
Sinar matahari begitu terasa di kulit, cahayanya menerangi alam semesta ini. Namun teriknya panas siang ini seakan membuat burung-burung enggan berkicau. Suasana begitu sunyi di hutan yang mengelilingi Perguruan Mawar Putih itu.
Tampak di gerbang Perguruan Mawar Putih itu, dua orang gadis berjaga-jaga. Tidak seperti biasanya gerbang itu di biarkan tanpa pengawalan.
Setelah kembali ke Perguruan Mawar Putih itu, Anggala dan Wulan Ayu tampak sedang berbincang-bincang di dalam pendopo Perguruan Mawar Putih itu. Beberapa orang murid Dewi Mawar tampak berjaga di teras pendopo dengan senjata lengkap.
Kematian Ujang Komar, tentu akan menyulut dendam di hati Seta dan Ujang Akra, Wulan Ayu dan Anggala sengaja menunggu mereka datang.
"Pendekar, jika kalian lelah. Istirahatlah dulu, biar kami yang berjaga-jaga," kata Dewi Permani.
"Tidak usah, Nyi Dewi. Kami tidak ingin murid-murid, Nyi Dewi yang jadi korban kemarahan dan dendam manusia-manusia laknat itu. Lagian kami tidak begitu lelah, makanan yang Nyi Dewi siapkan sudah menghilangkan lelah dan lapar kami," jawab Wulan Ayu.
"Kau melakukan itu karena manusia laknat itu mencoba membokongmu, bukan? Jadi kematian manusia laknat itu bukan salahmu, nak Wulan," sanggah Dewi Mawar.
"Ya, sebenarnya saya tidak berniat membunuh Ujang, tapi saya sangat tidak senang melihat orang yang di beri kesempatan. Malah berniat membokong dari belakang, Nyi Dewi," gerutu Bidadari Pencabut Nyawa itu.
"Rupanya kau mengambil watak gurumu Bidadari Galak, Wulan Ayu," kata Dewi Mawar sambil tersenyum.
"He he.. Nyi Dewi, bisa saja," kilah Wulan Ayu sambil tertawa, "Mau gimana lagi, Nyi. Saya di latih dari kecil dengan kedua guru yang sukanya main bentak-bentakan, jadi setelah jadi pendekar saya malah di gelari orang-orang dunia persilatan. Bidadari Pencabut Nyawa!" keluh Wulan Ayu sambil tersenyum.
"Sebuah gelar yang cukup menakutkan. Tapi sesuai dengan kecantikan, nak Wulan," imbuh Dewi Permani. Anggala dan Kenanga hanya tersenyum mendengar celoteh Wulan Ayu dan Dewi Mawar.
"Sudah berapa lama kalian turun gunung, nak Wulan?"
"Mungkin sudah setahun lebih, Nyi Dewi. Hampir setahun setengahan lah, sejak kami meninggalkan bukit bambu," jawab Wulan Ayu.
"Kalau, nak Anggala?"
"Eh.. Saya, Nyi? Lebih kurang saja nyi Dewi. Karena begitu turun gunung pertama di perintahkan oleh guru dan kakek menyambangi sahabatnya di bukit bambu, tempat Wulan Ayu berada," jawab Anggala tampak agak kaget karena Dewi Mawar tiba-tiba bertanya padanya.
"Jadi pertama bertemu gadis cantik, Wulan Ayu?" seloroh Dewi Mawar.
"Iya, Nyi Dewi," jawab Anggala malu-malu.
"Ha ha ha...! Kalian adalah pasangan yang begitu serasi, Pendekar Naga Sakti dan Bidadari Pencabut Nyawa. Dunia persilatan akan geger dengan sepak terjang kalian, belum dua tahun kalian turun gunung. Nama kalian sudah begitu kesohor di dunia persilatan ini," puji Dewi Mawar.
"Kami belum kesohor itu, Nyi Dewi," jawab Anggala sambil tersenyum.
Matahari mulai turun di upuk barat, bayangan sudah lebih panjang dari aslinya menandakan sore telah menjelang. Dewi Mawar seakan lupa bahwa bahaya sedang mengintai Seperguruannya itu.
__ADS_1
.
***********
Di tengah hutan sekitar dua kilo perjalanan dari Perguruan Mawar Putih itu. Tampak sekelompok orang-orang berkuda dengan jumlah tidak kurang dari lima puluh orang bahkan lebih.
Di barisan paling depan dua orang yang tidak asing lagi, ia adalah Kuyung Ujang Akra dan di belakangnya Ujang Seta. Di belakang kedua orang itu seorang laki-laki bertampang seram dengan rambut panjang sebatas bahu acak-acakan. Rambut laki-laki itu kasar bagaikan ijuk. jambang dan jenggot di biarkan panjang tidak terurus.
Kepalanya di ikat dengan kain berwarna hitam. Di bahunya terdapat sepasang trisula berwarna merah kehitaman, menandakan senjata itu mengandung racun yang cukup berbahaya.
Laki-laki itu adalah pimpinan Penyamun Beruang Hitam, adik dari Beruang Merah yang tewas oleh tongkat selendang kuning Kenanga, di markas Tiga Pendekar Mesum.
Di belakangnya berkuda puluhan orang laki-laki berpakaian rompi hitam dengan senjata kudok dan pedang di pinggang. Rata-rata orang-orang berwajah hitam dengan tubuh berotot dan kekar.
Mereka mengebah kuda dengan begitu kencang, hingga debu mengepul tinggi. Tidak seorang pun dari mereka yang mengeluarkan suara kecuali suara mengebah kuda, agar kuda mereka tetap berlari kencang.
"Heaaa....! Heaaa..! Heaaa...!"
Tentu saja gemuruh suara kuda itu cepat terdengar dari kejauhan. Kedua murid Perguruan Mawar Putih itu cepat berlari ke arah pendopo, untuk memberi tahu gurunya.
"Maafkan saya Guru, kami mendengar suara kuda begitu ramai menuju kemari!" kata murid itu terengah-engah.
Tidak lama kemudian puluhan kuda tampak memasuki tempat itu dengan begitu kencang, pintu gerbang Perguruan Mawar Putih itu sengaja di buka oleh kedua murid yang tadi menjaga gerbang.
"Dewi Mawar.. Dewi Selendang Kuning... Keluar kalian... Atau ku bakar seluruh perguruanmu ini...!!" teriak Ujang Akra membahana, pengiriman suara yang di sertai pengerahan tenaga dalam tinggi.
"Kau tidak usah berteriak, manusia mesum. Apa tujuanmu datang seperguruanku?" suara Dewi Mawar membahana menjawab ancaman Ujang Akra tersebut.
Jlek!
"Heh..!"
Puluhan orang yang berada di atas kuda tampak terkejut melihat mereka tiba-tiba telah di kepung dari segala penjuru, seluruh murid Perguruan Mawar Putih itu ikut mengepung dengan senjata lengkap.
"Kau harus membayar kematian Ujang Komar, Permani!" murka Ujang Akra. Setelah berkata pendekar mesum itu melompat ke depan Dewi Mawar yang di dampingi Anggala dan Wulan Ayu.
"Kematian manusia laknat dan berotak mesum itu memang sudah sepantasnya, bajingan," yang menjawab adalah Bidadari Pencabut Nyawa.
"Siapa kau? Kau bukan dari Perguruan Mawar Putih ini. Sebaiknya jangan ikut campur ini urusanku dengan dia!" tunjuk Ujang Akra, "O, jadi kalian yang membantu orang-orang Perguruan Mawar Putih ini," kata Ujang Akra baru menyadari dan baru teringat kata-kata anggota Penyamun Beruang Merah yang masih hidup itu.
__ADS_1
"Siapa yang membunuh saudara Singa Merah. Hah!" bentak Beruang Hitam keras.
"Aku, yang membunuh bajingan yang mengawal rumah, bangsat itu," jawab Kenanga sengit.
"Kau harus membayar dengan nyawamu, Dewi Selendang Kuning! Heaaah..!"
Bentakan Beruang Hitam terdengar nyaring, tanpa mempedulikan Ujang Akra dan Ujang Seta. Beruang Hitam langsung melompat menyerang ke arah Dewi Selendang Kuning.
"Hup!"
Kenanga pun segera menyambut serangan Beruang Hitam itu.
"Bantai mereka!" perintah Ujang Akra menggema sambil melompat ke arah Dewi Mawar, tapi Anggala segera menghadang.
"Aku lawanmu!"
.
.
.
Bersambung...
Jangan lupa dukung novel ini ya teman-teman.
Rate
Hadiah
Like
Koment
Favorit
Dan Votenya teman-teman.
Terima kasih banyak.
__ADS_1