Pendekar Naga Sakti

Pendekar Naga Sakti
Sepak Terjang Tiga Pendekar Mesum, Ronggo Tewas


__ADS_3

"Kau.... Kau mencurangiku.....! Huakh....! Ahkh..!"


Ronggo seakan menggapai kedepan, tangan kirinya memegangi lehernya yang tertembus jarum senjata rahasia dari kipas elang perak.


"Apa manusia seperti kau, pantas di buat adil, manusia laknat!" jawab Wulan Ayu sengit.


"Agkh...!"


Ronggo jatuh ke tanah dalam keadaan tertelungkup. Anggota Empat Iblis Sekawan itu tewas dengan darah mengalir dari lehernya. Darah membasahi tanah di sekitar kepalanya.


Wut! Wut!


"Heaaa...!"


Arga Kirana berjumpalitan di udara di buru Seruni dan Nila Sari, kedua gadis itu menyerang Arga Kirana dengan berkaloborasi, sehingga anggota Empat Iblis Sekawan itu hampir tidak punya celah untuk menyerang balik.


"Bangsat! Gadis-gadis ini begitu kompak, Perguruan Mawar Putih rupanya sudah mempunyai murid-murid yang cukup tangguh!" desis Arga Kirana dalam hati sambil terus bergerak mundur dan berusaha menjauh.


Sring!


"Hup!"


Bet!


Trang!


Bunga api memercik di sekitar mata kedua pedang yang beradu keras, Arga Kirana cepat memainkan jurus-jurus pedang tingkat tinggi. Mata pedang Arga Kirana berkelebat begitu cepat bagai puluhan pedang yang berputar menyabet dan menebas ke arah Nila Sari dan Seruni.


Beberapa jurus berlalu, Nila Sari dan Seruni mulai tampak kewalahan menghadapi serangan pedang di tangan Arga Kirana itu.


Trang! Trang!


Buak!


"Agkh..!"


Seruni melenguh tertahan, gadis cantik itu memang berhasil menangkis serangan pedang Arga Kirana, namun tendangan laki-laki bertubuh kekar itu tidak berhasil ia hindari. Tak ayal lagi tubuh gadis itu harus terpental sekitar dua tombak ke tanah.


"Huakh..!"


Seruni mencoba melompat bangun, namun darah segar menyembur dari mulutnya.


"Seruni...!"


Nila Sari memekik melihat saudara sepergurunanya itu memuntahkan darah hitam kemerahan. Nila Sari tampak mengendur, namun Arga Kirana cepat menyabetkan pedangnya ke arah bahu gadis itu.


Set!


Srass!


"Agkh..!"


Nila Sari terhuyung sambil memegangi bahu kanannya yang terluka cukup parah. Seruni cepat menotok di sekitar lukanya untuk menghentikan aliran darah yang mengalir.


"Heaaa...!"


Arga Kirana tampaknya berniat menghabisi nyawa Nila Sari, secepat kilat ia melesat sambil menikamkan pedangnya ke arah Nila Sari.


Trang!

__ADS_1


Bet!


"Heh!"


Di saat yang genting, begitu ujung pedang Arga Kirana hampir mengenai dada Nila Sari, sebuah bayangan biru tiba-tiba melesat menapaki dan langsung mengibaskan kipas ke arah Arga Kirana.


"Bangsat! Kau masih hidup gadis cantik, apa yang terjadi dengan Ronggo? Hah!" bentak Arga Kirana sambil menjejak tanah setelah melenting menghindari kibasan kipas elang perak.


"Aku sudah mengirimnya ke akhirat!" jawab Wulan Ayu sengit.


"Hmm...! Kau kira Ronggo anak kemarin sore yang bisa di bunuh gadis bau kencur sepertimu!" balas Arga Kirana.


"Coba lihat kebelakangmu, kisanak!"


Arga Kirana memalingkan mukanya ke arah belakang, mata laki-laki itu terbelalak melihat Ronggo sudah tersungkur sekitar sepuluh tombak di belakangnya.


"Kurang ajar! Kau harus membayar dengan nyawamu!" murka Arga Kirana dengan wajah merah menahan amarah.


"Kau pun akan segera menyusul, kisanak!" terdengar datar suara Bidadari Pencabut Nyawa sambil membentangkan kipas elang perak di depan dadanya.


"Rupanya kau, Bidadari Pencabut Nyawa dari barat itu," datar suara Arga Kirana, namun mengandung kebengesin dan dendam yang membara.


"Heaaa....! Mati Kau...!"


Setelah membentak Arga Kirana melesat bagai kilat sambil mengayunkan pedangnya dengan begitu cepat dan bertenaga dalam tinggi.


Trang!


Wulan Ayu hanya tersenyum tipis sambil menangkis serangan pedang Arga Kirana dengan membentang daun kipas elang perak di depan tubuhnya.


"Hup!"


"Jurus Pedang Seribu Bayangan! Heaaa....!"


Setelah berteriak nyaring Arga Kirana melesat ke depan dengan pedang teracung ke depan, di depan tubuhnya tampak puluhan pedang bergerak begitu cepat mengelilingi.


Trang! Trang!


Trang!


Sebuah sambaran mata pedang Arga Kirana berhasil menyambar ke arah bahu kanan Wulan Ayu, namun laki-laki bertubuh kekar itu tersentak kaget melihat pedanya bagai mengenai potongan besi.


"Hiyaaa...!"


Wulan Ayu memanfaatkan keterkejutan Arga Kirana. Bidadari Pencabut Nyawa menyibaskan ujung kipas elang perak ke arah bahu kanan Arga Kirana.


Sret!


"Ukgh....!"


Arga Kirana terkejut dan cepat melompat menjauh, tampak bahu kanannya mengalir darah segar dengan luka menganga terkena sambaran pisau kecil runcing di ujung daun kipas elang perak.


Arga Kirana cepat menotok jalan darah di bahunya untuk menghentikan aliran darah yang mengalir, ia cepat mengalirkan hawa murni ke arah lukanya. Tidak lama kemudian tampak lukanya perlahan menutup.


"Aku harus memakai pukulan 'Tapak Iblis Merah'. Ilmu gadis ini tidak bisa di buat main-main," desis Arga Kirana dalam hati.


"Hup!"


Arga Kirana meningkatkan tenaga dalamnya, kedua telapak tangannya di rapatkan di depan dada. Tidak lama kemudian cahaya merah menyala menyelubungi kedua telapak tangannya yang masih bersatu di depan dada.

__ADS_1


"Heaaa...!"


Arga Kirana perlahan membuka kedua telapak tangannya, dan menggeser ke samping dadanya. Cahaya merah itu mulai membentuk sepasang telapak tangan besar berwarna merah.


"Hmm...! Tampaknya manusia ini mengajak adu kesaktian, baiklah akan ku hadapi pukulan itu dengan ilmu 'Tapak Dewa tingkat tiga," bisik Wulan Ayu dalam hati, setelah itu gadis cantik murid dua Pendekar Pemarah itu merapatkan telapak tangan di depan dada.


Cahaya putih berkilau mulai menyelubungi tubuhnya, sebuah bayangan besar berwarna putih mulai membentuk seseorang yang duduk bertapa dengan telapak tangan kanan di depan dada.


"Tapak Dewa!"


Arga Kirana terkejut bukan main, namun ia sudah terlambat, mengadu nyawa adalah jalan terakhir.


"Heaaa...!"


Swoss...! Swoss...!


Dua larik sinar merah menderu deras ke arah Wulan Ayu yang di selubungi cahaya putih berkilauan, begitu cahaya putih itu mendekat, Bidadari Pencabut Nyawa menyorongkan telapak tangannya ke depan.


Wuss!


Booommm......!!!


Ledakan dahsyat menggema dan mengguncang tempat itu, burung-burung dan hewan hutan yang berada di dekat tempat itu terbang dan berlari menjauh.


Debu dan tanah mengepul ke udara, pandangan mata kini terhalang oleh tanah dan debu yang beterbangan.


"Aaaa....!"


Arga Kirana terpental jauh entah beberapa tombak, tubuhnya berhenti di sebatang pohon besar dan jatuh bergulingan.


"Huakh....!"


Arga Kirana masih berusaha bangun dengan wajah pucat pasi, darah segar mengalir dari sela bibir dan lobang hidungnya. Arga Kirana tampak jatuh berlutut, namun ia masih sanggup bertahan karena memiliki tenaga dalam yang tinggi.


"Bagaimana kisanak? Kita lanjutkan?


"Apa....??!"


.


.


.


Bersambung....


Jangan lupa dukung novel ini ya teman-teman.


Rate


Hadiah


Like


Koment


Dan Votenya teman-teman.


Terima kasih banyak.

__ADS_1


__ADS_2