
Keraguaan Elang Merah pun perlahan sirna. Cahaya putih yang menyelubungi kedua telapak tangannya semakin bersinar dengan sirna seluruh keraguannya.
"Hiyaaa....!"
Jerit melengking keluar dari Elang Merah. Gadis cantik berbaju merah itu melesat cepat kedepan dengan kedua telapak tangan di depan dada. Cahaya putih menyelubungi kedua telapak tangan Elang Merah itu bersinar terang.
"Ayo! Gadis cantik. Sampai dimana kemampuanmu! Heaaa.....!!"
Jagat Satra pun melesat menyongsong Elang Merah dengan keris di depan dada. Cahaya merah menyala itu bersinar terang.
Desss...!!
Dua bola inti pukulan kedua pendekar lain aliran itu beradu di udara. Aura panas semerbak menyelimuti tempat itu. Angin kencang membuat debu dan tanah berhamburan.
Baik Jagat Satra maupun Dewi Arau sama-sama berusaha menekan kearah lawannya. Kedua orang itu saling meningkatkan tenaga dalam. Dari tubuh Elang Merah keluar cahaya putih membentuk elang. Cahaya yang membentuk elang itu mencengkeram kearah Jagat Satra.
Cahaya putih di kedua telapak tangan Elang Merah itupun ikut berkolaborasi dengan cahaya putih membentuk elang itu. Jagat Satra pun tidak mau kalah cahaya merah di kerisnya juga ikut membesar.
"Tidak ku sangka gadis semuda ini memiliki tenaga dalam yang luar biasa, dia sampai bisa mengimbangiku," guman Jagat Satra membatin.
"Aku tidak boleh kalah di sini. Aku harus kuat!" guman Dewi Arau dalam hati.
"Hiyaaa....!!"
Bentakan keras menggema dari mulut Dewi Arau sambil menghentakkan telapak tangannya kedepan. Cahaya putih di telapak tangannya perlahan mendorong maju kearah Jagat Satra.
Blaaamm....!!
Ledakan dahsyat mengguncang tempat itu. Dua tenaga pukulan itu menghempas dan mengguncang tempat itu. Dua orang yang sedang mengadu kesaktian itu sama terdorong kebelakang. Namun Jagat Satra harus terlempar dan jatuh bergulingan ditanah.
Sedangkan Dewi Arau masih bertahan, walau kedua kakinya sempat berlutut begitu sampai di belakang. Dewi Arau tampak menyeka darah yang mengalir dari sela bibirnya. Perlahan murid tertua Elang Hitam itu mencabut kembali sepasang pedangnya yang tertancap ditanah.
"Hukk...!" Jagat Satra membatukkan darah segar dari mulutnya. Jenggot putih didagunya menjadi merah. Warok Singa Merah satu itu bertekuk lutut ditanah. Keris di tangan kanan Jagat Satra itu sedikit tertancap ketanah.
Jagat Satra perlahan bangun. Matanya menatap jauh kedepan kearah Elang Merah. Ada senyum tipis dari bibir tua itu. Pandangannya tajam melihat kedepan.
"Hehe..! Tidak kusangka, Kau sanggup membuatku mengalami luka dalam gadis cantik," guman Jagat Satra seperti berbicara pada diri sendiri. Perlahan Jagat Satra menyeka darah yang membasahi bibirnya, dengan lengan baju kirinya.
"Huh..! Rupanya orang tua laknat itu masih bisa berdiri," guman Dewi Arau dalam hati, perlahan ia mengalirkan hawa murni kearah dada, untuk menstabilkan darah dan pernapasannya.
"Aku tidak akan memaafkanmu gadis laknat," guman Jagat Satra sambil mengalirkan hawa murni kearah dadanya, untuk meringankan luka dalam yang ia derita.
__ADS_1
"Heaaa....!!!"
Jagat Satra menyatukan telapak tangannya di depan dada, setelah menyarungkan kerisnya ke sarung yang ada di balik pinggangnya. Cahaya merah mulai menyelimuti tubuh tua Jagat Satra. Asap tipis berwarna hitam mulai menutupi seluruh tubuh Jagat Satra.
Begitu asap tipis itu sirna tampak Jagat Satra telah berubah wujud. Bagian kepala dan kedua tangannya berubah menjadi singa berwarna merah. Jagat Satra telah merapal ajian andalannya, yaitu 'Ajian Singa Merah'. yaitu 'Ajian Manusia Singa Merah.
"Hauuumm.....!!"
Auman Jagat Satra pun telah berubah, menjadi auman singa. Kedua tangan Jagat Satra telah berubah menjadi telapak singa yang mengeluarkan kuku-kuku yang tajam dan panjang.
"Apa itu? Ajian Singa Merah?!" ucap Dewi Arau terkesiap, aura hitam menyelimuti tempat itu. Dewi Arau perlahan melintangkan kedua pedangnya di depan dada. Dewi Arau meningkatkan tenaga dalam kearah pedangnya. Cahaya putih kekuningan menyelubungi sepasang pedang dikedua tangannya.
"Hauuumm...!!"
Auman yang membuat bulu kuduk merinding orang yang mendengarnya. Jagat Satra melompat kearah Elang Merah dengan dua cakar mencengkeram kedepan. Dewi Arau pun melesat menyongsong.
Set! Wut! Wung!
Trang!
"Hah..!"
Dewi Arau terkesiap ketika pedang di tangannya mengenai tubuh Jagat Satra bagai mengenai sebongkah batangan besi. Belum hilang keterkejutan Elang Merah, cakar dari tangan kanan Jagat Satra telah mengenai bahu kirinya.
"Aaakhh.....!"
Dewi Arau cepat melompat kebelakang sambil memegangi bahu kirinya yang mengucur darah segar. Luka bekas cakaran kuku singa jelmaan Jagat Satra tersebut menganga. Perlahan Dewi Arau mengalirkan hawa murni kearah lukanya, untuk meringankan rasa nyeri yang ia derita.
Jagat Satra tidak memberi kesempatan pada Elang Merah, dengan begitu cepat ia kembali melompat kearah Dewi Arau. Gadis itu terpaksa berjumpalitan menghindari serangan Jagat Satra itu. Serangan pedangnya tidak memberikan arti apa-apa pada Jagat Satra, mau tidak mau Elang Merah berjumpalitan menghindari serangan Jagat Satra itu.
Buk! Sebuah tendangan cukup cepat di lepaskan Dewi Arau kearah dada Jagat Satra. Namun rupanya tubuh Jagat Satra kebal terhadap pukulan maupun senjata tajam. Dewi Arau terpaksa melompat mundur. Rasa nyeri mendera kaki kanannya setelah menendang tubuh Jagat Satra tersebut.
"Huh...! Apa yang harus kulakukan? Tubuhnya bagai sebuah batu!" guman Dewi Arau dalam hati.
"Matilah...!"
Teriakan Jagat Satra agak parau. Namun membahana, dengan begitu cepat ia tiba-tiba telah berada di depan Dewi Arau. Gadis cantik berbaju merah itu terkesiap, dengan cepat ia melintangkan pedangnya di depan dada.
Trang!
"Aaakhh.....!"
__ADS_1
Lenguhan tertahan keluar dari mulut Elang Merah, telapak tangan berbentuk cakar singa itu menghantam dadanya. Jika tidak ada sepasang pedang putihnya, tentu dadanya sudah terkoyak.
Dewi Arau terlempar sekitar empat tombak kebelakang. Darah segar mengalir dari sudut bibirnya. Manusia singa merah jelmaan Jagat Satra dengan cepat memburu kearahnya. Kali ini Elang Merah tampak pasrah dengan keadaannya. Elang Merah hanya melintangkan pedang di depan dada.
Buak...!
Manusia singa merah jelmaan Jagat Satra terdorong sekitar dua tombak kebelakang. Tampak Bidadari Pencabut Nyawa berdiri disamping Elang Merah.
"Kau tidak apa-apa, Arau?" tanya Wulan Ayu sambil memegangi bahu Dewi Arau.
"Luka dalamku cukup parah, Wulan. Hati-hati! Manusia singa itu kebal senjata," ucap Dewi Arau sambil menyeka darah di bibirnya.
Sring! Bidadari Pencabut Nyawa menghunus pedang elang perak dari warangkanya. Murid dua Pendekar Pemarah itu langsung menyiapkan 'Jurus Pedang Kayangan'. tingkat tujuh, tujuh pedang bidadari.
Cahaya putih berkilauan menyinari batang pedang mustika ditangan Bidadari Pencabut Nyawa itu. Puluhan bayangan pedang tampak mengitari tubuh gadis cantik berbaju biru itu.
"Hahaha..! Kau kira, jurus pedangmu mampu mengalahkanku Bidadari Pencabut Nyawa!" ujar Jagat Satra terdengar parau. Namun suaranya memekakkan telinga.
"Kita coba dulu Warok Singa Merah! Kau atau aku yang akan mencium tanah!" balas Wulan Ayu sengit.
"Hauuumm....!"
Raungan singa keluar dari manusia singa jelmaan Jagat Satra itu. Manusia singa itu melompat sambil mengayunkan cakarnya kedepan.
Wuk! Wuk! Manusia singa itu langsung menerkam kedepan, dengan cukup cepat. BidadariPencabut Nyawa tidak tinggal diam iapun melesat menyongsong.
Trang! Trang!
Buak! Buak!
Setiap sabetan dan tusukan pedang elang perak ditangan Bidadari Pencabut Nyawa itu bagai mengenai bongkahan besi. Bidadari Pencabut Nyawa cepat memberikan tendangan beruntun kearah punggung manusia singa itu. Namun malah dia sendiri yang terlempar.
Buak!
"Aaakh...!"
Bidadari Pencabut Nyawa jatuh bergulingan ditanah. Bidadari Pencabut Nyawa cepat melompat berdiri. Namun kaki kanannya terasa nyeri. Manusia singa itu kembali menyerang dengan cakar yang mengarah kebagian mematikan di tubuh Bidadari Pencabut Nyawa.
Trang! Trang!
.
__ADS_1
.
Bersambung....