Pendekar Naga Sakti

Pendekar Naga Sakti
Prahara di Galuh Permata


__ADS_3

Anggala menyerahkan golok Rajawali Hitam pada ki Sera Data, Orang tua itu kini kembali ke pertapaannya, membawa golok Rajawali Hitam bersamanya.


Anggala dan Wulan Ayu, kini meneruskan perjalanan mereka menuju Kerajaan Galuh Permata. Dua hari perjalanan mereka, kini mereka telah memasuki wilayah Kerajaan Galuh Permata.


Anggala dan Wulan Ayu memperlambat lari kuda mereka, begitu memasuki sebuah desa di wilayah Kerajaan Galuh Permata tersebut.


Anggala dan Wulan Ayu memasuki sebuah warung makan, untuk mengisi perut mereka yang mulai keroncongan, kebetulan hari pun sudah mulai sore.


Anggala dan Wulan Ayu makan, setelah itu mereka berniat mencari penginapan.


Namun tiba tiba orang orang kampung itu, ramai berlarian masuk ke rumah rumah mereka, orang-orang itu pada lari ketakutan.


Tampak di arah gerbang desa para prajurit berbaju hitam memasuki kampung itu.


Jumlah mereka ada sekitar lima puluh orang, dengan satu orang yang sepertinya pimpinan regu para prajurit itu.


Orang-orang yang ada di warung tampak terdiam, mereka berhenti makan karena takut.


Hanya Anggala dan Wulan Ayu yang tetap tenang, mereka berdua menunggu makanan, pesanan mereka di antar.


Tidak lama pelayan warung itu mengantar makanan, untuk Anggala dan Wulan Ayu.


"Maap kisanak, siapa prajurit prajurit di luar itu?" tanya Anggala, pada pelayan warung tersebut.


"Mereka prajurit pemberontak kisanak," jawab pelayan tersebut.


"Prajurit pemberontak?" Anggala tampak terkejut, suaranya di dengar orang orang di dalam warung, sehingga mereka semua melihat ke arah Anggala.

__ADS_1


"Ya, Kisanak, di Kerajaan Galuh ini sedang terjadi pemberontakan.!" jawab pelayan itu.


"Siapa pemimpinnya kisanak?" selidik Anggala.


"Pemimpinnya adik seayah Baginda Surya Galuh, Roksa Galuh.!" jelas pelayan itu.


"Kenapa Roksa Raluh memberontak kisanak?" Wulan Ayu ikut bertanya.


"Karna beliau tidak menerima, Putri Galuh Permani yang memegang tampuk kekuasaan Galuh Permata, katanya dia lebih berhak atas tahta kerajaan," jelas pelayan itu.


"Baginda Raja Surya Galuh kemana Kisanak, apa dia sudah mangkat?" tanya Anggala lagi.


"Tidak kisanak, Sudah empat tahun ini Baginda Raja Surya Galuh saya dengar dari orang-orang, beliau sakit.!" jawab laki laki itu lagi, "Ya sudah kisanak silahkan makan, mereka menuju kemari," tambah pelayan warung itu sambil berlalu.


Terlihat pemimpin prajurit itu di depan warung, ia dan para prajuritnya hendak memasuki warung itu. Begitu mereka masuk orang-orang yang lagi makan itu, lansung ke luar tanpa di usir.


"Hei.! Kisanak kenapa kalian tak keluar?" tanya pimpinan prajurit itu. Anggala tetap saja makan makanannya, tanpa mempedulikan pimpinan para prajurit itu.


Pimpinan prajurit itu mendatangi meja tempat Anggala dn Wulan Ayu makan. Ia lantas duduk di depan Anggala dan Wulan Ayu.


"Hei! Kau tak punya telinga ya? sehingga tak mendengar di panggil orang..!" bentak pimpinan prajurit itu.


"Maaf kisanak, kami tidak tau kisanak memanggil kami." jawab Anggala kalem.


Merasa di remehkan pimpinan prajurit itu berniat membalikkan meja tempat Anggala dan Wulan Ayu makan. Ia berusaha mengangkat meja itu dari bawah, tapi ia tidak kunjung mampu membalikkan meja itu.


"Hup..!" pimpinan para prajurit itu mengerahkan tenaga dalamnya, namun tetap saja ia tidak mampu untuk membalikkan meja itu.

__ADS_1


"Sudahlah kisanak, kami hanya lewat dan singgah makan.!" ucap Anggala, tampak tenang-tenang saja, sambil menghabiskan makanan di piringnya.


Pimpinan prajurit itu terdiam, ia tak bisa berbuat apa-apa lagi, ia sadar tenaga dalamnya jauh di bawah orang yang ada di hadapannya.


Selesai makan dan membayar Anggala dan Wulan Ayu lansung pergi dari warung itu. Mereka tidak mau terjadi keributan di warung itu, kalau mereka masih tetap di sana.


Anggala dan Wulan Ayu mengebah pelan kuda mereka, meninggalkan tempat itu, menuju arah Kota Raja Galuh Permata.


"Prajurit.! Bawa anggota dua puluh orang, kejar dua orang tadi.!" perintah pimpinan prajurit itu, pada seorang bawahannya.


"Baik ketua.!" jawab prajurit itu, mereka keluar dan lansung mengebah kudanya ke arah Anggala dan Wulan Ayu pergi tadi.


Anggala dan Wulan Ayu, perlahan keluar dari kampung itu, memasuki hutan.


Tak seberapa jauh mereka berjalan, suara kuda terdengar mengikuti mereka dari arah belakang.


"Kak Anggala, tampaknya mereka menyusul kita.!" kata Wulan Ayu sambil melihat ke arah belakangnya.


"Biarkan saja dinda, mungkin mereka punya tujuan lain.!?" jawab Anggala tenang dan tidak ingin berburuk sangka.


"Ya, tujuan mereka menghabisi kita. !" ucap Wulan ayu sambil tertawa kecil.


Suara deru kaki kuda semakin dekat, tampak sekitar dua puluh orang prajurit berbaju hitam berkuda ke arah mereka berdua.


"Hei..!" Berhenti kalian.! salah seorang prajurit itu berteriak, mereka lansung mengepung Anggala dan Wulan Ayu.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2