
"Hei Bajingan....! Keluarlah... Tampakkan wujudmu.....!"
Teriak Wulan Ayu dengan pengerahan tenaga dalam tinggi.
"Ha ha ha....! Kami di sini anak muda..!"
"Siapa kalian?" bentak Bidadari Pencabut Nyawa.
"Kami adalah sepasang Topeng Hitam,"
"Sepasang Topeng Hitam?!!"
Kenanga tampak tersentak kaget begitu kedua orang yang memakai topeng hitam itu menyebutkan gelar mereka.
"Siapa mereka, Kenanga? Kau begitu terkejut mendengar gelar mereka?" tanya Wulan Ayu penasaran.
Kenanga terdiam sejenak, lalu berkata, "Mereka adalah pembunuh bayaran tertua di daerah ini, mereka juga yang menyebabkan aku menjadi anak yatim piatu dan di selamatkan guru ku delapan belas tahun yang lalu," mata Dewi Selendang Kuning tampak mulai memerah menahan amarah dan dendam.
"Kau harus tetap tenang, Kenanga. Mereka tampaknya mempunyai ilmu tinggi di banding dua kelompok pembunuh bayaran sebelumnya," kata Bidadari Pencabut Nyawa.
"Ya, aku tau, aku harap kalian berdua mau membantuku menumpas pembunuh bayaran keji seperti mereka," jawab Kenanga.
"Siapa kau sebenarnya Dewi Selendang Kuning, aku sudah mendengar sepak terjang murid Perguruan Mawar Putih,"
"Apa kau ingat kejadian delapan belas tahun yang lalu di desa Batu Pualam, hah!"
"Jadi, Kau anak kepala kampung desa Batu Pualam?"
"Ya, aku putri orang yang kalian bantai, tanpa belas kasihan itu, jika guru ku tidak menyelamatkan ku dari kobaran api, aku tidak akan bertemu kalian!" bentak Kenanga penuh kemarahan.
"Ha ha ha...! Kau kira ilmu Dewi Permani mampu mengalahkan kami, anak bau kencur!"
Aku mungkin tidak mampu mengalahkan mu, tapi kedua pendekar dari barat ini yang akan melawanmu, kisanak!" jawab Wulan Ayu geram.
"Ha ha ha...! Kalian mungkin sudah mengalahkan Empat Iblis Sekawan yang besar mulut itu, tapi kalian berhadapan dengan Sepasang Topeng Hitam, anak muda!"
"Buktikan saja sampai di mana mulut besarmu, anjungan!" tantang Wulan Ayu sengit.
"Silahkan kalau kau mau mencoba," tatang balik Sepasang Topeng Hitam.
"Baiklah, terima seranganku! Hiyaaa...!"
Setelah membentak Wulan Ayu melesat dengan jurus 'Bidadari Kayangan'. Bidadari Turun Dari Surga.
"Huh!
Tap!
Salah seorang kawanan Topeng Hitam cukup terkejut dan cepat menapaki serangan Bidadari Pencabut Nyawa itu.
"Heh!"
Topeng Hitam nomor satu terpaksa terdorong sekitar satu tombak ke belakang menahan tendangan Wulan Ayu.
"Siapa sebenarnya gadis ini, tenaga dalamnya begitu tinggi. Tapi aku tidak bisa melihat seberapa besar tenaga dalam yang ia miliki, jangan-jangan dia mempunyai ilmu penutup bathin," desis Si Topeng Hitam dalam hati.
__ADS_1
"Sudra, kau tidak apa-apa?" Topeng Hitam nomor dua langsung menerjang ke arah Wulan Ayu, namun Bidadari Pencabut Nyawa itu telah menegoskan tubuhnya ke udara dengan begitu cepat.
"Aku tidak apa-apa, Lodra. Kenapa kau membantuku, gadis itu tentu akan memandang rendah kita," dengus Sudra merasa kesal.
"Aku terkejut, tanpa ku sadari aku sudah melompat menyerangnya," jawab Lodra.
"Ha ha ha...! Hanya itu kemampuan kalian, main keroyokan!" ledek Wulan Ayu sambil tersenyum tipis.
"Aku sendiri mampu mengirimmu, ke neraka gadis tengik!" bentak Sudra sambil bergerak bagai kilat memberikan serangan tangan kosong bertenaga dalam tinggi.
Tap!
Wulan Ayu menyambut pukulan Sudra itu dengan telapak tangan terbuka, tentu saja dengan pengerahan tenaga dalam tinggi.
Dess!
"Huh!"
"Ku akui kau cukup hebat gadis muda, katakan siapa kau, biar bisa ku tulis di batu nisanmu, di Lembah Ukam ini," kata Sudra terdengar datar namun tajam begitu ia menjejak tanah di depan Wulan Ayu sekitar dua tombak.
"Kau tidak akan percaya siapa aku, kisanak. Aku Bidadari Pencabut Nyawa dari barat!" jawab Wulan Ayu sengit, berapi-api.
"Kau mau menggertakku, gadis tolol. Kau kira siapa Bidadari Pencabut Nyawa itu?" jawab Sudra seakan tidak percaya, malah cenderung merasa di bodohi Wulan Ayu.
"Itu terserah padamu, kisanak. Kau bertanya aku menjawab, percaya atau tidak itu urusan mu!" jawab Wulan Ayu datar.
"Baiklah, buktikan kalau kau Bidadari Pencabut dari barat itu, heaaah...!"
Sudra kembali melompat dengan tangan kosong, sapuan tangannya yang mengandung tenaga dalam tinggi cukup terasa di kulit, namun Wulan Ayu begitu tenang menangkis serangan Sudra yang beraturan dan terencana itu.
Wulan Ayu membuka jurus 'Bidadari Kayangan'. tingkat awal, jurus dasar. Namun di padukan dengan pengerahan tenaga dalam di atas lima puluh persen.
"Hup! Terima ini kisanak!" kibasan tangan dan tendangan kaki Wulan Ayu, berturut turut dan bersusun, membuat Sudra terpaksa menangkis serangan balik Bidadari Pencabut Nyawa itu.
"Hih!"
Buak!
"Akgkh...!"
Sebuah tendangan cepat kaki kanan Wulan Ayu berhasil mengenai bagian pinggang sebelah kanan Sudra, laki-laki bertopeng hitam itu melenguh kesakitan dan terhuyung mundur.
Rupanya Wulan Ayu tidak berhenti, dengan cukup cepat ia kembali melesat dan menyerang dengan pukulan tangan kosong. Sudra terkesiap, namun ia masih sempat menapaki dengan menyilangkan kedua tangannya di depan dada.
Duak!
"Hih!
Sudra tidak menduga ketika BidadariPencabut Nyawa memutar tubuhnya bagai kilat ke samping dan kembali menyerang dengan pukulan tinju ke arah wajah Sudra yang di tutupi topeng hitam itu.
Prak!
Topeng yang menutupi wajah Sudra langsung pecah berkeping-keping, Sudra pun terpental ke samping.
"Bangsat! Kau harus membayar dengan nyawamu, karena berani merusak topeng kesayanganku!" murka Sudra dengan Wajah memerah pertanda menahan amarah.
__ADS_1
"Hup!'
Lodra bergerak merangsek ke arah Wulan Ayu dengan begitu cepat bagai kilat, namun Pendekar Naga Sakti melesat menghalangi.
"Aku lawanmu, kisanak!"
"Heh!"
Lodra terpaksa menahan gerak laju tubuhnya dan menjejak tanah di depan Anggala.
"Hmm..!" Lodra hanya menjawab dengan gumaman, setelah itu ia langsung melompat menyerang dengan jurus cakar.
Dik!
Dengan begitu sigap dan lincah Anggala menahan gerak laju tangan Lodra sambil menggeser tubuhnya ke samping, sedangkan tangan kanan Anggala melesat begitu cepat dengan kandungan tenaga dalam yang begitu tinggi.
"Dess!
"Ah..!"
Lodra berjajar ke samping begitu bahu kanannya kirinya tergantikan telapak tangan Anggala, Lodra cepat menapaki di tanah dengan pengerahan tenaga dalam.
"Bajingan!" geram Lodra sambil menatap tajam ke arah Anggala. Sedangkan Pendekar Naga Sakti hanya tersenyum tipis mendengar makian Lodra itu.
Sementara itu Sudra yang baru merasakan pukulan telapak tangan Bidadari Pencabut Nyawa yang bertenaga dalam tinggi, tampak di kening sebelah kirinya mengalami luka kecil terkena serpihan topengnya sendiri.
Sudra menghunus pedang yang terselip di pinggangnya, pedang itu memancarkan cahaya merah kehitaman pertanda mengandung racun yang mematikan.
"Kau akan merasakan pedang racun kobra putihku ini gadis ******!" geram Sudra sambil memamerkan jurus-jurus pedangnya, Sudra memutar-mitra pedangnya bagai sebuah baling-baling sehingga anginnya mengarah ke arah Bidadari Pencabut Nyawa.
Sret!
.
.
.
.
.
Bersambung....
Jangan lupa dukung novel ini ya teman-teman.
Rate
Hadiah
Like
Koment
Dan Votenya teman-teman.
__ADS_1
Terima kasih banyak.