Pendekar Naga Sakti

Pendekar Naga Sakti
Sepak terjang Tiga Pendekar Mesum, Matinya Sepasang Topeng Hitam


__ADS_3

Kita kembali ke pertarungan Pendekar Naga Sakti dengan Sepasang Topeng Hitam yaitu Lodra, setelah benturan dua pukulan kesaktian kedua pendekar itu, Lodra terpental beberapa tombak ke belakang. Pembunuh Bayaran Topeng Hitam itu jatuh bergulingan dengan wajah hitam legam, Lodra mengalami luka bakar yang begitu parah dan luka dalam yang menyebabkan organ dalam tubuhnya hancur. Lodra beberapa saat masih bergerak, namun tidak lama, tubuh pembunuh bayaran itu diam tidak berkutik lagi alias tewas.


"Mati Kau, bajingan!" geram Kenanga setelah mendarat di samping tubuh Lodra yang sudah tidak bergerak lagi.


"Ayah, ibu, dendam kematian kalian sudah terbalas," ucap Kenanga lemah, terlihat air mata menetes dari kelopak mata gadis berpakaian biru bercelana ungu muda itu.


"Kak Kenanga, kami turut berduka cita, Kak," ucap Nila Sari dan Seruni sudah berada di samping Kenanga.


"Terima kasih ya, Seruni Nila, kalian memang adik-adik terbaikku," ucap Kenanga sambil tersenyum, Kenanga mengusap air matanya dengan lengan baju kirinya.


"Kakak, kan tidak sendirian. Ada kami Kak yang selalu ada menemani, Kakak," kata Seruni sambil tersenyum, Kenanga hanya tersenyum membalas senyum kedua adik sepergurunanya itu.


Ambara Wati tampak berjalan ke arah Kenanga dan kemudian memeluk kakak sepergurunanya itu.


"Kakak, punya banyak saudara di Perguruan Mawar Putih Kak. Kakak jangan mengabaikan kami, kami adik-adik Kakak," kata Ambara Wati sambil memeluk Kenanga.


"Kakak, tau Ambar. Kakak hanya teringat kematian kedua orang tua dan seluruh keluarga kakak di bantai para bajingan itu,"


"Terima kasih banyak, Kak Anggala, Wulan Ayu. Kalian telah sudi membantu kami sejauh ini," ucap Kenanga.


"Tidak usah sungkan Kenanga, kami adalah sahabatmu, kapan pun kau perlu bantuan. Cari kami," jawab Wulan Ayu sambil tersenyum.


"Ya Kenanga, kami adalah pendekar golongan putih, jadi memang tugas kami membantu orang lain apalagi kawan satu golongan," tambah Anggala.


"Sekarang kita lanjutkan perjalanan kita, apa kalian siap?" tanya Wulan Ayu sambil tersenyum.


"Tentu saja kami siap!" jawab Kenanga dan ketiga adik sepergurunanya.


"Bagus, ayo!" kata Bidadari Pencabut Nyawa lagi.


Lembah Ukam, setelah menghadapi tiga kelompok pembunuh bayaran yang membuat mereka kerepotan dan cukup terhambat, namun kini lembah itu begitu sunyi bagai sebuah kuburan.


"Kenapa Lembah ini begitu sunyi?" Ambara Wati mengeluarkan suara.


"Ya, bulu roma ku sampai berdiri," jawab Nila Sari menambahkan.


"Hati-hati, tempat ini bagai hutan hantu saja," Wulan Ayu pun menambahi.


Beberapa langkah mereka memasuki sebuah pekarangan sebuah rumah yang cukup besar terbuat dari papan dan kayu yang begitu rapi dengan halaman yang begitu luas, di pagar dengan kayu sebesar paha orang dewasa dengan tersusun rapi.


"Heaaa...! Hiyaaa....!"


Entah dari mana puluhan orang berpakaian merah dengan pakaian ala ninja jepang berlompatan dari atas pohon dan langsung mengepung mereka.


"Hebat juga pemilik tempat ini, dia bisa membuat hawa seram bagai kuburan, sedangkan tempat ini di penuhi para cecunguk ini," kata Kenanga sambil menatap ke sekeliling, jika di hitung mungkin tidak kurang dari lima puluh orang, orang-orang berpakaian merah dengan pedang terselip di bahu yang mengepung mereka berenam.


"Sebaiknya kalian tinggalkan tempat ini, selagi bisa," kata Wulan Ayu memberi peringatan, tapi orang-orang berpakaian merah itu tidak menggubris.


Sring! Sring! Sring!

__ADS_1


Tanpa perintah, tanpa ada aba-aba, puluhan orang-orang itu langsung menghunus pedang dari balik punggung mereka.


"Yah, bertarung lagi," kata Nila Sari, gadis cantik itu pun menghunus pedang dari balik punggungnya.


Begitu pun dengan ke tiga saudara sepergurunanya, Kenanga segera menyiapkan tongkat selendang kuningnya, Ambara Wati dan Seruni juga menghunus pedang mereka.


Wulan Ayu hanya tersenyum tipis, gadis itu mengambil kipas elang perak dari balik bajunya dan menggenggam di tangan kanannya.


Sedangkan Pendekar Naga Sakti hanya diam menatap ke arah orang-orang yang tampak mengepung mereka dari segala arah.


"Hati-hati, mereka mempunyai tenaga dalam di atas tingkat empat puluh, bahkan ada beberapa orang yang lebih," kata Anggala tanpa mengalihkan pandangannya.


"Katakan pada Ujang Seta dan gurunya kami sudah datang memenuhi undangannya," kata Wulan Ayu sambil mempersiapkan diri.


"Mereka begitu banyak!" Nila Sari dan Seruni berbarengan.


"Persiapkan diri kalian," ujar Bidadari Pencabut Nyawa lagi.


"Baik, Bidadari Pencabut Nyawa," jawab Ambara Wati sambil tertawa.


"Bunuh mereka!" perintah salah seorang yang memakai ikat kepala berwarna kuning, yang lain pada memakai ikat kepala berwarna hijau muda.


"Heaaa....! Hiyaaa...!"


Mendapat perintah, orang orang berpakaian merah ala ninja itu berlompatan menyerang. Anggala dan Wulan Ayu langsung melesat menyongsong.


Pertarungan tidak seimbang pun terjadi, Anggala dengan begitu lihai dan tenang menghindari setiap sambaran pedang para pengeroyok itu, sambil sesekali memberi serangan balasan.


Beberapa orang berpakaian merah itu langsung berjatuhan ke tanah terkena serangan kipas elang perak di tangan Wulan Ayu. Pisau kecil di ujung kipas itu berhasil melukai beberapa orang yang menyerangnya.


Trang! Trang!


"Hiyaaa...!" Kenanga memutar cepat ujung tingkatnya memberi serangan balasan setelah menangkis serangan pedang musuh-musuhnya. Tiga orang para pengeroyok terpental ke tanah terkena ayunan tongkat selendang kuning Kenanga.


Buak! Buak!


"Ahkh...!"


Beberapa orang yang terhantam tendangan Anggala pun menggeliat kesakitan di tanah tanpa mampu bangun lagi.


Set! Wut! Wut!


Trang! Trang!


"Hah...!"


Para pengeroyok itu tersentak kaget, ketika pedang mereka mengenai tubuh Pendekar Naga Sakti bagai mengenai sepotong besi, jangankan membuat luka. Bahkan tangan mereka terasa kesemutan.


Buak! Buak! Buak!

__ADS_1


Beberapa orang yang terkejut melihat senjata mereka tidak melukai tubuh Pendekar Naga Sakti, hanya bisa melenguh menahan sakit sebelum tubuh mereka bermentalan ke tanah.


"Bruk! Bruk!


Agkh..!"


Orang-orang yang memakai pakaian ala ninja itu dalam waktu singkat hampir separuh bermentalan ke tanah. Kipas elang perak dan pukulan Pendekar Naga Sakti paling banyak membuat mereka terjengkang ke tanah.


Begitu pun dengan Kenanga di banding ketiga adik sepergurunanya, Kenanga turut banyak menambah korban, ayunan tongkat selendang kuningnya hampir tidak mampu di bandung orang-orang berpakaian merah itu.


"Hup!"


Anggala melesat ke depan dengan begitu cepat, tubuhnya bergerak dengan begitu lincah, perpaduan jurus 'Delapan Langkah Malaikat dan Ilmu 'Mata Malaikat'. Begitu sempurna, sehingga dengan begitu mudah Anggala menghindar dan memberi serangan balasan.


Sejauh ini Pendekar Naga Sakti belum menggunakan jurus mematikan, sehingga para pengeroyok itu hanya mengalami luka dalam yang tidak begitu parah.


"Hiyaaa...!" jeritan melengking Bidadari Pencabut Nyawa megawali tubuhnya melesat sambil menangkis serangan pedang orang-orang berpakaian merah itu, Kibasan kipas elang perak yang mengandung tenaga dalam tinggi membuat musuh yang terkena berkenalan ke tanah.


"Aaaa.....!"


Jeritan kesakitan dan lenguhan tertahan keluar dari mulut para pengeroyok itu, tidak sampai sepuluh jurus orang-orang berpakaian merah itu sudah lebih dari separuh berserakan di tanah.


Kini mereka yang belum terluka tampak ragu hendak menyerang, namun mereka masih tetap mengepung dari segala penjuru.


"Mundur kalian manusia tidak berguna!"


Bentakan membahana tiba-tiba terdengar.


.


.


.


Bersambung....


Jangan lupa dukung novel ini ya teman-teman.


Rate


Hadiah


Like


Koment


Dan Votenya teman-teman.


Terima kasih banyak.

__ADS_1


Yang paling penting tolong rating nya ya!


Sekali lagi terima kasih banyak.


__ADS_2