Pendekar Naga Sakti

Pendekar Naga Sakti
Kelompok Iblis Perak. Kelabang Merah


__ADS_3

Sementara itu di kediaman Iblis Kelabang Hijau suasana tampak ramai namun mencekam. Kepergian enam Iblis Perak yang tidak kunjung kembali membuat Iblis Kelabang Hijau gundah.


"Maruta, kirim orang ke desa Mekar Ramai. Cari tau apa yang terjadi dengan teman-teman mu?" perintah Iblis Kelabang Hijau yang sejak tadi tampak mondar mandir ditengah sebuah ruangan besar didalam sebuah rumah megah di tengah lembah. Lembah yang dikenal orang dengan nama lembah beracun.


"Baik Ketua!" jawab salah seorang Iblis Perak yang dipanggil Maruta tersebut. Tanpa diperintah kedua kalinya Maruta segera memerintahkan beberapa orang anak buahnya untuk pergi menyelidiki.


"Ada apa Ayah? Apa yang terjadi?" tanya seorang gadis berbaju ungu yang baru muncul diruangan itu. Gadis itu adalah putri Iblis Kelabang Hijau yang bergelar Kelabang Ungu.


"Enam orang pamanmu dari sore tadi belum kembali Mekar, ayah takut terjadi sesuatu pada mereka. Tidak biasanya mereka lama menjalani tugas," jawab Iblis Kelabang Hijau sambil duduk di kursi besar di depan tempat duduk Iblis Perak yang tampak juga sudah gelisah.


"Apa aku yang menyelidiki kesana ayah?" kata Mekar Suri berusaha menenangkan kegelisahan sang ayah.


"Tidak anakku, belum waktunya Kau ikut campur urusan Iblis Perak, kita tunggu hasil yang didapat anak buah kita," jawab Iblis Kelabang Hijau lagi.


"Baiklah Ayah," kata Mekar Suri mengikuti kemauan ayahnya. Gadis itu duduk disebuah kursi yang kosong disamping Iblis Kelabang Hijau sambil meletakkan sepasang pedang yang terselib di balik punggungnya.


"Apa yang sebenarnya terjadi? Menghadapi dua pendekar muda saja mereka sampai belum kembali?" Iblis Kelabang Hijau seperti berbicara pada dirinya sendiri. Iblis Kelabang Hijau mengambil gelas araknya, dan meminumnya seteguk.


"Apa mereka begitu hebat ayahanda?" tanya Mekar Suri menatap kearah ayahnya.


"Mereka mempunyai kekuatan yang sulit di ukur tuan Putri," jawab salah seorang Iblis Perak. Iblis Kelabang Hijau tampak diam namun hatinya begitu gusar.


"Siapa dua Pendekar itu Paman?" tanya Mekar Suri lagi.


"Yang wanita memakai kipas elang perak. Kami curiga dia murid Bidadari Galak dari barat. Yang laki-laki juga sangat sakti, kami tidak bisa membaca seberapa tinggi tenaga dalam yang dia miliki. Tampaknya dia memiliki ilmu yang disebut 'Ilmu Penutup Bathin, tuan Putri," jawab Iblis Perak itu.


"Kita tunggu sampai pagi, Jika belum juga ada berita, aku yang akan turun tangan sendiri," kata Kelabang Ungu. Iblis Kelabang Hijau hanya diam mendengar kemauan sang putrinya itu. Sudah hampir pagi tiga orang anak buah mereka yang pergi menyelidiki kabar enam Iblis Perak yang menghilang baru kembali.


"Lapor Ketua, kami mengendap masuk ke desa Mekar Ramai. Namun kami tidak menemukan enam ketua perak. Tapi kami menemukan tempat bekas terjadi pertarungan dan enam makam baru dipinggir hutan," lapor salah seorang dari ninja bertopeng putih itu.

__ADS_1


"Apa! Apa kalian tidak salah lihat?" tanya Iblis Kelabang Hijau meyakinkan anak buahnya.


"Tidak Ketua, Kami tidak salah lihat. Makam itu berjumlah enam di sana tertancap pedang dan tongkat hitam dua ketua perak," jawab orang bertopeng putih itu meyakinkan.


Bangsat! Jadi benar yang sedang kita hadapi Pendekar Naga Sakti dan Bidadari Pencabut Nyawa dari barat?" tanya Mekar Suri sambil menggenggamkan tangannya erat pertanda menahan kemarahan.


"Melihat ciri-ciri dan senjata yang mereka gunakan, benar tuan Putri," jawab salah seorang Iblis Perak.


"Ayah. Izinkan aku yang akan mengurus mereka dan membalas kematian enam anggota Iblis Perak," ujar Kelabang Ungu penuh dendam.


"Kalau Kau ingin membalas kematian paman-pamanmu, Kau harus memanggil pamannmu, Moksa Geni dipertapaannya. Tampaknya musuh kita kali ini bukan pendekar seperti biasanya," kata Iblis Kelabang Hijau.


"Baik Ayah," jawab Mekar Suri sambil bangkit dari duduknya.


Goa Kelabang Merah, di tengah lembah Kelabang beracun. Suasana sepi menyelimuti hutan angker itu. Kelebat bayangan ungu dan beberapa bayangan berwarna perak tiba-tiba melesat ditengah hutan.


Tampak Mekar Suri berkelebat paling depan diikuti enam orang anggota Iblis Perak yang mengawalnya. Tidak butuh waktu lama Kelabang Ungu telah menjejak kaki didepan sebuah goa yang tampak bagai tidak berpenghuni itu.


"Ada apa Mekar? Kenapa Kau memanggil paman?" jawab suara dari dalam goa. Tidak lama tampak bayangan merah melesat dari dalam goa. Sorang bertampang seram dengan wajah penuh brewokan langsung berdiri di depan Mekar Suri.


"Salam Paman, maaf ananda mengganggu pertapaan Paman," ucap Mekar Suri sambil menunduk di depan Moksa Geni.


"Hahaha...! Tidak apa-apa Mekar, ada perlu apa Kau jauh-jauh datang kesini?" tanya Moksa Geni sambil menepuk pelan bahu Mekar Suri.


"Saya diminta ayahanda menemui dan meminta bantuan Paman, karena enam dari delapan belas Iblis Perak telah tewas ditangan dua pendekar dari barat," jawab Kelabang Ungu menjelaskan tujuannya.


"Siapa para pendekar itu, bukankah Kelompok Iblis Perak kepercayaan ayahmu sudah dibekali Ajian Tirai Perak?" tanya Iblis Kelabang Merah. Iblis Kelabang Merah adalah adik kandung Kelabang Hijau yang sama-sama menjadi tokoh hitam yang cukup lama mendiami hutan Kelabang Beracun ini.


"Menurut paman-paman Iblis Perak mereka adalah Pendekar Naga Sakti dan Bidadari Pencabut Nyawa Paman," jawab Mekar Suri.

__ADS_1


"Pendekar Naga Sakti? Bukankah lesmana sudah lama tidak ikut campur urusan dunia persilatan?" kata Roksa Geni, keningnya tampak agak berkerut.


"Apa Paman kenal Pendekar Naga Sakti itu?" tanya Mekar Suri tampak penasaran.


"Pendekar Naga Sakti yang ku kenal sudah cukup tua sekarang, mungkin dia sudah berumur lebih dari lima puluh tahunan lebih sekarang," jawab Kelabang Merah lagi.


"Jadi, apa Kau mengajak paman menghadapi Pendekar Naga Sakti itu?" tanya Roksa Geni.


"Sebenarnya saya tidak ingin mengganggu pertapaan Paman. Tapi ayah menyuruh saya untuk meminta bantuan Paman menghadapi dua pendekar itu," jelas Mekar Suri lagi.


"Jika memang itu memang Pendekar Naga Sakti, wajar kalau ayahmu meminta Kau menemui paman, karna pendekar dari barat itu pernah menjadi pendekar yang sulit dicari tandingannya. Di tambah lagi dengan pusaka mustika naga itu," terang Roksa Geni.


"Baiklah Paman, apa kita bisa berangkat sekarang?


"Kau sudah tidak sabaran keponakanku, paman pun sudah lama tidak bertarung, mungkin ini saatnya jadi pembantai lagi," kata Kelabang Merah. Setelah berkata dalam sekali gerakan tokoh hitam itu telah melesat begitu cepat diikuti Kelabang Ungu dan enam Iblis Perak dari belakang.


*


*


Sementara itu di Desa Mekar Ramai tampak di sebuah rumah yang cukup besar, tampak Pendekar Naga Sakti dan Bidadari Pencabut Nyawa bersama kakek Wiratama tengah menikmati makanan dan minuman yang di suguhkan orang-orang Desa. Suasana itu tampak begitu tenang.


Orang-orang desa tampak mulai memberanikan diri bergabung dirumah sesepuh mereka itu. Walau masih ada ketakutan di hati mereka.


Tidak terasa hari telah beranjak menuju sore. Matahari mulai condong kearah barat. Suasana tenang itu tampak mulai dinikmati oleh para penduduk.


Suasana tenang itu tampaknya tidak berlangsung lama. Sekelebat bayangan bergerak cepat melompat pepohonan. Merela adalah rombongan Kelabang Merah dan Kelabang Ungu bersama enam Iblis Perak. Namun para penduduk belum menyadari adanya bahaya yang mendekat.


.

__ADS_1


.


Bersambung...


__ADS_2