
Ketiga Pendekar Mesum hanya tertawa terkekeh menghadapi serangan murid-murid Perguruan Mawar Putih itu. Begitu mereka bertiga mulai serius satu persatu para gadis itu terkena totokan.
"Hiyaaa...!" Seruni melompat dengan tebasan kelewang di tangannya, setiap sabetan dan tebasan gadis itu mengeluarkan hawa panas yang cukup menyengat kulit. Seruni cukup lumayan tenaga dalamnya, sehingga Ujang cukup kewalahan menghadapi serangan Seruni dan Nila Sari.
"Kampret! Aku malah berhadapan dengan yang mempunyai ilmu tenaga dalam cukup tinggi," rutuk Ujang sambil melentingkan tubuhnya ke udara menghindari sabetan klewang di tangan Seruni. Di tambah lagi Nila Sari yang memakai senjata trisula itu. Trisula di tangan Nila Sari terus mencerca ke arah titik mematikan di tubuh Ujang.
"Heaaa...!" jerit melengking keluar Ujang, maka seketika tubuhnya berputar di udara sambil mengibaskan klewang di tangan kanannya. Pemuda berbaju kuning itu telah menghunus klewang dari balik punggungnya. Namun ia baru memakai satu klewang, sedangkan Ujang mempunyai dua klewang di balik punggungnya.
Trang!
Seruni cepat melintangkan klewangnya menangkis serangan Ujang itu, tapi sebuah tendangan cukup keras mendarat di bahu gadis itu.
Buk!
"Akhh..!" Seruni terhuyung ke sebelah kiri, gadis itu tampak memegangi bahunya yang terkena tendangan pemuda yang memiliki sepasang klewang hembrug itu. Di saat Ujang hendak meneruskan serangannya, Nila Sari cepat menghalangi dengan mengibaskan trisula di tangannya ke arah wajah Ujang.
"Heh...!" Ujang agak terkejut, buru-buru pemuda itu menarik wajah dan tubuhnya ke belakang sekitar dua tindak. Ujang bergerak cepat setelah menapak kaki ke tanah pemuda itu langsung melesat, kali ini Seruni yang terkejut. Gadis itu berusaha mengayunkan trisulanya ke arah Ujang, tapi dengan begitu cepat Ujang telah menangkap senjata gadis itu.
Tek! Tek!
Dua kali totokan mendarat di bagian leher belakang Seruni. Gadis itu langsung terkulai lemah, sebelum tubuhnya jatuh ke tanah. Ujang sudah lebih dulu menyambut.
"Ayo! Kuyung, Mang, aku sudah dapat!" teriak Ujang sambil melesat ke arah hutan. Pemuda itu langsung melompati pagar yang mengelilingi Perguruan Mawar Putih itu. Namun ketika ia sampai di luar pagar. Rupanya Dewi Selendang Kuning telah menunggu di sana.
"Kau tidak akan ku biarkan membawa adik seperguruanku, selagi aku masih hidup!" terdengar datar namun dingin nada suara gadis berbaju hijau dengan selendang kuning tersampir di bahunya itu.
"He he he...! Kau tidak usah cemas gadis cantik, giliranmu nanti juga akan tiba, he he he...!" tawa Ujang terkekeh, ia langsung menurunkan tubuh Seruni yang tidak sadarkan diri itu dan menyandarkannya pada sebatang pohon.
"Hiyaaa...!"
Dewi Selendang Kuning langsung melompat dengan cepat ke arah Ujang. Serangan pertama gadis cantik itu langsung di sambut oleh pemuda mesum itu dengan tawa terkekeh.
Dewi Selendang Kuning langsung mengeluarkan jurus-jurus tingkat tinggi di tambah tenaga dalam gadis itu yang sudah cukup mumpuni. Dalam sepuluh jurus awal pertarungan Ujang langsung terdesak, jurus 'Cakar Phoenix'. nya berhasil mendesak pemuda berbaju kuning itu.
Sret!
"Akhh..!" lenguhan tertahan keluar dari mulut Ujang. Pemuda itu terhuyung mundur beberapa tindak ke belakang sambil memegangi bahunya yang terkena sambaran jemari Dewi Selendang Kuning itu.
__ADS_1
"Kurang ajar! Rupanya ilmu mu boleh juga Dewi Selendang Kuning. Aku terlalu meremehkan," dengus Ujang, pemuda itu langsung menghunus klewang dari balik punggungnya.
Set! Set!
Ujang memainkan jurus-jurus klewang dengan cukup cepat. Dewi Selendang Kuning langsung memakai selendang kuning di bahunya, dengan begitu hebatnya gadis itu merubah selendang itu menjadi sebuah tongkat berwarna kuning.
Wuk! Wuk!
Wuk! Wung!
Dewi Selendang Kuning memainkan tongkatnya dengan cukup cepat, gadis itu memutar tongkat dari selendangnya membentuk baling-baling. Seketika itu tongkat itu hilang yang terlihat hanya sebuah putaran benda berwarna kuning membentuk bulatan seperti sebuah tameng.
"Hiyaaa...!"
Trang!
Trang!
Berkali-kali tongkat kuning di tangan Dewi Selendang Kuning itu berbenturan dengan klewang di tangan Ujang, kedua orang itu berusaha saling mendesak satu sama lainnya. Beberapa saat kemudian Ujang kembali terdesak, pemuda itu beberapa kali harus pontang panting menghindar sambaran tongkat gadis cantik berbaju hijau itu.
"Ayo gadis manis, aku akan melayanimu," kata Ujang sambil memutar-mutar dua klewang hembrug di kedua tangannya. Pemuda itu langsung memamerkan kebolehannya memainkan sepasang klewang di depan Dewi Selendang Kuning.
"Terima ini, gadis manis! Yeaaah...!" Bentak Ujang sambil melompat maju, klewang di tangan kirinya membabat lurus ke arah dada Dewi Selendang Kuning. Cepat dan teratur gadis cantik berwajah manis itu melintangkan tongkat dari selendangnya menangkis serangan klewang Ujang itu.
Trang!
Benturan kembali terjadi, Ujang dengan cepat menikamkan klewang di tangan kanannya ke arah perut Dewi Selendang Kuning. Dewi Selendang Kuning cepat menegoskan tubuhnya ke samping seraya memberikan sebuah tendangan cukup cepat ke arah perut Ujang.
"Heh!" Ujang kaget bukan kepalang, ia berusaha menarik tubuhnya ke samping. Namun terlambat tendangan Dewi Selendang Kuning telah mendarat di perut bagian atas pusarnya.
Buk!
"Aagh..!"
Jerit kesakitan terdengar dari mulut Ujang sebelum tubuhnya terpental ke belakang sekitar dua tombak. Di saat Dewi Selendang Kuning hendak memburu ke arah Ujang, sebuah bayangan hitam tiba-tiba melesat dari samping dengan begitu cepat. Sehingga pendekar wanita itu tidak sempat menghindar.
Buak!
__ADS_1
"Akhh..!"
Lenguhan tertahan keluar dari mulut Dewi Selendang Kuning, di iringi tubuhnya terpental ke samping dan jatuh bergulingan. Dewi Selendang Kuning cepat melompat bangun, tapi ia jatuh berlutut dengan darah mengucur dari sela-sela bibir indahnya. Gadis itu mengalami luka dalam yang cukup parah karena tendangan pembokongnya mengandung tenaga dalam tinggi.
"Kau tidak apa-apa? Jang?" tanya sosok yang menyerang Dewi Selendang Kuning kuning itu. Ternyata penyerang itu adalah laki-laki hampir setengah baya yang di panggil Kuyung tersebut.
"Aku tidak apa-apa, Kuyung. Gadis itu cukup tinggi ilmunya, apalagi jurus-jurus tongkat dari selendangnya itu," kata Ujang seraya bangkit berdiri di samping laki-laki yang ia panggil Kuyung itu.
"Tidak percuma gelarnya Dewi Selendang Kuning," tajam tatapan laki-laki berbaju hitam itu. Wajahnya walau sudah agak tua, namun masih membiaskan bekas ketampanan masa mudanya. Laki-laki ini adalah pendekar yang dulunya bergelar Pendekar Tampan Pemetik Bunga.
"Huh...! Dasar pengecut, beraninya menyerang dari belakang," dengus Dewi Selendang Kuning sambil berusaha berdiri tegak dengan bantuan tongkat kuning dari selendang itu.
"Istirahatlah dulu, Kenanga!"
Tiba-tiba sebuah suara menggema di tempat itu. Kuyung dan Ujang mengalihkan pandangan berusaha mencari asal suara itu.
.
.
Bersambung...
Jangan lupa dukung novel ini ya teman-teman.
Rate
Hadiah
Like
Koment
Favorit
Dan Votenya teman-teman.
Terima kasih banyak.
__ADS_1