Pendekar Naga Sakti

Pendekar Naga Sakti
Sepak Terjang Tiga Pendekar Mesum. Amarah Dewi Selendang Kuning


__ADS_3

Setiap gerakan lesatan telapak tangan gadis cantik berbaju serba biru itu mengenai tubuh lawannya. Setiap itu pula anak buah Beruang Merah itu terpental ke tanah dan tidak mampu bangun lagi. Jangankan untuk bangun berdiri saja sudah tidak mampu lagi, kebanyakan mereka langsung tewas seketika.


Kenanga tampak termenung memandang ke arah musuh-musuhnya yang sedang jadi bulan-bulanan kedua pendekar dari barat itu.


"Hmm... Kau akan dapat pelajaran hari ini Beruang Merah," desis Kenanga dalam hati. Gadis itu yakin ia akan dapat menyelamatkan ketiga saudara seperguruannya melihat kedikjayaan Anggala dan Wulan Ayu yang bagaikan singa kelaparan masuk ke kandang domba.


Kenanga cukup terkejut ketika Beruang Merah itu tiba-tiba melompat ke depannya. Kenanga sampai tersurut mundur dua tindak.


"Kau orang Perguruan Mawar Putih itu, bukan?" begitu datar nada suara Beruang Merah, tapi terdengar dingin mematikan.


"Ya, aku yang membawa mereka. Kau akan kena batunya hari ini, Beruang Merah!" jawab Kenanga sengit. Gadis cantik itu segera membuka kuda-kudanya. Mempersiapkan diri menghadapi laki-laki berpenampilan seram dengan baju rompi merah itu.


"Sebelum itu terjadi kau harus mati lebih dulu," dengus Beruang Merah menatap tajam ke arah Kenanga.


"Jadi bersiaplah...! Heaaa...!"


Kepala Penyamun Beruang Merah yang bertubuh besar hitam berotot itu melompat ke arah Kenanga dengan kepalan tinju, mengayun cepat mencerca ke arah kepala gadis cantik dari Perguruan Mawar Putih itu.


"Hiyaaa...!"


Kenanga tidak tinggal diam, walau tadi ia sempat kehilangan mental keberaniannya. Namun gelar Dewi Selendang Kuning yang ia sandang bukanlah suatu gelar yang di dapat begitu saja. Sebagai murid tertua dan orang kepercayaan gurunya, Dewi Selendang Kuning tidak mau kalah.


Dengan menarik selendang yang tersampir di bahunya, Kenanga meladeni setiap serangan Beruang Merah itu.


Ayunan tinju laki-laki berbaju rompi merah itu dapat Kenanga hindari sambil sesekali menangkis dan memberikan serangan balik.


"Hup!" Kenanga melompat dan bersalto sekali ke belakang, membuat jarak dari Beruang Merah itu. Dewi Selendang Kuning langsung menggunakan ilmu andalannya yaitu ilmu tongkat selendang kuning.


Wu! Wu! Wu!


Kenanga memutar cepat tongkat dari selendang kuning itu, saking cepatnya putaran tongkat itu sehingga membentuk seperti baling-baling yang membentuk tameng di sekitar tubuhnya. Hawa panas cukup terasa menyengat kulit karena aliran tenaga dalam yang di gunakan Kenanga pada tongkatnya.


"Hiyaaa...!"


Kenanga kali ini memberikan serangan. Ayunan dan kibasan tongkat itu begitu cepat mencerca. Beruang Merah terpaksa menghindar sambil bergerak mundur, ia sudah mencoba menangkis serangan tongkat gadis itu, tapi tangannya bagai di hantam potongan besi baja yang begitu keras.


Walau tubuh Beruang Merah itu besar dan berotot, tapi belum sanggup menahan pukulan tongkat selendang kuning di tangan Dewi Selendang Kuning itu.


Beruang Merah terpaksa bergerak mundur secara terus menerus.


"Hup!"


Beruang Merah melentingkan tubuhnya ke belakang sebuah dua tombak, setelah dapat peluang pimpinan Penyamun Beruang Merah itu menghunus golok besar dengan gagang merah dari pinggangnya. Beruang Merah itu langsung memamerkan kepiawaiannya, memainkan golok besar itu.


Ayunan golok yang cukup cepat di sekitar tubuh Beruang Merah itu membuat aura panas menyebar di sekitar tempat Beruang Merah itu berdiri.

__ADS_1


"Heaaa...!"


Beruang Merah itu melompat sambil menyabetkan golok besarnya ke depan dengan begitu cepat. Kenanga pun tidak tinggal diam dengan cukup cepat gadis itu menangkis serangan golok besar Beruang Merah itu dengan tongkat selendang kuningnya.


Trang! Trang!


"Heaaa...!"


Beruang Merah berusaha mempercepat serangan goloknya. Suara golok itu menderu memecah udara, tapi Kenanga begitu gesit dan lincahnya melayani setiap serangan golok Beruang Merah yang mencerca titik lemah di tubuhnya.


Malah dengan begitu sigap Kenanga berhasil memberikan perlawanan dan mendasak laki-laki berbaju rompi merah itu. Sebuah tendangan cepat di susulkan Kenanga ke arah perut Beruang Merah itu setelah menangkis sabetan golok yang mengarah ke bagian pinggangnya.


"Heh!"


Beruang Merah tersentak kaget, ia berusaha menarik tubuhnya ke samping. Namun sudah terlambat tendangan kaki kanan Kenanga itu telah tepat menghantam perut bagian kirinya secara telak.


Buak!


"Aagkh..!"


Beruang Merah melenguh tertahan sebelum tubuhnya terjajar mundur sekitar satu tombak ke belakang. Belum sempat Beruang Merah mengambil napas, Kenanga kembali melesat dengan mengayunkan tongkat selendang kuningnya ke arah kepala Beruang Merah dengan begitu keras.


Trang!


Beruang Merah meringis menahan getaran dan nyeri di telapak tangan kanannya, karena hantaman tongkat di tangan kenanga begitu kuat dan keras.


Belum lagi sempat mengerahkan tenaga dalam dan menstabilkan kuda-kudanya. Beruang Merah kembali di kagetkan serangan tongkat selendang kuning Kenanga datang bertubi-tubi.


Buak! Buak! Buak!


"Aagkh..!


Beruang Merah hanya bisa terjerit menahan sakit ketika tubuhnya berulang kali terhantam tongkat Kenanga itu. Tubuh Beruang Merah yang begitu besar itu terombang ambing di tengah. Ketika tubuhnya hendak rebah ke kiri tongkat itu datang dari arah kiri, begitu pula sebaliknya.


Sampai Kenanga menghantamkan ujung tongkatnya ke arah dada Beruang Merah itu. Barulah laki-laki bertubuh besar dengan baju rompi merah itu terpental jauh ke belakang.


Buk!


"Aaaa......!!"


Hanya raungan kesakitan terdengar menyayat hati yang keluar dari mulut Beruang Merah itu, di susul tubuhnya mencelat ke belakang sekitar lima tombak jauhnya.


Bruk!


"Hu.. Huakh...!"

__ADS_1


Beruang Merah tampak menggadaikan tangannya ke arah depan. Darah segar berbuih menyembur dari mulutnya, setelah berkelonjotan di tanah beberapa saat, Beruang Merah pun tewas dengan mata melotot.


Begitu pun dengan dua puluh orang anak buahnya tampak bergelimpangan di tanah. Lebih dari separuh anggota Penyamun Beruang Merah itu tewas menggenaskan.


Beberapa orang laki-laki berbaju merah yang baru datang, langsung tertegun melihat ke arah teman-temannya yang sudah berserakan di tanah. Mereka mengedarkan pandanga, pandangan mereka terhenti pada mayat Beruang Merah yang terbujur dengan mata melotot ke arah langit.


"Heh.. Heh..! Ayo siapa lagi yang ingin menyusul mereka!" ujar Kenanga sambil mengusap keringat yang mengalir di wajahnya. Gadis itu melangkah maju walau napasnya masih memburu turun naik.


"Kenanga, tenangkan dirimu, sobat," kata Wulan Ayu dari samping Kenanga.


"Maaf, Wulan. Aku terlalu emosi pada Beruang Merah itu," jawab Kenanga berusaha menenangkan dirinya. Baru kali ini gadis itu mengamuk dengan segenap kekuatannya.


"Ayo, kita cari adik-adik seperguruanku," kata Kenanga sebelum melesat ke arah bangunan besar di depan mereka.


Brak!


Kenanga langsung melompat menerjang sebuah pintu depan yang cukup besar. Pintu itu langsung hancur berkeping-keping. Tanpa menunggu Pendekar Naga Sakti dan Bidadari Pencabut Nyawa lagi, Dewi Selendang Kuning itu langsung merangsek masuk ke dalam rumah besar itu.


"Seruni....!! Nila Sari... Di mana kalian....?!"


.


.


.


.


Bersambung...


Jangan lupa dukung novel ini ya teman-teman.


Rate


Hadiah


Like


Koment


Favorit


Dan Votenya teman-teman.


Terima kasih banyak.

__ADS_1


__ADS_2