Pendekar Naga Sakti

Pendekar Naga Sakti
Prahara Di Pulau Andalas. Terlukanya Datuk Wangsala


__ADS_3

"Akgh....!!" Datuk Wangsala mengeluh tertahan sebelum tubuhnya terpental sekitar empat tombak ke belakang.


"Kakak....!!" teriak Datuk Wangsaka begitu melihat sang kakak jatuh bergulingan dan mengalami luka dalam yang begitu parah.


"Kita lanjutkan urusan ini di lain hari, Anak Muda!" kata Datuk Wangsaka sebelum menyarungkan keris Selaksa Merah ke dalam warangka yang ada di balik pinggangnya. Datuk Wangsaka langsung menghambur ke arah sang kakak untuk memberikan pertolongan.


"Mundur.....!!" teriak Datuk Wangsaka memberi perintah pada beberapa orang anak buahnya yang masih mampu berdiri tegak.


Mendengar perintah mundur tanpa basa-basi puluhan anak buah kedua Datuk langsung ambil langkah seribu meninggalkan tempat itu.


Datuk Wangsaka tanpa basa-basi langsung melesat meninggalkan tempat itu sambil memapah sang kakak yang terluka parah.


"Cepat telan obat ini, Nini," kata Anggala seraya menyodorkan sebutir pil obat ke mulut Nini Sumirah. Tanpa banyak tanya Nini Sumirah membuka mulut dan menelan obat pemberian Pendekar Naga Sakti itu.


"Hup!" Anggala langsung mengerahkan hawa murni dan mengalirkannya ke bahu kanan Nini Sumirah.


"Huakh...!" Nini Sumirah memuntahkan darah merah kehitaman cukup banyak dari mulutnya, tidak lama kemudian wajah Nini Sumirah yang tadi membiru mulai kembali putih namun agak pucat.

__ADS_1


"Uhuak....! Uhuak....! Terima kasih, Anggala. Obat yang kau berikan sungguh mujarab. Apakah itu obat buatan Pertapa Naga yang tersohor itu?" tanya Nini Sumirah setelah menurunkan tangannya dari posisi semedi.


"Ya, Nini. Obat itu memang buatan kakek guruku, Pertapa Naga," sahut Anggala sambil tersenyum, "Syukurlah, Saya masih sempat menolong Nini," tambahnya lagi.


"Dimana, Wangsala dan Wangsaka?" tanya Nini Sumirah sambil mengedarkan pandangannya ke sekeliling, namun ia tidak melihat batang hidung kedua dedengkot golongan hitam dari daerah Gunung Kerinci itu.


"Mereka sudah kabur, Nini. Anggala membuat Datuk Wangsala terluka parah," sahut Singo Abang yang sudah berdiri tidak jauh dari Anggala.


Di sekeliling tempat itu tampak bergelimpangan mayat-mayat anak buah kedua Datuk sesat itu, tidak kurang dari seratus orang yang sudah tewas dan bergelimpangan di daerah itu.


"Nini tidak apa-apa?" tanya Jaka Kelana yang baru menghampiri mereka.


"Aku terkena racun Harimau Hitam milik Datuk Wangsala, jika tidak ada Anggala mungkin aku akan tewas karena racun itu," sahut Nini Sumirah sambil kembali duduk para sebuah batang kayu yang roboh akibat pertarungan yang barusan terjadi.


"Bagaimana di lembah sana?" tanya Singo Abang.


"Aman, disana 'kan ada Wulan Ayu dan Cindai Mata," sahut Singo Sarai sambil tersenyum.

__ADS_1


"Syukurlah, bagaimana dengan kalian?" tanya Nini Sumirah pada pemimpin kelompok Penyamun Bukit Kayangan.


"Beberapa orang anak buahku terluka terkena golok, Nini. Tapi sekarang sudah di obati teman-temannya. Jika tidak ada para pendekar ini, saya yakin akan banyak korban," sahut pimpinan Penyamun Bukit Kayangan.


"Ya, sudah. Kita kembali ke goa, kita istirahat disana, aku yakin Datuk Wangsala dan Datuk Wangsaka tidak akan menyerang dalam waktu dekat. Apalagi Wangsala terluka parah," ajak Nini Sumirah sambil bangkit berdiri. Nini Sumirah tampak terhuyung hampir jatuh, Tapi Singo Sarai cepat memberikan pertolongan.


"Nini masih lemah, sebaiknya saya bantu Nini," kata Singo Sarai sambil memegangi bahu Nini Sumirah.


"Terima kasih, Nak," sahut Nini Sumirah sambil berjalan pelan. Mereka pun kembali ke goa di mana para penduduk bersembunyi.


Penyamun Bukit Kayangan yang tidak terluka di perintahkan Nini Sumirah untuk menguburkan mayat-mayat anak buah Datuk Wangsala dan Datuk Wangsaka yang tewas, dan yang terluka dalam menjadi tawanan mereka termasuk yang menyerahkan diri pada Wulan Ayu dan Cindai Mata.


.


.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2