Pendekar Naga Sakti

Pendekar Naga Sakti
Prahara Di Pulau Andalas. Ilmu Pedang Iblis Kematian


__ADS_3

Aki Syarif dan mak Ripah tampak berpegangan tangan sambil memandang ke arah pertarungan yang terjadi di depan kedai mereka. Kedua pasangan tua itu tampak menyimpan wajah cemas karena menurut mereka lawan yang di hadapi Anggala dan Wulan Ayu begitu banyak dan mempunyai kesaktian tinggi.


"Ki, perasaan mak tidak enak. Mudah-mudahan tidak terjadi apa-apa pada nak Wulan dan nak Anggala," kata Mak Ripah dengan nada cemas.


"Tidak apa-apa, Mak. Anggala dan nak Wulan juga belum pernah kalah'kan? Mak harus yakin dan percaya pada mereka," sahut Ki Syarip menenangkan istrinya.


Sementara itu Anggala yang di keroyok dua orang anggota Tujuh Pedang Pembunuh masih bertarung dengan cukup tenang, walau serangan kedua orang itu begitu beraturan dan saling susul menyusul.


"Hup!" Anggala melentingkan tubuhnya keudara sambil bergerak memberikan sebuah tendangan kearah bahu kanan Kamon.


"Eits..!" Kamon mm mendesis marah sambil cepat mengibaskan pedangnya ke arah bahunya. Anggala cepat menarik kakinya dan bersalto dua kali di udara sebelum menjejak tanah.


"Aku harus merapal ilmu 'Baju Besi Emas'. jika tidak serangan gabungan mereka cukup berbahaya," gumam Pendekar Naga Sakti dalam hati.


"Serangan mereka tidak bisa di anggap enteng," desis Anggala lagi sambil bergerak menghindari serangan susulan Klahan.


"Hup!" kali ini Anggala bergerak maju menghadang serangan Kamon.


Trang!


"Hah..!" Kamon cukup terkejut, ia cepat menggejotkan tubuhnya ke arah belakang dan bergerak mundur.


"Tubuhnya kebal pedang, Kla," kata Kamon begitu menjejak kaki di samping Kla.


"Apa yang harus kita lakukan, apa kita harus merapal ilmu 'Pedang Iblis Kematian?" tanya Kamon.


"Tidak ada jalan lain," sahut Klahan sambil melintangkan pedangnya dan perlahan menegakkan di depan dada. Klahan perlahan mengusap batang pedangnya dengan telapak tangan kiri.


Begitu Klahan selesai mengusap batang pedang itu, cahaya merah kehitaman langsung menyelubungi pedangnya.


Kamon pun langsung melakukan hal yang sama, cahaya merah kehitaman pun kini menyelubungi pedang yang di tegakkan sejajar dengan tubuhnya.


Sementara itu Wulan Ayu yang menghadapi serangan Kattibun dan Kla tampak masih terlibat pertarungan yang cukup sengit.

__ADS_1


Pedang Kattibun dan Kla tampak berkelebat sangat cepat dan saling susul menyusul, pola serangan kedua pembunuh itu di buat berubah-ubah.


"Hmm.... Mereka begitu kompak dalam menyerang, kepandaian mereka terlihat biasa-biasa saja, namun begitu berpadu. Aku tidak boleh lengah," gumam Wulan Ayu dalam hati sambil bergerak mundur.


Sebuah kibasan kipas elang perak membuat angin kencang bertiup kearah Kattibun dan Kla. Kedua orang itu cukup terkejut dan menarik diri kebelakang sekitar tiga langkah.


Set! Set! Set!


Kibasan selanjutnya beberapa jarum kecil dari ujung kipas elang perak meluncur deras. Kattibun dan Kla cepat memutar pedang mereka bagai kipas melindungi diri.


Trang! Trang!


Cleb! Cleb!


Beberapa jarum kecil yang mengenai batang pedang kedua orang itu langsung bertancapan di tanah.


"Huh...! mereka rupanya mempunyai mata yang cukup tajam dan pertahanan hebat," desis Bidadari Pencabut Nyawa.


Sret!


Sring!


Kilau cahaya putih keperakan membuat Kattibun dan Kla cukup terpana, sehingga keduanya mengangkat tangan kiri karena silau menerpa mata mereka.


Wuss!


Cahaya putih membentuk mata pedang menderu deras ke arah kedua anggota Tujuh Pedang Pembunuh itu, karena silau dimata keduanya sedikit terlambat melompat menghindar.


Buummm......!!


"Akgh....!!" Kla dan Kattibun menggeliat di tanah, namun keduanya begitu cepat melompat bangun. Walau kedua orang itu tampak mengusap darah yang merembes di sudut bibir mereka.


Melihat dua temannya terluka, Kasem langsung melesat bagai kilat, langsung menyerang Wulan Ayu tanpa menunggu perintah dari Khemkhaeng lagi. Melihat Kasem langsung melesat membantu Kattibun dan Kla, Khemkhaeng hanya menggeleng-gelengkan kepala sambil tersenyum.

__ADS_1


"Sha!" Kasem langsung menyabetkan pedangnya kearah Wulan Ayu, namun dengan begitu cepat gadis berpakaian serba biru itu langsung menangkis dengan pedangnya.


Trang!


Kasem langsung melompat mundur dan menjejak kaki di samping kedua temannya.


"Bagaimana keadaan kalian?" tanya Kasem pada Kattibun dan Kla.


"Luka kami tidak begitu parah, karena kami masih sempat menghindar," jawab Kla sambil mengusap darah di sela bibirnya.


"Tampaknya dia orang yang cukup tangguh," kata Kasem tanpa menoleh ke arah kedua temannya. Mata Kasem menatap tajam kearah Wulan Ayu dan memperhatikan gerak-gerik gadis itu.


"Jika dia musuh yang biasa, Saga Lintar tidak mungkin mau membayar kita dengan seribu keping emas di tambah lima ratus kalau kita membawa kedua kepala pendekar ini," sahut Kla.


"Kita harus bekerjasama dan memakai kesaktian ilmu 'Pedang Iblis Kematian'.," kata Kattibun menimpali, Kla dan Kasem hanya ikut mengangguk dan sedikit berdeham.


"Sepertinya mereka akan memakai ilmu pedang yang berbahaya," gumam Wulan Ayu sambil meningkatkan tenaga dalamnya dan merapal jurus 'Pedang Kayangan'. tingkat tiga.


Sementara itu Pendekar Naga Sakti yang berhadapan dengan Klahan dan Kamon yang memakai ilmu 'Pedang Iblis Kematian'. tampak mempersiapkan ilmu 'Baju Besi Emas'. dan ilmu 'Tinju Halilintar'. tingkat tiga.


Kedua tangan Anggala tampak di aliri cahaya kuning dan disertai kilatan mirip lidah kilat. Tatapan pemuda itu tampak tajam memperhatikan gerakan kedua musuhnya.


"Kau serang dia dari kiri. Aku akan menyerang dari arah kanan," kata Kamon memberi aba-aba.


"Baik!" jawab Klahan singkat.


"Hiyaaat.....!"


"Hiyaaaa......!" dua teriakan melengking dari mulut Kamon dan Klahan hampir berbarengan, keduanya melesat dan melompat kearah kiri dan kanan Pendekar Naga Sakti.


"Hup! Hiyaaaa.....!" Anggala pun tidak tinggal diam, ia pun melesat menyongsong dengan dua kepalan tinju membentang di samping tubuhnya.


.

__ADS_1


.


Bersambung.....


__ADS_2