Pendekar Naga Sakti

Pendekar Naga Sakti
Dendam membara


__ADS_3

"Selamat datang Nyi Guru, Tuan muda!" Ucap murid senior itu memberi hormat, di ikuti oleh adik-adik seperguruannya.


.


Kedua pendekar anak beranak itu hanya mengangguk, begitu melewati gerbang itu. Mereka berdua lansung berkelebat cepat ke daintulam aula di depan mereka.


Melihat Nyi Saweti dan putranya Sarmada datang, Kindar Saka dan Damar Suta lansung menemui bibinya itu, "Salam bibi Saweti, Sarmada! Apa kabarmu?" selesai menyapa Nyi Saweti Kindar Saka lansung memeluk Sarmada, dan menanyai nya.


"Saya baik-baik saja Kanda Pedang Terbang!" Jawab Sarmada ia pun lansung memeluk Damar Suta.


"Kanda Pedang Maut, Apa kabar?" sapa Sarmada pada kakak sepupunya itu.


"Kanda baik-baik saja," Jawab si Pedang Maut itu.


Nyi Saweti lansung menghampiri mayat Kala Ireng itu. Air mata nya mengalir di pipi tuanya itu, Sarmada pun tampak tertunduk di depan mayat Kala Ireng itu.


"Siapa yang melakukan ini, ayah?" tanya Si Kapak Iblis dengan wajah memerah menahan amarah.


"Wak mu melawan Pendekar Naga Sakti," Jawab Kala Pati, "Aku pun hampir tewas di tangan pendekar muda itu!"


"Di mana Pendekar Naga Sakti itu? Aku akan membalaskan kematian Wak Kala Ireng!" geram Si Kapak Iblis. Giginya gemeletuk menahan kemarahannya.


"Tidak anakku, belum saatnya, kita urus pemakaman wakmu dulu, setelah habis masa berkabung nanti, barulah kita akan memburu Pendekar Naga Sakti, namun Kalian tidak boleh gegabah, pendekar muda itu punya kesaktian yang tidak terduga," ujar Kala Abang menasehati anak-anak dan keponakannya itu.


"Baik Ayah! Pendekar Naga Sakti tunggulah kedatangan kami, aku bersumpah pada jenazah paman Kala Ireng, aku akan mengejar Pendekar Naga Sakti itu, walau ke ujung dunia sekali pun!"


Setelah pemakaman jenazah Kala Ireng, Perguruan Belati Terbang, mengadakan masa berkabung selama tujuh hari. Selama tujuh hari itu mereka memang tidak melakukan aktivitas apa pun, selain makan dan minum, para murid pun tidak ada yang berlatih.


.

__ADS_1


.


Singka cerita tujuh hari sudah semenjak kematian Kala Ireng, dan puluhan muridnyadi Desa Talang Kuda ini, Anggala dan Wulan Ayu masih tinggal di rumah Ki Sarta yang sekalian warung itu, Wulan Ayu membantu Nyi Dira dan Embun memasak untuk para tamu warung nya.


Sedangkan Manggala kalau pagi pergi ke sungai dengan Ki Sarta untuk menangkap ikan, baik untuk mereka makan sendiri dan untuk di jual sebagai lauk di warung.


Sore itu Aki Sarta di datangi warganya yang pulang dari berburu, mereka membawa daging rusa yang cukup banyak. Mereka berniat menjual daging rusa itu pada Ki Sarta.


"Ki, mau beli daging rusa tidak? Tapi kali ini lebih banyak dari biasanya Ki," tanya salah seorang pemburu itu.


"Waduh, Taha! Kalau banyak Aki bingung mau ngolahnya," Jawab Ki Sarta tampak kebingungan.


"Kita rendang, gulai dan jadikan daging salai Ki," kata Anggala datang dari belakang Ki Sarta.


"Memangnya nak Anggala mau makan daging rusa?" tanya Ki Sarta sambil tertawa, tanda iya sedang mengguyoni Pendekar Naga Sakti itu.


"He he he.. Tidak Ki, tidak suka sedikit!" Jawab Anggla dengan tertawa.


"Bayar lima puluh kepeng perunggu saja Ki!" Jawab Taha.


"Baiklah, kisanak saya bayar daging rusa Kalian itu dengan Kepeng emas ini," kata Anggala sambil memberikan sebongkah uang emas ke pada Taha si pemburu.


"Wah ini banyak sekali pendekar, kami tidak punya kembaliannya!" Taha tampak terkejut melihat uang emas yang di berikan Anggala itu.


"Tidak usah di kembalikan, itu rezeki Kalian upah jerih payah Kalian hari ini," jawab Anggala dengan tersenyum.


"Terima kasih banyak Pendekar," ucap Taha ia menunduk do depan Anggala di ikuti kedua temanya.


"Jangan terlalu sungkan Ki Taha, mungkin suatu hari saya tersesat ke sini dalam keadaan kelaparan, kalian tentu tidak akan keberatan membantu saya, ya kan?"

__ADS_1


"Pendekar hebat dan baik seperti Anggala tidak akan kesusahan kok," Jawab Taha dengan begitu yakin.


"Baiklah Pendekar, hari sudah sore kami mau permisi dulu, terima kasih banyak Pendekar!"


"Ya Ki! Sama-sama!" Jawab Anggala.


"Nak Anggala bantu aki mencuci daging rusa ini di sungai ya?" pinta Ki Sarta sambil membawa keranjang rotan untuk tempat daging rusa yang di beli Anggala tadi.


"Baik Ki, yang penting kita bakar daging rusa malam ini," kata Si Pendekar Naga Sakti sambil tertawa.


"Sini Dinda bantu juga Kak, bentar lagi matahari akan terbenam," Wulan Ayu menawarkan bantuan.


"Baiklah, lebih banyak, lebih cepat!"Jawab Anggala sambil tersenyum memandang si Bidadari Pencabut Nyawa itu.


Mereka pergi ke sungai untuk membersihkan daging rusa itu. Malamnya mereka membuat api unggun yang besar di depan warung. Mereka mengajak tamu warung untuk membakar daging rusa itu, dan makan malam bersama-sama.


.


.


Bersambung....


Jangan lupa like


Koment


Vote


Dan Favorit nya ya.

__ADS_1


Terima kasih banyak..


__ADS_2