
Sementara itu Anggala yang bertarung dengan Si Kapak Iblis, masih terlibat pertarungan sengit, Si Kapak Iblis terjajar ke belakang beberapa langkah setelah Kapak besarnya mengenai tubuh Pendekar Naga Sakti.
"Heaaa....!"
Si Kapak Iblis kembali melompat dengan ayunan kapak ke arah kepala Pendekar Naga Sakti, Pendekar Naga Sakti menyambut dengan tangan kanannya, lagi lagi kapak besar di tangannya, seperti mengenai sebuah besi.
Anggala yang memampatkan keterkejutan Si Kapak Iblis, menyusul kan sebuah tendangan bertenaga dalam tinggi, ke arah perut Si Kapak Iblis.
Duk....!
Aaakh.......!"
Rintisan kesakitan keluar dari mulut tokoh hitam dari Lembah Kematian itu, menyusul tubuhnya terlempar beberapa tombak ke belakang, dan mengalami luka dalam yang cukup parah.
Anggala melompat ke dekat Si Kapak Iblis, yang berusaha berdiri walau dengan sempoyongan.
"Bagaimana Ki? Masih lanjut..?" tanya Pendekar Naga Sakti, yang tidak beryniat menyerang musuhnya yang telah terluka itu.
Si Kapak Iblis hanya diam beberapa saat, tina tiba iya bersuit panjang, setelah itu ia melompat dengan segenap kekuatan nya, ia lansung menaiki seekor kuda, dan mengebah kudanya dengan begitu kencang, meninggalkan tempat itu.
Pendekar Naga Sakti hanya memandangi kepergian musuhnya itu, dengan langkah gontainya ia berjalan kearah teman temannya yang sedang berhadapan dengan anggota Partai Lembah Kematian.
Anggota Partai Lembah Kematian yang mendengar suitan Si Kapak Iblis, lansung memilih mundur, dan segera meninggalkan tempat itu, menyusul Si Kapak Iblis.
Namun banyak di antara mereka yang telah terluka, dan tidak sanggup berdiri, dan banyak pula yang menjadi patung es, akibat hawa pukulan Pendekar Srigala Putih.
Simbar Buana yang melihat musuh musuhnya melarikan diri, hanya tertawa, dan berjalan mendekati sang istri Bidadari Gendeng, dan Wulan Ayu, Jaka Kelana menghentikan Jurus Srigala Es nya, sehingga udara kembali normal, patung es dari Anggota Partai Lembah Kematian pun pelan pelan sudah bisa menggerakkan tubuh mereka.
Mereka yang baru terbebas dari dampak pukulan Srigala Es milik Pendekar Srigala Putih itu, berniat melarikan diri, namun di hadang oleh Pendekar Naga Sakti.
__ADS_1
"Kalian tidak bisa kemana mana! Kalian harus membawa semua teman kalian yang tewas, dan terluka itu!" Ujar Pendekar Naga Sakti, sambil tegak di tepi hutan sambil menghadang para Anggota Partai Lembah Kematian, yang berniat melarikan diri itu.
Mereka saling pandang satu sama lainnya, tanpa banyak bicara, mereka segera menolong teman teman mereka yang terluka, dan menaikkan mayat mayat yang telah tewa ke atas kuda, setelah semua mayat di naikkan ke atas kuda, mereka pun meninggalkan tempat itu.
Para Pendekar yang ada di sana, termasuk Wulan Ayu tampak tidak berniat menghalangi orang orang Partai Lembah Kematian itu, pergi meninggalkan Desa Lingkar Sari.
Mereka tampak berbincang sambil menemui para Penduduk Desa Lingkar, yang tadi di sandera anggota Partai Lembah Kematian itu.
Setelah selesai membantu orang orang Desa Lingkar Sari, mereka pun kembali ke rumah Aki Kusnadi lagi.
Tidak terasa tiga hari sudah sejak kedatangan rombongan Si Kapak Iblis, siang ini para pendekar golongan putih yang menginap di rumah Aki Kusnadi, tampak sedang berada di warung di ujung Desa, yaitu warung Ki Banaja.
Mereka tampak asik berbincang bincang, sambil makan siang di sana, tengah asyik mengobrol dengan para Penduduk dan Ki Banaja, tampak banyak penduduk yang tidak di kenal, berbondong bondong memasuki Desa Lingkar Sari.
Ada beberapa orang yang singgah di warung Ki Banaja, hendak membeli makanan.
"Maaf Kisanak, kalian mau kemana? Saya lihat kalian seperti orang yang mengungsi?" tanya Pendekar Naga Sakti, Anggala.
"Kami dari Desa seberang Hutan ini Den, kami mengungsi karna Desa kami selalu di santroni para penyamun dan Para perampok!" Jawab Laki laki setengah baya itu.
"Kami lihat banyak sekali Ki, kemana tujuan kalian?" tanya Simbar Buana, yang tampak ikut berdiri tidak jauh daAnggala si Pendekar Naga Sakti.
"Iya Den, kami ini dari dua buah Desa, Kami mendengar di Desa ini aman, karna banyak Pendekar yang lagi singgah di sini," jawab laki laki itu lagi.
"Jangan panggil Aden Ki, kami adalah para pendekar yang Aki katakan, apakah Kalian berniat meminta bantuan?" tanya Anggala si Pendekar Naga Sakti lagi.
"Tidak Pendekar, kami kesini cuma mengungsi, mencari tempat aman dulu, tampaknya para penyamun dan para perampok itu datang, karna perintah dari Partai Lembah Kematian, yang lagi mencari biaya untuk peresmian mereka dua Purnama di depan," jawab laki laki pengungsi itu.
"Kalau boleh tau nama Aki siapa? Nama Saya Anggala," tanya Anggala, sambil memperkenalkan diri.
__ADS_1
"O iya nak pendekar, nama Aki Rajab, panggil saja Ki Rajab," jawabnya memperkenalkan diri.
"Terimakasih Ki, ceritanya, silahkan," ucap Anggala, sambil mempersilahkan Ki Rajab makan, makanan pesanannya, Pendekar Naga Sakti itu kembali ke meja panjang, tempat nya duduk dengan Wulan Ayu, dan Para pendekar golongan putih yang lain.
"Anggala, tampaknya kita harus berpencar, kita bagi kelompok, untuk pergi ke Desa yang sering di datangi para penyamun dan Para perampok itu," ujar Simbar Buana si Pendekar Cambuk Sakti.
"Iya, Anggala, tapi Desa ini tidak boleh tinggal, karna kita tau, desa ini adalah jalan poros menuju Lembah Kematian," tambah Senopati Arya Geni.
"Baiklah, kalau begitu, kita bagi empat kelompok, Saya dan Ajeng Sekar, menuju Desa yang paling ujung," ujar Simbar Buana, sambil melihat ke arah Ajeng Sekar, atau Bidadari Gendeng.
"Saya dan Kemuning ke Desa kedua," tambah Arya Geni, Sri Kemuning mengangguk per tanda ia setuju.
"Kami berdua, tidak kebagian nih?" celetuk Aruni si Pendekar Kelelawar Putih, sambil tertawa kecil.
"Kalian tetap di sini, bersama Anggala dan Wulan Ayu, tapi terserah kalian, apa mau ikut ke Desa sebelah boleh juga," jawab Simbar Buana, sambil menuangkan secangkir air minum, ke cangkir bambu.
"Kami ikut Kak Arya Geni dan Kak Sri Kemuning saja, boleh?" tanya Pendekar Kelelawar Putih itu.
"Baiklah, setelah ini kita berangkat, nanti kita bertemu di sini, dekat hari peresmian Partai Lembah Kematian..!" ujarPendekar Cambuk Sakti, Simbar Buana.
"Baik lah Kak Simbar, jangan lupa dua Purnama lagi, " jawab Anggala, sambil mengambil piring.
Setelah selesai makan siang, mereka pun bergerak menuju Desa di seberang hutan di ujung Desa, Pendekar Cambuk Sakti dan Bidadari Gendeng, berkelebat dengan ilmu lari cepat yang mereka miliki, tidak butuh waktu lama, mereka telah hilang ke dalam hutan.
Arya Geni dan Sri Kemuning bersama Jaka Kelana dan Aruni, masih kembali ke rumah aki Kusnadi, untuk mengambil kuda, setelah permisi pada Ki Kusnadi, mereka pun meninggalkan Desa Lingkar Sari, menuju Desa yang telah di sebutkan Ki Rajab tadi.
Bersambung......
(Jangan lupa Like dan komen nya, kritik dan saran, ikuti IG Author Idwan Virca, info tentang novel karya Idwan Virca, ada di sana ).
__ADS_1