
Namun Pendekar Naga Sakti hanya tersenyum tipis menyungging memandang ke arah Beruang Hitam. Senyuman Anggala itu membuat hati Beruang Hitam semakin panas dan semakin meningkatkan arus tenaga dalamnya ke arah sepasang trisulanya itu.
"Kurang ajar, dia bisa menahan racunku," desis Beruang Hitam dalam hati. Lama-kelamaan Beruang Hitam pun mulai merasa kelelahan karna memakai tenaga dalam secara terus-menerus.
"Hih..!"
Beruang Hitam mengembor marah seraya melompat ke arah Anggala dengan cukup cepat sambil menikamkan trisulanya.
"Hup!
Pendekar Naga Sakti melentingkan tubuhnya ke udara menghindari serangan laki-laki bertubuh besar hitam dengan baju rompi hitam itu.
"Bangsat!"
Teriak nyaring Beruang Hitam semakin naik pitam karena serangannya hanya mengenai angin kosong, Anggala hanya tersenyum melihat Beruang Hitam mulai kehilangan kesabarannya.
Begitu Beruang Hitam hendak berbalik arah dan kembali menyerang Pendekar Naga Sakti dengan begitu cepat bergerak memberikan sebuah tendangan ke arah bahu kanan Beruang Hitam.
Buak!
"Aagkh!"
Laki-laki berperawakan tinggi besar itu mau tidak mau terpental ke samping hingga jatuh. Beruang Hitam cepat melompat bangun, wajahnya tampak agak memerah menahan amarah.
"Heaaah...!"
Wuss!
Selarik sinar merah melesat cepat dari kibasan trisula di tangan Beruang Hitam itu, tapi dengan begitu gesit Pendekar Naga Sakti menengoskan tubuhnya ke udara dan berjumpalitan dua kali di udara dan mendarat sekitar satu tombak di depan Beruang Hitam itu.
.
.
***********
Sementara itu nun jauh dari Perguruan Mawar Putih, di sebuah rumah yang lebih mirip penginapan. Karena saking besar dan megahnya. Cahaya matahari masih bersinar terang di atas langit, tapi tidak di sebuah bilik di bawah tanah bangunan besar itu. Untuk menerangi kamar yang terbuat dari tanah itu harus ada sebuah lentera sebagai bahan pencahayaan.
Di atas sebuah dipan tempat tidur terbaring lemah seorang pemuda yang wajah nya cukup tampan. Pemuda itu berusia sekitar tiga puluh tahunan, ia adalah Ujang Seta.
__ADS_1
"Bagaimana keadaanmu, Seta?" tanya seorang kakek yang berpakaian serba merah hati, rambut kakek itu sudah seutuhnya memutih. Namun wajah laki-laki tua itu masih cukup kencang dengan mata yang begitu tajam bak mata srigala.
"Uhuak! Dadaku, terasa berat sekali, Kakek Guru," jawab Ujang Seta.
"Kenapa kau bisa terlibat pertarungan dengan murid Malaikat Pemarah itu? Jika sedikit saja aku terlambat. Maka kepalamu akan berpisah dari tubuhmu," kata laki-laki tua berpakaian serba merah itu.
"Kami berniat membalas kematian Ujang Komar yang tewas saat kami tinggal karena mencari obat untuknya," jawab Ujang Seta dengan wajah penuh penyesalan.
"Bukankah sudah kukatakan selama ini kepada kalian? Jika kalian memang Sudah sanggup beristri maka menikahlah gadis-gadis di kampung tentu banyak mau menjadi istri para pendekar seperti kalian. Tapi kalian masih saja melakukan perbuatan terhina itu. Inilah yang harus kalian tanggung tiga Pendekar bersaudara Kini Tinggal satu,"
"Kakek guru," kata Ujang Seta memelas, "Apa yang harus aku lakukan sekarang kakek guru, aku ingin membalas dendam kepada para pendekar yang telah membunuh saudara-saudaraku terutama Perguruan Mawar Putih itu,"
"Jika itu yang kau inginkan, karena dua muridku yang lain telah tewas di tangan para pendekar itu. Aku juga tidak ingin membiarkan mereka melanglang buana bebas di dunia persilatan ini. Aku akan membantumu tapi kau harus sembuh dulu kau harus meminum ramuan yang telah aku buatkan agar semua lukamu sembuh dan tenaga dalam bisa meningkat," jawab kakek tua itu kakek tua itu adalah Cakra Bima
seorang pendekar yang tidak jelas golongannya. Yang selama ini melanglang buana di dunia persilatan tanpa mempedulikan terkadang dia baik terkadang dia jadi perampok.
Semua itu karena kebutuhannya, namun pendekar satu ini tidak pernah mau melakukan perbuatan yang dilakukan oleh murid-muridnya. Yaitu Ujang Akra Ujang Seta dan Ujang Komar.
Namun rupanya walau dia tidak menyukai perbuatan hina para muridnya. Ia juga tidak rela para muridnya di bunuh oleh para pendekar golongan putih dan orang-orang dari Perguruan Mawar Putih.
Setelah memberikan obat dan penaear untuk mengobati luka luar dan luka dalam Ujang Seta.
ilmu kesaktian Serigala merah sebuah ilmu
yang sudah hampir hilang di dunia persilatan.
Namun ilmu ini masih ia miliki karena kematian dua orang muridnya yang lain membuat dia menurunkan ilmu langka itu kepada Ujang Seta
Setelah melakukan semedi semalaman kedua orang pendekar itu, barulah ilmu Srigala Merah berhasil di turunkan pada Ujang Seta.
Setelah selesai beristirahat, makan tampak kedua orang pendekar itu berdiri di depan sebuah pintu rumah yang begitu besar bak istana itu.
"Ujang Seta bagaimana dengan nasib para Penyamun Beruang Hitam itu?" tiba-tiba Cakra Bima teringat pada anggota Penyamun Beruang Hitam itu.
"Entahlah, kakek Guru. Sejujurnya aku tidak berharap lagi kepada Beruang Hitam apalagi yang di hadapinya dua pendekar dari barat itu, mereka mempunyai kesaktian yang tidak diduga sama sekali. Pedang elang perak di tangan gadis itu juga sangat berbahaya," jawab Ujang Seta tampak agak sedih sudah terbayang di matanya dan di pikirannya kalau Penyamun Beruang Hitam juga bakal menjadi mayat berhadapan dengan Anggala dan Wulan Ayu.
.
.
__ADS_1
******
Kita kembali ke Perguruan Mawar Putih sehari sebelum Ujang Seta mendapat ilmu langka dari Sang Guru Cakra Bima
Setelah berjumpalitan dua kali di udara Anggala mendarat sekitar tiga tombak di depan Beruang Hitam itu. Pendekar Naga Sakti segera meningkatkan tenaga dalam yang ia miliki ke arah dua telapak tangannya, pemuda berpakaian biru putih itu merapal jurus 'Tapak Dewa tingkat tiga.
"Trisula Api Membakar Bumi! Heaaah...!"
Bentakan nyaring Beruang Hitam membahana, kedua trisula di tangannya di silangkan ke depan. Cahaya merah bagai api mennyelubungi kedua trisula itu.
Cahaya itu semakin membesar dan membentuk dua buah trisula yang cukup besar.
Pendekar Naga Sakti merapatkan telapak tangannya di depan dada, cahaya putih terang menyelimuti kedua telapak tangan pangeran dari Mandalika itu.
Begitu Kedua telapak tangan Anggala merenggang cahaya putih itu memisah dan mulai membentuk dua telapak tangan raksasa di samping kiri dan kanan.
"Heaaa...!"
Bentakan nyaring kembali terdengar dari mulut Beruang Hitam, seraya mengibaskan dua trisula di tangannya, ke arah depan. Dua cahaya merah membentuk trisula besar itu menderu ke arah Pendekar Naga Sakti.
"Hiyaaat...!"
Anggala pun segera berteriak nyaring, kedua tangannya yang di angkat sebatas dada di sorongkan ke depan. Dua cahaya putih membentuk telapak tangan itu menderu menyongsong cahaya merah membentuk trisula itu.
Wuss...!
Swosss.!
BUUUMMMM........!!!"
Ledakan dahsyat mengguncang tempat itu. Tanah bagai mengalami gempa berskala tinggi, debu dan tanah berhamburan ke udara membumbung tinggi.
.
.
Bersambung...
Jangan lupa dukung novel ini ya teman-teman.
__ADS_1