Pendekar Naga Sakti

Pendekar Naga Sakti
Misteri Istana Kematian. Tewasnya Eyang Wira Cendana


__ADS_3

"Eyang Wira Cendana...," desis Anggala, begitu seorang Laki-laki tua keluar dari balik sebatang pohon, tidak jauh dari depannya.


Laki-laki itu di kenal dengan eyang Wira Cendana, Patih Kerajaan Pasemah Agung ini pengganti kakek Deja Wantara. Eyang Wira Cendana menghampiri Anggala, dan berhenti di depan setelah jaraknya tinggal setengah tombak dengan Pendekar Naga Sakti itu.


"Jadi kau dalang dari semua ini...?" gumam Anggala seperti bertanya pada diri sendiri.


"Kau salah jika menyangka aku dalang semua ini Pendekar Naga Sakti," bantah Eyang Wira Cendana kalem dan datar suara orang tua berbaju jubah putih itu.


"Bukan aku yang merencanakan semua ini. Aku hanya sebagai pembantu dalam rencana ini. Aku mempersiapkan prajurit-prajurit tangguh, untuk melancarkan semua rencana. Ada orang yang lebih tinggi dariku,"


"Apa pun alasanmu, untuk apa kau lakukan itu semua?" tanya Anggala menyelidik.


"Kekuasaan," sahut Eyang Wira Cendana tegas, "Kau tau apa itu kekuasaan? He he he...! Semua orang di dunia ini tentu menginginkan kekuasaan. Kau sendiri tentu tidak juga menghindari hal itu Pendekar Naga Sakti!"


"Kekuasaan apa yang kau inginkan?" tanya Anggala mulai agak dongkol.


"Seluruh kerajaan ini, bahkan seluruh dunia," sahut Eyang Wira Cendana pongah.


"Karena itu kau membantai para pendekar?" tebak Anggala langsung.


"Ha ha ha...! Kau memang cerdik, Pendekar Naga Sakti. Tapi kau tidak akan bisa mengalahkanku!"


Anggala hanya tersenyum tipis mendengar perkataan Eyang Wira Cendana tersebut. Sedangkan Eyang Wira Cendana menggeser kakinya ke belakang beberapa tindak. Mereka saling menatap tajam berusaha mengukur kemampuan musuh. Namun Eyang Wira Cendana tidak mampu mengukur seberapa tinggi tenaga dalam dan kekuatan Pendekar Naga Sakti, karena Anggala di bekali oleh kakek gurunya ilmu penutup batin. Sehingga baik kawan maupun lawan tidak akan bisa melihat seberapa tinggi kekuatan tenaga dalam pemuda itu.


Laki-laki berjubah putih itu lalu menggeser kakinya ke samping dan berhenti sekitar dua tombak dari Pendekar Naga Sakti itu.


"Aku tau kau adalah seorang pendekar dikdaya yang sulit di cari tandingannya, tapi itu bukanlah penghalang bagiku. Kau boleh bangga karena kau dapat lolos dari istana kematian itu. Tapi kau tetap harus mati!" terdengar dingin nada suara Eyang Wira Cendana.

__ADS_1


Anggala hanya diam memperhatikan Eyang Wira Cendana yang telah menghunus sebuah tongkat hitam berwarna merah pada ujungnya. Ujung tongkat itu kemudian di tarik hingga menjadi panjang, sekitar satu hasta panjangnya. Tongkat itu kemudian di putar bagaikan baling-baling, saking cepatnya.


Kini tongkat itu tidak terlihat lagi. Kini yang terlihat hanya putaran berwarna hitam bercampur merah. Putaran permainan tongkat itu memang tidak di acuhkan Pendekar Naga Sakti, tapi hawa yang di hasilkan oleh tongkat itu mulai terasa panas di kulit.


"Hawa racun," desis Anggala dalam hati. Pendekar Naga Sakti cepat mengerahkan ilmu ' Tirai Malaikat'.nya. dan ilmu 'Baju Besi Emas sekaligus. Dengan perpaduan dua ilmu itu Anggala bisa berdiri dengan tenang. Tanpa merasakan efek dari hawa racun yang di sebarkan oleh Eyang Wira Cendana melalui tongkatnya.


Sikap Pendekar Naga Sakti yang tampak tenang-tenang saja, membuat kening Eyang Wira Cendana mau tidak mau berkerut juga. Serangannya di perhebat, di sertai pengerahan seluruh tenaga dalamnya. Untuk melumpuhkan pemuda berbaju putih biru itu.


Wajah laki-laki tua itu sampai memerah. Karena mengerahkan seluruh kekuatannya, dalam menyalurkan hawa racun pada tongkat hitamnya.


"Hmm...!" Anggala hanya tersenyum melihat Eyang Wira Cendana semakin memperlebar serangannya.


"Bocah setan!" geram Eyang Wira Cendana mulai merasa kewalahan juga. Tiba tiba saja orang tua itu berteriak nyaring. Maka seketika tubuh nya melesat cepat ke arah Pendekar Naga Sakti. Tongkat hitam ujung merah sepanjang sehasta di tikamkan ke arah dada Anggala.


"Hap!"


Tepat begitu ujung tongkat Eyang Wira Cendana yang begitu cepat menusuk dadanya, Pendekar Naga Sakti dengan cukup cepat merapatkan telapak tangannya, di depan dada. Ujung tongkat Eyang Wira Cendana itu terjepit di antara kedua telapak tangan Pendekar Naga Sakti.


"Hih! Hiyaaa....!"


Sambil mengerahkan seluruh kekuatan tenaga dalam, Eyang Wira Cendana menghentakkan tongkatnya begitu keras, pada saat itu pula ia mencoba melepaskan sebuah tendangan cepat ke arah perut Pendekar Naga Sakti. Tapi dengan begitu lincah Anggala meliukkan tubuhnya menghindari sabetan tendangan itu. Sehingga tendangan Eyang Wira Cendana itu hanya lewat di samping pinggangnya.


Pada saat yang sama Anggala menghentakkan tangannya ke atas tanpa melepaskan jepitan pada ujung tongkat Eyang Wira Cendana itu.


"Hiyaaa...!"


Wut!

__ADS_1


"Whaaa....!"


Eyang Wira Cendana tercekik kaget ketika tubuhnya melayang terangkat ke udara. Tanpa dapat di cegah lagi. Laki-laki tua itu terpental jauh melambung ke udara. Tiba-tiba saja Pendekar Naga Sakti melesat ke udara sambil mengerahkan jurus 'Tapak Dewa'. Cahaya putih membentuk telapak tangan meluncur di depan kedua tangan Anggala itu.


"Hiyaaat...!"


Wuuu....!


Blasa


"Aaaa.....!"


Dua kali tangan Anggala menyorongkan ke depan, cahaya putih itu tepat menghantam dada Eyang Wira Cendana dua kali. Darah segar bercampur darah kehitaman mengucur dari mulut orang tua itu.


Belum sempat tubuh Eyang Wira Cendana jatuh ke tanah. Pendekar Naga Sakti kembali meluncur deras menyusul dari arah atas, dengan tangan kanan di depan dan tangan kirinya di dada sebelah kiri. Kali ini Anggala mengerahkan jurus 'Tapak Sakti tingkat lima, Malaikat turun dari surga'.


"Aaaa.....!" Eyang Wira Cendana menjerit melengking tinggi. Tubuh laki laki tua itu meluncur deras turun ke bawah di hantam angin dari pukulan tangan kanan Pendekar Naga Sakti. Bersamaan dengan jatuhnya tubuh kakek berjubah putih itu ke tanah. Lobang besar membentuk sebuah telapak tangan tampak membekas di tanah. Dalam lobang itu sekitar selutut orang dewasa.


Eyang Wira Cendana rupanya sudah tewas sebelum tubuhnya menyentuh tanah. Tubuh orang tua itu tampak tertelungkup di tengah lobang membentuk telapak tangan itu.


Anggala langsung memandang pohon tempat Eyang Wira Cendana keluar tadi. Dengan sekali lesatan Pendekar Naga Sakti sudah berada di dekat pohon itu. Perlahan Anggala memutari pohon itu. Seketika matanya terbelalak melihat Sarsih tampak tergeletak di tanah hampir tertutup daun-daun kering.


"Sarsih....!"


Anggala cepat menghampiri tubuh Sarsih itu. Pendekar Naga Sakti membawa tubuh Sarsih ke tempat yang lebih bersih dan membaringkan tubuh Sarsih di sana.


.

__ADS_1


.


Bersambung..


__ADS_2