati-hati Sahabat! Pukulan itu yang membuat saya terluka dalam tadi!" Ucap Pendekar Naga Sakti memberi peringatan.
.
.
Bersambung...
Jangan lupa like Koment dan favorit ya teman-teman. Terima kasih banyak.
__ADS_1